
Seorang anak laki-laki sedang berjalan-jalan di sekitaran taman. Langkahnya terhenti saat melihat seorang anak perempuan yang duduk di bangku kayu di bawah pohon beringin besar. Dia sangat tertarik pada apa yang dilakukannya, memutuskan untuk menghampirinya.
" Hei kau ! Apa yang kau lakukan disini ? " Rai kecil berkata ketus.
Anak perempuan kecil itu mendongak untuk melihat lawan bicaranya.
" Kau kasar sekali, apa tidak bisa sopan sedikit ? " Ruby kecil menjawab polos.
" Terserah aku, rumah sakit ini milik ku, aku bebas melakukan apa saja " Rai berkacak pinggang.
Ruby hanya menatapnya sinis dan tertunduk lagi, dia sibuk memasang lilin di cupcake kecil miliknya yang dia beli dari kantin rumah sakit.
" Kau sedang apa ? " Rai bertanya lagi, ketus.
" Kalau kau ketus seperti itu kau tidak akan punya teman " Ruby menjawab dengan tatapan polos.
" Aku memang tidak punya teman " Rai bergumam sedih.
" Kau ingin aku jadi teman mu ? " Ruby menawarkan sambil tersenyum lebar.
" Benarkah ? " Tanya Rai antusias. Dia terlihat bahagia.
" Hu'um.. duduklah " Ruby menepuk bangku di sebelahnya.
" Kau sedang apa ? " Rai melihat Ruby yang memegang kue.
" Aku sedang merayakan ulang tahun ku, ibu ku sakit dan ayah sibuk merawatnya, mungkin mereka lupa hari ulang tahunku, jadi aku merayakannya sendiri " Ruby menjawab sedih.
" Jangan sedih, aku akan merayakannya bersama mu " Rai menepuk dadanya bangga.
" Baiklah kalau begitu, bantu aku menyalakan lilin ini, aku tidak bisa menggunakan korek api nya " Ruby menyodorkan sekotak korek api.
Rai membantu menyalakan lilin dan mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama.
" Selamat ulang tahun " Rai mencium pipi Ruby.
" Kenapa mencium orang sembarangan, kau tidak boleh melakukan itu " Ruby memarahi Rai, dia menangis.
" Aku melihat ayah mencium ibu saat ibu merayakan ulang tahunnya " Rai menjelaskan.
__ADS_1
" Lain kali jangan sembarangan mencium orang lain, atau kau harus menikahinya " Ruby menjawab polos di tengah tangisannya.
" Apa itu menikah ? " Rai bertanya heran.
" Entahlah aku melihat itu di drama yang di putar para perawat, mereka bilang yang boleh berciuman hanya suami istri " Ruby menjelaskan.
" Baiklah kalau begitu aku akan menikahimu, karena aku laki-laki yang bertanggung jawab dan sudah mencium mu, sudah jangan menangis lagi " Rai menjawab sombong.
" Kau janji ? " Ruby memastikan.
" Aku berjanji, mana jari kelingkingmu " Rai meyakinkan.
Mereka membuat janji menikah dengan polosnya. Selama ibunya di rawat di rumah sakit itu Rai dan Ruby sering bertemu di taman belakang rumah sakit, mereka selalu bermain bersama. Rai menceritakan kalau selama ini dia hanya terkurung di rumah sakit itu karena penyakit jantungnya.
" Aku belum tau nama mu " Ruby bertanya pada Rai.
" Aku batman " Rai menjawab polos.
" Apa benar namamu batman, kenapa namamu aneh sekali ? " tanya Ruby heran.
" Tidak itu hanya nama panggilan ku saja, aku sangat suka batman dan ingin jadi sepertinya saat besar nanti " Rai menjelaskan.
" Robin itu laki-laki, kau tidak boleh jadi Robin, aku akan memanggilmu cerry saja karena wajahmu yang bulat dan merah seperti buah cerry " Rai memutuskan.
" Baiklah aku suka " Ruby tersenyum lebar. Mereka bermain bersama.
Ibu Ruby di rawat selama 2 minggu di rumah sakit itu, karena biaya perawatan yang mahal, dan keuangan ayahnya yang menipis, jadi dia memutuskan akan meneruskan perawatannya di rumah saja. Saat Ruby akan pulang Rai memberinya sebuah gantungan kunci dengan action figure batman.
" Kau jangan lupakan aku " Rai berkata sedih.
" Tidak akan, bukankah kita sudah menikah, jadi kita akan selalu bersama " Ruby memberikan kelingkingnya. Rai menyambut janji Ruby.
Dan seiring berjalannya waktu mereka mulai melupakan ingat kecil mereka.
9 Tahun Kemudian...
Hari pertama Rai masuk sekolah, ayahnya berfikir untuk mengirim Rai disekolah normal yang di kelola keluarganya. Agar Rai bisa memiliki teman dan berinteraksi dengan dunia luar. Sejak kematian Ibunya Rai hanya mengurung diri di kamar dan tidak ingin bertemu siapa pun.
Dia berjalan melewati lorong menuju kelasnya, semua murid melihatnya takjub, anak laki-laki pewaris klan Loyard yang selama ini hanya mereka lihat dari berita gosip dan sedikit sekali foto tentang dirinya, akhirnya muncul di hadapan mereka semua, dan berada satu sekolah.
__ADS_1
Rai mengabaikan semua pandangan takjub dari murid di sekolah itu, dia tidak peduli pada keadaan sekitarnya.Dia menuruti ayahnya hanya agar ayahnya berhenti mengomel terus memaksanya keluar rumah.
" Aku sangat tidak nyaman berada di sini " Rai menghela nafas, dia memutuskan pergi mengunjungi ibunya yang baru 3 bulan meninggal.
Dia berjalan melewati lapangan menuju mobilnya terparkir. Sopir yang selalu siaga menunggu Rai bersekolah menundukkan kepala saat Rai berjalan mendekat.
" Aku ingin menemui ibu " Perintahnya kepada sopir. Sopir membuka pintu dan mempersilahkan Tuannya masuk, dan menutup pintu saat Rai sudah duduk nyaman di kursi penumpang.
Dia bergegas memasuki mobil, duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil, melajukannya dengan kecepatan sedang menuju pemakaman umum yang terletak di desa di tepi kota.
Ibunya berasal dari desa di lereng gunung yang berada di tepi kota besar, permintaan terakhir ibunya agar dia di makamkan di desa tempatnya lahir. Suasana mendung dan berangin menyelimuti desa kecil yang jarang penduduknya itu.
Mobil telah sampai di pemakaman sederhana itu, dulunya ini adalah pemakaman umum tidak terawat, namun setelah ibu Rai di makamkan disana, ayahnya merenovasi pemakaman umum itu, membuatnya lebih baik dan indah.
Rai berjalan menuju makam ibunya, makam disana tidak terlalu banyak karena itu desa yang lumayan terpencil, berpenduduk jarang dan semakin sedikit tatkala para penduduk memutuskan pergi merantau ke kota untuk merubah keadaan ekonomi.
Terletak di bawah pohon mahoni yang besar, sebuah makam yang telah dibangun indah dengan nisan yang terbuat dari marmer. Tulisannya bertinta kan warna emas.
" Ibu aku datang lagi, hari ini hari pertama ku keluar rumah,ayah yang memaksa ku, tapi aku membolos, untuk apa aku sekolah kalau kau tidak ada di sampingku " Rai menumpahkan isi hatinya pada makam ibunya.
" Ibu aku... " Kalimat Rai terhenti karena mendengar suara tangisan seorang perempuan.
Dia menoleh berkeliling, pemakaman itu sepi tidak ada orang lain selain dirinya. Dia melihat sopirnya yang berjaga di depan pintu masuk, masih tetap siaga seperti sebelumnya. Suara tangisan itu terdengar lagi. Dia mengedarkan pandangannya berkeliling sekali lagi, hasilnya nihil. Tidak ada siapapun disana. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding.
" Ini memang sudah sore hari, apa ada hantu yang keluar dari kuburannya ? " Rai bergumam sendiri.
Dia bangkit, suara tangisan itu semakin jelas terdengar. Dia berjalan mencari asal suara itu. Matanya tertuju pada bayangan punggung seorang gadis yang menangis di bawah pohon kamboja yang besar.
" Itu hantu atau manusia ? " Rai bergumam, dia berjalan mendekati gadis itu dari arah belakang.
Ragu-ragu mendekatinya, berjalan berjingkat tanpa menimbulkan suara. Tangannya terulur akan menyentuh pundak gadis yang sedang menangis terduduk itu, wajahnya tersembunyi di antara kedua lututnya.
Rai memberanikan diri menyentuh pundak gadis itu, memastikan bahwa itu manusia dan bukan hantu.
Gadis itu merasakan sesuatu menyentuh pundaknya, dia menghentikan tangisannya. Jantungnya berdetak kencang, siapa kira-kira yang menyentuhnya di area pemakaman, apakah manusia atau hantu.
Dia menoleh pelan untuk melihat siapa atau apa yang ada di belakangnya.
" Aaaarrrggghhh " Anak laki-laki dan gadis itu berteriak bersamaan.
__ADS_1