
" Hahahaha... " Ken tergelak kencang melihat tumpukan karung-karung berisi uang coin seribuan yang di pesankan Rai untuk mandi Ruby.
" Tutup mulutmu " Geram Ruby di sela-sela mulutnya yang terkatup rapat menahan kekesalannya.
Sedari sore tadi hingga menjelang waktunya makan malam, Ken dan Kiran yang sedang bersamanya di ruang keluarga itu tidak henti-hentinya mengejek kesialan Ruby yang selalu saja asal bicara di depan Rai.
" Hei bagaimana kalau kita bikin video acara mandi uang mu ? Jangan lupa berpakaian ala pencari harta karun " Ken kembali terkekeh menggoda Ruby.
" Aish hentikan !! " Teriaknya marah, hingga Raline yang berada di pangkuan Kiran itu pun ikut terlonjak kaget mendengar auman kemarahan dari ibunya.
" Eeee... " Meweknya akan mulai menangis.
" Ah maaf maaf sayang, mama bukan memarahimu, mama memarahi uncle Ken " Bujuk Ruby dan kembali tersenyum di hadapan Raline.
" Ciluk ba... " Kudangnya mencegah Raline menangis. Namun sepertinya percuma, Raline tetap menangis dan langsung menggapaikan tangannya ke arah Ken.
Ken semakin tergelak kencang melihat Ruby yang terus saja sial itu.
" Ish !! " Desisnya kesal melirik ke arah Ken.
" Kau sudah mandi kan sore ini ? " Tanya Ken kembali menggoda Ruby.
" Entahlah " Jawabnya malas, menyerah sendiri dan membiarkan Ken tertawa sepuas hatinya dan fokus menenangkan Raline yang masih menangis.
" Aiih kau ini " Decak Ken meremehkan.
" Lihat cara ku menenangkannya " Bangkit berdiri dan menghampiri Raline.
" Kau itu harus banyak belajar dari ku " Ucapnya sombong, kemudian mengulurkan tangannya dan meminta Raline dari gendongan Kiran.
" Cup cup cup sayang, nanti kita beli harimau ya untuk menakuti mama mu " Ken membawanya pergi menjauh mendekat ke arah jendela dan menghiburnya dengan membuat ekspresi wajah-wajah lucu, benar saja Raline sudah berhenti menangis dan kini berganti tawanya yang lucu.
" Ruby boleh aku minta uang mu satu " Pinta Kiran serius.
" Hahaha... " Ruby langsung tertawa kecut mendengar ucapan Kiran.
" Tidak lucu " Cibirnya ketus.
" Hei aku sungguhan " Balas Kiran tak kalah ketus.
" Kalau kau memang sungguhan kau pasti langsung mengambilnya, kenapa harus meminta lebih dulu " Jawab Ruby kesal.
" Aish anak ini ! " Kiran memukul lengan Ruby dengan keras.
" Ini kan uang yang di berikan tuan Rai padamu, mana mungkin aku mengambilnya tanpa permisi. Kalau itu uang mu aku pasti tidak akan meminta izin " Jelasnya ketus.
" Sama saja, kau ambil sepuluh karung pun Rai tidak akan tau " Sinis Ruby.
" Memangnya kau butuh uang koin untuk apa ? Jangan bilang untuk main capit boneka " Tembak Ruby asal.
" Sembarangan " Kiran mendelik kepada Ruby.
" Ini untuk.... " Bisiknya lirih tepat di telinga Ruby.
" Hei !! " Teriaknya begitu mendengar alasan Kiran meminta uang koin padanya.
" Sssttt... " Desisnya menempelkan jari telunjuknya di bibir sembari mencuri pandang ke arah Ken yang masih sibuk dengan Raline.
" Kalau sakit itu periksa " Omel Ruby berbisik memukul lengan Kiran.
" Kalau aku bilang aku sakit karena kelelahan, pasti Ken dan juga ayah akan menyuruhku berhenti bekerja " Jawab Kiran berbisik.
" Iya juga sih, kalau kau berhenti kerja kau akan bernasib sama dengan ku, terjebak disini penuh kebosanan " Gumam Ruby ikut prihatin.
" Maka dari itu, kau masih punya Raline untuk menghiburmu, kalau aku sampai harus berdiam diri di rumah aku pasti akan meminta Raline untuk ku jaga saja " Jawab Kiran lalu menghela napas.
" Enak saja " Protes Ruby secepat kilat.
" Tanpa kau minta untuk di jaga saja aku sudah seperti tidak punya waktu dengannya. Sinta dan Lusi, mereka ya ampun " Ruby menggelengkan kepalanya jika mengingat kelakuan kedua asistennya.
" Ku suruh mereka untuk mengantarkan Raline ke kamar jika sudah mengantuk mereka malah membawanya ke kamar mereka saat Raline mengantuk, aku jadi harus berpisah dengannya selama jam tidur siang " Keluh Ruby menepuk keningnya.
" Kalau aku sampai berhenti bekerja, aku akan meminta Raline 24 jam untuk ku " Saut Kiran.
" Ish kau ini, kenapa kau tidak punya anak sendiri " Omel Ruby.
__ADS_1
" Kalian tidak menundanya bukan ? " Tanyanya menyelidik.
" Tidak lah, tapi mungkin memang belum saatnya saja aku punya anak, aku tidak bilang pada Ken kalau masa haid ku tidak teratur " Jelas Kiran mendadak sedih.
" Kenapa ? " Tanya Ruby beringsut mendekat. Dia tau sejak masih belum menikah Kiran memang memiliki masalah dengan haidnya yang tidak teratur. Jika orang lain hanya akan terlambat 2 sampai 3 hari atau bahkan paling lama 1 minggu, maka tidak halnya dengan Kiran. Dia bisa sampai 2 atau 3 bulan bahkan terkadang setengah tahun lamanya.
" Ya aku hanya tidak ingin dia bersedih kalau sampai waktu kami periksa dan ternyata hasilnya buruk " Jelas Kiran menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa getir di balik suaranya.
" Haaah " Ruby hanya bisa menghela napas mendengar cerita Kiran, dia sama sekali tidak memiliki hak untuk mengatur hidup Kiran harus seperti apa karena mereka sama-sama sudah dewasa dan tau mana yang terbaik, setidaknya untuk diri sendiri. Jika Kiran memutuskan untuk tidak memeriksakan dulu terkait masalahnya, maka yang bisa Ruby lakukan adalah mendukung sahabat sekaligus saudara iparnya itu. Bukan ranahnya untuk terlalu ikut campur masalah pribadi Kiran, terlebih saat ini sudah ada Ken yang bertanggung jawab atas diri Kiran baik luar maupun dalam.
" Kalau kau tidak ingin periksa dengan Ken, kau bisa periksa dengan ku " Hanya itu yang bisa di tawarkan Ruby sebagai bentuk kasih sayang dan juga perhatiannya pada Kiran.
" Ya nanti kalau aku butuh bantuanmu aku akan memintanya " Jawab Kiran sumringah.
Begitu lah, terkadang kita tidak perlu orang yang terlalu menceramahi masalah kita seakan-akan mereka mampu melakukan yang lebih baik dari kita, hanya perhatian kecil dan sederhana itulah yang jauh lebih berarti ketimbang sederet nasehat menyudutkan atau bahkan menyalahkan yang terkesan menggurui, percayalah semua sudah ada porsi dan masalahnya sendiri-sendiri.
Ruby menatap sahabatnya itu dan kemudian memeluknya erat.
" Awas saja kalau kau tidak cerita padaku kalau ada apa-apa " Ancamnya sedikit kesal.
" Tenang saja, meskipun aku sudah bisa membela diri ku sedikit-sedikit tapi kau tetap lebih jago. Mana berani aku mengabaikan ancaman mu ini " Jawab Kiran kemudian terkekeh dalam pelukan Ruby.
" Kau ini " Ruby menepuk punggung Kiran pelan. Seperti itulah persahabatan Kiran dan Ruby, saling mendukung satu sama lain.
" Wah wah wah " Seru Rai yang baru saja masuk ke dalam dan melihat Kiran juga Ruby sedang asyik berpelukan.
Mereka berdua melepaskan pelukan mereka dan menatap Rai heran.
Rai datang bersama Dylan, entah mereka tidak sengaja datang berbarengan atau sebaliknya, yang jelas di samping Rai juga sedang berdiri Dylan dengan wajah ice bearnya yang kaku.
" Untung saja dia itu sahabat dan sekaligus saudara ipar mu, kalau tidak sudah pasti aku akan memisahkan kalian dengan gergaji mesin " Celetuk Rai sembari duduk di sofa panjang, karena sofa yang sedang di duduki Kiran dan Ruby hanya muat 2 orang saja.
" Tumben kalian datang bersamaan " Celetuk Ruby bingung melihat Dylan yang seperti sedang malas, mengikuti Rai duduk di sofa.
" Kami tidak sengaja bertemu di depan tadi, jadi aku sekalian mengajaknya untuk melihat sesuatu " Jelas Rai dengan senyum jahil yang aneh, dia lalu melirik ke arah Dylan yang berdecak kesal dan membuang muka menghindari tatapan Rai yang terlihat menggodanya.
" Kenapa sih ? " Tanya Ruby semakin bingung. Dia memang sudah sering melihat wajah Dylan yang kaku tanpa ekspresi, tapi belum pernah melihatnya sekesal itu pada Rai. Meski telah di kerjai dengan parah tempo hari tapi wajahnya masih lebih masam kali ini daripada waktu itu.
" Kami... " Rai menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kakinya, dengan gaya yang sok misterius ingin menjelaskan.
Baik Kiran maupun Ruby sama-sama berjengit kaget melihat Dylan berteriak seperti itu. Karena biasanya dia sangat patuh dan sopan kepada kedua kakaknya.
" Apa sih ? " Ken yang sedari tadi mendengarkan dari jauh juga ikut berteriak penasaran.
" Hei sini sini " Panggil Rai antusias kepada Ken.
Ken yang notabene adalah separuh jiwa Rai dalam hal amburadul itu pun mendekat dengan bersemangat. Dan terlihat Dylan semakin panik di tempat duduknya.
" Hei kak ku mohon hentikan " Rengeknya memelas. Baru kali ini Kiran dan Ruby melihat Dylan benar-benar seperti seorang adik pada umumnya.
" Kenapa ? " Tanya Ken setelah duduk di samping Rai.
" Jangan " Dylan semakin panik, kali ini dia malah menggoyangkan lengan Rai dengan cukup keras sembari terus merengek.
Kiran dan Ruby mau tidak mau juga ikut penasaran, hal apa yang mereka lihat sampai membuat ice bear itu berubah merengek-rengek begitu.
" Apa ? Apa ? " Ruby bertanya memanas-manasi.
" Hei kakak ipar !! " Teriak Dylan frustasi, tidak ada yang mendukungnya sama sekali di amburadul family ini.
" Kami melihat... " Ucap Rai lambat-lambat dengan nada menggoda.
" Tidak !! " Dylan langsung memeluk Rai dengan erat, mencegahnya meneruskan ucapannya.
" Aku mohon jangan kak, tolong " Rengeknya semakin keras.
Semua orang malah tertawa melihat sikap Dylan yang lucu itu, dan membuat mereka semakin penasaran ingin tau.
" Ayo cepat kak, beritahu apa " Desak Ken terkekeh.
" Kami... " Jawab Rai kembali menjelaskan.
" Jangan !! " Rengek Dylan semakin keras, jika saja dia memiliki keberanian saat ini, sudah pasti dia akan membekap mulut Rai agar tidak lagi melanjutkan ceritanya.
" Aish lama sekali sih, cepat katakan ! " Kejar Ruby mulai tidak sabaran.
__ADS_1
Belum lagi Rai membuka mulutnya untuk bercerita, Pak Handoko masuk ke ruang keluarga itu sembari menenteng sebuah pigora yang sangat besar.
" Permisi tuan " Ucapnya sopan, semua menoleh dengan kompak ke arah pak Handoko.
Kiran, Ruby serta Ken sedikit kesal karena keseruan mereka terpotong akibat datangnya Pak Handoko, namun Rai malah tergelak dengan sangat keras hingga membuat Raline menatap ayahnya dengan wajah melongo bingung. Sementara ice bear yang biasanya cool itu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menyandarkan punggungnya dengan keras. Menghentak-hentakkan kakinya.
" Ini mau di gantung di mana ? " Tanya Pak Handoko kemudian mengangkat pigora itu dan membalikkannya agar semua orang bisa melihat.
" Huaahahaha " Tawa Ken, Kiran dan Ruby langsung membahana begitu melihat hasil foto mereka di hari pernikahan.
Foto terfenomenal sepanjang sejarah kehidupan Dylan itu kini sedang di nikmati oleh ke empat kakaknya dengan tawa yang terbahak-bahak.
" Itu Dylan " Tunjuk Kiran dengan tawanya lalu kemudian memegangi perutnya yang kaku karena terlalu keras tertawa.
" Kau benar-benar cantik deh " Goda Ruby sembari tertawa terbahak-bahak.
" Cocok dengan mu, pas ! " Kali ini Ken mengacungkan jempolnya memberi penilaian.
Mereka semua kembali tertawa terbahak-bahak.
" Buang saja itu paman " Teriak Dylan kesal, namun Pak Handoko juga ikut tertawa menikmati nasib Dylan yang terlalu serius di tengah the amburadul family itu.
" Jangan berani-berani ya " Potong Rai cepat.
" Gantung di atas perapian " Perintahnya lagi.
" Baik Tuan " Jawabnya sopan lalu berjalan mendekati perapian.
" Agak ke kanan ya, sisakan ruang sebelahnya sedikit lebih banyak " Rai memberikan pengarahannya.
" Kau terlihat keren dik " Goda Rai jahil.
" Aish " Decak Dylan kembali menghentakkan kakinya. Dan semua kembali tertawa terbahak-bahak.
Dalam foto editan yang terlihat sangat nyata itu mereka semua sedang berada di sebuah tempat seperti markas dengan deretan alat-alat canggih, memakai baju tempur milik power rangers, Rai sebagai pemimpin terlihat sangat garang dengan posenya yang penuh wibawa, sementara Ken terlihat sangat mempesona layaknya ksatria jaman dulu, Kiran terlihat bergaya imut dan feminin dengan wajah cantiknya. Sementara itu Ruby terlihat bergaya tegas namun tetap cantik menawan. Sedangkan Dylan, dengan wajah kaku datarnya yang tanpa senyum itu berbanding terbalik dengan tubuh power ranger pinknya yang bergaya centil.
Entah itu memang konsep editan sang photographer atau memang mengikuti karakteristik dari rangers itu sendiri, Dylan sang rangers pink memang seharusnya di perankan oleh seorang wanita, namun karena dia kurang cepat dalam mengambil peran hingga akhirnya ini lah yang terjadi. Foto memalukan yang akan menjadi aib seumur hidupnya jika sampai ada yang tau, terlebih lagi itu Blair.
" Yang sabar ya Dylan " Ucap Kiran menenangkan di sela tawanya.
" Ck " Dylan kembali berdecak kesal dengan wajahnya yang memelas.
" Jangan di gantung ya kak " Rengeknya pada Rai.
" Kenapa ? Bagus kok " Jawab Rai jahil.
" Ish !! " Dylan memberengut kesal.
" Kenapa tak sekalian saja buat foto teletubbiesnya dan gantung di sebelahnya " Ucapnya asal kemudian membuang muka karena saking kesalnya.
Ups !!!
Batin Dylan saat menyadari mulutnya yang kelepasan bicara itu. Dia lupa bahwa yang dia ajaknya bicara itu bukan dari kalangan keluarga sembarangan.
Dylan tidak berani menoleh ke arah ke empat kakaknya, dia menajamkan pendengarannya. Hanya hening yang terasa.
Mereka tidak dengar kan ?
Batinnya berdoa penuh harap.
Dengan leher yang kaku Dylan memutar tubuhnya perlahan-lahan.
" Hah ?!? " Dylan terkejut dengan mata yang membulat sempurna saat semua kakaknya sedang menatapnya dengan pandangan dan senyum jahil.
Sial, sial, sial !!!!
Jerit batin Dylan merutuki kebodohannya sendiri, di lihat dari pandangan ke empat kakaknya sudah bisa di pastikan mereka mendengar dan menyetujui ide Dylan untuk berfoto ala teletubbies.
" Nah dik " Rai membuka suara, merangkulkan tangannya ke pundak Dylan.
" Jadi kau mau pilih jadi nunu atau pipa ? " Tanya Rai menggoda namun dengan nada yang serius tidak bisa di bantah.
Tidaakk !!!!!
Tubuh Dylan merosot lemas.
__ADS_1