
Hari telah malam saat mobil rombongan Rai memasuki perbatasan kota. Ruby dan Rai yang sedari tadi sibuk bernostalgia di selingi perdebatan kecil tentang masa remaja mereka itu pun sedang tertawa terbahak-bahak.
" Masa remaja mu terlihat menyenangkan ya ? " Ucap Rai di sela tawanya yang terbahak-bahak, mendengar cerita-cerita Ruby.
" Yah setidaknya aku masih bisa seperti remaja normal lainnya meskipun harus bekerja sepulang sekolah " Jawab Ruby santai.
" Kau memang anak yang baik, aku sangat bangga memiliki mu " Puji Rai seraya mengelus kepala Ruby lembut, lalu merangkul Ruby dan mencium keningnya.
" Kalau masa remajamu bagaimana ? " Tanya Ruby penasaran, menatap Rai yang sedang berpikir mendengar pertanyaan Ruby.
" Yaah biasa saja, aku sekolah di rumah dengan guru yang berbeda-beda setiap harinya, lalu saat aku masuk SMA ayah menyuruhku masuk sekolah Loyard, awalnya aku menolak tapi ayah terus saja memaksa " Cerita Rai mengingat beberapa kenangannya selama masa SMA. Tidak ada yang istimewa selama masa remajanya.
" Kau pasti populer " Goda Ruby.
" Tentu saja, semua wanita berderet mengantre setiap hari untuk memberikanku bunga, makanan buatan tangan mereka atau bahkan buku pr yang khusus mereka siapkan untukku " Jawab Rai sombong.
" Benarkah ? " Tanya Ruby dengan nada mengejek tak percaya. Dia lalu menegakkan tubuhnya dan menatap Rai.
" Biar ku tebak, kau pasti dengan dinginnya bilang " Aku tidak mau "" Dengan berkacak pinggang dan mendongakkan sedikit dagunya dia menirukan gaya bicara Rai yang dingin.
" Cih " Rai berdecak kesal.
" Kapan aku begitu ? " Tanyanya kesal.
" Hei kau tidak sadar, wajahmu itu selalu begitu jika bertemu orang lain, aku sendiri juga heran dengan sikapmu " Dengan nada semeyakinkan mungkin Ruby menjelaskan kepada Rai bagaimana Rai dipandangan mata orang lain.
" Hei itu karena aku ini menjaga kesucian ku, harusnya kau itu senang aku bersikap begitu dengan yang lainnya, tapi jika denganmu aku sangat berbeda " Jawab Rai ketus.
" Iya iya baiklah, aku senang, sangat sangat senang " Goda Ruby lalu terkekeh sendiri.
" Lalu apa lagi cerita tentangmu ? " Lanjut Ruby antusias.
" Entahlah tidak ada yang istimewa bagiku, itu karena aku lebih banyak membolos dan tidur di ruang kepala sekolah atau di atap " Jawab Rai mengedikkan bahunya santai.
" Berarti nilaimu jelek-jelek dong ? Karena kau banyak membolos " Tanya Ruby penasaran.
" Tidak mungkin lah, mana ada yang berani memberiku nilai jelek " Jawab Rai sombong.
" Cih " Cibir Ruby sinis.
" Lalu apa yang kau pelajari selama sekolah kalau kerjaanmu hanya tidur saja ? " Tanya Ruby mengejek.
" Apa yang aku pelajari beda dari anak sekolah pada umumnya, aku belajar bagaimana cara memprediksi kenaikan saham, ekonomi, persenjataan dan apapun yang berguna demi kelangsungan bisnis Klan " Jawab Rai santai.
" PPKN, kimia, fisika, matematika, biologi, geografi, sejarah ? " Tanya Ruby menyebutkan sederet mata pelajaran yang di pelajarinya di sekolah dulu.
" Tidak pernah, aku tidak terlalu membutuhkannya saat nanti memimpin Klan jadi aku melewatinya " Dengan santai Rai menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Pantas saja " Gumam Ruby mengerti darimana kepolosannya berasal.
" Enak sekali hidupmu, tidak perlu menghapalkan rumus pythagoras, hukum newton atau campuran heterogen " Lanjut Ruby iri.
" Tidak aku tidak pernah belajar hal-hal seperti itu " Jawab Rai santai. Dia menoleh ke luar jendela mengamati jalanan lalu mengambil ponsel dari sakunya dan kemudian menghubungi seseorang.
__ADS_1
" Sudah siap semuanya ? " Tanyanya singkat.
" Bagus " Jawabnya lalu menutup panggilannya dan kembali menyimpan ponselnya disaku.
" Jalan ke tempat tujuan " Perintahnya kepada sopir.
Rombongan mobil pun berpencar di perempatan jalan. Ke empat mobil yang mengekori mobil Rai itu berbelok ke arah barat, namun mobil mereka malah berbelok ke arah selatan.
" Hm ? " Ruby mengernyitkan keningnya bingung melihat mobil lain yang tidak searah dengan mereka.
" Kita mau kemana ? Kenapa mobil-mobil lainnya tidak ikut ? " Tanya Ruby penasaran.
" Kita akan pergi ke suatu tempat " Jawab Rai antusias.
" Pergi kemana ? Jangan aneh-aneh, kita sudah terlalu lama meninggalkan Raline, dia pasti sudah menangis mencari kita " Ucap Ruby panik memikirkan Raline. Seharian ini Adelia sama sekali tidak menelepon Ruby, dan Ruby pun tidak bisa menghubunginya.
" Ibu Adelia di jaga ketat oleh pengawal serta di kelilingi oleh pelayan, kau jangan khawatir, Ibu Adelia tidak akan kerepotan menunggu Raline, dan lagi mereka aman " Jawab Rai santai.
" Aku tau pasti ibu tidak akan kerepotan ataupun berada dalam bahaya, tapi bukan tindakan bijak meninggalkan Raline terlalu lama " Protes Ruby.
" Kita tidak akan lama, sebentar lagi juga sampai " Jawab Rai lalu menarik Ruby dan memutar tubuhnya.
" Mau apa kau ? " Tanyanya bingung dan kembali menghadap Rai, namun Rai memutar tubuhnya lagi.
" Menurutlah sebentar saja kenapa sih " Jawab Rai ketus lalu mengambil sebuah tali hitam dari dalam sakunya dan mengikatkannya menutupi mata Ruby.
" Ini kejutan untukmu " Bisik Rai dan kemudian merangkulkan lengannya ke pundak Ruby setelah selesai memakaikan Ruby penutup mata.
" Kejutan apa ? " Tanya Ruby penasaran.
Dalam kegelapan Ruby merasakan mobil yang di tumpanginya menurunkan kecepatannya, lalu berbelok ke kanan, menambah kembali kecepatannya dan berjalan di jalan yang lurus. Setelah beberapa lama mobil kembali melambatkan lajunya dan berbelok ke kiri. Terdengar bunyi kemeretak kerikil yang beradu dengan ban mobil, dan mobil pun berhenti.
Rai melepaskan rangkulannya dari pundak Ruby dan kemudian turun untuk membukakan pintu Ruby.
" Hati-hati kaki mu " Ucapnya sabar dengan menggenggam tangan Ruby dan menuntunnya keluar dari mobil.
" Sudah boleh buka penutup mata ini belum ? " Tanya Ruby tidak sabaran.
" Sebentar lagi " Rai kembali merangkulkan lengannya ke pundak Ruby dan menuntunnya berjalan maju.
Ruby menghitung langkahnya, hanya 4 langkah dan kemudian mereka berhenti. Ruby merasakan tangan Rai mulai membuka penutup matanya.
" Surprise " Suara teriakan terdengar membahana begitu Ruby membuka matanya.
Adelia yang sedang menggendong Raline, juga beberapa pelayan dan penjaga dari rumah utama serta dua pelayan yang biasanya menemani Ruby mengasuh Raline, sedang berdiri di depan rumah Ruby di masa lalu, rumah yang rencananya akan di hadiahkan untuk ulang tahun Ruby. Mereka semua berderet rapi dengan tangan terlentang menyambut kedatangan Ruby.
" Hah ?!? " Pekik Ruby terkejut dan menutup mulutnya. Dia menoleh ke arah Rai yang ada disampingnya sedang merangkulnya pundaknya.
" I-ini kan... " Tanya Ruby terbata-bata. Matanya terus saja mengedarkan pandangannya kesegala penjuru rumah, meniliknya dengan seksama.
Keadaan rumah itu sama persis dan tidak berubah sedikitpun, bahkan ayunan dari ban bekas yang ada di halaman rumah itu pun masih ada, mungkin terlihat baru, tapi letaknya masih sama persis seperti dulu.
Jika bukan saja karena ada ibu Adelia, pasti Ruby sudah berlari menghampiri ayunan itu dan bermain-main disana, kemudian lari mengitari halamannya dengan berjingkrak-jingkrak girang. Namun dia berusaha menahan hasratnya itu sekuat tenaga, dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia seorang ibu saat ini.
__ADS_1
" Ya ini rumah mu " Jawab Rai tersenyum lebar melihat binar kebahagiaan di mata Ruby, dia lega ternyata memberikan kejutan ini lebih cepat mampu mengobati rasa sedih Ruby saat ini.
" Kau senang ? " Tanya Rai lirih.
" A-aku ingin menangis sayang, aku senang sekali " Jawab Ruby seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya, berusaha menghalau air matanya. Wajahnya tersenyum dengan air mata yang mengumpul di pelupuk matanya.
" Kalau begitu menangis saja " Jawab Rai tertawa melihat ekspresi menggemaskan Ruby.
" Terima kasih ya " Ruby memeluk Rai erat. Membenamkan wajahnya di dada Rai.
" Ayo masuk " Ajak Rai kemudian setelah Ruby melepaskan pelukannya. Mereka berjalan mendekati semua orang yang menyambutnya.
" Sayang " Sapa Adelia lembut begitu Ruby berjalan menghampiri mereka.
" Bagaimana ibu bisa ada disini ? " Tanya Ruby antusias.
" Maaf terlambat memberitahumu, tapi ibu dan Kiran tinggal disini untuk sementara waktu " Jelas Adelia, namun Ruby mengernyitkan keningnya tidak paham.
" Sejak insiden penculikan yang di lakukan almarhum adikku dan rumah kami meledak, tuan Regis dan tuan Rai mengizinkan kami tinggal disini sementara sampai rumah kami selesai di renovasi " Lanjutnya menjelaskan, lalu dengan membimbing Ruby masuk ke dalam rumah Adelia melanjutkan ceritanya.
Ruby langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dalam rumah, semuanya tidak berubah, letak perabotan, barang-barang, kalau pun ada yang berubah hanya warna cat dindingnya saja yang terlihat baru dan cerah.
" Kiran memaksa ingin tinggal di rumah ini, padahal kita bisa saja mengontrak rumah, atau menempati rumah lain yang di tawarkan tuan Regis, maafkan kami ya menempati rumahmu. Kiran ingin melihat bagaimana masa kecilmu " Tunjuk Adelia pada deretan foto-foto masa lalu Ruby dengan ayah dan ibunya yang tertempel di dinding.
Ruby semakin terkejut melihat hal itu, dia mendekat perlahan ke arah dinding yang menampilkan deretan bingkai-bingkai figora berisi foto-foto Ruby, ayahnya dan ibunya saat dirinya masih kecil. Dan saat mereka semua masih berkumpul dalam keadaan sehat.
" Darimana kau dapatkan ini semua ? " Tanya Ruby tak bisa menahan rasa bahagianya.
" Aku mengambil semua barang-barangmu di tempat tinggal lama mu dan memperbaiki semuanya, foto-foto yang telah rusak juga barang-barang kenanganmu dulu " Jelas Rai terus tersenyum lebar melihat kebahagiaan yang terpancar dari senyuman Ruby.
" Auh sayang... kau manis sekali " Ruby menghambur memeluk Rai lalu berjinjit dan mengecup pipinya sebentar.
" Hei kenapa cuma sebentar ? Dan cuma di pipi pula " Protes Rai saat Ruby sudah kembali antusias mengamati seluruh kondisi rumah masa kecilnya.
" Sstt... " Ruby mendelikkan matanya kepada Rai lalu menunjuk semua orang yang sedang tersenyum malu-malu mendengar ucapan Rai dengan lirikan matanya.
" Aish kau ini ! " Decaknya kesal.
" Kalian semua balik badan, lindungi mata suci kalian " Perintahnya kepada semua penjaga dan juga pelayan yang ada di ruangan itu.
Semua pelayan pun dengan kompak berbalik badan dan memejamkan mata seraya tersenyum, padahal mereka sudah biasa melihat Rai yang menghujani Ruby dengan pelukan bahkan ciuman di tempat umum dengan beralasan dirinya memang suka pamer.
" Umm... ibu Adelia bisa tolong berbalik badan " Ucapnya sopan kepada Adelia. Dan Adelia hanya tersenyum lebar mendengar perintah konyol Rai. Tapi tak urung dia pun berbalik badan seperti semua orang yang sedang tertawa cekikikan tertahan.
" Sst.. sst... " Panggil Rai berbisik.
" Sudah, sini ! Mana hadiah untuk ku " Bisik Rai lalu menyodorkan bibirnya kepada Ruby.
Ruby menggelengkan kepalanya melihat sikap Rai yang selalu saja seenaknya sendiri, melihat Ruby yang tak kunjung bergerak Rai langsung menariknya mendekat.
" Hei " Pekik Ruby berbisik lalu memukul pelan lengan Rai.
" Cepat, mana hadiah ku ? " Bisiknya menggoda di telinga Ruby.
__ADS_1
Ruby pun lalu berjinjit dan mencium bibir Rai, semula dia hanya berencana memberikan kecupan ringan saja, namun Rai malah melingkarkan tangannya di pinggang mungil Ruby dan menguncinya, membuatnya tidak bisa bergerak ataupun melarikan diri. Lalu dengan lembut membalas ciuman Ruby.
Bersambung...