Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Memulai Rencana


__ADS_3

Burung-burung bercuitan meramaikan pagi hari, alarm alami untuk mereka yang terlelap berselimutkan mimpi-mimpi indah.


Rai yang tidak tidur semalaman dan hanya menatap layar ponselnya, memandangi foto pernikahan mereka dan menangis. Membuat kantong matanya menghitam. Dia terlalu sibuk mengutuki dirinya sendiri yang lengah dalam menjaga Ruby. Hari ini adalah pagi pertamanya tanpa kehadiran Ruby, dan sangat menyiksanya dalam setiap detik yang berlalu.


Tok, tok, tok !!! Suara ketukan pintu, Rai tidak berencana untuk menjawab atau membukanya. Terdengar kembali ketukan pintu, dan kali ini pak Handoko tidak meminta izinnya untuk masuk, dia membuka pintu kamar dan melihat Rai yang sedang duduk menyandarkan kepalanya di sofa dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan.


Pal Handoko menghela nafas, dia tau betul perasaan Tuannya karena dia telah bekerja disini bahkan sebelum tuannya lahir.


" Tuan besar sedang menunggu anda untuk sarapan, apakah anda ingin saya membantu anda bersiap-siap tuan ? " Tawarnya sopan di hadapan Rai.


" Tidak perlu, aku tidak ingin makan, aku hanya ingin Ruby " Ocehnya tak jelas.


" Tuan besar ingin anda sarapan karena tuan besar telah menemukan keberadaan nyonya muda " Pak Handoko berbohong sesuai intruksi dari Regis, dia tau anaknya akan menyiksa dirinya sendiri saat ini.


" Benarkah ? " Rai terlonjak bangun, wajahnya berubah seketika. Rona merah terlihat kembali di wajahnya yang pucat sejak kemarin siang.


" Iya tuan, segeralah bersiap karena Tuan Besar akan mengajak anda untuk menjemput nyonya muda " Pak Handoko lagi-lagi berbohong sesuai perintah Regis.


" Baiklah aku akan bersiap-siap sekarang " Rai segera berlari menuju kamar mandinya. Bersiap-bersiap dengan semangat karena akan bertemu lagi dengan Ruby


Sementara itu di tempat yang lain, Ruby bangun tidur dengan terkejut dan langsung terduduk. Mendekap erat badannya sendiri, memeriksa keadaannya. Dan menghembuskan nafas lega saat dia tahu pakaiannya masih utuh dan badannya seperti tidak tersentuh. Tapi yang membuatnya heran bagaimana dia bisa tidur di ranjang dengan memakai selimut padahal semalam dia tidur sambil duduk di tepi ranjang. Dia mengedarkan pandangannya berkeliling mencari Lucas. Tidak ada di mana pun. Dia segera mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Berlari menuju pintu namun terkunci, lalu berbalik menuju jendela dan membuka gorden tebal yang menutupinya namun hanya kekecewaan yang di dapatkannya. Jendela itu di pasangi teralis besi yang ditanam di tembok. Membuatnya menancap sangat kuat. Dia beralih ke kamar mandi, berharap jendela di kamar mandi tidak berteralis, namun sekali lagi dia harus menelan kekecewaan, tempat ini sudah di persiapkan untuk mengurungnya.


Dia kembali menuju tempat tidurnya, duduk di tepi dan berusaha memikirkan cara untuk keluar dari sini. Tapi kemudian terdengar ketukan pintu yang membuat dia harus menghentikan pemikirannya.


Seorang pelayan membuka pintu dan masuk sambil membawa nampan berisi baju ganti untuk Ruby.


" Nona silahkan anda bersiap-siap, saya akan membantu anda " Ucap pelayan itu dengan sopan.


" Hmm... begini, semalam apakah ? Mm... Lucas dan aku... " Ruby bertanya ragu-ragu, dia tidak bisa membayangkan Lucas satu ranjang dengannya. Kecerobohan Ruby yang membuatnya lengah dan tertidur.

__ADS_1


" Tidak nona " Jawab pelayan itu tetap dengan nada sopan seperti paham apa maksudnya.


" Tuan semalam memanggil kami untuk membantu membenarkan posisi tidur nona, tuan hanya mengawasinya saja, lalu dia pergi untuk tidur di kamarnya sendiri " Lanjutnya sembari merapikan tempat tidur.


Ruby menghela nafas lega mendengar penjelasan dari pelayan, ternyata itu hanya pikiran buruknya saja. Seperti nya Lucas masih memiliki sedikit kebaikan di hatinya.


" Mari nona saya akan membantu anda, tuan sudah menunggu anda untuk bersiap-siap " Pelayan itu mempersilahkan Ruby menuju kamar mandi.


Ruby hanya mengikutinya dengan patuh dan dia akan berusaha membujuk Lucas agar melepaskannya, sehingga tidak akan terjadi pertumpahan darah antara Lucas dan Rai. Karena bagaimana pun Lucas adalah pasien yang sakit untuk saat ini, dan dia masih seseorang yang baik menurut Ruby.


Ruby telah selesai bersiap-siap, Lucas memberinya dress ibu hamil selutut dengan warna pastel dan bercorak bunga-bunga kecil warna warni, membuatnya seperti ibu hamil yang imut dan menggemaskan.


Dia berjalan menuju ruang makan dengan diapit dua pengawal bertubuh kekar, sempat terlintas untuk mengkarate mereka tapi niat itu di urungkan karena melihat lawannya yang bertubuh dua kali lebih besar darinya. Maka dia putuskan untuk diam mengikuti perintah Lucas dan memilih jalan damai untuk bernegosiasi saja.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dia heran melihat ayahnya dan Ken yang sedang sarapan dengan tenang.


" Kenapa kalian bisa setenang ini, bukankah kita harus bergegas menjemput Ruby ? " Rai bertanya heran dan sedikit kesal.


" Tenanglah dulu, jangan hanya menuruti nafsu mu, itu hanya akan membuat pikiran mu tidak jernih " Regis memberikan nasehat kepada Rai yang terlalu mengedepankan emosi bila berhubungan dengan Ruby.


" Kakak makan lah dulu, setelah ini baru kita akan memulai rencana untuk menemukan Kakak ipar " Ken yang sedang sarapan juga ikut menenangkan Rai.


Tidak ada pilihan lain untuk Rai selain mengikuti saran ayah dan adiknya. Dia duduk untuk ikut sarapan bersama. Memang saat ini pikirannya tidak bisa menemukan cara untuk menemukan Ruby karena rasa khawatirnya yang terlalu besar. Jadi dia akan mengikuti apapun rencana yang akan di buat oleh ayahnya dan Ken.


Selesai sarapan mereka pergi bersama-sama menuju markas untuk menemui Ignes. Penjaga berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk Tuan Regis, Rai dan Ken. Semalam para penjaga markas telah mendapat gambaran tentang rencana Tuan Regis untuk menyelamatkan Ruby, dan rencana itu akan di mulai dari Ignes.


" Selamat pagi nona " Regis menyapa Ignes yang sedang tidur terduduk di kursi masih dengan tubuh terikat.

__ADS_1


Ignes yang mendengar suara menyapanya segera membuka matanya dan mengangkat wajahnya. Dia mengerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadaran. Dia terkejut melihat Regis sedang duduk di hadapannya.


" Tu.. tuan Regis ? " Ignes tergagap.


" Maafkan anak ku nona yang sudah menahan mu disini " Regis mengucapkan dengan lembut dan bersahabat.


" Benar tuan, Rai dengan kejam menahan dan menyiksa ku disini, aku tidak tau Ruby ada dimana, sungguh tuan aku tidak berbohong " Isaknya menjelaskan kepada Regis.


" Tenang nona, aku percaya padamu. Aku minta maaf karena membuatmu seperti ini. Aku akan segera melepaskan mu, karena setelah aku menyelidiki ternyata kau tidak ada hubungannya dengan kasus penculikan Ruby, dan lagi pula aku sudah menemukan di mana Ruby, kami akan memulai penyerangan ke tempat Ruby di sekap. Dan Ruby juga Rai akan segera kembali bersama hidup berbahagia " Regis memberitahukan info penting itu kepada Ignes dengan senyum hangat, membuat Ignes percaya bahwa itu semua benar.


Tidak boleh, mereka tidak boleh bersama lagi. Aku harus memberitahu psikopat gila itu untuk segera pergi dari negara ini dan membawa rubah licik itu. Rai dan Ruby tidak boleh bersama lagi, tidak boleh. Hanya aku yang boleh memiliki Rai, hanya aku.


Raut wajah Ignes memucat mendengar informasi dari Regis.


" Baiklah nona, aku akan melepaskan mu setelah ini, dan anak buahku akan mengantarkan mu pulang dengan selamat " Regis melanjutkan setelah melihat perubahan raut wajah Ignes, rencananya berhasil. Mereka akan memancing Lucas untuk membawa Ruby ke tempat yang telah mereka tentukan dan melenyapkan semua yang terlibat.


" Pastikan nona ini pulang dengan selamat " Regis memberi perintah kepada Huan yang bertugas menjaga Ignes.


Huan yang sudah tau rencana dari Tuan Besarnya mengangguk patuh.


Rai terkejut mendengar ayahnya akan melepaskan Ignes, karena menurutnya hanya Ignes satu-satunya akses menuju Lucas saat ini. Dia akan maju untuk protes pada ayahnya, tapi di tahan oleh Ken.


" Cobalah berpikir jernih kak, apa maksud ayah berbuat seperti itu. Tahan emosi mu " Ken mencegah Rai yang terlihat kesal.


Rai masih belum bisa memahami rencana ayahnya karena perasaan dan pikirannya yang masih kalut dengan keberadaan Ruby saat ini. Lalu sejenak kemudian Rai mulai memahami rencana ayahnya dan mengangguk-angguk paham.


Baiklah tidak lama lagi aku akan bertemu dengan Ruby, aku harus bersabar sebentar lagi.


Rai menatap Ken yakin.

__ADS_1


__ADS_2