
Mobil Sekertaris Yuri sampai di depan pintu utama, Dylan yang pulang bersama dengan Sekertaris Yuri itu pun turun dari dalam mobil.
Dia menunggu Sekertaris Yuri juga turun untuk sama-sama masuk ke dalam rumah.
" Umm... paman " Bisik Dylan lirih di samping Sekertaris Yuri.
" Ya ? " Tanyanya heran melihat Dylan yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan bisa di bilang menempel, lalu berbisik-bisik. Sangat mencurigakan.
" Aku kan hanya pernah mendengar sekilas cerita tentang Mar ah maksudku kakak ipar Ruby, bagaimana dia menikah dengan kak Rai, tapi aku tidak pernah mendengar bagaimana cerita kakak ipar akhirnya jatuh cinta pada kak Rai " Tanya Dylan berbisik. Mendengar hal itu Sekertaris Yuri menghentikan langkahnya lalu menatap Dylan dengan serius.
Dylan menelan ludahnya melihat perubahan sikap Sekertaris Yuri. Batinnya mengutuki kebodohannya yang lancang sekali bertanya tentang masalah pribadi orang lain. Dia sering kali lupa bahwa the amburadul family nya adalah the garangs family juga. Yang bisa tiba-tiba berubah dalam sekejap menjadi sosok yang sangat mengerikan.
Tak salah Kak Ken bilang kita power rangers, ternyata ini alasannya. Semua orang di rumah ini bisa tiba-tiba berubah !! Ternyata dia sudah mempertimbangkan hal ini. Aku mengagumi mu kak Ken, sangat !
" Ceritanya... " Jawab Sekertaris Yuri perlahan dengan wajah seriusnya, Dylan bahkan tanpa sadar mundur selangkah menjauh dari jangkauan tangan Sekertaris Yuri, kalau-kalau dia meraihnya dengan cepat lalu membantingnya begitu saja. Dylan sampai menahan napas karena tegang bercampur takut melihat sikap Sekertaris Yuri yang sangat serius.
" Ya begitulah, ala cinta karena terpaksa. Mereka berdua terpaksa bersama setiap hari, terpaksa harus melihat wajah yang itu-itu saja, terpaksa saling berkomunikasi, jadilah jatuh cinta " Lanjutnya santai lalu tersenyum biasa.
" Aish paman ini " Decak Dylan kesal sekaligus kaget, dia langsung menghela napas dengan kasar begitu mendengar penjelasan Sekertaris Yuri, dengan tangan yang masih gemetaran dia mengelus dadanya untuk meredakan rasa tegang yang dia rasakan tadi.
" Kenapa kau tiba-tiba bertanya masalah percintaan ? " Tanya Sekertaris Yuri penuh selidik.
" Tidak apa-apa hanya penasaran " Kilah Dylan asal, memalingkan wajahnya.
" Jangan bilang kau jatuh cinta dengan ketua osis itu " Tebak Sekertaris Yuri, dan Dylan mendelik mendengar ucapan Sekertaris Yuri.
" Tidak usah heran, disini semua anak tuan Regis tidak punya privasi yang tidak ku ketahui, seluk beluk mereka, setiap tingkah mereka, dan setiap gerak gerik mereka aku tau " Lanjutnya santai, lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
Dylan hanya bisa terbengong-bengong mengetahui satu lagi rahasia yang ada di rumah ini, bahwa dia tidak akan bisa memiliki rahasia yang tidak di ketahui orang lain.
" Ah ya satu lagi " Sekertaris Yuri berhenti dan berbalik menghadap Dylan.
" Kalau kau ingin meminta saran mereka atas hubungan percintaanmu, lupakan saja, mereka semua terlalu posesif pada pasangan mereka, jadi kau bisa di putuskan oleh ketua osis itu nantinya " Sekali lagi Sekertaris Yuri membuktikan etos kerjanya yang cekatan karena menurut Dylan dia mampu membaca langkah-langkah yang akan Dylan ambil kedepannya, yaitu meminta saran dari kakak-kakaknya, bukan bagian percintaannya karena dia tidak peduli dengan hal itu.
" Wuah !! " Pekik Dylan merinding.
" Dia seperti dukun saja " Mengusap-usap lengannya untuk meredakan bulu kuduknya yang berdiri.
Lalu dengan malas dia kembali melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam rumah. Kamar Dylan berada di lantai bawah namun di ujung bangunan. Dia harus melewati ruang santai keluarga jika akan menuju kamarnya.
" Hai, kau sudah pulang ? " Sapa Ken saat melihat Dylan melintas dengan wajah menunduk lesu.
" Oh ? Hai " Dylan pun masuk ke dalam ruangan untuk menyapa ke empat kakaknya yang sedang berkumpul.
" Mana Raline ? " Tanyanya melihat ke absenan keponakan kecilnya.
" Di sedang tidur siang " Jawab Ruby santai.
" Kau sudah makan ? "
" Ya sudah " Angguknya lirih.
__ADS_1
Dia mengamati tumpukan amplop coklat yang menggunung di ruangan itu, lalu memiringkan kepalanya.
" Ini apa ? " Tunjuknya heran.
" Uang jajan Ruby " Jawab Rai asal dan Ruby pun menghela napas jengah.
" Uang jajan ? Maksudnya ? " tanyanya masih heran.
" Itu tumpukan uang " Jawab Rai lambat-lambat penuh penekanan.
" Banyak " Lanjutnya sombong.
Dylan menelan ludahnya membayangkan ada berapa miliyar uang di dalam amplop tersebut jika sampai bertumpuk2 setinggi pinggangnya.
" Ke-kenapa kakak ipar pakai uang cash ? Tidak pakai kartu kredit saja ? " Tanya Dylan tergagap, membayangkan keluarganya yang dengan santai menaruh tumpukan uang di ruang keluarga seperti menaruh tumpukan buku saja.
" Nanti kalau ada perampok masuk bagaimana ? " Ocehnya ragu-ragu.
Mereka semua tertawa bersama melihat kepolosan Dylan.
" Hei tidak akan ada yang mau repot-repot mencuri uang itu meski ku letakkan di luar halaman sekali pun " Jawab Ruby asal.
" Itu uang se... " Lanjutnya menjelaskan, namun tiba-tiba Ken dan Rai kompak memotong pembicaraannya.
" Kau mau ? " Potong Ken.
" Kalau mau ambil saja beberapa bundel uang itu untuk beli jajan " Jawab Rai santai.
Ruby yang heran pun menatap Ken dan Rai, mereka berdua terlihat baik-baik saja, tapi kenapa tumben sekali menyela pembicaraannya begitu.
" Memangnya ayah memberimu uang saku cash ? " Tanya Rai.
" Tidak ayah memberiku kartu kredit " Jawab Dylan.
" Kalau begitu ambil saja beberapa bundel uang itu untuk pegangan mu " Tawar Rai asal.
" Tidak usah, terima kasih " Jawab Dylan sungkan. Namun Ruby masih terus saja mengamati wajah suaminya yang datar saat menawarkan uang itu pada Dylan. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang di pikirkan Rai, kenapa begitu keras menawari Dylan uang, untuk mengetesnya atau apa, pikir Ruby heran.
" Aku mau ke kamar dulu " Pamit Dylan kemudian dan menundukkan kepalanya, lalu berbalik dan berjalan gontai menuju pintu.
" Hei tunggu dulu " Cegah Ken.
" Ada apa ? " Dylan segera berbalik badan.
" Kau ini pulang sekolah terlihat lesu begitu, ada apa ? " Tanya Ken menyelidik.
" Tidak ada apa-apa " Jawab Dylan dengan wajah polos.
" Kalau nilai ujianmu jelek jangan di pikirkan, itu hanya masalah nilai " Nasehat Ken asal.
" Ah ya bagaimana kabar Blair ? Kau bilang sudah berbaikan dengannya " Tanya Kiran mengingatkan.
__ADS_1
" Aku belum berbaikan dengannya, hanya saja aku tau kalau dia tidak kenapa-kenapa " Jelas Dylan.
" Dari mana kau tau ? " Ruby ikut bertanya.
" Tadi aku mengiriminya pesan, dan sepertinya dia baik-baik saja " Jawab Dylan.
" Kau tidak bisa mengatakan dia baik-baik saja sebelum benar-benar tau kondisinya " Sanggah Ken.
" Iya iya nanti aku akan bertanya lagi padanya " Jawab Dylan malas.
" Sebisa mungkin jangan punya musuh, ok " Saut Ruby ikut menasehati.
" Tidak apa-apa, bukan laki-laki namanya kalau tidak punya musuh " Celetuk Rai asal, Dylan menghela napas mendengar nasehat dari Rai. Jika ingin mencari solusi perdamaian maka Ruby jalan lewatnya, namun jika ingin mencari solusi dari negara api maka Rai jagonya. Mereka seperti air dan api yang saling memadamkan juga membakar, namun beriringan bersama membuat mereka terlihat sempurna. Api abadi di bawah guyuran air, sebuah keajaiban yang Tuhan ciptakan, begitulah kiranya Dylan memandang hubungan antara Rhoma dan Marimar, seperti panggilannya, tidak seirama namun saling melengkapi. Tanpa sadar Dylan mengulas senyumnya memperhatikan tingkah Ruby yang memberengut kesal pada Rai karena memberikan nasehat garis keras padanya.
Lalu dia menolehkan wajahnya ke arah pasangan lain di ruangan ini.
............
Keheningan membentang di otaknya, sekeras apapun Dylan mencari persamaan yang pas untuk menggambarkan pasangan Kiran dan Ken, dia tidak menemukannya.
Kiran dan Ken seperti perpaduan antara makanan rujak dan soto, tidak masuk akal dan terlihat tidak akan berhasil, namun nyatanya makanan rujak soto adalah makanan khas dari sebuah daerah yang kelezatannya melegenda. Begitulah kiranya yang mampu Dylan jabarkan tentang Kiran dan Ken. Dia lagi-lagi tersenyum melihat Kiran dan Ken yang sedang bermesraan, Ken merangkulkan lengannya ke pundak Kiran dan Kiran sibuk menyuapinya dengan camilan keripik pedas yang di pegangnya.
Dan disini hanya aku yang jadi jomblonya. Aku harus baik-baik dengan paman Yuri, setidaknya mereka tidak meledek ku jomblo karena sungkan dengan paman Yuri.
Dylan menghela napas.
Mereka semua kompak menoleh ke arah Dylan.
" Kau sedari tadi terus saja menghela napas, ada apa sebenarnya ? " Tanya Rai tidak sabaran.
" Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah " Kilah Dylan asal.
" Aku permisi dulu ya kak, aku ingin istirahat di kamar " Pamit Dylan lagi dan membalikkan badan akan pergi.
" Tunggu " Kali ini suara Rai yang mencegahnya.
" Ya ? " Dylan berbalik lagi untuk yang kedua kalinya.
" Kau bilang kau lelah, pakai itu untuk pergi ke kamar mu " Saran Rai seraya menunjuk skuter Kiran yang terparkir di samping pintu dengan dagunya.
Dylan menelengkan kepalanya, bergantian menatap skuter lalu Rai.
" Aku tau rumah ini seperti lapangan, jarak dari sini ke kamar mu pasti lumayan jauh, pakai itu saja " Jelasnya kemudian dengan santai.
" Itu milik Kiran, tapi nanti aku juga akan memberikannya untuk Ruby, kasihan kakinya sampai jadi berotot begitu karena harus berjalan jauh kesana kemari padahal ini hanya di dalam rumah " Lanjut Rai.
Ruby yang mendengar ucapan Rai hanya bisa terbatuk-batuk, sedangkan Kiran melongo tak percaya, begitu juga dengan Dylan, tersenyum kikuk, entah apa yang harus dia katakan sebagai balasan atas kemurahan hati atau kekonyolannya kakaknya.
" Kau juga mau di pesankan ? " Tawar Rai santai.
" Hehehe... " Dylan hanya membalasnya dengan senyum kaku.
__ADS_1
Dia tidak bisa membayangkan harus berkeliaran di dalam rumah menaiki skuter.
Hanya di rumah ini kegilaan dianggap wajar, hidup the amburadul family !!