Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
H-2 Jam


__ADS_3

Jarum jam terasa berdetak dengan lambat, bahkan teramat lambat untuk Rai yang sedang bergejolak. Bagaimana tidak, tantangan bertarung dari Ruby membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain lagi.


Tantangan "bertarung" dari istri tercinta, suami mana yang tidak akan gelisah dan berfantasi liar mendapat tantangan seperti itu.


" Jamnya rusak ya ? " Tanyanya pada Lusi yang sedang sibuk menggendong Raline.


" Ya ? " Setengah terkejut mendapat pertanyaan dari tuannya yang sedari tadi hanya diam sembari menghentakkan kaki dengan gelisah, dengan bingung Lusi pun mengikuti arah pandangan mata Rai yang tertuju pada jam antik besar di ruangan itu.


" Mm... " Alis Lusi berkerut dalam, jarum jamnya masih berputar seperti biasa dan suara detakannya pun masih terdengar cukup nyaring.


" Se-sepertinya tidak tuan " Jawabnya ragu-ragu dan dengan sangat hati-hati, karena baginya jarang sekali sang tuan mudanya itu mengajaknya bicara jadi bisa di pastikan jika ada salah kata maka siapapun tau hasil akhirnya.


" Kalau tidak rusak kenapa tidak bergerak sama sekali ? Periksa sana ! " Perintah Rai acuh, dia memberikan kode dengan anggukan kepalanya agar memberikan Raline pada Sinta yang juga sedang berdiri kebingungan di samping Lusi.


" Ba-baik tuan " Jawab Lusi dengan panik, dan dengan sigap serta hati-hati memberikan Raline ke gendongan Sinta.


Apa ini akhir hidupku? Kenapa akhir hidupku harus di tentukan sebuah jam sih.


Jerit batinnya panik.


Dengan berjalan cepat dia menghampiri jam antik berbahan kayu setinggi sekitar 1,5 meter tersebut. Jam yang besar dengan banyak ukiran-ukiran di sekelilingnya.


" Rusak di bagian mananya ? " Gumamnya cemas sendiri sembari memutar mencari-cari di mana letak kerusakannya tersebut.


Sinta yang menggendong Raline pun juga ikut tegang dengan suasana yang ada.


Nyonya... ku mohon cepat kembali. Cuma anda yang bisa berkomunikasi dengan tuan.


Pinta Sinta dalam hati.


Raline yang masih belum paham apa-apa itu pun juga terlihat bengong dan fokus pada babysitternya yang sedang celingukan kesana kesini sembari memutari jam yang baginya berukuran raksasa itu.


Suasana hening membentang, hanya detakan dari jarum jam yang masih tetap setia berbunyi. Setiap detakannya seakan membawa ke dalam suasana yang semakin mencekam.


Apanya... apanya... apanya...


Hanya kata itu yang terus terulang di kepala Lusi sembari matanya terus saja mencari-cari apa kiranya yang tidak beres dari barang yang baginya akan menjadi sumber malapetaka tersebut.


Lima menit, sepuluh menit, dan jarum jam terus saja berdetak seakan tidak paham situasi mengerikan yang sedang di hadapi kedua babysitter tersebut.


Nyonya ke kamar kecilnya lama sekali sih.


Sinta semakin panik dan terus saja menggigiti bibir bawahnya. Tangannya pun mulai terasa berkeringat dan dia semakin mengeratkan gendongan Raline, takut kalau-kalau keringat dinginnya membuat pegangannya menjadi licin dan malah berakibat buruk untuk Nona kecil yang harus di jaganya dengan nyawa tersebut.


Jika Sinta saja sudah berkeringat dingin dan panik, lalu apalagi dengan Lusi yang mendapat mandat langsung dari pemimpin the amburadul family itu, yang seperti julukannya sangat amburadul.


Istilah hanya Tuhan dan Rai sendiri yang tau sangat cocok untuk situasi saat ini, bagaimana tidak, Lusi yang sudah lebih dari sepuluh menit mengutak atik jam itu sama sekali belum menemukan kerusakan yang di maksud oleh Tuannya tersebut.


Wajahnya sudah tak tergambarkan lagi, dahi dan pipinya bersimbah keringat, bibirnya pucat dan matanya serta hidungnya memerah menahan tangis yang kalau saja dia berani sudah dia tumpahkan sedari tadi.


" Hei... " Suara rendah menyeramkan itu akhirnya memecah kesunyian namun bukannya mencairkan suasana malah semakin membuat suasana di ruangan tersebut di liputi kabut kematian.


Lusi yang mendengarnya memejamkan matanya dengan erat, tangannya yang gemetar hebat mencengkeram ukiran kayu di sisi jam antik tersebut. Berpegangan agar tidak jatuh bersimpuh jika dapat di ungkapkan dengan kata. Begitupun dengan Sinta, tanpa sadar langkahnya bergerak dengan perlahan menjauh menjaga jarak dari tempat duduk Rai.


" Aku menyuruhmu memeriksa jam itu bukan menyuruhmu ikut-ikutan jadi jam kedua " Suara yang rendah itu terasa sangat mengintimidasi.


Bagi mereka berdua lebih baik harus membersihkan seluruh mansion seharian dari pada harus berkomunikasi atau bahkan bertatap muka dengan tuannya.


Dengan tenggorokan yang tercekat Lusi berusaha menelan ludahnya, terasa keras dan sakit. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, diam bunuh diri, menjawabpun akan sama saja hasilnya.


" Kemarilah " Perintah Rai dengan wajah yang sudah bisa di pastikan amat sangat tidak senang.


Jika dalam suasana normal saja sumbu kesabaran Rai hanya kurang dari 5 menit, apalagi dalam suasana hati yang bergejolak seperti ini.


Lusi mematung di tempat, bukannya tidak ingin mematuhi perintah Tuannya tapi jangankan untuk berjalan kembali ke arah Tuannya, sekedar untuk melepaskan pegangan tangannya dari jam tersebut pun dia tidak sanggup. Tenaganya tersedot habis hanya dengan mendengar suara tajam dan mengerikan dari Rai.


" Kemarilah " Perintah Rai untuk yang kedua kalinya, kali nada suaranya bahkan di selingi sedikit tawa. Bukan tawa menyenangkan seperti kebanyakan orang, atau tawa maklum seperti tawanya orang-orang sabar di luaran sana, tapi tawa menahan amarah di level yang tertinggi. Seakan itu menjadi tawa pengundang malaikat maut agar segera melakukan tugasnya.


" Tidak mau ? " Tanya Rai sembari memiringkan kepalanya serta tersenyum miring.


Habis sudah, kalaupun harus memilih jalan kematian setidaknya jalan itu tidak harus menyakitkan seperti ini bukan ?.


Tanpa di sangka-sangka Lusi langsung berlutut sembari menangkupkan kedua tangannya menghadap Rai, dengan wajah pucat pasi bersimbah air mata yang sedari tadi di tahannya dia merengek.

__ADS_1


" Ampuni saya tuan, ampun. Saya sudah mencoba memperbaikinya tapi saya tidak tau bagian mananya yang rusak. Ampuni saya tuan, mohon jangan bunuh saya " Raung Lusi tanpa basa basi juga tanpa titik koma dengan kecepatan bicara yang luar biasa.


Rai yang mendengar raungan keras Lusi itu pun sedikit terhenyak di tempat duduknya, begitupun dengan Sinta dan juga Raline, mereka bahkan sampai ikut berjengit kaget.


Apa sih anak ini, minta di bunuh ya?


Batin Rai bingung karena di telinganya kata-kata Lusi hanya seperti dengungan tawon yang tidak jelas, hanya bagian kata "bunuh saya" yang terdengar jelas di telinganya.


" Iya iya nanti aku akan membunuhmu, tapi selesaikan dulu perintahku " Jawab Rai sekenanya saja.


" Huuwaaa.... " Raungan Lusi bertambah hebat mendengar jawaban Rai seperti itu.


Rai pun terlonjak kaget melihat Lusi yang sekarang sedang menangis serta meraung-raung di lantai.


Sinta serta Raline yang semula hanya diam mematung itupun kini ikut menangis bersama.


" Hoeee... hoeee... " Tangisan Raline mengeras karena melihat babysitternya menangis. Sinta di tengah rasa sedih dan bingungnya berusaha menenangkan Raline.


Apa sih mereka ini, segitu bahagianya ya mau aku bunuh, sampai sujud-sujud berterima kasih begitu.


Batin Rai bingung saat melihat Lusi yang menangis sambil bersujud di hadapan Rai.


Ruby yang sedang dalam perjalanan kembali itu pun samar-samar mendengar suara tangisan ramai dari ruang bermain Raline.


Ketakutan terjadi sesutu dengan Raline dia pun berlari mempercepat langkahnya.


Brakkk !!! Tanpa mengetuk dia langsung membuka pintu ruangan itu dengan keras, dan tentu saja pemandangan di hadapannya sangat membuat syok.


" Nyonyaaaa... " Rengek Lusi dengan berteriak lalu segera merangkak ke arah Ruby saat melihatnya masuk.


" Nyonya... " Rengekan kedua datang dari Sinta yang juga segera berlari mendekat ke arah Ruby, tentu saja juga dengan derai air mata yang tak kalah hebohnya.


" Hooeee... " Rengekan ketiga datang dari Raline yang hanya bisa mengulurkan tangannya meminta di gendong oleh ibunya.


" Kenapa ? Ada apa ? " Tanya Ruby panik sembari mengulurkan tangannya mengambil Raline dari gendongan Sinta dan segera memeriksa putri kecilnya itu.


Kepala, mata, hidung, pipi, mulut, tangan, kaki, dengan cepat Ruby mengecek setiap jengkal tubuh Raline. Utuh, masih normal, tidak ada bekas luka, dan sehat-sehat saja, lalu ada apa ini?


Ruby yang masih bingung menatap ketiga orang yang ada di ruangan itu, dua diantaranya hanya bisa menangis sesegukan di iringi raungan-raungan tak jelas. Sedangkan satunya lagi sedang terlihat kesal dan menghela napas jengah.


" Dia minta di bunuh " Jawab Rai dengan raut wajah datar tanpa ekspresi yang semakin membuat Lusi dan Sinta mengeraskan isak tangisnya.


" Apa ?!?! " Terkejut dengan jawaban Rai, Ruby langsung menoleh ke arah dua babysitter Raline tersebut. Ada kejadian apa ? Masa hanya dalam hitungan menit dia meninggalkan mereka bertiga sudah terjadi kekacuan seperti ini. Pikir Ruby bingung.


" Bicara yang benar " Dengan sedikit emosi Ruby berjalan menghampiri Rai yang masih saja duduk santai di kursi.


" Memangnya kau pikir dia serangga, main bunuh-bunuh " Ruby meninggikan suaranya dengan kesal, memarahi Rai.


Dia mengira Rai sudah bisa sedikit melembut terhadap orang lain karena sekarang ada Raline, tapi ternyata sikap dingin dan kejamnya tidak berkurang sedikitpun.


" Kau itu jangan sedikit-sedikit pakai kekerasan, apa-apa mengancam, kau kira hidup manusia itu tidak ada harganya " Omel Ruby panjang lebar.


Kedua babysitter Raline itu hanya bisa saling berpelukan sembari terus menangis di pojok ruangan, seakan tubuh mereka mengecil dan bisa di remas kapan saja oleh Rai.


" Hei !!! " Suara Rai yang juga ikut meninggi itu pun menghentikan omelan Ruby.


Ruby sedikit terkejut karena sejak mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing, Rai tidak pernah lagi membentaknya.


" Dua hal yang harus kau ingat... " Ucap Rai sembari bangkit dari duduknya dan langsung berhadapan dengan Ruby.


" .... Satu.... " Lanjut Rai dengan tenang tapi masih tetap memasang wajah yang serius. Kedua tangannya mengulur, membuat Ruby siaga dan berpikiran macam-macam. Apa Rai akan memukulnya ?


" .... Aku memang menganggap siapapun di dunia ini ... " Rai melanjutkan kata-katanya setelah menangkupkan kedua telapak tangannya di telinga Raline.


" .... selain kau dan Raline sebagai serangga " Ucap Rai dengan serius.


" Ah ayahku tentu juga pengecualian, bisa di kirim ke neraka kalau aku menganggapnya serangga " Gumam Rai lebih seperti kepada dirinya sendiri.


" Dua, aku tidak sembarangan membunuh orang. Aku membunuhnya karena dia sendiri yang minta di bunuh " Lanjut Rai sembari menatap tajam ke arah dua babysitter yang sudah seperti kurcaci di pojok ruangan itu.


" Apa ? " Tanya Ruby memincingkan matanya mendengar jawaban aneh Rai. Mana mungkin ada orang diam-diam minta di bunuh ? Sangsinya tidak percaya.


" Kalau tidak percaya tanya saja dia " Jawab Rai seakan bisa membaca pikiran Ruby yang sedang memberikannya tatapan tidak percaya.

__ADS_1


" Kau pikir dia sudah gila minta di bunuh, makan nasi masih enak kenapa minta mati " Jawab Ruby sangsi.


" Kenapa tidak mungkin, bisa saja dia sedang patah hati lalu minta mati, kan wajar saja " Jawab Rai santai sembari mengangkat bahunya.


" Jangan aneh-aneh " Jawab Ruby mencebik kesal mendengar alasan Rai. Dia kemudian menoleh ke arah dua pelayannya yang masih sibuk berpelukan sambil menangis itu.


" Benar yang dia bilang ? " Tanya Ruby kepada Lusi.


Tanpa jawaban Lusi langsung menggeleng dengan cepat.


" Tidak tuh " Jawab Ruby kembali menoleh ke arah Rai dengan tatapan kesal.


" Hei kalau tidak kenapa tadi kau minta di bunuh ? " Tanya Rai setengah berteriak kesal pada Lusi.


" A-ampun tuan, bu-bukannya tuan tadi yang berpikiran begitu karena saya tidak bisa memperbaiki jamnya ? " Jawab Lusi tergagap dengan suara mencicit kecil ketakutan.


" Kapan aku menyuruhmu memperbaiki jamnya ? " tanya Rai bingung mendengar jawaban Lusi.


" Bukankah tuan tadi bertanya apakah jamnya rusak, lalu menyuruh saya memeriksanya, dan saya tidak bisa memperbaikinya" Jawab Lusi masih dengan ketakutan. Sinta yang ada di sampingnya itupun mengangguk dengan penuh semangat membenarkan apa yang di katakan temannya itu.


" Aku menyuruhmu memeriksanya apakah jamnya rusak atau tidak, aku tidak pernah menyuruhmu memperbaikinya " Jawab Rai semakin bingung.


Ruby yang sedari tadi hanya diam mendengarkan masing-masing pernyataan dari kedua belah pihak itupun juga ikut bingung lalu melihat ke arah jam yang jadi sumber permasalahan.


Jamnya rusak? Tidak kok.


Batinnya bingung.


" Sa-saya sudah memeriksanya tapi tidak ada kerusakan tuan " Jawab Lusi terbata-bata, kali ini dia sendiri juga bingung dengan maksud tuannya, bilangnya jamnya rusak tadi tapi tidak menyuruh memperbaiki, lalu untuk apa menyuruhnya memeriksa jam itu kalau tidak rusak.


" Kalau tidak rusak ya sudah " Jawab Rai santai, kemudian melepaskan tangannya dari telinga Raline lalu mengecup puncak kepala Raline yang ternyata tertidur setelah lelah menangis.


" Lah terus kenapa kau menyuruhnya memeriksanya kalau jamnya baik-baik saja ? " Tanya Ruby juga ikut bingung, terkadang dia lupa kalau suaminya juga manusia purba yang aneh.


" Ya aku bingung kenapa jamnya sangat lambat kalau tidak rusak " Jawab Rai sekenanya lalu kembali duduk di kursi dengan santainya.


" Jawaban apa itu, kau pikir masuk akal " sanggah Ruby masih tidak percaya.


" Tentu saja aku mengira jamnya rusak, karena berdetak sangat lambat, dari tadi kenapa masih jam segini-segini saja " Jawab Rai cuek sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


" Memangnya ada apa dengan jamnya? Memang seharusnya jam berapa ? " Tanya Ruby masih bingung.


" Nah kan !! " Seru Rai tiba-tiba setelah melihat layar ponselnya.


Ruby dan dua orang lainnya sampai berjengit kaget mendengar suara Rai yang tiba-tiba.


" Apa lagi ? " Tanya Ruby dengan kaget.


" Benar dugaan ku, jamnya memang rusak, harusnya sekarang jam 5 lewat 30 menit, tapi di sana masih jam 5 lebih 28 menit " Jawab Rai sembari menunjukkan layar ponselnya.


" Cepat putar jarum jamnya " Perintah Rai kepada Lusi yang masih bingung dengan kelakuan tuannya. Tapi tidak ingin membuat tuannya marah lagi dia pun segera berlari ke arah jam antik tersebut dan memutar jarum jamnya sesuai yang di intruksikan oleh Rai.


Jam 5 lewat 30 menit, pas sesuai dengan yang tertera di layar ponsel Rai.


Setelah melakukan perintah Rai, Lusi kembali ke pojok ruangan menghampiri temannya yang tak kalah bingung.


" Nah begitu baru benar " Jawab Rai seraya tersenyum lebar penuh kepuasan.


Ruby hanya bisa menatap suaminya dengan bingung.


" Ada apa sih sebenarnya ? " Tanyanya penasaran.


" Karena dengan begitu hanya tinggal 2 jam lagi pertarungan ku dengan mu akan di mulai, tentu saja aku sudah tidak sabar menunggu setiap detiknya " Jawab Rai dengan girang. Menggebu-gebu penuh rasa tidak sabaran.


" Hah ? " Ruby mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Sebegitu tidak sabaran kah Rai akan berkelahi dengannya sampai-sampai 2 menit pun tidak bisa di tolerirnya ?


Menyerah dengan isi kepala Rai, Ruby pun hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


Memangnya dia benar-benar akan berkelahi sungguhan dengan ku ya? Jangan-jangan dia tau kalau yang kalah harus memakai pembalut, makanya dia menanggapi serius tantangan ku? Kalau begitu aku tidak boleh sampai kalah, aku harus mengajaknya bertanding di bidang yang paling aku kuasai, karate dan judo. Ya benar, aku tidak akan kalah, melihat dia yang sangat kompetitif aku juga akan bertarung dengan sungguh-sungguh.


Batin Ruby dengan mantap.


Hmm... kurang dua jam lagi kami akan bertarung, kira-kira aku pakai gaya bertarung apa ya? Wah aku sangat tidak sabar.

__ADS_1


Batin Rai antusias.


Dan begitulah dua pikiran suami istri dari the amburadul family yang tidak saling menyambung karena kurangnya komunikasi.


__ADS_2