Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Akhir Pekan


__ADS_3

Hari ini akhir pekan, setelah melalui hari-hari yang berat dengan jadwal latihannya, Ruby berencana meminta izin untuk menjenguk ayahnya di rumah sakit, dia sudah sangat merindukannya.


“ Silahkan susunya “ ucap Ruby menyodorkan segelas susu hangat saat Rai bangun tidur. Sekarang segelas susu sudah seperti jadi hal wajib untuknya dipagi hari.


Melihat suasana hati Rai yang sepertinya semakin baik, Ruby memberanikan diri untuk meminta izin.


“ Tuan bolehkah saya meminta izin untuk menjenguk ayah saya ? “ pintanya dengan sopan.


“ Baiklah aku akan mengantarmu “ Jawab Rai.


“ Oh anda tidak perlu repot-repot saya bisa naik taksi saja “ Ruby menjelaskan.


“ Baiklah, kembali sebelum makan siang, kau harus memasak “ Perintah Rai.


“ Baik Tuan, terima kasih banyak “ Ruby tersenyum bahagia.


Setelah membantunya memilih pakaian dan bersiap-siap mereka turun ke bawah untuk sarapan.


Sekarang Rai selalu pulang untuk makan siang bersama dan tidak kembali bekerja lagi, dia berdalih melakukan apa yang ayahnya lakukan dulu, tidak membiarkan ibunya kesepian dirumah.


Tuan Regis melakukan itu karena dia mencintai istrinya, tapi kau melakukan itu karena merindukan babysitter mu ini. Cibir Ruby dalam hati.


Seperti biasa Vivianne sudah menunggunya dibawah tangga, melingkarkan tangannya ke lengan Rai begitu dia sampai di bawah dan menggandengnya menuju meja makan. Bersikap sudah seperti istri yang baik.


Cih kalau kau bisa menjadi istri yang baik untuknya, kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya. Pikir Ruby yang melihat tingkah Vivianne.


Rai sekarang lebih memilih duduk di kursi ujung meja agar Ruby dan Vivianne bisa tetap berada di samping mereka.


Di meja sudah tersaji beberapa jenis masakan, Ruby juga memulai kelas memasak dengan para koki dapur, agar dia bisa memasak beragam makanan.


Ruby memainkan perannya sebagai istri yang baik, dia mengambilkan makanan untuk semua orang termasuk Vivianne.


Rai tidak mau menyentuh makanan yang aku ambilkan untuknya tapi dia menyentuh makanan dari pelayan ini, baiklah anggap saja dia pelayan yang sudah seharusnya melakukan pekerjaan ini, tatap sinis Vivianne kepada Ruby saat dia meletakkan makanan dipiringnya.

__ADS_1


“ Kakak ipar ini akhir pekan, kau ada acara ? “ tanya Ken tiba-tiba.


“ Hemm... aku akan pergi kerumah sakit, jadwal latihan ku libur di akhir pekan “ jawab Ruby santai sambil menyendok makanan masuk ke mulutnya.


" Kau ingin aku mengantarmu ? " Ken menawarkan diri.


" Terima kasih tapi aku sudah terlanjur memesan taksi online, tidak mungkin membatalkannya " Ruby menjawab dengan wajah menyesal, jika tau Ken mau mengantarnya sudah pasti dia tidak akan memesan taksi online.


Meskipun Rai menawarkannya tapi Ruby menolak, terlalu kaku berada satu mobil dengan Rai, dia tidak akan bisa bicara bebas, berbeda dengan Ken.


" Baiklah jika kau butuh seseorang untuk menjemputmu, hubungi aku "


" Tentu saja " Ruby mengangguk dan tersenyum.


Dia selalu berbicara santai dengan Ken tapi tidak dengan ku, apa dia pilih kasih ? Dulu ibu juga selalu bicara santai dengan Ken tapi dengan ku ibu selalu berhati-hati, aku tidak akan membiarkan itu terulang lagi. Pandangan tajam Rai menatap dua orang yang sedang mengobrol santai dan tertawa bersama.


“ Sayang bisa kau ambilkan aku lebih banyak telur gulung itu, kau lupa kalau itu adalah kesukaan ku “ ucapnya tiba-tiba kepada Ruby.


Semua orang terkejut dengan ucapan Rai barusan, Ruby sampai tersedak mendengarnya, membuat semua bulu di tubuhnya merinding, Ken mengambilkan minum agar Ruby berhenti batuk. Vivianne memasang wajah marah dan menatap Ruby dengan tajam.


“ Mana makanan kesukaanku ? “ ulangnya lagi melihat ekspresi terkejut Ruby. Sadar dari rasa terkejutnya Ruby segera mengambilkan makanan yang dimaksud.


Setelah insiden bekal itu, sekarang telur dan sup adalah menu wajib di pagi hari. Dan sopir mengatakan kepada pak Handoko bahwa Tuan juga meminta dibawakan bekal setiap hari. Membuat pak Handoko terkejut dengan perubahan sikap tuannya.


Selain memasak sarapan, pekerjaan Ruby juga bertambah menyiapkan bekal untuk tuan Rai, jika dia sudah sarapan bersama, Ruby hanya akan memberikan potongan buah yang di tata cantik membentuk bento, tidak lupa juga ucapan “ selamat makan, semoga anda tumbuh dengan sehat “ di tempel di kotak makan itu.


Membuatnya merasa itu pesan dari ibunya, begitu alasan Rai saat dia meminta dibuatkan bekal setiap hari.


Setelah sarapan yang mengejutkan itu, mereka semua berangkat bekerja, Ken dengan mobil pribadinya tanpa sopir, dan Vivianne yang menggantikan tugas sekertaris Yuri untuk sementara waktu.


Bisa bersama dengan Rai sepanjang hari membuatnya merasa di atas awan, pandangan matanya menunjukkan bahwa dirinya lebih penting dan berarti di hadapan Rai dibanding dengan Ruby.


Sikap Rai yang membiarkan Vivianne selalu menggandeng tangannya membuat hati Ruby kecewa dan sedih.

__ADS_1


Sopir sudah membukakan pintu untuk Rai, dia melihat Ruby yang menundukkan wajahnya. Kemudian menghampirinya, memeluknya dan mencium kening Ruby, membuatnya terkejut. Dia sudah tidak melawan lagi, membiarkan pelukan Rai semakin erat. Melawan pun tidak ada gunanya hanya membuat Rai semakin mengeratkan pelukannya.


“ Aku melihat ayah melakukan ini setiap hari sebelum berangkat kerja, dia akan memeluk ibu lama, dan mencium keningnya “ jelas Rai seperti mengerti ekspresi heran Ruby.


Yah tentu saja, kenapa aku lupa setiap yang kau perbuat adalah foto copy dari tindakan ayahmu, hati yang bodoh berhenti berharap. Kata hati Ruby.


“ Ah dan aku lupa, ayah juga selalu mencium bibir ibu, dulu aku dan Ken biasanya selalu menggoda ayah untuk melakukannya, dan wajah ibu akan malu-malu setelah itu, aku suka wajah ibu yang malu-malu bahagia. Apa aku harus melakukan itu juga padamu? Tanya nya kemudian.


“ Tidak perlu !! “ Jawab Ruby cepat dengan sedikit berteriak, Rai mengerutkan dahinya tanda tidak suka dengan jawaban Ruby.


“ Bukan begitu maksud saya tuan, pasti nyonya Lorie suka dengan ciuman dari Tuan Regis, tapi.. “ Ruby beralasan, tapi kemudian Rai sudah mencium bibirnya dengan lembut, membuat wajah Ruby memerah malu, dia selalu tidak terbiasa dengan ciuman dari Tuan Rai.


“ Aku suka wajah ibu yang merona malu, jadi aku akan melakukan ini setiap hari “ perintah Rai dengan nada mengancam.


Apa ? Baiklah, baiklah, aku memang harus menjadi semirip mungkin dengan Nyonya, itu lah pekerjaanku. Pikir Ruby.


“ Karena kau menunjukkan wajah malu ibu kepada ku, aku akan izinkan kau setiap akhir pekan menjenguk ayahmu “ suara Rai melunak, Ruby terlonjak bahagia.


“ Terima kasih atas izinnya “ jawab Ruby dengan senyum tercerahnya. Dia sudah sangat merindukan ayahnya.


" Jika kau butuh seseorang untuk menjemputmu, hubungi Handoko, dia akan mengirimkan supir " Rai menawarkan.


" Baiklah terima kasih atas kebaikan tuan " Ruby menjawab dengan sopan.


hahaha... aku sempat mengira kau akan menjemputku sendiri, bodohnya aku. Yaah mana mungkin Tuan Muda mau repot-repot menjemput pelayannya. Ruby tersenyum sendiri.


" apa ada sesuatu yang lucu ? " Rai bertanya karena melihat Ruby yang tersenyum-senyum sendiri.


" Ah tidak tuan, silahkan berangkat semoga hari anda selalu bahagia dan pekerjaan anda lancar " Ruby berusaha menutupi rasa malunya.


" Baiklah " jawab Rai singkat.


Rai melepaskan pelukannya dan masuk kedalam mobil, Vivianne menatap tajam ke arah Ruby, dia semakin ingin menyiksa nya.

__ADS_1


Mobil berlalu meninggalkan mansion itu.


Ruby kembali ke kamar dan bersiap-siap akan pergi.


__ADS_2