
Rai dengan cepat mengambil ponsel yang tadi di lemparkan Ignes ke meja. Ruby dan Ken segera menempel ke arah Rai, mereka bertiga berebut untuk melihat video viral tersebut.
Berbagai ekspresi tergambar di wajah mereka. Ken dengan senyuman lucunya, Ruby dengan helaan nafas leganya, dan sang bintang utama dengan otot wajah menegang menahan marah.
Ruby jatuh terduduk lemas di sofa, video itu di ambil dengan sudut yang membuat wajahnya tidak terlihat, hanya wajah Rai yang terlihat jelas.
Aku masih di lindungi, aku masih bisa selamat. Ruby bernafas lega dan mengelus elus dadanya.
Ken hanya tersenyum lucu melihat kakaknya dan Ruby yang berusah keras menyembunyikan identitas mereka.
Dan Rai, dia membanting ponsel Ignes. Wajahnya terlihat sangat kesal.
" Tenang saja Rai, aku akan memastikan video itu segera di hapus, aku akan mencari siapa yang menyebarkan video itu " Ignes berbicara, merasa Rai juga kesal karena videonya tersebar.
Ignes tau dan sangat percaya diri bahwa Rai tidak suka gosip tentangnya tersebar, dulu sewaktu mereka bersama, hanya dia yang menyebarkan gosip tanpa ada bukti apapun dari mereka berdua, tapi kali ini sebuah gosip dengan bukti nyata.
Ruby yang melihat ekspresi marah Rai merasa tidak enak, Ruby memang tidak memperkirakan akan di rekam seseorang dan kemudian video itu tersebar.
Dia mendekati Rai, memegang bahunya berusaha meredakan marahnya.
" Hei jangan di ambil pusing, aku yakin video itu juga sebentar lagi tidak akan viral " Ruby mencoba menenangkan.
" Aku sangat kesal, kenapa orang itu hanya merekam wajahku, harusnya dia merekam wajah kami berdua, harusnya dia dengan jelas merekam istri ku dan aku " Rai mengoceh kesal.
" Hah !!! " Kali ini Ignes, Ken, dan Ruby yang terkejut dengan ucapan Rai.
" Istri ?!? " Ignes berteriak, suara nya menggema di seluruh ruangan.
Habis sudah aku, kenapa aku tadi diselamatkan kalau hanya untuk di tenggelamkan lebih dalam. Ruby kembali terduduk lemas, lebih lemas dari sebelumnya.
Ken hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kakaknya, terlebih lagi tingkah Ruby.
" Rai apa yang kau bicarakan ? " Ignes berteriak.
" Hei pelankan suara mu, kami semua tidak tuli " Rai berkata ketus.
__ADS_1
" Ya aku sudah menikah, dan wanita di video itu istri ku " Rai menjawab santai.
Ruby sudah diam-diam berdiri dan berjinjit jalan menuju pintu keluar. Berharap bisa kabur dari perdebatan ini.
" Ruby " Panggil Rai dingin. Seketika tubuh Ruby membeku, dia ingin menangis sangat keras saat ini, menangisi nasib sialnya.
Selamat tinggal hidup damai. Ruby menghela nafas putus asa.
Ken dan Ignes menoleh ke arah Ruby. Ignes berjalan ke arah Ruby yang hampir sampai di depan pintu.
" Adik ipar apa-apaan ini ? Kau berjanji akan mmbantuku mendekatkan hubunganku dengan Rai, tapi kau malah menyembunyikan kenyataan kalau kakak mu sudah menikah " Ignes berkata ketus kepada Ruby.
" Apa ? " Ruby berbalik, dia heran kenapa Ignes masih memanggilnya adik ipar saat sudah tau bahwa Rai sudah menikah.
Situasi macam apa ini ? Apa Ignes masih belum sadar ? Ah benar video itu tidak memperlihatkan wajahku, haahh aku masih selamat kali ini. Ruby tersenyum lega.
" Adik ipar !! " Suara Ignes meninggi demi melihat Ruby yang tersenyum lega.
" Kau pengkhianat " Ignes kesal dan menyeret Ruby keluar dari ruangan itu.
Ignes dan Ruby duduk di bangku kayu di taman, di bawah pohon besar. Suasana yang cerah dan indah, tapi tidak dengan suasana hati Ignes. Dia sangat marah dan sangat kesal.
" Kenapa kau tidak pernah memberi tahu ku kalau Rai sudah menikah " Ignes mencecar Ruby.
" Aku... " Ruby bingung harus memberikan alasan apa.
" Apa kau mendukung wanita itu jadi kau juga ikut merahasiakan ini ? " Ignes menuduh Ruby.
Ruby hanya diam melihat Ignes yang marah dan menghentak-hentakkan kakinya. Dia tidak bisa berfikir jernih saat ini, jadi dia hanya akan diam saja daripada salah bicara dan membuat keadaan semakin rumit.
" Beritahu aku siapa wanita itu, apa pekerjaannya, apa bisnis orang tuanya, aku yakin dia bukan orang biasa, kalau sekelas aku saja tidak bisa menaklukan hati Rai, maka pasti dia bukan wanita biasa " Ignes mengoceh sendiri.
" Hei memangnya kalau sudah tau siapa dia kau akan berbuat apa ? " Tanya Ruby memancing.
" Aku akan mengirimnya ke alaska atau kutub utara, tidak akan ku biarkan dia bahagia bersama Rai " Ignes mengepalkan tangannya dan meninju telapak tangan yang lainnya. Ruby hanya diam saja melihat reaksi Ignes.
__ADS_1
" Kau hanya bercanda kan ? " Ruby memancing Ignes lagi, tersenyum masam.
" Tidak, aku serius. Aku benar-benar akan mencarinya dan membuat perhitungan dengannya. Aku harus tau wanita seperti apa yang sampai membuat Rai begitu tidak peduli dengan keadaan sekitarnya dan mencium wanita itu di tempat umum " Ignes ketus.
" Dan kau adik ipar, aku harap kau membantu ku, mendukungku, seperti aku yang selalu mendukungmu menyembunyikan identitasmu " Ignes menatap Ruby tajam.
" Hei sudahlah lupakan saja, ya ? " Ruby berusaha menenangkan Ignes.
" Aku tidak menyangka Rai akan jatuh cinta pada seseorang, kau tau adik ipar hanya aku satu-satunya wanita yang bisa dekat dengannya dulu, aku benar-benar tidak terima kalah dari orang lain. Meskipun aku berkata kalau aku lah cinta pertama nya, pada kenyataannya itu semua bohong, Rai sama sekali tidak pernah menganggap ku, tapi aku berusaha memahami nya, aku berharap suatu saat nanti Rai akan benar-benar mencintai ku. Lihat aku adik ipar, aku sangat cantik, berpendidikan, keluarga ku kaya, bukankah aku pasangan sempurna untuk Rai ? " Ignes menyombongkan dirinya sendiri.
" Yah tapi kau tau cinta tidak bisa di paksakan " Ruby mencoba menjelaskan.
" Tidak, aku akan membuat Rai menjadi milik ku, bagaimana pun caranya, meski harus menyingkirkan wanita sialan itu, aku akan membuat perhitungan dengannya " Ancam Ignes.
Bagaimana aku akan mengakui identitasku kalau tau kau akan membuat hidupku tidak tenang. Setidaknya aku bersyukur, aku tau siapa yang harus ku waspadai. Ruby menghela nafas.
Hari ini hari yang berat untuknya, dia ingin beristirahat sejenak.
" Baiklah aku harus kembali bekerja, kau tau Rai akan marah kalau kita terlalu banyak bergosip " Ruby beralasan.
" Kau benar, meskipun aku marah dengannya tapi aku juga harus tetap menemuinya untuk rapat " Ignes kemudian berpamitan dan meninggalkan Ruby sendirian di bangku taman itu.
Aku sedang memainkan drama apa ya ? kenapa alurnya susah di tebak. Ruby beranjak pergi menemuin Danny di sisi taman yang lain, dia akan memulai pekerjaannya.
" Ada apa ? Kenapa wajahmu terlihat kusut ? " Danny bertanya saat Ruby berada di sebelahnya, membantunya memotong cabang pohon-pohon kecil.
" Tidak tau, sepertinya aku sedang mengalami penuaan dini " Ruby menjawab asal.
" Hahaha... apa kau butuh seseorang untuk menemanimu perawatan laser ? " Danny menawarkan. Ruby mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Danny, dia tidak menyangka omongan asalnya di anggap serius oleh Danny
" Tidak " Ruby menjawab malas.
" Tersenyum lah Ruby, kau cantik saat tersenyum, jadi jangan cemberut lagi " Danny menepuk pundak Ruby.
Ruby menghela nafas, berharap dalam hati itu hanya basa basi dari seorang teman kepada teman. Dia tidak bisa membayangkan kalau yang di katakan Mey dan Tina menjadi kenyataan bahwa Danny menyukainya.
__ADS_1
Kalau sampai itu terjadi, aku yakin kepala ku akan menjadi 3, satu untuk Rai, satu untuk Ignes, dan satu untuk Danny. Hari ini aku terlalu banyak menghela nafas, aku rasa udara semakin tercemar karena masalahku.