
Rai melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Ruby lekat.
" Apapun yang kau lakukan aku akan selalu percaya dan mendukungmu " Rai mengelus kepala Ruby.
" Tapi sayangnya aku tidak " Ruby tersenyum licik.
" Berikan ponsel mu, berani-berani nya kau masih menghubungi Anne, kau ingin mati ? Ingat baik-baik, istrimu bukan tuan putri yang lemah lembut, jadi kalau kau selingkuh aku akan mematahkan tangan dan kaki mu " Ruby mengancam Rai.
Mendengar ancaman Ruby tidak membuat Rai takut, dia semakin merasa yakin kalau cinta Ruby kepadanya juga sangat besar.
" Aku menghubunginya untuk masalah pekerjaan, kau lupa dia masih bagian dari Klan ? " Rai menjelaskan lembut, dia memeluk pinggang Ruby lagi.
" Baiklah kali ini alasanmu masuk akal, aku menerimanya " Ruby mengangguk-angguk paham.
" Kau sendiri bagaimana ? Siapa lagi Rhoma itu ? Kenapa kau selalu di kelilingi laki-laki ? " Rai bertanya ketus mengingat Rhoma.
" Ah itu panggilan sayangku untukmu, tidak ada duanya di dunia " Ruby berbohong.
Semoga dia tidak tau, semoga dia tidak tau, semoga dia tidak tau.
Ruby terus merapalkan mantra itu di dalam hatinya dan membuat sikapnya sewajar mungkin.
" Ah seperti kota Roma ? Kota yang romantis ? " Rai membuat asumsi sendiri.
" Ya kau benar, Rhoma kepanjangan dari Rai Romantis, bukankah kau sangat romantis ? " Ruby bertepuk tangan ringan agar membuat dramanya semakin meyakinkan.
" Kau istri ku yang paling cerdas, kau bahkan memberikan ku julukan yang sempurna " Rai mencium pipi Ruby.
Ya Rai romantis, benar untung saja itu terlihat masuk akal. Aku selamat, aku selamat.
Ruby menghela nafas lega.
" Kau mau masuk atau masih mau disini ? " Tanya Ruby mengalihkan pembicaraan.
" Baiklah kita nikmati saja pestanya, aku belum pernah pergi ke pesta sederhana seperti ini " Rai mengungkapkan.
" Ah tapi tunggu sebentar, aku punya hadiah untukmu " Ucap Rai, dia kemudian mengambil sesuatu dari sakunya. Ruby memasang ekspresi heran, dalam rangka apa Rai menyiapkan hadiah untuknya.
" Taraaa " Rai mengeluarkan sebuah ponsel, keluaran terbaru dari merk ternama.
" Wuaaahh " Ruby berpura-pura terkejut.
Dia sebenarnya tidak terlalu menggilai gadget keluaran terbaru atau termahal, baginya ponsel hanya harus berguna sesuai fungsinya, untuk menelfon dan berkirim pesan, fitur lain hanya berupa bonus dari kecanggihan yang ditawarkan.
" Bukalah, hadiah sebenarnya ada di dalam " Rai memberikan ponselnya kepada Ruby.
Ruby menyalakan ponselnya, dan foto pernikahan mereka terpampang sebagai wallpaper di layar.
" Whoah kenapa lubang hidungmu besar sekali ? " Ruby mengomentari foto mereka yang terclose up hanya separuh badan.
" Hei kau !!! " Rai menahan geram karena mendengar komentar Ruby.
" Kau fikir kau cantik disitu ? Lihat wajahmu sama sekali tidak tersenyum, memangnya kau mau membuat foto KTP, pantas saja aku memanggilmu buronan, kau foto seperti seorang penjahat yang memegang kertas tanda pengenal " Rai balik mengomentari foto Ruby.
" Hahaha " Mereka tertawa bersama melihat foto mereka.
" Baiklah ayo kembali, aku sudah merasa lebih baik, selesaikan acara ini dan segera pulang " Rai berdiri dan membantu Ruby juga berdiri.
" Terima kasih hadiahnya " Ruby mencium bibir Rai dan kemudian pergi lebih dulu meninggalkannya.
__ADS_1
" Cih " Rai tersenyum merona.
Mereka masuk tidak berbarengan karena Ruby sudah lebih dulu sampai. Acara tiup lilin dan potong kue sudah mereka lewatkan karena ngobrol di taman.
" Ruby kemarilah " Tina memanggil Ruby.
" Ini waktunya berkaraoke " Tina memberitahu Ruby.
Tina maju kedepan dan menjadi pembawa acara.
" Baiklah tuan-tuan dan nyonya-nyonya, malam ini kita akan berpesta sampai puas. Mari kita mengadakan permainan agar suasana semakin meriah " Tina berbicara khas pembawa acara.
" Baiklah kita akan membagi team menjadi dua, kubu kanan dan kubu kiri, kita akan memainkan permainan tebak kata " Suara Tina memenuhi ruangan.
Rai yang baru saja masuk heran melihat acara ulang tahun itu sudah berubah.
Pak Hong yang melihat Rai datang segera menawarinya agar masuk kubunya. Bu Made tidak mau kalah, dia juga menawarinya agar masuk ke kubunya.
" Baiklah, baiklah jangan berebut, biarkan Tuan Rai sendiri yang ingin memilih masuk kubu mana " Tina sebagai pembawa acara menengahi.
Rai tidak paham dengan acara itu jadi dia diam saja, Ruby yang melihat itu berusaha menyelamatkannya. Dia memberikan kode kedipan mata pada Rai. Rai yang paham segera mendekati Ruby.
" Ok baiklah sudah ditetapkan Tuan Rai akan berada di kubu kanan " Tina menjelaskan.
" Sekarang kirimkan masing-masing perwakilan peserta kalian " Tina mengarahkan, dia sudah seperti pembawa acara profesional.
Yang maju pertama adalah Mey dan Anton, mereka akan bergantian mengenakan headset yang terputar musik yang keras, dan mereka harus bisa menebak setiap arahan bibir dari lawan mainnya.
" Teletubies beli buncis di paris " Mey berteriak kepada Anton yang sedang mengenakan headset dengan suara musik keras. Mey mengulanginya, dia hanya di beri kesempatan sebanyak 3x.
Anton melepas headsetnya dan menjawab kata yang di ucapkan Mey.
" Pak Kumis menangis teriris iris " Anton menjawab yakin, merasa benar dengan jawabannya.
Kali ini giliran Ken dan Daniel yang maju, Ken memakai headset lebih dulu dan akan menjawab kata yang di ucapkan Daniel.
" Ayo Ken " Ruby memberikan semangat.
Ken yang memang sosok periang dan kelewat percaya diri lalu mengangkat tangannya dan memberikan kiss bye nya kepada Ruby.
" Kau akan lihat keahlian ku kali ini Ruby " Suara Ken lantang.
" Cieeeee " sorakan teman-teman Ruby membahana, mereka mengira Ken adalah kekasih Ruby.
Daniel yang melihat itu semakin merasa cemburu, dia tidak ingin kalah dari Ken yang merupakan saingannya dalam memperebutkan hati Ruby.
" Ular melingkar-lingkar di atas pagar " Daniel mengucapkan katanya dengan lantang.
Ken tersenyum percaya diri. Dia terlatih membaca gerakan bibir, standart pelatihan dalam anggota Klan, jadi meskipun mereka berjauhan mereka akan saling mengerti kata yang di ucapkan, hal ini biasanya di lakukan saat menyergap tempat musuh mereka. Rai tersenyum melihat keadaan ini.
" Lihatlah ini akan sangat mudah untuk Ken " Rai berbisik lirih di telinga Ruby.
Ruby memandang Rai heran, bagaimana dia bisa begitu percaya diri akan menang.
Ken mengangkat tangan pertanda dia sudah mengerti jawabannya, membuat Daniel menghentikan niatnya untuk mengucapkan kata itu kedua kali.
Ken melepas headsetnya dan dengan bangga dia menjawab.
" Ular melingkar lingkar di atas pagar " Ken tersenyum sombong.
__ADS_1
Semua penonton bertepuk tangan takjub melihat Ken yang sangat luar biasa, termasuk juga Ruby, dia bertepuk tangan dengan bersemangat sekali. Daniel yang merasa kalah telak dari Ken terbakar cemburu.
" Baiklah kita akhiri permainan ini, sekarang saatnya persembahan, ayo siapa yang ingin menyumbangkan suara sumbangnya silahkan maju ke depan " Suara Tina lantang.
Semua penonton hanya bertepuk tangan dan tidak berani maju.
Daniel merasa ini lah saat yang tepat untuk menembak Ruby, dia akan menyatakan cintanya pada Ruby malam ini di depan semua teman-temannya. Dia berdiri yakin, melangkah maju ke depan.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Dia mengambil mic dan memilih sebuah lagu di layar tv datar yang ada di ruangan itu.
Waktu pertama kali ku lihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan, hati ini hanya untukmu
Terima lah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta
yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu ~~
Lagu by Andmesh Kamaleng
Dia menyanyikan lagu itu sampai habis, semua teman-teman bersorak dan bertepuk tangan bahkan ada yang bersiul memberinya pujian.
" Aku berlatih sangat keras menghafal lagu ini " Daniel mengucapkan kata-kata.
" Baiklah mari bersulang untuk Daniel, laki-laki yang jadi primadona di bagian cleaning service " Pak Hong berdiri mengangkat gelasnya.
Semua bersorak dan juga mengangkat gelasnya untuk memberikan penghargaan atas kerja keras Daniel mempersembahkan lagu berbahasa Indonesia.
" Bersulang " Mereka kompak berseru.
Rai dan Ruby juga tidak ketinggalan memberikan penghargaan sebagai bentuk penghormatan bagi Daniel.
" Will you marry me, Ruby ? " Daniel tiba-tiba menembak Ruby.
Rai yang sedang minum langsung menyemburkan kembali minumannya dengan sangat keras. Semua orang terkejut melihat Daniel, tapi sekarang mereka lebih terkejut lagi melihat reaksi Tuan Rai.
Rudal perang dunia sudah di tembakkan.
Ken menghela nafas
Gambaran Author tentang Daniel.
Maaf ya kalau mirip-mirip sama artis luar negeri, tapi memang author membayangkan dia yang jadi sosok Daniel.
Kalau nanti di chapter lain ada juga foto gambaran karakter Rai dan ternyata mungkin menurut teman-teman semua lebih gantengan Daniel itu relatif.
Karena di sini author ingin menyampaikan bahwa cinta ya cinta, tidak memandang fisik.
__ADS_1
Seperti sebuah pepatah yang mengatakan
~ Begitulah cinta deritanya tiada akhir ~