
Semua orang berkumpul menyaksikan acara baku hantam antara Rai dan Daniel. Mereka hanya mampu melihat tanpa berani memisah.
Keadaan tentu saja berat sebelah, meskipun sama-sama berpostur tubuh yang tinggi, tapi Rai bukan orang sembarangan. Dia di takuti bukan tanpa alasan, dia berhasil memimpin klan bukan tanpa keahlian. Berbagai macam bela diri yang di kuasainya sudah pasti bukan tandingan Daniel yang hanya mampu berkelahi ala streeth fighter.
" Rai berhenti " Ruby berteriak meminta Rai berhenti, tapi itu sama sekali tidak di hiraukan olehnya.
Meskipun Daniel sudah terkapar tak berdaya, Rai sama sekali tidak mengurangi kekuatan tinjunya. Wajah Daniel yang sudah babak belur dan berlumuran darah pun tidak mampu menimbulkan rasa empati dari Rai, dia tetap saja memukulinya.
Ruby segera menghampiri Rai berusaha menghentikannya.
" Rai... Rai... hentikan, hentikan aku mohon " Ruby berusaha meraih tangan Rai yang dia gunakan untuk memukul.
" Sayang... sayang " Ruby merayunya semampu yang dia bisa.
" Kau salah memilih lawan, aku bisa saja menghabisi mu, tapi tidak disini, tidak di depan Ruby. Tapi berhati-hati lah, siapa tau pesawat yang kau tumpangi adalah hal terakhir yang mampu kau lihat " Ancam Rai lirih dekat wajah Daniel.
Rai membanting tubuh Daniel sekali lagi, lalu meninggalkannya dalam keadaan setengah sadar dengan kondisi yang buruk. Dengan kesal dia meninggalkan area loby club dan menarik paksa tangan Ruby agar mengikutinya.
Rai berjalan cepat menuju ruangannya, menaiki lift dengan diam seribu bahasa dan tatapan mata yang masih di penuhi oleh amarah. Ruby yang berdiri di sampingnya hanya bisa diam tak bergerak dan menuruti semua perintah Rai. Dia sadar diri dan sadar tempat dimana dia bisa mengajak Rai berdebat atau hanya diam saja seperti saat ini.
Pintu lift terbuka dan dia segera keluar dengan menarik tangan Ruby, berjalan cepat membuat Ruby setengah berlari mengikutinya. Berhenti di depan pintu dan membukanya dengan kasar. Begitu pintu terbuka dia segera menuju sofa dan merebahkan dirinya dengan keras ke arah sofa. Menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
" obati luka ku " Perintahnya dingin.
Ruby bingung mendengar perintah Rai. Dia memeriksa wajah Rai, tetap mulus tanpa luka. Beralih memeriksa tangan Rai, hanya terlihat memerah akibat memukul.
Obati ? Obati apanya ? Tubuhnya masih utuh seperti tidak kenapa-kenapa. Aishh bagaimana ini ? Salah sedikit saja, aku juga bisa kena imbas kemarahannya.
Ruby berfikir ragu-ragu lalu memutuskan untuk menggenggam tangan Rai yang memerah, membawanya mendekat ke bibirnya lalu meniupnya. Melakukannya seperti seorang ibu yang mengobati luka anaknya.
" Apa yang kau lakukan ? " Tanya Rai heran karena merasakan hembusan di tangannya.
" Mengobatinya seperti perintah mu " Jawab Ruby polos.
" Apa itu terlihat seperti terluka ? " Tanyanya ketus.
__ADS_1
Bukan ini ya ? Lalu yang mana lagi.
Ruby menghela nafas panjang tanpa suara.
" Lalu bagian mana yang sakit sayangku, cintaku, manisku, seluruh dunia ku ? " Ruby bertanya lembut.
" Kau pikir saja sendiri " Rai menjawab ketus dan menepis tangan Ruby.
" Aku benar-benar tidak tau sayangku, yang kulihat dari perkelahian kalian tadi kaulah pemenangnya, dan aku melihat wajahmu masih mulus tak bercela, tanganmu tidak patah, kaki mu tidak pincang, hanya pergelangan tanganmu saja yang memerah " Ruby menjelaskan detail tentang ketidak tahuannya.
" Lalu kau pikir hati ku bukan bagian dari tubuhku yang tidak bisa terluka ? Lukanya bahkan lebih sakit dari bule yang sedang sekarat itu " Rai menjawab dengan ketus, nadanya sudah naik satu oktaf.
" Aah hati mu, maafkan aku sayangku yang terlambat menyadarinya, baiklah baiklah aku bersalah, mohon maafkan aku, ok ? " Rayu Ruby dengan suara manja.
" Sekarang kalau sudah tau cepati obati luka ku " Perintah Rai tetap dengan ketus.
" Baiklah, aku harus apa ? Kau ingin aku bagaimana ? " Tanya Ruby mengalah.
" Entahlah mungkin mencium ku " Rai menjawab asal. Dan secepat itu pula Ruby segera mencium pipi Rai.
" Kening " Rai mengulanginya. Ruby menurutinya, kali ini kesabarannya habis, dia menciumi seluruh wajah Rai tanpa tertinggal satu bagian pun.
" Sudah puas ? " Tanya Ruby lembut.
" Akan aku pikirkan " Rai menjawab malas, memalingkan wajahnya.
Ruby hanya bisa menghela nafas untuk mengumpulkan kesabarannya, melihat Rai yang sangat marah dia hanya bisa diam dan tidak mengusiknya.
Sementara itu teman-teman Daniel dari divisi cleaning service sudah membawanya ke ruang perawatan. Dan dokter jaga sudah menangani lukanya. Dia sedang terbaring beristirahat di ranjang pasien yang ada di sana.
" Bagaimana keadaan mu ? " Tanya Ignes tiba-tiba mengagetkan Daniel yang sedang beristirahat.
Dokter sudah membersihkan darahnya, dan sekarang terlihat lebam dan luka sobek di bagian pelipis, sudut bibir dan pipinya.
" Siapa kau ? " Tanya Daniel heran.
__ADS_1
" Aku manager utama, sekutu mu " Ignes memperkenalkan diri.
" Sekutu ? " Daniel mengernyitkan keningnya.
" Ya bukankah musuh kita orang yang sama ? Jadi bisa di katakan kita adalah sekutu ? " Ignes menjelaskan lagi.
" Musuh ? " Daniel masih heran dengan pernyataan Ignes.
" Well nona, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, musuh, sekutu atau apapun itu aku tidak punya " Daniel menyangkal pernyataan Ignes.
" Jangan berbohong. Aku sangat tau kau menyukai Ruby, dan kau sampai berani menantang Rai berkelahi demi dia, aku rasa kaulah satu-satunya orang yang bisa di katakan baik-baik saja saat berkelahi dengannya. Dulu saat Rai masih sekolah saja dia membuat koma semua lawan yang berkelahi dengannya, dia tidak kenal ampun. Yaah sangat menyebalkan juga dia menuruti apa kata perempuan sialan itu, tidak ku sangka cinta bisa merubahnya seperti ini, tapi aku bersyukur jadi aku bisa tau siapa saja yang harus jadi sekutu ku. Bukankah kau ingin merebut Ruby dari Rai ? " Ignes menyimpulkan pendapatnya.
" Ah jadi itu masalahnya, nona I think you wrong about something. Aku menantangnya berkelahi bukan untuk merebut Ruby. Aku tidak tau pandanganmu terhadap orang seperti ku, tapi aku masih punya pikiran. Aku tidak mungkin merebut istri seseorang, tidak mungkin aku merusak ikatan pernikahan " Daniel menjelaskan.
" Tidak mungkin, lalu kenapa kau berbuat seperti itu ? " Tanya Ignes kesal.
" Aku memang menyukai Ruby, dan kau tau tiba-tiba saja agen travel yang menipu ku mendatangi ku mengembalikan semua barang-barangku, dia datang dengan babak belur, saat ku tanya dia bilang seseorang mengancamnya agar mengembalikan semua barang-barangku dan aku harus segera pergi dari negara ini kalau tidak ingin bernasib sama sepertinya " Daniel menjelaskan awal mulanya.
" Lalu apa hubungannya dengan Ruby ? " Ignes masih tidak percaya.
" Sesaat setelah mereka mengumumkan pernikahan mereka, pihak imigrasi menghubungiku dan menyuruhku harus segera pergi dalam 1x24 jam. Dan aku tau ternyata suami Ruby bukan orang sembarangan, jadi ini pasti ulahnya karena aku telah meminta Ruby menikah denganku sebelumnya. Jadi aku memutuskan untuk melawannya, setidaknya luka-luka ini akan jadi pengingat kesalahanku karena sudah mencintai istri orang " Daniel menjelaskan sambil terkekeh.
" Kalau kau ingin bekerja sama dengan ku, maka kau bisa mendapatkan Ruby " Ignes menawarkan.
" Wo wo wo calm down mam. Aku tidak mungkin melakukan itu karena satu, aku tidak mungkin merusak hubungan suci sebuah pernikahan, kedua aku masih sayang nyawa ku, kau lihat sendiri bukan suami Ruby seperti apa. Jadi aku sarankan kau juga sebaiknya berhenti menganggu mereka, aku tidak tau apa alasan mu berbuat seperti ini, tapi jangan libatkan aku, ok ? " Daniel menolak dengan tegas.
Mendapat penolakan kerja sama dari Daniel, Ignes kesal dan meninggalkan ruang perawatan dengan emosi. Ponselnya berbunyi.
" Apa ? Sebaiknya ini berita bagus atau aku akan bergerak sendiri untuk melenyapkan Ruby, aku tidak peduli cara kasar atau lembut, yang aku inginkan mereka segera berpisah " Ignes menjawab dengan geram yang di tahan.
Tiba-tiba raut wajah Ignes berubah, seringai kejam dan licik menghiasi bibirnya mendengar rencana rekannya untuk memisahkan Ruby dan Rai.
" Baiklah kita laksanakan rencana itu nanti sore, aku harap kau menepati janji mu kali ini, karena kalau tidak aku sendiri yang akan melenyapkannya dengan tanganku " Ancam Ignes, dia kemudian menutup sambungan telfonya dan kembali ke ruangannya dengan tersenyum puas.
Kau boleh tersenyum bahagia saat ini Ruby, tapi hidupmu hanya tinggal menghitung jam saja, dan si psikopat gila itu akan mendapatkan mu untuk di siksa hahahaha
__ADS_1