Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Dua Puluh Lima


__ADS_3

Bel istirahat makan siang pun berbunyi, Blair yang memiliki setumpuk pertanyaan di kepalanya itu tidak dapat berkonsentrasi seharian ini. Pikirannya terus saja bertanya-tanya ada apa dengan dirinya dan keadaan aneh yang menimpanya. Mulai dari dirinya yang tiba-tiba memberi semangat pada Dylan di tengah-tengah lapangan, lalu Dylan yang tiba-tiba menyelamatkan harga dirinya di depan teman-teman satu kelasnya dari nilai buruk matematikanya.


Semua kejadian tidak normal itu membuatnya gelisah sendiri. Murid-murid yang sudah kelaparan itu pun langsung menghambur keluar setelah selesai merapikan buku-buku mereka, atau dengan asal memasukkannya ke dalam laci meja dan pergi keluar dengan buru-buru sebelum antrean makan siang mengular.


Blair melirik Dylan dengan canggung, di lihatnya Dylan yang dengan santai sedang merapikan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas.


Apa dia selalu setenang ini atau hanya sok cool di depanku ?


Batin Blair bertanya-tanya.


Namun dirinya tidak menyadari Dylan sudah berdiri dari duduknya dan akan pergi ke kantin.


" Eh tunggu dulu " Secara reflek tangan Blair memegang tangan Dylan, mencegahnya pergi.


" Hm ? " Dylan memiringkan kepalanya melihat Blair.


" Kena... " Tanyanya bingung namun belum sempat Dylan menyelesaikan kalimatnya Dera yang entah seorang siluman atau Doraemon itu pun lagi-lagi tiba-tiba muncul di depan mereka.


" Dylan " Panggilnya lembut.


Dera seperti memiliki pintu kemana saja milik Doraemon yang bisa membuatnya mendadak ada dan tiada. Atau mungkin mereka berdua yang memang terlalu fokus pada satu sama lain hingga tidak menyadari Dera sudah mengamati mereka sejak tadi di depan pintu. Hingga akhirnya Dera melihat Blair yang memegang tangan Dylan, di bakar api cemburu dia langsung buru-buru masuk ke dalam kelas menghampiri Dylan.


Dylan dan Blair langsung menoleh ke arah Dera yang sudah ada di depan mereka.


Dia ini spesies apa sih ? Selalu saja ada saat tak di butuhkan !!


Maki Blair dalam hati kesal, dan tanpa sadar dia meremas tangan Dylan yang pegangnya.


Dylan berjengit kaget merasakan sakit yang tiba-tiba, dia kembali menoleh ke arah Blair, melihat Blair yang sedang menatap Dera dengan tersenyum manis, berbanding terbalik dengan r*masan tangannya yang sepertinya mampu meremukkan tulang.


Dylan berdehem memecah keheningan yang membentang sesaat. Dia lalu duduk kembali ke kursinya dan menyembunyikan tangan mereka yang sedang berpegangan ke bawah meja.


" Kau akan makan siang ? Aku juga. Mau bersama-sama ? " Tanya Dera dengan senyumnya yang manis dan suaranya yang lembut.


Kretek !! Tangan Dylan kembali di r*mas oleh Blair.


Dylan sedikit menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang meringis menahan sakit. Dia melirik Blair yang masih saja menatap Dera dengan tersenyum. Seolah tidak sadar dia telah meremukkan tangan Dylan dengan wajahnya yang tersenyum.


Cih dasar artis, pandai sekali berakting.


Dylan tersenyum sendiri melihat tingkah Blair yang menurutnya menggemaskan.


Dera yang terus saja memperhatikan Dylan dan senyum simpulnya tidak luput dari penglihatan Dera.


" Ada apa Dylan ? Kenapa kau tersenyum ? " Tanya Dera malu-malu.


Apa ?!?!


Blair yang mendengar itu dengan cepat menoleh ke arah Dylan dan juga melihatnya yang sedang senyum-senyum sendiri.


Kau ini murahan sekali sih, di ajak makan siang bersama saja sudah sesenang itu.


Terbakar rasa kesal Blair tanpa sadar semakin mengeratkan r*masan tangannya.


Dylan bukan hanya tersenyum sekarang, tapi tertawa tertahan merasakan sakitnya kemarahan Blair.


" Ada apa sih Dylan ? " Tanya Dera manja.


" Ehem... ehem.. " Dylan berdehem dan menegakkan punggungnya lalu menatap Dera. Kembali berusaha terlihat serius.


" Baiklah... " Jawab Dylan menahan tawanya.


Kretak !! Blair semakin kesal dan sekarang mendelik ke arah Dylan.


" Kau duluan saja, aku akan menyusul " Lanjut Dylan dengan suara tercekat menahan sakit dan tawanya. Mengabaikan mata Blair yang mendelik padanya.


" Kenapa tidak bersama-sama saja ? " Cecar Dera tidak sabaran, merasa bahagia ajakannya kali ini mendapat respon baik dari Dylan.

__ADS_1


" Aku masih ada sedikit urusan, kalau kau tidak mau tidak apa-apa, aku akan makan siang sendiri " Jawab Dylan santai.


" Ah tidak, tidak " Saut Dera cepat, dia tidak ingin satu langkah baiknya ini berantakan.


" Aku akan menunggumu di kantin " Lanjut Dera tersenyum lebar tidak menutupi kegirangannya.


" Sampai ketemu di kantin, aku akan menunggumu " Pamit Dera lalu pergi keluar kelas.


Dasar jailangkung !! Datang tak di undang, pulang minta di antar !!!


Maki Blair kesal menatap punggung Dera yang pergi menjauh, lalu menghela napas keras begitu Dera sudah menghilang di balik pintu.


" Sudah bisa kau lepaskan " Ucap Dylan menatap Blair dengan senyum gemas.


" Apa ? " Tanya Blair ketus melirik tajam ke arah Dylan.


" R*masan tanganmu " Jawab Dylan santai dan menunjuk tangan mereka yang bersembunyi di balik meja dengan lirikan matanya.


" Haaah ?!?! " Pekik Blair lalu secepat kilat melepaskan pegangan tangannya.


" A-aku... ma-maaf.. " Blair tergagap dan menatap tangan Dylan yang sudah memerah karena kuatnya r*masan tangannya.


" Itu sakit " Goda Dylan menahan senyum, menikmati kepanikan Blair. Dia mengangkat tangannya dan memutarnya di depan Blair seakan menunjukkan luka memerah yang dia sebabkan.


" Kau mau ke uks ? Atau kerumah sakit " Tanya Blair panik dan meniup-niup tangan Dylan karena merasa bersalah.


Kapan aku meremas tangannya ? Aish bagaimana ini ? Kalau dia menuntut ku apa aku akan kena pasal penganiayaan ? Ini akan jadi scandal kasus yang buruk kalau sampai dia melakukannya.


Blair terus saja meniup-niup tangan Dylan dengan panik dan wajahnya yang pucat memelas. Mengutuki setiap kebodohannya yang tidak bisa menjaga imagenya sebagai artis yang baik dan lemah lembut.


" Ya sepertinya aku harus ke ugd atau mungkin operasi, tulang-tulang jariku rasanya remuk " Dylan semakin menggoda Blair, dia tidak tahan melihat ekspresi panik dan takut Blair yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan. Perpaduan antara polos dan tulus.


" O-operasi ? " Pekiknya semakin takut.


" O-ok ki-kita bisa ke rumah sakit, a-ayo " Ajaknya panik dan langsung berdiri.


" Kau yakin ? " Blair kembali duduk dan mengamati tangan Dylan.


" Ya " Jawabnya cuek.


" Ada apa ? " Tanyanya kemudian.


" Ada apa apanya ? " Blair balik bertanya bingung.


" Aish dasar oneng " Decak Dylan kesal.


" Kau tadi memanggilku ada apa ? " Tanyanya ketus.


" Ah itu " Pekiknya kembali mengingat tujuan awalnya.


" Aku lupa " Jawab Blair polos.


Haiihh !! Ingin ku gigit saja dia ini.


Teriak batin Dylan yang semakin gemas dengan wajah polos Blair. Dia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya.


" Ah ya aku ingat sekarang " Pekik Blair kemudian setelah berhasil mengingat lagi. Dylan kembali menatapnya dengan wajah serius.


" Kenapa kau menyembunyikan nilai ku ? " Tanya Blair.


" Tidak ada, hanya saja nilai mu terlalu buruk untuk di pamerkan " Jawab Dylan asal.


" Apa ?!? Terlalu buruk untuk di pamerkan ? " Pekik Blair kesal. Baru saja dirinya merasa bersalah atas kejadian tangan Dylan, kini darahnya sudah kembali mendidih mendengar kata-kata Dylan yang setajam sikat.


" Me-memangnya berapa nilaiku sampai kau bisa bilang itu terlalu buruk untuk di pamerkan " Tantangnya membusungkan dada dan dagu yang terangkat. Harga dirinya menolak untuk di rendahkan.


" Kau tidak akan sanggup melihatnya, karena itu buruk untuk kesehatan mata " Jawab Dylan santai.

__ADS_1


" Apa ?!? " Teriak Blair semakin kesal setengah mati, napasnya kembang kempis menahan rasa kesal yang memenuhi rongga dadanya.


" Setidaknya itu usaha ku sendiri, aku tidak mencontek " Sautnya membela diri.


" Aku tidak menuduhmu mencontek " Jawab Dylan lagi-lagi dengan santai, menikmati setiap ekspresi kesal yang tergambar di wajah Blair.


" Sudah, mana ! " Blair menodongkan tangannya meminta nilai hasil ujiannya yang asli.


" Kau yakin ? " Goda Dylan.


" Te-tentu saja " Jawab Blair gelagapan dengan berkacak pinggang.


Memangnya seburuk apa sih sampai bisa merusak kesehatan mata.


Batinnya bertanya-tanya.


" Ok baiklah " Dylan mencebikkan bibirnya santai, lalu mengambil tas yang menggantung disamping mejanya dan menaruhnya di atas meja. Menarik resletingnya untuk membukanya.


" Nih " Dia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat menjadi 2 bagian.


" Setidaknya aku orang yang jujur " Sungut Blair dan meraih kertasnya dengan kasar.


Jantung di dadanya berdegub dengan kencang, dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan-lahan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Setelah beberapa kali helaan napas, dia memberanikan diri untuk membukanya perlahan-lahan.


Dylan yang duduk di samping Blair terus saja mengamati tingkah Blair, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum-senyum sendiri.


Dia ini menggemaskan sekali sih.


Tawanya dalam hati.


Blair melirik Dylan yang masih saja duduk disampingnya.


" Kenapa kau tetap disini ? " Tanyanya sinis.


" Aku hanya berjaga-jaga " Jawab Dylan acuh dan mengedikkan bahunya.


" Untuk apa ? " Tanya Blair semakin kesal.


" Yaah siapa tau kau yang butuh di bawa ke ugd karena pingsan melihat hasil ujianmu " Jawab Dylan santai.


" Kau !! " Desis Blair kesal, namun dia menahannya dan kembali menghela napas. Memutuskan mengabaikan mulut berbisa Dylan.


Perlahan-lahan Blair membuka kertasnya, memincingkan kedua matanya untuk mengintip.


Duarr !!! Bahu Blair merosot dan langsung menyandar ke bangkunya begitu melihat angka bertinta merah yang tertera di kertas yang di pegangnya.


" Pft... " Dylan hampir saja kelepasan tawanya.


" Kau yakin tidak ingin ke uks ? " Tawar Dylan menggoda.


" Pergi " Jawab Blair lemas tak bertenaga.


" Ayo aku antar " Goda Dylan lagi.


" Pergilah " Jawab Blair mulai sedikit kesal.


" Ok baiklah baiklah, aku pergi " Dylan tersenyum dan bangkit berdiri, lalu berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik badan. Menatap Blair dengan serius.


" Harusnya warna itu yang cocok untuk bra mu, dan warna bra mu harusnya menjadi warna angka yang ada disana " Tunjuk Dylan ke kertas yang dipegang Blair.


" Pergi kau ke neraka !!! " Teriak Blair keras dan Dylan hanya tergelak melihat kemarahan Blair lalu meninggalkannya pergi.


Santet, pelet, atau apalah itu. Aku pasti akan melakukannya padamu.


Blair meremas kertas yang ada di tanganya dan membenamkan wajahnya di meja menahan marah.


25. Nilai apa ini !!!

__ADS_1


Blair menghentak-hentakkan kakinya menahan malu bukan main.


__ADS_2