Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
The Power Of Suketi


__ADS_3

" Nona bangun " Sofia menggoyang-goyang tubuh Blair yang terbungkus selimut. Penampilannya benar-benar buruk dengan riasan yang belum di hapusnya semalam.


" Sudah tau akan ada pemotretan malah mabuk " Decak Sofia kesal karena Blair tak kunjung bangun. Dia menarik selimut Blair dengan keras dan menyentakkannya ke lantai.


" Pak bawa aku, adopsi saja aku " Jerit Blair tanpa sadar dan langsung bangun seketika.


" Iya iya nanti akan aku adopsi kau, tapi sekarang bangun dan mandi dulu, kita sudah terlambat " Omel Sofia sembari menarik lengan Blair yang masih linglung.


" Loh ? " Blair menatap Sofia dengan bingung.


" Kok kau ada disini ? " Tunjuknya dengan mata yang masih menyipit.


" Makanya jangan mabuk, kau itu artis tapi tidak menjaga image mu. Bagaimana sih " Sofia memukul lengan Blair karena kesal, dia lalu menghempaskan tubuhnya duduk di samping Blair.


" Mabuk ? Masa aku mabuk ? " Sanggah Blair tidak percaya lalu kembali akan membaringkan dirinya.


" Hei " Sinis Sofia menatap Blair dengan tajam dan menahan tubuh Blair.


" Kau itu mabuk sampai muntah-muntah di mobil orang, untung saja pak sopir itu baik hati tidak menurunkanmu di tengah jalan " Omel Sofia kesal.


" Oh ya ? " Pekik Blair langsung membuka matanya lebar-lebar.


" Bagaimana ini ? Apa dia tau aku Blair si artis yang terkenal ? " Tanyanya panik.


" Aku tidak tau karena pelayan lain dan mama mu yang menjemputmu di pintu depan " Jawab Sofia santai.


" Sudah ayo cepat, kita sudah terlambat " Lanjut Sofia berdiri dan menarik Blair agar juga ikut berdiri.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Ayo kita pulang " Tiba-tiba saja Rai berdiri dan mengajak Ruby yang ada disampingnya.


" Loh kena... " Tanya Ruby bingung, tapi Rai sudah menatapnya dengan tajam. Membuat Ruby menyimpan pertanyaannya dan lebih memilih menuruti perintah Rai.


Kiran dan Ken serta Dylan juga langsung ikut berdiri. Vivianne sang tuan rumah pun tak kalah bingung, pesta mereka bahkan belum di mulai tapi Rai sudah ingin pergi.


" Rai tunggu " Cegat Vivianne ikut berdiri.


" Aku ada urusan yang lebih penting, jadi kami akan pergi " Jawab Rai tegas.


" Tapi... " Vivianne ingin kembali mencegahnya, namun uluran tangan Gerald menghentikannya.


" Tidak apa-apa sayang, mungkin tuan Rai sedang sangat sibuk. Dia mau datang ke pesta kita saja sudah merupakan suatu kehormatan tersendiri " Ucap Gerald menenangkan Vivianne.


Bisa Ruby lihat kalau suami Vivianne orang yang sangat sabar dan pengertian, cara bicaranya yang lemah lembut dan selalu tersenyum juga selalu menatap lawan bicaranya mengisyaratkan bahwa dia adalah lelaki baik-baik.


Yah setidaknya dia mendapatkan jodoh yang baik meskipun perangainya seperti penyihir.


Batin Ruby saat menatap Gerald yang sedang menepuk punggung Vivianne.


" Kau lihat apa, hah ? " Tanya Rai langsung berdiri di hadapan Ruby, menghalangi pandangannya ke arah pengantin baru tersebut.


" Apa sih " Decak Ruby sembari mengerutkan alisnya. Kesal karena Rai telah membohonginya. Dia bilang akan ada banyak laki-laki yang akan menatapnya, membuatnya harus berganti pakaian berulang kali. Tapi nyatanya bahkan sangat di luar dugaan.


" Ayo cepat " Rai langsung merangkulkan lengannya ke pundak Ruby dan menyeretnya pergi dari sana.


" Hei lepaskan, aku kan bisa jalan sendiri " Omel Ruby memukul lengan Rai yang melingkar di lehernya.


Dan dia baru melepaskannya saat mereka telah sampai di depan mobil mereka yang sudah siap menunggu. Bahkan Rai sendiri yang membukakan pintu mobil untuk Ruby dan dengan setengah memaksa dia langsung menyuruh Ruby masuk. Kemudian dia buru-buru berjalan memutar untuk ikut masuk ke dalam mobil melalui sisi pintu yang lain.


Rai yang terlihat sangat kesal itu pun membanting pintu mobil saat menutupnya. Ruby yang sudah masuk lebih dulu bahkan sampai berjengit kaget dan menatap Rai dengan heran.


" Ada apa ? " Tanyanya bingung.


" Tidak " Jawab Rai ketus.


" Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau marah ? " Kejar Ruby, memiringkan badannya menghadap ke arah Rai yang sudah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Otot wajah yang menegang juga wajahnya yang memerah adalah bukti jelas bahwa suasana hati Rai sedang sangat buruk saat ini.


" Kan sudah ku bilang, pakai pakaian yang jelek dan jangan berdandan, ini juga kenapa penutup wajahmu tipis begini ? " Rai menyentakkan jaring-jaring yang menutupi wajah Ruby.


" Memangnya tidak ada yang lebih tebal, bukannya aku sudah menyiapkan banyak jaring seperti ini di lemari mu, kenapa memilih yang ini " Omel Rai tiba-tiba meledak.


Ruby yang terkejut itupun langsung paham alasan Rai marah-marah, dia hanya cemburu. Tapi cemburu pada siapa ? Bukankah laki-laki yang hadir di pesta tadi semuanya sudah cukup berumur, dan lagi mana berani mereka semua memandang Ruby dengan pandangan macam-macam, mereka pasti sudah sangat mengerti bagaimana cerita tentang Rai.


" Sayang... " Ruby menangkup kedua pipi Rai dan memaksanya menghadap wajahnya.


" Yang terpenting kan mata ku selalu menatap ke arah mu " Jawab Ruby sabar lalu mengecup bibir Rai.


" Ya itu kan memang sudah seharusnya " Jawab Rai masih ketus tapi kadar kemarahannya telah menurun drastis.


" Maaf ya karena aku tidak memilih jaring yang lebih tebal " Ruby melingkarkan tangannya ke pinggang Rai dan menyandarkan pipinya ke dada Rai.


" Kalau kau begini aku bisa apa " Gumam Rai membalas pelukan Ruby.


" Oh ya kau bilang ada urusan penting, apa aku harus pulang dengan Kiran ? " Tanya Ruby mengalihkan perhatian Rai agar kemarahannya lenyap sepenuhnya.


" Tidak usah, kau juga harus melihat ini " Jawab Rai santai, dia kemudian memerintahkan sopir agar melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan milik Klan Loyard.

__ADS_1


Matahari memang telah beranjak naik, namun cuaca siang ini tidak terlalu terik, malah terlihat sedikit awan mendung yang menghiasi langit. Membuat suasana menjadi sedikit lebih sejuk daripada hari-hari biasanya.


Blair yang sudah sampai di pusat perbelanjaan Klan Loyard itu sedang berada di ruang tunggu khusus untuk berhias dan bersiap-siap.


Dia sudah tidak lagi penasaran dengan konsep pemotretannya kali ini, berkat keahlian mengupingnya semalam. Jadi yang dia lakukan hanya perlu berdoa sebanyak mungkin agar pekerjaannya kali ini berjalan lancar.


Bisa dia bayangkan wajah angkuh Megan, model seniornya, yang akan marah kalau dia sampai membuat kesalahan sedikit saja.


" Kak Sofia " Panggil Blair lirih sembari melirik Sofia yang sedang sibuk menyiapkan pakaiannya.


" Apa ? " Tanya Sofia mendekat. Blair menatap make up artist nya dan meminta izin untuk berhenti sebentar mendandaninya.


" Apa mulutku bau minuman ? " Bisik Blair mencondongkan tubuhnya ke arah Sofia.


" Iya, memangnya kenapa ? " Tanya Sofia mengangguk dengan jujur tanpa di tutup-tutupi.


" Ish kau ini " Decak Blair kesal, setidaknya berbohong sedikit agar dia tidak terlalu merasa bersalah kan bisa, begitu pikir Blair.


" Kalau begitu bisa tolong carikan aku sesuatu agar bau mulutku hilang ? Aku tidak ingin hal ini di jadikan Megan sebagai bahan untuk mencari gara-gara dengan ku " Bisiknya lagi.


" Ok baiklah " Jawab Sofia mengangguk dan kemudian pergi ke luar ruangan.


Bukannya Blair tidak menyadari tentang bau mulutnya itu, oleh karena itu dia hanya dia diam saja saat make up artist mendandaninya. Biasanya dia akan cerewet dan banyak bertanya ini itu, sekedar mengakrabkan diri dan membangun image yang manis, tapi kali ini dia tidak bisa melakukannya.


Padahal aku sudah sikat gigi dan menghabiskan separuh isi pasta gigi, tapi kenapa baunya masih tetap ada sih.


Gerutunya kesal sendiri.


Setelah beberapa lama, akhirnya Blair menyelesaikan proses make up nya dan hanya tinggal berganti pakaian. Namun saat dia sedang menunggu Sofia kembali tiba-tiba sang photographer masuk dan memberitahukan jika pemotretan akan di tunda selama satu jam karena Megan belum datang.


Lenguhan dari para kru pemotretan hari ini saling bersaut-sautan, mereka semua langsung memasang wajah jengah begitu mendengar nama Megan.


" Benar-benar artis yang buruk " Gerutu salah satu penata busana di sudut ruangan dan langsung menghempaskan dirinya ke sofa.


Dan kru yang lain pun mulai ikut menimpali, mereka semua juga menumpahkan keluh kesal mereka berdasarkan pengalaman mereka bekerja sama dengan Megan.


Itulah yang Blair takutkan, gosip serta bisik-bisik orang lain di belakangnya bisa menjadi sangat berbahaya. Satu kata yang di sampaikan oleh seseorang bisa menjadi 3 kata saat di sampaikan oleh orang berikutnya. Mereka beranak pinak dan pada akhirnya sulit di kendalikan juga di ketahui mana kebenarannya atau kebohongannya.


" Sudah ayo kita minum kopi dulu, kebetulan aku punya kupon gratis di cofee shop yang ada di lantai 3 " Suara salah seorang kru itupun memungkas pembicaraan gosip di antara mereka.


Mereka semua berdiri dan berpamitan pada Blair yang masih duduk diam di kursinya.


" Apa kau juga ingin minum kopi Blair ? " Tawar salah satu dari mereka.


" Tidak terima kasih, aku belum sarapan jadi aku tidak bisa minum kopi " Tolak Blair dengan sopan. Dia bahkan sengaja menutup mulutnya secara samar-samar, menghalau bau alkohol yang mungkin saja bisa tercium oleh mereka semua. Dia tidak ingin menjadi Megan kedua yang di gosipkan oleh mereka saat mereka sedang menikmati kopi.


Suasana hening langsung membentang begitu pintu tertutup, Blair menghela napas panjang lewat mulutnya dan melonggarkan bahunya yang sedari tadi terasa tegang.


" Augh " Serunya menutup hidungnya sendiri saat bau alkohol tercium oleh indera penciumannya.


" Kenapa aku bodoh sekali sih " Dia memukul kepalanya sendiri, ini kedua kalinya dia merasakan yang namanya mabuk. Yang pertama karena dia salah mengira soda dan soju, dan kali kedua adalah karena keinginannya sendiri. Keinginan yang menjadi penyesalannya seumur hidup.


" Kalau bukan karena tamparan papa, aku pasti tidak akan membuat keputusan sebodoh itu " Sesalnya sembari menutup kedua wajahnya dan menunduk dalam.


" Aish... bagaimana sih menghilangkan bau minuman ini " Dengan kesal dia membuang-buang napasnya melalui mulut, berharap dengan begitu seluruh sisa bau alkohol yang tertinggal di mulutnya segera hilang.


Namun di saat tengah khusyuk mengeluarkan bau mulutnya, tiba-tiba saja pintu yang ada di hadapannya terbuka, dan sosok yang tak di sangka-sangkanya masuk ke dalam.


" Bu Kiran !! " Pekik Blair bingung sekaligus terkejut. Reaksi yang sama juga di keluarkan oleh Kiran yang langsung berhadapan dengan Blair.


" Se-sedang apa bu Kiran a-ada di-di sini ? " Tanya Blair gelagapan dan mengcengkeram pegangan kursinya kuat-kuat.


" Bau apa ini ? " Kiran yang mencium bau aneh itupun langsung menutup hidungnya.


Hei !! Aku lupa baunya.


Batin Blair panik dan buru-buru mengambil kipas tangan yang ada di meja di belakangnya.


" Ba-bau apa ya ? " Tanya Blair pura-pura ikut mengendus bau di udara sembari menyodorkan kipasnya ke sekelilingnya.


Huek !! Baunya mengerikan.


Batin Blair menahan napas saat ikut menghirup aroma menyengat itu. Dia lalu bergidik jijik membayangkan dirinya sendiri saat mabuk semalam.


" Aku tidak tau ini ruang apa, tapi kata tuan Rai aku disuruh kesini saja " Jawab Kiran santai sembari mengamati seluruh ruangan tersebut.


Tuan Rai ? Tuan Rai klan Loyard kan ? Kenapa bu Kiran bisa kenal tuan Rai ? Apa jangan-jangan...


Batin Blair bertanya sendiri, lalu berdiri mengamati Kiran.


" Tadi aku sedang merasa sedikit pusing, lalu dia bilang aku bisa beristirahat di sini " Jelas Kiran sembari terus berjalan mengelilingi ruangan itu.


" Ini ruangan apa ? " Tanya Kiran santai menoleh ke arah Blair.


" I-ini ruangan tunggu untuk istirahat para artis juga kru " Jawab Blair masih gelagapan, dia sedang menerka-nerka dengan otak onengnya siapa sebenarnya Kiran. Jika tebakannya tepat maka dia sedang dalam masalah besar.


" Oooh... " Jawab Kiran mengangguk-angguk paham lalu beranjak menuju sofa panjang di sudut ruangan.

__ADS_1


" Sini, duduklah sini " Ajak Kiran tiba-tiba antusias, dia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.


Blair yang masih ragu-ragu itu pun berjalan mendekat dengan hati-hati, ada 2 kemungkinan tentang Kiran yang muncul di kepalanya.


Satu, Kiran adalah istri Rai yang selama ini tersembunyi.


Dua, Kiran adalah saudara Rai atau kerabat dekatnya, itulah alasan kenapa Kiran sangat santai berada dekat-dekat dengan Dylan.


Nah kan ! Saat nama Dylan muncul di kepalanya, mendadak Blair seperti merasakan sebuah perasaan dejavu. Dia merasa bertemu Dylan semalam dan berciuman dengannya.


Blair buru-buru menggelengkan kepalanya, bukankah dia sudah berjanji akan mengakhiri perasaan tak berbalasnya untuk Dylan.


Yah benar ! Jangan luluh hanya karena namanya Blair, ingat kau seorang artis yang cantik dan terkenal, kau bisa dapat laki-laki manapun di dunia ini.


Batinnya menenangkan dirinya sendiri, tapi siapa yang coba dia bohongi, hatinya berdenyut nyeri saat mengingat kembali sikap dingin Dylan padanya. Seperti ada sebuah lubang hitam besar yang menyedot seluruh perasaannya saat membahas tentang Dylan. Dia seperti zombi yang tak memiliki perasaan apapun, hanya kosong dan hampa.


" Jadi bagaimana ? " Tanya Kiran antusias, dia ingin mendengar langsung cerita lengkapnya dari si artis pemeran utama. Dia ingin tahu kelanjutan kisah antara Dylan dan Blair semalam.


" Kosong " Jawab Blair tanpa sadar, menjelaskan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya saat ini.


" Kosong ? " Kiran mengernyitkan keningnya bingung. Ah mungkin maksudnya Dylan belum menyatakan cintanya, bahasa anak muda jaman sekarang. Batin Kiran menebak dengan logikanya sendiri lalu mengangguk-angguk maklum.


" Sabar saja mungkin nanti atau besok dia akan menembak mu, sabar saja ya " Ucap Kiran menepuk pundak Blair untuk menyemangatinya.


Namun belum lagi Blair paham apa maksud ucapan Kiran, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dengan sangat keras.


" Cih dasar laki-laki sialan, berlagak sekali. Baru juga anak pungut sudah banyak gaya " Umpatan demi umpatan itu meluncur dari bibir tipis Megan yang baru saja masuk ke dalam.


Di belakangnya, seorang asistennya dengan tergopoh-gopoh mengikuti langkah lebar dari kaki jenjangnya.


Kiran dan Blair saling bertatapan bingung, mungkin di pikiran mereka terbersit pertanyaan yang sama " Sedang kerasukan setan apa wanita ini ".


" Lihat saja nanti, akan ku buat dia menyesal telah menolak ku dengan kasar begitu " Gerutuan kasar masih saja meluncur dari bibir Megan, bukannya dia tidak tau kalau di ruangan itu dia tidak sendiri, tapi dia terlalu angkuh untuk memperhatikan Kiran maupun Blair.


Blair yang melihat kalau sesuatu yang buruk akan segera terjadi itupun tanpa sadar menciut takut di balik punggung Kiran, seolah mencari perlindungan dari guru BK nya tersebut.


Kiran yang paham berinisiatf mengajak Blair pergi dari ruangan itu, mendengar sumpah serapah juga tidak baik bagi perkembangan mental muridnya, begitu pikir Kiran.


Dengan menggenggam tangan Blair dia menariknya bangun, lalu mengajaknya keluar dengan jalan perlahan-lahan.


" Hei kau anak baru " Tiba-tiba saja Megan memanggil Blair.


" I-iya kak " Balas Blair dengan cepat dan menghadap ke arah Megan.


" Awas saja kalau kau berani membicarakan masalah ini di luar sana, ku pastikan karir modelmu akan berakhir dengan buruk " Ancamnya kepada Blair.


Di kuasai rasa takut oleh ancaman Megan dan juga jenjang kesenioran, Blair mengangguk dengan cepat menuruti perintah Megan, lalu kembali menghadap Kiran dan mengajaknya segera pergi dari sana.


" Lihat saja, akan ku buat Ken bertekuk lutut di bawah kaki ku " Geram Megan lagi, mengomel sendiri.


Langkah kaki Kiran langsung berhenti. Nama suaminya sedang di sebut oleh perempuan lain. Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya, menatap Megan dengan penuh selidik.


" Apa kau lihat-lihat ? Hah ?! " Sentak Megan dengan angkuhnya.


Ah aku ingat sekarang, dia perempuan yang menamparku malam itu.


Batin Kiran saat menatap wajah Megan lekat-lekat, dulu dia terlalu takut untuk menatap wajah wanita yang menamparnya. Tapi tidak kali ini, suaminya di usik perempuan lain. Nalurinya sebagai istri yang ingin melindungi suaminya pun muncul dan memberikan suntikan keberanian padanya.


" Kau bilang apa tadi ? " Tanya Kiran seraya berjalan perlahan mendekati Megan, dia bahkan tanpa sengaja menepis dengan keras tangan Blair yang berusaha mencegahnya.


" Hei wanita gila, berani-beraninya kau bertanya padaku. Kau ingin mati ya ! " Sentak Megan semakin meninggikan suaranya. Baguslah, begitu pikir Megan. Suasana hatinya yang buruk dan emosinya yang membuncah butuh untuk di lampiaskan, dan di hadapannya ada seorang gadis idiot yang mencoba bermain-main dengan singa lapar.


" Aku tanya sekali lagi, kau bilang apa tadi ? Kau akan membuat Ken apa ? " Ulang Kiran acuh, semakin mengikis jarak antara dirinya dan Megan.


" Apa urusan mu mau ku apakan Ken ? " Tanya Megan sarkas, dengan gayanya yang angkuh dia melipat kedua tangannya di dada dan memandang Kiran dengan sinis.


" Ah jadi kau fansnya si anak pungut itu ya ? Tidak heran kau bereaksi berlebihan " Lanjutnya mencemooh.


" Anak pungut " Ulang Kiran semakin dingin, dia sudah mengepalkan tangannya menahan emosinya, tapi dia tidak boleh gegabah. Dia juga harus bisa memperkirakan peluang kemenangannya jika memang harus berkelahi dengan wanita culas yang ada di hadapannya itu.


Kiran sadar diri dia bukan Ruby si pemegang sabuk hitam taekwondo, yang sudah pasti akan menghajar lawannya tanpa pikir panjang.


" Memangnya kau tidak tau kalau idola mu itu hanya seorang anak pungut ? Dia anak yatim piatu yang merengek mengemis pada tuan Regis agar bisa di angkat menjadi anak. Ku beritahu ya, hanya wajahnya saja yang tampan, tapi otaknya nol " Megan terkekeh saat mengucapkan kata-kata buruknya.


" Bermimpi bisa jadi saingan tuan Rai, cih sampai kiamat pun dia tidak akan bisa " Lanjutnya semakin sarkas.


" Tarik ucapanmu itu, kau tidak tau apa-apa tapi seenaknya bicara " Jawab Kiran dingin, suasana moodnya yang gampang berubah-ubah karena masa PMS itu langsung tersulut oleh makian-makian yang di lontarkan Megan.


" Hei kau gadis *****, bangun dari mimpi mu. Idola mu itu selamanya hanya akan jadi anak pungut. Sudah bagus aku yang seorang model papan atas ini mau dengannya, tapi dia malah berlagak sok dan menolakku dengan kasar " Cibir Megan dengan sinisnya.


Kiran menghitung dalam hati, entah sudah berapa hinaan yang Megan lontarkan untuk menjelek-jelekkan Ken nya. Dia sudah tidak bisa mentolerirnya lagi, jiwa suketinya berontak ingin menuntut balas.


Tidak salah kau menjuluki ku suketi sayang.


Batin Kiran mantap ingin menyumpal mulut wanita itu dengan sepatu hak tingginya.


Dengan cepat Kiran melepas satu sepatunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

__ADS_1


" THE POWER OF SUKETI " Teriaknya lantang dan berlari menerjang Megan sembari mengacungkan sepatunya.


__ADS_2