
" Aku pulang " Ucap Blair lemas saat berjalan masuk ke dalam rumah.
" Kau sudah pulang ? " Sambut Nania, ibu Blair yang sedang memotong tangkai bunga untuk di masukkan kedalam vas.
" Ya " Jawab Blair malas dan langsung duduk di sofa yang ada di hadapan ibunya.
" Hm ? " Nania mengernyitkan keningnya saat melihat Blair mengenakan jaket yang kebesaran dengan tubuhnya.
" Jangan tanya, aku tidak akan menjawabnya " Ucap Blair seperti paham dengan apa yang ingin di tanyakan ibunya, Blair menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya seraya memegang dadanya yang terus saja berdetak tak karuan.
Bayangan Dylan yang memberikannya jaket serta mengomentari masalah pakaian dalamnya kembali muncul, membuatnya langsung berjengit kaget dan menegakkan punggungnya.
" Oooh ! " Pekiknya.
" Ingatan macam apa itu ? Aku merinding " Blair bergidik lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menggosok-gosok lengannya.
" Kenapa ? " Tanya Nania yang juga ikut terkejut mendengar Blair memekik.
" Entahlah, sepertinya ada yang aneh dengan tubuhku " Jawabnya lemas seraya memegang dadanya.
" Rasanya aneh disini " Lanjutnya dan menggosok-gosok dadanya.
" Kenapa ? Apa kau sakit ? " Tanya Nania panik dan ikut-ikutan menyentuh dada Blair.
" Hah ?!?! " Pekiknya menutup mulut.
" Jantungmu berdetak tidak normal sayang, apa kau baik-baik saja ? " Tanyanya cemas.
" Aku tidak tau, sejak pagi tadi rasanya seperti berdesir saat berdetak " Jawab Blair juga heran.
" Hah !! Aku tau kau kenapa !! " Pekik Nania dan terhuyung mundur.
" Apa ? Apa ? Apa ? " Tanya Blair panik melihat ekspresi ibunya yang pucat.
" Manager Yo cepat bawa Dasya ke rumah sakit, aku rasa dia terkena penyakit jantung " Jawab Nania panik.
" Apa ?!?! " Kini ganti Blair yang terkejut oleh ucapan ibunya.
" Dulu kakekmu juga begitu, jantungnya berdetak dengan cepat lalu kita telat membawanya ke rumah sakit dan akhirnya dia meninggal di perjalanan " Serunya panik.
" Aish, mama ini kenapa bicara begitu ? Aku jadi takut sekarang " Jawab Blair takut.
" Sudah tidak ada waktu, cepat pergi ke rumah sakit, biar kau selamat, manager Yo antarkan Dasya cepat " Ucapnya seraya menarik tangan Blair agar segera berdiri dan menariknya keluar rumah.
Blair yang juga ketakutan menuruti keinginan ibunya dan bergegas masuk kedalam mobil. Manager Yo dengan sigap segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Lord, rumah sakit terbaik di negeri ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Mobil Rai dengan asal memasuki pelataran rumah sakit dan berhenti dengan melintang, tidak peduli dengan suara klakson mobil di belakangnya yang terkejut karena tindakannya yang berhenti mendadak.
Dia membuka bagasi mobilnya dan mengambil besi pemukul baseball. Dylan yang masih bingung hanya bisa menoleh kesana kemari, mencerna kata-kata Rai yang bilang ingin main baseball tapi malah menuju rumah sakit.
Namun belum sempat dia menguasai rasa ketidaktahuannya, Rai sudah berjalan menuju mobil yang membunyikan klakson padanya tadi.
Prang !! Prang !! Prang !! Rai memukul kaca mobilnya dengan tongkat pemukul baseball.
" Hah ?!?! " Pekik Dylan semakin bingung dan panik. Dan segera saja para penjaga berlarian ke arah Rai. Pemilik mobil yang takut hanya bisa menjerit-herit histeris di dalamnya.
" Bakar mobil itu " Perintah Rai kesal dan langsung masuk kedalam rumah sakit. Dylan yang masih syok oleh kejadian barusan hanya bisa mengikuti Rai di belakangnya.
Jika selama ini dia menganggap Ken menyeramkan bila sedang marah, maka kemarahan Rai kali ini seribu kali lebih menakutkan baginya. Namun dia yang masih belum tau apa-apa hanya bisa mengikutinya tanpa bertanya apapun.
Rai langsung menuju ruang keamanan yang ada di rumah sakit itu, membuat semua petugas yang berada di dalamnya kalang kabut menyambutnya.
" Putar rekaman cctv " Perintah Rai dan langsung duduk di depan deretan layar monitor yang gunanya untuk memantau seluruh area rumah sakit.
" Anda ingin rekaman hari apa tuan ? " Tanya Kepala keamanan sopan.
" Hari ini " Jawab Rai tegas.
__ADS_1
" Baik tuan " Jawabnya sopan menundukkan kepala lalu mencari data di folder monitor. Sebuah rekaman kemudian terputar, di mulai dari pagi hari, saat suasana rumah sakit masih sepi.
" Siang hari saja " Perintah Rai lagi, karena menurut perkiraannya Ruby pasti berbicara dengan dokter Noh setelah menghabiskan waktu bersama ayahnya.
" Baik tuan " Jawab kepala keamanan rumah sakit.
Dia lalu memutarkan rekaman cctv berkisar antara jam 11 ke atas, namun bukannya gambaran Ruby dengan dokter Noh yang dia lihat, melainkan gambaran Ruby yang sedang menangis di atap lalu berlari masuk kedalam gazebo dan bersembunyi di balik tirai.
" Kenapa dia malah bersembunyi begitu ? " Gumamnya heran.
" Bisa kau sertakan pemutar suaranya ? " Perintahnya lagi.
" Baik tuan " Kepala keamanan lalu menekan serangkaian tombol keyboard dan kemudian memunculkan suara dari rekaman cctv.
Betapa terkejutnya Rai mendengar percakapan kedua perawat yang asyik bergosip tentang Ruby tanpa rasa takut itu, begitu juga dengan seluruh orang yang ada di ruangan itu, mereka semua terkejut mendengar setiap kata yang di lontarkan kedua perawat tersebut. Dan mereka paham bahwa ini akan menjadi masalah besar.
Otot-otot wajah Rai menegang karena emosi yang benar-benar memuncak. Tapi dari percakapan kedua perawat itu juga Rai jadi tau bahwa ada seseorang yang berniat untuk mendonorkan jantungnya untuk ayah mertuanya.
" Panggil kedua perawat itu, bawa mereka ke atap " Perintah Rai tegas. Kepala keamanan lalu memerintahkan anak buahnya untuk memanggil kedua perawat tersebut.
Terlihat petugas lain menghubungi bagian resepsionis dan melanjutkan perintah Rai, namun dari ekspresinya dan gelengan kepalanya, sepertinya dia berada dalam keadaan sial.
" Maaf tuan, kedua perawat itu jaga malam, dan saat ini mereka sudah pulang " Jawab petugas itu dengan takut-takut.
" Apa ? " Jawab Rai dingin, lalu berdiri perlahan, menghadap Kepala keamanan dan menatapnya tajam. Dengan gerakan cepat dia menendang tulang kering di kaki Kepala petugas keamanan dan membuatnya hampir jatuh untuk sesaat, namun dia segera menegakkan tubuhnya kembali.
" Apa aku bertanya dia ada disini atau tidak ? " Tanya Rai tegas.
" Tidak tuan " Jawabnya tegas.
" Lalu kenapa kau memberi tahukan padaku dia tidak ada disini ? " Tanya Rai lagi.
" Maaf tuan, kami akan segera membawanya ke atap seperti perintah tuan " Jawabnya lagi lalu memberikan kode kepada bawahannya untuk segera melaksanakan perintah Rai.
Rai yang masih kesal kembali duduk dan mengambil ponselnya, dengan cepat menghubungi Sekertaris Yuri agar mencari tau siapa pendonor jantung yang di bicarakan oleh kedua perawat tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Blair dan Nania serta manager Yo datang ke meja resepsionis dan mendaftarkan secara khusus untuk pemeriksaan dokter jantung.
" Silahkan tunggu sebentar tuan " Ucap Resepsionis tersebut seraya mengantar Blair dan Nania masuk ke ruang tunggu khusus untuk para tamu VVIP.
" Tenang saja sayang, dokter Noh adalah dokter jantung terbaik di sini " Ucap Nania menenangkan putrinya yang sedari tadi masih terus mengelus-elus dadanya.
Di tempat lain, ponsel Rai bergetar, dia melihatnya dan itu adalah panggilan dari Sekertaris Yuri yang memberitahukan identitas keluarga pasien pendonor jantung. Dan juga informasi lainnya yang membuat Rai semakin meradang.
" Sekertaris Yuri aku akan bermain baseball, bereskan sisanya nanti " Ucap Rai dingin lalu menutup sambungan teleponnya.
Dylan yang sedari tadi bingung sekali malah bertambah bingung saat Rai menghubungi Sekertaris Yuri dan masih bilang dia ingin bermain baseball padahal nyatanya mereka ada dirumah sakit sekarang sedang membuat keributan.
" Ka... " Dylan memberanikan diri membuka mulutnya untuk bertanya, namun terlambat Rai sudah berdiri dan dengan wajah yang menyeramkan dia pergi keluar ruangan. Dan Dylan lagi-lagi hanya bisa mengikutinya dengan bingung.
Dokter Noh yang di beritahu oleh resepsionis bahwa keluarga tuan Dimitri yang termasuk salah satu klien VVIP di rumah sakit tersebut sedang menunggu untuk pemeriksaan segera menemui mereka di ruang tunggu.
" Selamat siang nyonya Dimitri Glazkov " Sapa Dokter Noh sopan dan menundukkan kepalanya.
" Selamat siang dokter Noh " Balas Nania juga sopan.
" Apa yang membawa anda kemari nyonya ? " Tanya Dokter Noh.
" Begini... Das ah maksud saya Blair anak saya sepertinya sedang tidak enak badan, jantungnya berdetak tidak normal, jadi saya ingin melakukan chek up untuknya " Jelas Nania.
" Oh nona Blair artis yang sedang tenar saat ini bukan ? " Sapanya kepada Blair yang sedang duduk dengan memakai penutup kepala jaket milik Dylan serta memakai masker dan kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya.
" Iya " Jawab Blair sopan dan menundukkan kepalanya.
" Baiklah silahkan keruangan saya, saya akan memeriksa anda dengan teliti, mari " Ajak Dokter Noh kepada Nania dan Blair.
Mereka berdua berdiri dan mengikuti Dokter Noh keluar ruangan, namun baru saja selangkah keluar Rai yang datang tiba-tiba sudah mencengkram leher baju Dokter Noh dari belakang, membuatnya berteriak kaget. Begitu juga Nania dan Blair.
__ADS_1
" Ampun tuan " Teriak Dokter Noh begitu melihat Rai.
" Ikut dengan ku " Ucap Rai acuh dan langsung menyeret Dokter Noh.
Nania dan Blair yang melihat itu hanya bisa terhuyung mundur memberikan Rai dan Dokter Noh jalan untuk melintas.
" Tunggu dulu " Cegah Dylan yang merasakan aroma-aroma perkelahian antara kakaknya dengan sang dokter.
Rai yang sudah berjalan beberapa langkah pun berhenti dan berbalik menghadap Dylan, begitu juga Blair dan Nania serta manager Yo langsung menoleh ke asal suara yang dengan berani mencegah Rai yang terlihat seperti orang sedang kerasukan.
" Hah ?!? " Pekik Blair begitu melihat Dylan, lalu dengan cepat menoleh ke arah Rai.
" Hei apa kau bilang ? " Tanya Rai dingin kepada Dylan.
" Ada apa ini ? " Dylan balik bertanya bingung.
" Apa ? " Rai balik bertanya melihat Dylan yang masih saja belum mengerti situasi yang terjadi.
Namun saat Dylan akan membuka mulutnya untuk menjawab Rai, Blair berlari menerjang Dylan dan membekap mulutnya. Lalu menyeretnya pergi dari sana. Rai yang juga bingung dengan kejadian itu hendak menyusul Dylan, tapi urusannya dengan Dokter Noh jauh lebih penting, jadi dia mengabaikan Dylan dan kembali menyeret Dokter Noh pergi.
Dylan menepis tangan Blair yang menutupi mulutnya setelah berjalan beberapa jauhnya dari mereka.
" Ssstt... " Blair kembali membekap mulut Dylan yang akan melayangkan protesnya.
" Aku ini sedang berusaha menyelamatkan mu dari maut tau " Jawab Blair ketus. Dia mendongakkan kepalanya mencari tau apakah keadaan sudah aman. Setelah di rasa cukup aman dia menghela napas lega dan beralih menatap Dylan.
" Aahh... " Blair melepaskan tangannya dari mulut Dylan karena Dylan menjilat tangannya.
" Hiiiyy jijik " Blair langsung mengusapkan tangannya dengan kasar ke pakaian Dylan.
" Siapa kau ? " Tanya Dylan sinis.
" Dasar tidak tau terima kasih " Jawab Blair sinis lalu membuka kacamata hitamnya dan maskernya.
" Aku baru saja menyelamatkan mu dari maut tapi kau malah menjilat tanganku " Lanjutnya ketus.
" Menyelamatkan ? " Tanya Dylan bingung.
" Aish dasar bocah ini " Decak Blair.
" Meskipun mau jadi pahlawan setidaknya kenali dulu lawanmu, kau itu bukan iron man yang bisa bebas menghentikan kejahatan tidak peduli siapa lawanmu " Jelas Blair kesal.
" Kau ini ngomong apa sih " Jawab Dylan acuh dan melangkah pergi akan menyusul Rai.
" Eh tunggu dulu " Blair menarik tangan Dylan, mencegahnya pergi.
" Kau tidak tau kalau orang yang kau teriaki tadi itu tuan Rai " Omel Blair ketus.
" Memangnya kenapa ? " Tanya Dylan malas.
" Kenapa ? Kenapa ? Wuah bocah ini sok sekali ! " Sinis Blair semakin kesal.
" Hei asal kau tau, dia itu tuan Rai dari Klan Loyard, pemilik rumah sakit ini, dan dia itu sangat kejam, kau meneriakinya begitu kau pikir dia akan melepaskanmu dengan mudah ? Baginya kau ini hanya remahan kerupuk yang jika dia ingin, dia hanya perlu huuuuh.... " Blair memperagakan meniup sesuatu di telapak tangannya.
" Kau akan terbang di tiup angin, habis tak bersisa " Lanjutnya.
" Ck " Dylan masih berdecak kesal dan tetap akan melangkah pergi.
" Eeiii... " Tarik Blair lagi.
" Kau ini bodoh atau apa sih, kan sudah ku bilang dia itu tuan Rai, pemilik rumah sakit ini, kau jangan berurusan dengannya jika kau masih ingin pergi sekolah dengan selamat besok, lagipula kau itu sekolah di sekolah milik Klan Loyard, masa kau tidak tau siapa tuan Rai " Jelas Blair semakin kesal karena Dylan terus saja mengabaikannya.
" Kau ini bawel sekali ya " Jawab Dylan malas, dia lalu mengamati Blair dari atas sampai bawah.
" Apa ? " Tanya Blair bingung melihat Dylan menatapnya seperti itu.
" Kau sudah ganti bra mu belum ? " Tanya Dylan asal.
" Apa ?!? " Pekik Blair syok.
__ADS_1
" Melihatmu begitu sepertinya belum, cepat ganti sana sebelum ku minta kembali jaketku dan bra hitam mu itu akan jadi konsumsi orang banyak " Jawab Dylan acuh dan langsung pergi meninggalkan Blair yang kesal dengan wajah memerah malu.
" Sialan !!! " Geram Blair penuh emosi dan mengepalkan kedua tangannya.