
" Silu ah maaf Tuan Re ah bukan maksud saya ayah, bukan mereka yang memberikan julukan itu, tapi Ken, ah tidak tidak maksud saya mereka berdua tidak bersalah " Ruby terbata-bata mencoba menjelaskan kepada Regis.
" Aish kakak ipar, kau bukannya menjelaskan malah semakin memperburuk keadaan " Ken berbicara dengan menahan geram yang terdengar seperti desisan.
" Marimar sudah kau diam saja, mulut berbisa mu itu selalu saja kelepasan bicara " Rai juga ikut menyalahkan Ruby.
" Sudahlah kalian semua tidak perlu bertengkar, kenapa meributkan masalah sepele seperti ini " Regis melerai dengan santai.
" Lagi pula benar apa yang di katakan Ruby, seseram apa hukuman yang akan di berikan seorang ayah kepada anaknya sampai membuat kalian ketakutan seperti itu ? Aku ini ayah kalian, kenapa kalian membuatku terlihat seperti penjahat yang kejam ? " Regis mengeluarkan seringainya yang mengerikan.
Meskipun kata-kata dan nada bicaranya seperti seorang ayah yang sabar dan pengertian, tapi itu sangat berbanding terbalik dengan ekpresinya saat ini. Sunggingan seringai di ujung bibirnya dan tatapan membunuh itu menunjukkan bahwa baik anak atau pun musuh, dia akan memperlakukan mereka sama.
Ken benar, tuan Regis bukan orang yang bisa di ajak bercanda. Ruby mulutmu memang benar-benar sesuatu. Selalu saja merusak suasana apapun.
Ruby menelan ludah dan tersenyum kaku merasa namanya di sebut.
Kali ini dia lah penyebab hukuman mati suami dan adik iparnya. Setelah ini mereka pasti akan memberikan julukan baru untuk Ruby sebagai seorang pengkhianat.
Ayo otak berfikirlah, apa yang bisa menyelamatkan mereka saat ini.
Ruby berusaha berpikir keras di tengah suasana yang tegang.
Rai dan Ken hanya bisa diam menunduk menerima vonis pidana dari ayahnya.
" Tuan kau segera berpisah dari putri ku " Regis melanjutkan bicaranya, menunjuk Rai dengan wajahnya. Suaranya masih tetap terdengar tenang.
Mendapat perintah seperti itu membuat Rai marah dan mendapat suntikan keberanian untuk melawan.
" Tidak akan pernah. Aku akan menjalani hukuman apapun yang ayah berikan asal aku bisa bersama marimar ah bukan maksud ku Ruby " Rai menjawab tegas.
" Kalau begitu bertandinglah samurai dengan ku besok " Regis masih menjawab santai dan melanjutkan makan malam nya.
Rai terkejut mendengar tantangan dari ayahnya. Dia memang sedikit menguasai ahli ilmu pedang, tapi bila harus bertanding melawan ayahnya itu hal yang mustahil untuk menang. Karena ayahnya di ajari langsung oleh samurai asli dari negeri sakura, sedangkan Rai hanya di ajari oleh tenaga profesional biasa.
Dia hanya bisa lemas dan menoleh ke arah Ruby dengan pandangan menyalahkan. Ruby yang mendapat pandangan seperti itu merasa bersalah sekali. Tapi dia belum bisa menemukan ide agar membuat ayahnya membatalkan hukuman.
Regis bukan Rai yang dia kenal seluk beluknya dengan baik, yang akan luluh dengan jurus rayuan manis atau kedipan mata sok imutnya.
" Dan untuk Ken, ayah ingin bertanding gulat dengan mu besok pagi " Regis kembali melayangkan tantangan untuk Ken.
Kali ini di sertai dengan sikap mengintimidasi Regis yang di tunjukan secara langsung dengan cara mematahkan tulang kaki kalkun panggang dan memakannya secara barbar. Membuat nyali Ken melayang dan merasakan kekalahan bahkan sebelum bertanding.
__ADS_1
" Kenapa kalian semua diam, ayo lanjutkan makan malam kalian. Kalkun ini sangat lembut, bahkan ayah bisa mematahkan tulangnya dengan satu tangan " Ucapnya dengan tersenyum lebar yang hangat, tapi kata-katanya sangat mengintimidasi Ken yang sudah berwajah pucat pasi.
Ruby semakin merasa bersalah. Dia bingung harus berbuat apa untuk membatalkan pertandingan gulat juga samurai besok pagi.
Alasan kerja, ya benar Rai dan Ken harus bekerja besok. Tapi kan mereka pemilik perusahaan, jadi mereka bisa libur kalau hanya satu hari, tidak akan ada yang berani protes. Aish bagaimana ini.
Ruby memainkan jarinya di bawah meja, mencoba meredakan kegugupan dan ketakutannya.
Ah benar !! Cara itu, semoga ini berhasil.
Ruby tiba-tiba mendapat ide dan tersenyum girang.
" Tuan Regis ah maaf maksud saya Ayah, bolehkan saya mengadakan pesta barbeque besok ? " Ruby bertanya dengan tergagap dan ragu-ragu.
" Barbeque ? " Tanya Regis heran, yang di jawab dengan anggukan antusias dari Ruby dan mata yang berbinar penuh bahagia karena merasa rencananya sepertinya akan berhasil.
" Ide yang bagus untuk merayakan kekalahan mereka hahaha " Regis tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Ruby.
Ruby terkejut ayahnya menganggap permintaannya adalah bentuk dukungan untuk acara tantangan esok hari. Ken dan Rai serempak memelototkan mata mereka ke arah Ruby. Membuatnya semakin salah tingkah.
" Tidak bukan begitu, maksud saya, saya ngidam ingin memakan daging sapi " Ruby menjelaskan ragu-ragu.
" Benarkah ? Aku akan menyuruh Handoko agar menyiapkan sebuah pesta barbeque untuk mu besok " Regis terlihat serius memperhatikan permintaan Ruby.
" Tidak " Ken.
" Jangan " Rai. Seru mereka berbarengan.
" Begitu kah ? Tidak masalah. Aku akan mengabulkannya untuk putri kesayangan ku " Regis menjawab mantap.
" Terima kasih ayah, dan bolehkah saya juga mengundang beberapa teman ? " Ruby meminta izin kembali.
" Lakukan apapun yang membuatmu bahagia " Regis mengizinkan dengan tersenyum hangat.
" Terima kasih banyak ayah " Ruby memekik girang.
" Baiklah mari lanjutkan makan malam ini " Regis memberikan perintah santai.
Mereka semua kemudian melanjutkan makan malam dalam diam. Selesai makan ayah mereka segera pergi ke ruang pribadi nya dan memanggil pak Handoko untuk ikut bersamanya.
Hanya Ruby dan kedua kakak beradik itu yang masih tinggal di meja makan.
__ADS_1
" Kakak ipar terima kasih untuk pesta barbeque nya, tidak ku sangka menjadi kalah rasanya akan selezat sapi panggang " Sindir Ken sinis.
" Cih kalian ini tidak tau terima kasih " Ruby menjawab ketus.
" Aku melakukan itu agar kalian terhindar dari hukuman. Kalau besok ayah sibuk memotong sendiri sapi nya, apa dia akan punya waktu untuk bertanding gulat dengan mu dan samurai dengan mu ? " Ruby menunjuk Ken dan Rai bergantian.
Tiba-tiba Rai dan Ken seperti paham apa maksud Ruby yang meminta untuk pesta barbeque.
" Ah kakak ipar kau memang yang terbaik, aku sangat menyayangi mu " Ken berubah menjadi sangat manis dan mengedip-ngedipkan mata meniru Ruby yang biasa merayu Rai dengan cara seperti itu.
" Marimar ku kau sangat pandai. Kau menyelamatkan suami mu " Rai memeluk Ruby dari samping.
" Berterima kasihlah dengan layak besok, aku akan menagihnya kalau kalian tidak melakukannya " Ruby berpura-pura mengancam.
" Tenang saja aku akan memberikan hadiah untuk pesta mu besok " Ken menjanjikan.
" Kau ingin apa dari ku ? " Bisik Rai seperti desahan di telinga Ruby, membuatnya merinding geli.
" Sudah lah aku lelah, aku ingin istirahat " Ruby memutuskan untuk pergi ke kamarnya, Rai mengekori di belakangnya meninggalkan Ken sendirian di ruang makan.
" Aish mereka semua meninggalkan aku sendirian, apa aku juga harus segera menikah ya ? " Ken bergumam sendirian.
Ruby membuka pintu kamar dan memasukinya, baru beberapa langkah kakinya Rai yang ada di belakangnya tiba-tiba menggendongnya, menutup pintu dengan dorongan kaki nya.
Ruby yang terkejut hampir saja berteriak jika Rai tidak segera membungkamnya dengan ciuman lembut di bibirnya.
" Aku sangat merindukan mu sayang ku " Rai merayu nya setelah melepaskan ciumannya.
Wajah Ruby merona malu mendapat rayuan dari Rai.
" Bersiaplah malam ini aku akan mengajak mu begadang " Rai menggoda Ruby dan menyunggingkan senyum nakal.
" Tidak Rhoma !! Bukankah kau bilang kita tidak boleh begadang hahahaha " Ruby berusaha membuat lelucon.
" Apa maksud mu ? " Rai tidak mengerti apa maksud Ruby.
" Ya Rhoma yang menyanyikan lagu begadang jangan begadang hahaha " Ruby menjelaskan dengan tertawa.
" Kalau Roma yang ini malah sangat menganjurkan untuk begadang, itu lah bedanya aku dan dia " Rai meletakkan Ruby dengan hati-hati di atas kasur dan mulai menghujani seluruh wajah Ruby dengan ciuman tanpa terlewatkan satu titik pun.
" Karena begadang kita ada artinya " Rai melanjutkan candaan Ruby yang di sambut dengan gelak tawa mereka berdua tentang lelucon Rhoma.
__ADS_1
Tidak ku sangka begadang akan semanis dan sebermanfaat ini.
Rai mulai aksinya dengan Ruby