
Acara makan malam yang sejatinya santai dan penuh kenikmatan oleh makanan bercita rasa tinggi yang di siapkan para koki dengan bahan berkualitas premium itu pun berubah jadi bencana akibat ucapan konyol Ken yang menjelaskan bahan utama salah satu makanan yang sedang tersaji di meja saat ini.
Adelia dan Kiran yang paham betul maksud Ken berusaha menginterupsi sebelum keadaan berubah semakin kacau.
" Bu-bukan kayu i-itu rebung " Saut Adelia cepat. Dengan sungkan dia memandang wajah semua orang, ikut merasa bersalah meskipun dia tidak ada sangkut pautnya dengan pemilihan menu kali ini.
" I-itu memang tunas bambu, anakan bambu ah bukan maksudnya cikal bakal bambu ah bagaimana ya menjelaskannya " Adelia salah tingkah sendiri. Setelah di pikir-pikir, bagaimanapun penjelasannya pada akhirnya ucapan Ken memang benar, ini adalah kayu bambu, entah itu di sebut tunas kah, anakan kah, cikal bakal kah atau apapun itu ujung-ujungnya bermuara pada kayu bambu juga.
" Te-tenang saja, ini aman untuk di konsumsi kok " Kiran ikut menimpali, meluruskan apa yang salah dari penjelasan Ken.
" Seperti batang pohon pisang yang aman untuk di makan " Jelas Kiran dengan cepat.
" Hah ?!? " Regis, Sekertaris Yuri dan Rai pun kembali memekik syok saat mendengar penjelasan Kiran, bukannya membantu Kiran malah semakin merunyamkan keadaan.
" I-iya pohon pisang juga aman untuk di konsumsi, ka-kami sudah biasa memakan itu saat pulang ke desa " Adelia juga ikut mendukung penjelasan Kiran.
Sekertaris Yuri sudah memegangi perutnya yang terasa mual mendengar penjelasan Kiran, kayu bambu, pohon pisang, lalu besok kejutan apalagi yang akan di siapkan oleh Ken, pohon jati mungkin, begitu yang terlintas di kepalanya.
Sementara itu Regis hanya bisa memejamkan mata, mensugesti dirinya sendiri bahwa rasa yang tadi di sesap oleh lidahnya adalah rasa yang luar biasa. Selain karena merasa tidak ingin harga dirinya sebagai laki-laki paling di segani dalam Klan terkoyak habis akibat insiden kayu bambu, dia juga tidak ingin Adelia, sang besan merasa sungkan dan terintimidasi lalu tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga mereka. Jadi Regis berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresi juga perutnya yang bergejolak.
Rai, jangan di tanya. Perasaan yang berkecamuk dalam dirinya sudah tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata maupun emosi dalam bentuk apapun. Selain merasa bangga telah berhasil uji nyali dengan memakan kayu bambu, dia juga merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya saat ini.
Ruby lah yang masih tetap terlihat tenang dan kembali melanjutkan makan malamnya.
" Jangan di lanjutkan sayang " Cegat Rai begitu melihat Ruby menyendokkan sesuap nasi dengan lauk rebung tersebut.
" Nanti kau sakit perut " Lanjutnya.
" Aish apa-apaan sih ! " Jawabnya ketus.
" Kalau ibu dan Kiran saja bilang ini bisa dimakan dan tidak akan berpengaruh untuk tubuh itu artinya ini tidak apa-apa " Lanjutnya.
Adelia dan Kiran langsung mengangguk antusias mengiyakan pendapat Ruby.
" Kalau kalian semua tidak ada yang mau makan, biar kami bertiga saja yang habiskan, kalian makanlah yang lainnya " Ruby menyelesaikan masalah makan malam ini.
Dan lagi-lagi Adelia serta Kiran ikut mengangguk menyetujui keputusan Ruby.
" Maafkan aku nyonya Adelia, bukan bermaksud merendahkan mu, tapi aku tidak bisa makan itu " Ucap Regis pada akhirnya, memilih menyerah karena perutnya semakin bergejolak parah.
Sekertaris Yuri dan Rai yang mendengar penuturan Regis pun ikut mengangkat kedua tangannya.
" Saya juga " Ucap Sekertaris Yuri sungkan.
" Aku tidak kuat, aku menyerah " Timpal Rai melambaikan tangannya.
" Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan, kami memaklumi hal itu " Jawab Adelia juga ikut sungkan.
" Kalau begitu kalian makan makanan yang lain saja " Lanjutnya kemudian menatap deretan piring saji di hadapannya, memilihkan menu yang cocok dengan lidah dan perut mereka, yang tidak aneh-aneh.
" Ah ini saja " Tunjuknya pada sebuah piring berisi ikan kecil yang terbelah pada bagian perutnya, pelengkap lauk rebung tadi.
__ADS_1
" Kalau baby fish tentu saja aku suka " Saut Rai cepat lalu mengambil seekor ikan goreng tersebut, dengan cepat melahapnya.
" Uhuk uhuk " Tak berapa lama dia terbatuk-batuk.
Regis dan Sekertaris Yuri yang sudah bersiap ikut mengambil ikan itupun berhenti, menggantungkan tangan mereka di udara, menatap Rai dengan takut.
Beracunkah ? Regis.
Jangan-jangan bukan baby fish, tapi monster baby fish. Sekertaris Yuri.
" Ini asin sekali " Ucap Rai di sela batuknya yang keras, Ruby yang ikut panik lalu mengambilkan gelas Rai dan menyodorkan padanya. Hanya beberapa kali teguk Rai sudah menghabiskan air minumnya.
" Kenapa baby fishnya sangat asin, para koki itu harus di pecat " Geramnya marah.
Adelia dan Kiran lagi-lagi harus menahan perasaan sungkan yang teramat dalam atas insiden makan malam kali ini.
" I-itu memang ikan asin " Jelas Adelia benar-benar sungkan.
" Itu tidak akan terlalu asin kalau kau makan dengan nasi dan sup ini " Sanggah Ken.
" Terserahlah, aku makan makanan yang lain saja, ini semua ranjau " Teriak Rai kesal menunjuk seluruh hidangan di atas meja makan.
" Pak Handoko " Panggilnya lantang.
Pak Handoko yang selalu siaga di balik ruang makan itupun bergegas masuk kedalam.
" Aku minta makanan normal saja, buatkan aku mie instan " Perintahnya lagi.
" Aku juga " Saut Sekertaris Yuri. Pak Handoko menghentikan langkahnya menatap Sekertaris Yuri.
" Aku juga mie instan saja " Ulangnya malu-malu.
" Ah baik " Jawab Pak Handoko paham, dia akan berbalik lagi, namun langkahnya kembali terhenti.
" Ehem ehem " Regis segaja mengeraskan dehemannya agar Pak Handoko berhenti.
" Ya tuan ? " Jawabnya sopan kepada Regis.
Regis memberi kode kepada pak Handoko dengan gerakan matanya yang memintanya juga di buatkan mie instan, hanya saja dia terlalu malu mengucapkannya.
" Anda perlu sesuatu tuan ? " Tanya Pak Handoko sengaja menggoda Regis, dia sebenarnya paham apa keinginan tuannya, tapi dia memang berencana untuk mengerjai Regis, kapan lagi dia bisa membalas setiap kejahilan Regis yang di lakukan padanya selama ini jika bukan sekarang.
" Ehem aku juga " Regis menyamarkan perintahnya di antara dehemannya.
" Anda batuk tuan ? Tenggorokan anda sakit ? " Tanya Pak Handoko berpura-pura polos.
Aish si Ndoko ini, biasanya dia juga cepat paham kode ku.
Batin Regis kesal.
" Ehem mie " Kode Regis lagi, dengan senyum yang tertahan pak Handoko kembali berpura-pura polos.
__ADS_1
" Apa tuan ? " Tanyanya.
" Ehem mie " Ulang Regis sedikit lebih keras.
" Saya tidak bisa mengerti tuan " Pak Handoko masih berpura-pura polos.
" Hahaha... " Regis tertawa kecut.
" Biasanya dia pintar loh " Ucapnya seraya mendelik ke arah Pak Handoko.
Sekertaris Yuri yang paham maksud tuannya itu segera hadir menyelamatkan harga diri Regis.
" Boleh aku minta 2 porsi mie instan ? " Pintanya pada Pak Handoko.
" Tentu saja boleh " Saut Regis bersemangat dan menoleh ke arah Sekertaris Yuri, lalu mengedipkan matanya yang seakan berkata " Good job bro ".
" Beri dia mie instan 2 porsi, jangan lupa beri tambahan daging cincang dan banyak sayuran, dan jangan terlalu pedas " Regis menyuarakan makanan pesanannya yang di kamuflasekan sebagai pesanan Sekertaris Yuri.
" Baik tuan " Dengan senyum tertahan pak Handoko segera pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
" Kalian ini memang tidak punya cita rasa lokal " Gerutu Ken kesal melihat kejutan yang dia siapkan khusus untuk keluarganya tidak berhasil. Sebenarnya sangat berhasil, mereka semua benar-benar terkejut dengannya bukan.
Sementara menunggu pesanan mie instan mereka datang, Ken dan yang lainnya kembali melanjutkan makan malam mereka dengan sayur rebung dan juga ikan asin, sambal bajak serta beberapa lauk penyerta lainnya.
Tak berselang lama, pesanan mie instan ala restoran bintang lima itu pun datang. Bertabur keju dan daging cincang serta sayuran hijau plus telur yang menjadi pelengkap mie instan tersebut.
Dan acara makan malam kembali normal dengan menu yang berbeda.
" Bu bisa minta tolong bantu menidurkan Raline nanti, aku dan yang lainnya akan pergi menemui Dylan " Ucap Ruby setelah menyelesaikan makan malamnya.
" Ya tidak masalah, ibu akan menidurkannya di kamar ibu, nanti saat urusanmu sudah selesai kau boleh memindahkannya ke kamar mu sendiri " Jawab Adelia santai.
" Terima kasih bu "
" Jangan sungkan " Jawab Adelia tersenyum.
" Memangnya kalian mau apa ke kamar Dylan ? Ken bilang masalahnya tidak seserius itu " Tanya Regis penasaran.
" Kami para anggota rangers akan membasmi kegalauan Dylan " Jawab Ken santai.
" Sudah selesai ? " Potong Rai.
" Sudah " Ken, Kiran serta Ruby menjawab kompak.
" Baiklah rangers ayo berubah " Perintah Rai kemudian berdiri dan memimpin yang lainnya pergi dari ruang makan menuju kamar Dylan.
Dengan berjejer rapi mereka semua berjalan secara serempak, yang jika di lihat secara slow motion maka mereka benar-benar layaknya rangers yang akan pergi bertarung.
" Harusnya kita pakai skuter biar lebih cepat sampai " Celetuk Rai saat mereka sudah separuh perjalanan, mengingat jarak yang lumayan jauh kalau harus pergi ke kamar Dylan.
Hanya Kiran dan Ruby yang menepuk keningnya, sedangkan Ken mengangguk-angguk setuju dengan ide Rai.
__ADS_1