Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Teman Tapi Mesra


__ADS_3

Cukup lama Blair menunggu dalam diam sampai Dera berhenti menangis.


Dan dalam diam juga dia memakan sandwich pemberian Dylan dengan perlahan.


Saat potongan terakhir dari sandwich itu masuk ke mulutnya, terdengar suara isak tangis Dera mulai mereda, dan pundaknya kini tak lagi berguncang naik turun seirama dengan isakannya.


" Kau sudah lebih baik ? " Tanya Blair pelan setelah berhasil menelan sandwichnya.


" Ya " Jawab Dera singkat, dia kemudian mengangkat wajahnya, memandang tajam ke arah Blair.


" Kenapa kau bisa tidak tau malu sekali meminta makanan seperti itu kepada orang lain ? " Sinisnya dengan dingin.


" Aku tidak memintanya, dia sendiri yang menawari ku duluan, wajar saja jika aku menerimanya " Sanggah Blair membela diri, sedikit menyesal telah pasang badan untuk menghibur dan menemani Dera sampai suasana hatinya membaik.


" Dan lagi, aku sudah biasa menerima pemberian orang lain terutama dari para fans ku, lagi pula ini juga bukan pertama kalinya Dylan memberiku makanan " Lanjutnya acuh lalu memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangannya di dada.


" Bukan pertama kali ? " Tanya Dera penasaran.


" Apa maksudmu ? " Dan pada detik berikutnya kemarahan kembali tergambar sangat jelas di raut wajahnya.


" Ya kemarin kami pergi jalan-jalan bersama, dan dia mentraktirku makanan enak " Jawab Blair sedikit sombong untuk memberi Dera pelajaran.


" Ka-kalian pergi bersama ? " Erang Dera dengan mata membelalak sempurna.


" Hu'um dan dia mengeluarkan uang yang saaaaangat banyak untuk ku " Jawab Blair memanas-manasi Dera. Setidaknya dia tidak berbohong tentang uang yang sangat banyak karena jika di hitung-hitung Dylan memang mengeluarkan uang kurang lebih 1.100 lembar, terlepas dari berapa besar nominal uangnya. Kan pokoknya banyak.


" Kau !! " Dera semakin kesal mendengar jawaban Blair, dengan tangan terkepal erat dia berusaha menahan letusan gunung merapi di dalam dadanya. Yang larva panasnya mengalir melalui setiap pembuluh darahnya, dan hembusan angin panas yang biasa di sebut wedus gembel itu seperti keluar masuk bersamaan dengan udara yang di hirupnya. Intinya adalah tubuhnya mendidih saat ini.


Blair melirik sekilas Dera yang terlihat sangat penuh emosi, dan tersenyum menang karena telah berhasil mengejai Dera.


Rasakan.


Batin Blair penuh bahagia.


Dia lalu bangun dari duduknya dan berniat pergi ke kantin untuk membeli sebotol minuman dingin, berurusan dengan Dera benar-benar membuat otak onengnya harus bekerja melebihi kapasitas yang mampu di lakukannya. Jadi dia harus mendinginkan otaknya dengan menempelkan minuman dingin di dahinya.


" Mau ke mana kau ? " Teriak Dera kesal saat melihat Blair mengacuhkannnya dan malah pergi menjauh.


" Mau ke kantin. Ikut ? " Tawarnya polos. Begitulah kebaikan hati Blair, meskipun setelah bertengkar dia akan cepat sekali melupakannya.


Mendengar tawaran Blair yang terlihat santai saja menghadapinya yang sedang marah, malah semakin membuat Dera kesal. Dengan cepat dia bangun dan berjalan menuju arah Blair.


" Kau ini bodoh atau memang pura-pura ? " Tanyanya sinis.


" Hm ? " Blair menautkan alisnya dan menelengkan kepalanya bingung.


" Bukankah sudah aku katakan kalau aku dan Dylan memutuskan untuk memulai pendekatan, lalu kenapa sepertinya kau masih saja menempel padanya dengan tidak tau malu begitu " Dera kembali menjelaskan perkataannya tempo lalu.


Blair menghela napas dan memutar bola matanya malas. Kemudian kembali menatap Dera dengan pandangan penuh rasa iba dan sendu.


" Bukankah aku juga sudah bilang kalau dia itu sudah punya pacar, namanya Raline. Kalau kau memang masih sayang kesehatan mu terutama kesehatan jantungmu, jauhi dia. Percaya padaku, aku sudah mengalaminya sendiri. Dan lagi perlu kau garis bawahi, aku bukan menempel padanya, tapi kita tertempel " Nasehatnya polos lalu menunjuk bangkunya dan bangku Dylan yang berdampingan, yang membuat mereka mau tidak mau saling terhubung terus-menerus.


Kalau kau terus-terusan mendekatinya kau bisa berakhir seperti ku, mendadak sakit jantung tanpa sebab dan bisa kena gangguan susah tidur juga susah makan.


Batin Blair lalu menepuk pundak Dera pelan.


" Percaya padaku " Ulangnya lagi dan kemudian pergi ke luar kelas.


" Sialan !! " Erang Dera menghentak-hentakkan kakinya. Dia benar-benar sangat marah hingga merasa kepalanya berdenyut nyeri saat mengingat-ingat Dylan. Lalu dengan cepat dia menyusul Blair untuk membalasnya. Dia tidak ingin kalah, tidak akan kalah dan tidak akan mengalah pada Blair atau pada siapapun yang ingin memisahkannya dari Dylan. Baik itu Raline atau Blair. Dylan hanya miliknya, dan hanya boleh menjadi miliknya.


Dera celingukan mencari Blair yang sudah tidak terlihat sejauh matanya mampu memandang.


" Kemana perginya gadis tidak tau malu itu " Erangnya, matanya terus menyisir mencari keberadaan Blair.


" Oh hei " Panggilnya kepada salah seorang murid yang lewat.


" Kau lihat Blair ? " Tanyanya singkat.


" Ku lihat dia berjalan ke arah kantin " Jawabnya seraya menunjuk arah kanan dari posisinya berdiri.


Tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun lagi Dera langsung bergegas menuju kantin, dia benar-benar akan memberi pelajaran pada Blair.


Setelah berjalan cukup jauh, dia melihat punggung Blair yang sedang berdiri di area luar kantin. Lalu dengan terburu-buru dia menghampirinya.


" Hei kau " Dera menarik lengan Blair dan membuatnya berbalik untuk menghadap ke arahnya.

__ADS_1


" Apa maksud perkataanmu barusan ? " Tanyanya sengit.


" Apa ? " Blair balik bertanya, bingung.


" Kau menyuruhku menjauhi Dylan, apa maksudmu ? " Tanyanya semakin sengit, bahkan mengabaikan beberapa pasang mata yang mendengar perdebatan kecil mereka.


" Kau ini sepertinya pintar tapi oon juga ya " Blair menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang kasihan.


" Tuh lihat " Blair memutar tubuh Dera dengan cepat dan menunjuk ke arah dalam kantin.


Dera membelalak lebar saat melihat sosok yang sangat di gilainya itu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita, bukan murid-murid sekolah Loyard seperti dirinya, melainkan seorang guru.


Guru baru yang terkenal karena kecantikan dan kelemah lembutannya, guru yang mendapat julukan angel of Loyard school itu terlihat sangat akrab dan dekat dengan Dylan. Mereka berdua terlihat asyik mengobrol dan bahkan saling tertawa-tawa bersama.


" Nah kan, apa ku bilang " Ucap Blair dengan polos. Kau kena serangan jantung kan ? Tidak percaya sih.


" Aku ini orangnya benar-benar setia kawan, jadi aku memperingatkan mu, dia itu sudah punya kekasih namanya Raline, tapi sepanjang yang ku tau dia juga dekat dengan wanita itu " Blair menyilangkan tangannya di dada seakan sudah menjadi pahlawan besar yang telah menyelamatkan hati seseorang dari kiamat.


" Kenapa dia dan bu Kiran terlihat begitu akrab ? " Tanya Dera dengan bingung sekaligus sedih.


" Oh namanya bu Kiran ? Dia guru apa ? " Blair malah tidak peka dan bertanya hal-hal yang di luar tema.


" Dia guru BK dan baru beberapa bulan mengajar disini " Jelas Dera melupakan sejenak kemarahannya pada Blair karena konsentrasinya sedang terfokus pada Dylan.


" Berarti mereka baru saja berkenalan dong ? Kenapa bisa cepat akrab begitu ya ? " Kepolosan Blair dalam pertanyaannya itu semakin memancing rasa kesal di dada Dera.


Jadi memang benar dugaan ku, dia suka yang tua-tua, suka karena apanya ya kira-kira ?


Blair bertanya-tanya dalam hati dan semakin menajamkan tatapannya untuk mengamati Kiran, gerak-geriknya, cara tersenyumnya, dan penampilannya.


" Ke-kenapa Dylan jadi seperti itu " Gumam Dera syok.


" Kalau menurutku sih dia tidak menyukai mu, karena Raline yang aku tau juga terlihat lebih tua dari Dylan, sepertinya tipenya itu wanita yang lebih tua " Jelas Blair pada Dera, mengabaikan perasaan Dera yang sudah hancur berkeping-keping.


" Apa kau bilang ? " Dera dengan cepat menoleh ke arah Blair lalu mendelik tajam padanya.


" Raline lebih tua dari Dylan " Jawab Blair polos.


" Sebelum itu " Geramnya ketus.


" Dylan tidak menyukai mu " Jawab Blair dengan wajahnya yang benar-benar polos.


" Aku akan membuat Dylan jadi milik ku, tidak peduli siapa yang harus jadi saingan ku, Raline atau bahkan bu Kiran sekaligus " Pungkasnya tajam lalu pergi meninggalkan Blair yang masih terbingung-bingung sendirian.


" Dia sangat nekat ya, kan tidak baik merebut milik orang lain. Yaah meskipun mungkin Dylan juga tidak masalah di rebut oleh Dera " Gumamnya sedih sendiri merasa tidak ikhlas jika sampai Dylan mau di rebut oleh Dera, kalau pun di perbolehkan dia ingin dirinya saja yang merebut Dylan.


" Tidak Blair jangan bodoh, jangan turuti setan, ingat kalian sesama wanita jadi tidak boleh saling menyakiti " Blair menggelengkan kepalanya kuat-kuat melawan bisikan setan yang terus mengiang-ngiang di telinganya yang mendukung sikap Dera untuk merebut Dylan.


Dia kembali menatap Dylan dan Kiran yang kali ini sedang asyik tertawa bersama, terlihat Kiran mengusak rambut Dylan yang memang sudah berantakan itu. Kemudian dia menghela napas panjang.


Cukup jadi teman tapi mesranya saja aku sudah bahagia.


Blair pun memilih pergi dari pemandangan yang menyesakkan dada itu.


" Kau terlihat lebih baik dengan rambut seperti ini, lihat para gadis mulai memandang mu kan " Goda Kiran semakin mengacak-acak rambut Dylan.


" Ck " Decak Dylan berusaha menghindari tangan jahil Kiran.


" Memangnya kau tidak malu, orang-orang melihat ke arahmu tuh " Jelas Dylan acuh.


" Orang-orang siapa ? Para guru sudah tau kalau kau itu adik sepupu ku, jadi mereka tidak akan bergosip tentang kita " Jawab Kiran santai.


" Berarti mereka tau kalau sekarang aku bagian dari keluarga Loyard ? " Tanya Dylan panik.


" Mereka hanya taunya paman ku menikah dengan ibu mu, persis seperti gosipnya " Jawab Kiran sabar.


"Memangnya kau tidak apa-apa ? " Tanya Dylan penasaran melihat Kiran yang begitu santainya menceritakan kehidupan privasinya. Bukankah sudah menjadi rahasia umum jika ayah tiri Dylan adalah seorang pembunuh dan jika Kiran adalah keponakannya, maka cap sebagai keluarga pembunuh juga pasti akan tersemat padanya.


" Memangnya kenapa ? " Kiran balik bertanya.


" Kau kan bisa kena gosip yang tidak-tidak tentang Ganung " Jawab Dylan sedih, tidak bisa di bayangkan olehnya Kiran juga akan menjadi bahan gosipan.


" Entahlah, sejauh ini guru-guru masih memandangku dengan cara yang sama tuh " Acuhnya.


" Mungkin karena kau istri kak Ken " Jawab Dylan mengangguk-angguk.

__ADS_1


" Mungkin saja " Kiran mengedikkan bahunya.


Dylan menyedot sisa minuman di gelasnya sampai habis. Dan kemudian berpamitan pada Kiran. Sebelumnya dia juga sudah membeli beberapa snack kesukaan Blair untuk di berikan padanya nanti saat kembali ke kelas.


Sambil berjalan kembali menuju kelasnya Dylan melihat jam tangannya, waktu istirahat masih tersisa 15 menit lagi, cukup baginya untuk berjalan memutar menghindari berpapasan dengan Dera di depan kelasnya. Jika sekali lagi dia menghadapi Dera, dia tidak bisa menjamin ucapannya akan terkontrol dengan baik.


Dylan telah sampai di depan kelas, dia berhenti sejenak di depan pintu untuk mengamati Blair yang sedang cemberut di bangkunya. Dengan dagu yang bertumpu pada tangannya, dia terlihat sedang mencoret-coret sesuatu di buku catatan.


Cih.


Dylan tersenyum sendiri melihat tingkah menggemaskan Blair, kemudian bersandar di pintu untuk lebih lama lagi mengamati keonengannya.


Bibir Blair sedang manyun saat ini, dia menuliskan sesuatu dengan normal, lalu tiba-tiba bibirnya berubah, kedua sudutnya tertarik ke bawah dan terlihat sedih, kecepatan menulisnya juga semakin menurun, lalu kemudian berubah, bibirnya terlihat seperti sedang geram menahan marah sekarang, dan kecepatan menulisnya bisa di katakan meningkat pesat hingga 40 km/jam, dengan sorot mata yang kesal sepertinya dia melampiaskan semua isi hatinya di atas kertas.


Semua tingkah lucu dan imut Blair mau tidak mau memaksa bibir Dylan ikut tersenyum mengamati setiap perubahan sikap Blair. Dia menghela napas panjang sebelum membenahi ekspresinya, lalu kembali berjalan menuju bangkunya.


" Sedang menulis apa ? " Tanyanya asal begitu sudah berada cukup dekat dengan bangkunya.


Melihat Dylan berjalan mendekat, Blair menegakkan punggungnya. Lalu berusaha terlihat acuh. Dia memalingkan wajahnya.


" Kau marah ? " Tanya Dylan pelan, menarik kursinya dan menyusup duduk.


" Huh " Blair kembali membuang wajahnya, bedanya kali ini di imbuhi dengan suara yang semakin menunjukkan kalau dia sedang kesal.


" Maaf ya neng " Dylan mengelus-elus pelan puncak kepala Blair dari arah belakang.


Dan benar saja. kemarahan Blair seakan tersiram air es.


Cessss.... padam dan adem.


" Memangnya kau salah apa ? " Tanya Blair masih berpura-pura acuh, namun tidak bisa di pungkiri lagi kalau dia sedang meleleh saat ini.


" Karena aku membentak mu tadi, aku tidak pernah bermaksud melakukannya. Lain kali aku akan lebih lembut lagi saat bicara dengan mu " Jelas Dylan dengan suara yang halus sehalus beledu.


Aaah manisnya Dylan...


Blair menggigit bibir bawahnya demi mencegahnya menjerit-jerit histeris.


Dia lalu berbalik perlahan, namun tetap memasang tampangnya yang kesal.


" Aku tidak mau memaafkan mu " Ucapnya ketus.


" Iya iya tidak usah di maafkan, aku memang tidak pantas di maafkan " Jawab Dylan lembut dan mengalah.


" Nih " Kemudian menyodorkan kantong plastik yang di bawanya.


" Apa ini ? " Tanya Blair bingung.


" Amunisi untuk sikap marahmu yang sangat menggemaskan, biar kau awet marahnya " Dylan kemudian mencubit pipi Blair dan menariknya ke kanan ke kiri.


" Ish " Blair menepis tangan Dylan dengan keras.


" Sakit " Rintihnya manja.


" Iya iya maaf " Jawab Dylan pelan dan menaruh kantong plastik itu di hadapan Blair.


Dengan masih berpura-pura kesal Blair mengintip isi kantong plastik itu.


" Wuuahh " Pekiknya girang saat melihat begitu banyak camilan kesukaannya, dan hal itu memantik senyuman di bibir Dylan.


" Eh tapi tunggu dulu " Ucapnya lagi, kemudian kembali bersikap ketus.


" Jangan kira dengan sogokan remeh begini aku akan memaafkan mu ya " Jelasnya jutek.


" Aku justru lebih suka kau cemberut seperti ini " Kali ini Dylan mencubit hidung Blair.


" Ish " Dan lagi-lagi Blair menepis tangan Dylan.


" Kenapa ? " Tanya Blair penasaran.


" Kau cantik kalau sedang marah " Jawab Dylan lalu terkekeh.


" Iih kau ini " Blair memukul lengan Dylan berkali-kali.


" Sudah-sudah " Dylan memegang tangan Blair untuk menghentikan pukulannya.

__ADS_1


" Cepat makan, sebentar lagi jam istirahat habis " Lanjutnya.


Dylan kemudian mengambilkan salah satu snack untuk Blair dan membukakannya, menemaninya menghabiskan makanan ringan itu sambil mendengarkan omelan Blair terkait rasa kesalnya.


__ADS_2