Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Salah Kira


__ADS_3

Blair sibuk memilih berbagai macam pakaian dalam, jika biasanya acara belanja adalah hal yang paling di sukainya tapi kali ini dia tidak berselera. Dia bahkan hanya melihat-lihat berbagai macam set pakaian dalam keluaran terbaru tanpa menyentuhnya.


Aish kenapa semua bra ini malah mengingatkan ku padanya.


Gerutu batinnya kesal, tapi dia sedang berada di outlet pakaian dalam, jadi sejauh mata memandang hanya ada pakaian dalam yang terlihat. Dia menghela napas jengah.


" Nona ini ponselmu berbunyi, tuan Dimitri yang menelepon " Ucap Asistennya seraya menyodorkan ponsel Blair yang dibawanya.


Blair menerima uluran ponselnya dengan malas, dia tidak terlalu dekat dengan ayahnya, mereka selalu saja berselisih paham dan tak pernah sepemikiran.


" Hm ? " Jawabnya malas begitu mengangkat teleponnya.


" Ayah mendapat informasi kalau tuan Rai saat ini ada di pusat perbelanjaan yang sama dengan mu, apa pekerjaanmu sudah selesai ? " Tanya Dimitri antusias.


Blair menghela napas jengah dan memutar bola matanya, muak dengan pembicaraannya bersama ayahnya karena yang di bahas hanya itu-itu saja. Dia menjauhkan ponselnya dari telinganya, malas mendengar ayahnya yang selalu saja mengomel masalah tuan Rai.


" Kau mendengarkan ayah kan ? " Tanya Dimitri karena tidak mendapat jawaban dari putrinya.


" Hm " Blair hanya menjawabnya dengan singkat. Dan berjalan keluar outlet, dia berdiri di depan patung manekin yang ada di depan outlet. Dengan kesal memukul-mukul pelan patung menekin itu.


" Jadi kau harus mendekatinya kali ini " Perintah Dimitri pada Blair.


" Pa, aku tidak mau melakukannya, kenapa papa terus saja memaksaku untuk dekat dengan tuan Rai sih " Protesnya kesal.


Dylan yang sedang melihat-lihat pakaian di patung manekin dekat pintu itupun menoleh ke arah Blair karena mendengar nama Rai di sebut-sebut. Dia mengamati gadis yang sedang memukul-mukul patung manekin dan menghentak-hentakkan kakinya itu.


" Kau ini tidak tau apa-apa, kalau kau bisa menjadi istrinya maka hidupmu akan lancar tanpa hambatan, kekuasaan, kekayaan, ketenaran, semua hal di dunia ini bisa kau dapatkan " Ucap Dimitri antusias.


" Tapi pa, Tuan Rai tidak akan mau dengan ku, lagipula dia itu sudah punya istri " Protes Blair lagi.


Dylan semakin menajamkan pendengarannya karena kali ini tidak hanya Rai yang di sebut tapi juga istrinya yang artinya itu adalah Ruby.


" Tidak masalah menjadi istri kedua, wajar jika orang yang berkuasa sepertinya punya dua atau tiga istri atau bahkan lebih, sudahlah kau hanya perlu terus saja mendekatinya, papa yakin dia akan jatuh cinta dengan mu kalau kau berusaha dengan keras " Jawab Dimitri.


" Iya iya aku akan mendekatinya " Jawab Blair asal hanya agar pembicaraan ini segera berakhir. Dan benar saja Dimitri yang merasa senang dengan jawaban putrinya itupun memutuskan sambungan teleponnya.


Blair yang semakin bertambah kesal pun membenamkan wajahnya di patung manekin yang ada di hadapannya. Mengutuki ayahnya yang tidak berperasaan yang selalu saja menyuruhnya mendekati Rai meskipun dia tau Rai sudah memiliki istri.


" Dylan " Panggil Ruby dari arah dalam dan menghampiri Dylan yang diam berdiri di luar.


Dylan ?


Blair mengernyitkan keningnya.


Ah pasti bukan dia, nama Dylan kan pasaran. Memangnya takdir sekejam itu sampai harus mempertemukan kami di setiap tempat yang ku kunjungi. Ini kan bukan cerita novel yang semuanya serba kebetulan.


Kilah batinnya.


" Kau sedang lihat apa sih ? " Tanya Ruby begitu berada di dekat Dylan, dia mengikuti arah pandangan Dylan, menuju ke arah Blair. Ruby menajamkan penglihatannya dan terkejut. Lalu memukul lengan Dylan dengan keras.


" Hei dasar mesum, kau sedang liat apa ? " Omel Ruby marah karena yang ada di hadapan mereka saat ini adalah seorang gadis aneh dengan masker serta kacamata hitam sedang membenamkan wajahnya di patung manekin bertelanjang dada yang hanya memakai pakaian dalam laki-laki.


" Augh... sakit " Jawab Dylan menggosok-gosok lengannya.

__ADS_1


Suara itu ?!?


Pekik Blair terkejut mendengar suara Dylan yang mengaduh kesakitan.


Kenapa suara itu terasa dekat sekali ? Aku berhalusinasi atau apa ? Ya ampun ! Jangan-jangan itu memang Dylan yang itu, Dylan yang ku kenal.


Batin Blair panik, dia semakin membenamkan wajahnya di patung manekin itu, tidak berani menoleh ke arah asal suara.


Hal itu tidak luput dari perhatian Ruby dan Dylan, mereka berjengit kaget dan semakin memandang aneh gadis yang terlihat sedang menciumi patung manekin laki-laki yang hanya mengenakan celana dalam itu, setidaknya begitulah yang terlihat oleh mata Dylan dan Ruby.


" Nona Dasya " Panggil Asisten Blair dari arah dalam dan menghampiri Blair.


" Manager Yo menghubungi ku, katanya untuk hari ini sudah selesai, apa kau ingin pulang ? " Tanyanya.


Dylan yang langsung mengenali nama Dasya itu pun terkejut dan kemudian tersenyum sinis mengejek. Dia berjalan mendekati Blair yang sibuk membuat asistennya menutup mulut.


" Kau rupanya " Ucap Dylan dari arah belakang Blair.


Blair dan Asistennya berjengit kaget mendengar suara Dylan dari arah belakang. Asisten Blair pun menoleh kepada Dylan dan seketika terpesona oleh ketampanannya.


" Ya ? " Tanyanya ge-er.


" Maksud ku dia " Jawab Dylan dingin menunjuk ke arah Blair yang semakin dalam membenamkan wajahnya di patung manekin tersebut, dengan maksud menghindari Dylan.


" Oh anda mengenal nona Dasya ? " Tanya Asisten Blair bingung.


" Ya, aku kenal " Jawab Dylan sinis.


" Sedang apa kau disini ? " Tanya Dylan dingin.


Aku sial sekali sih !! Takdir kenapa kau kejam sekali padaku ?


Teriak batin Blair kesal. Namun demi menjaga harga dirinya, dia menegakkan punggungnya dan berdehem lalu dengan penuh percaya diri membalikkan badan menghadap Dylan.


" Siapa ya ? " Tanyanya berpura-pura tidak mengenali Dylan. Namun Dylan hanya memandangnya sinis.


" Ah kau rupanya, siapa namamu ? Aku lupa " Tanyanya lagi, namun gerakan tangannya yang gelisah membuat Dylan yakin dia sedang berpura-pura tidak mengenalnya.


" Dylan " Panggil Ruby dan mendekati Dylan dan Blair.


" Siapa dia ? Apa kau mengenalnya ? " Tanya Ruby berdiri di samping Dylan.


Oh jadi ini Raline kekasihnya itu. Cih sepertinya dia lebih tua dari Dylan. Dia tidak terlalu cantik juga, setidaknya aku masih lebih cantik darinya.


Blair memandangnya dari atas ke bawah lalu mencebik mengejek.


" Ah perkenalkan saya teman Dylan " Ucap Blair tiba-tiba sombong dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Ruby.


" Benarkah kau temannya ? " Tanya Ruby tidak percaya, selama ini Dylan selalu bilang bahwa dia tidak memiliki teman, dan hal itu juga di benarkan oleh Ken. Fakta bahwa Dylan di kucilkan oleh teman-temannya juga telah di dengar seluruh anggota keluarga, jadi dengan mengakunya Blair sebagai teman Dylan tentu saja hal itu membuat Ruby terkejut.


Cih ? Begini saja cemburu. Kekanak-kanakan sekali.


Ejek Blair dalam hati.

__ADS_1


Ruby baru saja mengangkat tangannya akan menerima jabatan tangan Blair, namun Dylan sudah mencegahnya.


" Dia bukan teman ku, sepertinya aku salah orang " Jawab Dylan dingin. Dia tidak ingin Ruby bersalaman dengan orang yang akan mendekati Rai dan berniat buruk pada pernikahan mereka.


" Apa ? " Tanya Ruby dan Blair berbarengan dan menoleh ke arah Dylan.


" Hei jangan bercanda " Ruby memukul lengan Dylan dengan keras. Dia tidak ingin ucapan Dylan membuat Blair salah paham dan tidak ingin berteman lagi dengannya. Namun hal itu disalah artikan lain oleh Blair, dia mengira Ruby cemburu kepadanya dan hal itu malah membuatnya senang.


" Kenapa kau seperti itu, bukankah kita duduk satu bangku ? " Ucap Blair dengan sengaja memanas-manasi Ruby.


" Sungguh ? " Pekik Ruby dengan mata mendelik.


" Kenapa kau tidak pernah cerita kau punya teman satu bangku ? " Omel Ruby ketus.


Dan lagi-lagi Blair mengira itu adalah bentuk kecemburuan.


" Sudah ku bilang dia bukan teman ku, dia hanya orang mesum dan aku mendekatinya untuk menegurnya " Ejek Dylan sinis.


" Ayo pergi " Dylan mengandeng tangan Ruby dan mengajaknya pergi menjauh.


Apa ? Mesum ? Remahan kerupuk itu !!


Makinya kesal namun dia tetap saja mengawasi Dylan dan Ruby yang semakin menjauh.


" Kenapa kau menyangkalnya ? " Ruby menepis tangan Dylan setelah beberapa jauhnya dari Blair.


" Kau tidak boleh bersikap begitu, jika ada seseorang yang mengaku temanmu maka kau harus menghargainya " Omel Ruby kesal dan menyilangkan kedua tangannya didada.


" Sudah ku bilang dia bukan teman ku " Kilah Dylan tak kalah ketusnya.


" Kau ini kenapa kasar sekali sih ? Nanti kau benar-benar tidak punya teman bagaimana ? Kau mau sendirian saja ? " Tanya Ruby kesal melihat sikap introvert Dylan.


" Kenapa aku harus sendirian kalau aku punya keluarga yang sangat menyenangkan seperti kalian semua " Jawab Dylan.


" Cih dasar kau ini, paling tidak kau harus punya teman yang lain selain keluargamu " Omel Ruby masih kesal.


" Sudah jangan di teruskan lagi, ayo pergi " Dylan mendorong Ruby dari arah belakang lagi dengan wajah yang masih cemberut Ruby menurutinya.


Pasti mereka sedang bertengkar, huh kekanak-kanakan sekali, rasakan. Itu karma karena mengataiku orang yang mesum.


Ejek Blair dan kemudian membalikkan badan akan masuk kembali kedalam outlet.


Astaga !


Pekiknya kaget begitu melihat patung manekin yang ada di depannya.


Jadi dia mengatai ku mesum karena ini ?


Dengan tangan gemetaran dia menunjuk patung itu. Meratapi nasib sialnya yang membuat imagenya hancur di depan Dylan.


Awas saja kalau kau berani mendekati kakak ku dan membuat kakak ipar bertengkar dengannya.


Dylan bersumpah akan terus mengawasi Blair.

__ADS_1


__ADS_2