
Dylan berjalan keluar kamarnya setelah selesai membereskan jaket pemberian Blair dan berganti pakaian. Dengan menenteng beberapa buku pelajaran dia berjalan di lorong akan menuju perpustakaan rumahnya.
" Mau kemana ? " Tanya Sekertaris Yuri saat berpapasan dengan Dylan.
" Ke perpustakaan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah " Jawab Dylan sopan.
" Ah begitu, oh ya bisa tolong bantu aku sebentar ? " Tanya Sekertaris Yuri sungkan.
" Ya tentu saja " Jawab Dylan santai lalu berjalan mengikuti Sekertaris Yuri menuju sebuah ruangan, sepertinya ruang untuk bekerja, terlihat dari lemari arsip-arsip yang berjejer rapi disana. Dylan mengedarkan pandangannya ke ruangan itu.
" Ini ruang kerja umum, aku lebih nyaman bekerja disini daripada di ruangan tuan Regis " Ucap Sekertaris Yuri seperti mengerti isi hati Dylan.
" Sini, lihat ini " Lanjutnya seraya duduk di sofa dengan membawa laptop dan meletakkannya di meja.
Dylan mengikutinya tanpa bertanya, dia duduk disamping Sekertaris Yuri.
" Ini hasil pemotretan hari ini, menurutmu mana yang mencerminkan apa yang di favoritkan anak muda jaman sekarang ? " Sekertaris Yuri memutarkan slide foto-foto Blair dalam berbagai pose dan juga pakaian yang berbeda-beda.
" Bulan depan adalah bulan februari yang artinya bulan valentine, pangsa pasar kita adalah remaja masa kini, bagaimana menurutmu ? Foto mana yang akan mewakili itu ? " Lanjutnya lagi.
Dylan melihat foto-foto yang kini silih berganti di hadapannya itu.
" Semua bagus " Jawabnya asal.
" Kau ini, lihat baik-baik, aku akan menyeleksinya sebelum menyerahkannya pada tuan Rai " Sekertaris Yuri menatap Dylan dengan kesal.
" Fotonya bagus tapi modelnya yang tidak " Jawab Dylan pada akhirnya.
" Hm ? Masa ? Aku rasa tidak, dia terlihat cantik disini, terlihat natural " Sekertaris Yuri beralih menatap layarnya dan mengamati deretan foto Blair, mencari dengan jeli apa yang membuat foto itu terlihat tidak bagus.
" Aku tidak suka dia " Jawab Dylan malas dan membuang muka jengah.
" Kenapa ? Dia anak yang manis, ku lihat banyak anak-anak di sekolah membicarakannya. Dia tidak sombong walau menjadi artis " Sekertaris Yuri bingung dan kembali menatap Dylan yang berdecak kesal mendengar penuturannya.
" Dia itu punya maksud tersembunyi pada keluarga kita, aku mendengarnya bicara pada seseorang di telepon dan mengatakan akan mendekati kak Rai " Jawab Dylan kesal.
__ADS_1
" Oh karena itu ? " Sekertaris Yuri tersenyum simpul.
" Dia pasti bicara dengan ayahnya, Tuan Dimitri memang terobsesi menjadi bagian dari keluarga ini, jadi sudah pasti dia terus memaksa nona Dasya mendekati tuan Rai " Lanjutnya santai.
" Kenapa paman terlihat santai begitu ? Apa paman tidak takut kalau rumah tangga kak Rai dan kakak ipar bisa hancur karenanya ? " Tanya Dylan kesal. Dia masih trauma melihat kehancuran sebuah rumah tangga, seperti yang pernah di alaminya dulu.
Sekertaris Yuri lagi-lagi hanya tersenyum simpul dan menepuk pundak Dylan pelan. Lalu menghela napas sejenak dan kemudian tersenyum lagi.
" Kau ini masih belum paham juga ya ? Bukankah kau ikut bermain baseball dengan kakak mu ? Kau pasti sudah tau kan alasannya bermain baseball ? " Jelas Sekertaris Yuri.
" Tapi bisa saja Dasya terus mendekati kak Rai dan membuat Kakak ipar salah paham, mereka bisa bertengkar nantinya " Jawab Dylan ketus.
" Wah ternyata kau sesayang itu ya dengan kakak-kakakmu, sampai tidak mau mereka bertengkar " Puji Sekertaris Yuri lalu mengacak-acak rambut Dylan.
" Tidak salah kau menjadi rangers pink " Lanjutnya menggoda.
" Aish paman ini " Dylan menghindar dari tangan Sekertaris Yuri.
" Nona Dasya itu tidak serendah yang kau kira, dia itu juga korban dari ayahnya yang terus saja memaksanya untuk mendekati tuan Rai. Tuan Dimitri itu rela menjual putrinya demi kekuasaan dan kekayaan. Aku ingat pertama kali aku menghubungi nona Dasya untuk menjadi teman kencan Tuan Rai, yang dia ucapkan bukannya bahagia bisa menjadi teman kencannya tapi malah bertanya apa dia bisa langsung menjadi artis esok harinya. Dia sepolos itu. Mungkin dia memang mengidolakan tuan Rai, tapi dari yang ku tangkap dia lebih tertarik menjadi artis daripada harus dekat-dekat dengan tuan Rai. Kau tenang saja, dia tidak akan melakukan hal itu, dia sendiri tidak akan berani ada di dekat tuan Rai, kakakmu itu lain di dalam rumah juga lain di luar rumah. Kau mengerti kan maksudku ? " Cerita Sekertaris Yuri panjang lebar.
Dylan hanya diam saja mencerna setiap pernyataan yang di lontarkan oleh Sekertaris Yuri. Dia tau betul tentang Rai yang sangat mengerikan hanya karena ulah dokter dan perawat itu yang berani mengusik Ruby.
" Apa yang terjadi dengan dokter Noh dan kedua perawat itu ? " Tanyanya ragu-ragu.
" Kau tidak perlu tau, belum saatnya, nanti saat kau sudah lebih dewasa dan cukup umur, maka kau akan tau apa yang terjadi jika berani mengusik tuan Rai " Jelas Sekertaris Yuri tenang dan kemudian menepuk-nepuk pundak Dylan lagi.
" Jadi foto mana yang bagus ? " Lanjutnya seraya kembali menatap layar laptopnya.
" Entahlah " Jawab Dylan acuh, tiba-tiba saja dirinya kepikiran Blair setelah mendengar penjelasan dari Sekertaris Yuri.
Korban ayahnya ? Benarkah ?
Batinnya bertanya-tanya, tapi sepertinya dia belum percaya sepenuhnya. Blair terlalu ceria untuk seseorang yang menjadi korban, tidak seperti dirinya yang menjadi sosok introvert karena korban dari ayah tiri dan ibunya.
Dylan melirik sekertaris Yuri yang masih serius memilih foto yang akan di rilis bulan depan, mengamati apakah Sekertaris Yuri berkata jujur atau berbohong.
__ADS_1
" Jadi yang mana yang bagus ? " Tanya Sekertaris Yuri lagi.
Dengan asal Dylan menunjuk foto Blair yang sedang mengenakan pakaian yang sama saat bertemu dengannya kemarin.
" Itu bagus, sederhana tapi membuatnya terlihat cantik " Jawabnya memberi alasan.
" Baiklah, terima kasih ya, aku akan memasukkan foto yang ini dalam katalog untuk bulan depan " Jawab Sekertaris Yuri tanpa menoleh dan sibuk menekan tombol-tombol keyboard di laptop.
" Paman... " Panggil Dylan ragu-ragu.
" Hm ? " Jawab Sekertaris Yuri masih tanpa menoleh.
" Memangnya kenapa ayah Dasha ingin menjual putrinya ? " Tanya Dylan penasaran.
" Tuan Dimitri itu memiliki perusahaan yang memproduksi obat-obatan, jadi dia ingin memiliki rumah sakit sendiri, tapi usahanya tidak berjalan lancar, dia mematok harga yang terlalu tinggi untuk fasilitas rumah sakit yang kurang lengkap, dan menerima banyak sekali kritikan tentang rumah sakitnya. Dalam waktu beberapa bulan saja rumah sakit itu sepi tanpa pasien. Tapi dari yang terlihat Tuan Dimitri masih berambisi memiliki rumah sakit sendiri, jadi dia sibuk mendekatkan nona Dasya dengan tuan Rai. Dari yang ku dengar dulu, tuan Dimitri bahkan pernah menjodohkan nona Dasya dengan anak pengacara Henry karena merk dagang obatnya bermasalah dan butuh dukungan pengacara " Jelas Sekertaris Yuri santai, dia mengamati Dylan yang sedang khusyuk mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya.
" Pengacara Henry ? " Tanya Dylan semakin penasaran.
" Ya Andromeda yang sempat berkelahi denganmu dulu " Jawab Sekertaris Yuri.
" Lalu kenapa Blair dan Andromeda tidak jadi melakukan perjodohan ? " Tanya Dylan antusias.
" Waktu itu tuan Rai sendiri yang memerintahkan pengacara Henry untuk membantu tuan Dimitri, karena bagaimanapun mereka rekanan bisnis dalam memasok obat, jadi jika merk dagang obat tersebut bermasalah maka akan berimbas pada citra baik rumah sakit " Jelas Sekertaris Yuri.
" Kenapa kau peduli sekali tentang itu ? Kan sudah ku katakan tuan Rai tidak akan tergoda wanita manapun. Bahkan aku saja meragukan tuan Rai akan bisa merawat tuan putri Raline hingga tumbuh menjadi gadis yang mempesona. Aku yakin dia akan membuatnya tumbuh layaknya seorang laki-laki tangguh " Sekertaris Yuri menyuarakan pendapatnya.
" Tidak apa-apa " Jawab Dylan gugup.
" Jangan memandang orang dari luarnya saja, seperti kata tuan Regis, dia tidak menyukai tuan Dimitri karena terlalu ambisius, tapi dia menyukai nona Blair karena dia anak yang baik. Ayahnya yang buruk bukan berarti anaknya juga harus ikut buruk bukan ? " Jelas Sekertaris Yuri lagi.
" Tapi... " Dylan ingin membantah argumen Sekertaris Yuri lagi.
" Sudah, sudah, untuk apa kita membicarakan tuan Dimitri dan nona Dasya, tenang saja tuan Rai dan tuan Regis tidak akan semudah itu untuk di kelabui " Potong Sekertaris Yuri cepat.
" Baik paman " Jawab Dylan pada akhirnya menyerah dengan perdebatan mereka. Dia berdiri dan mohon pamit pergi ke perpustakaan karena harus mengerjakan pekerjaan rumahnya.
__ADS_1
Dasya... apa benar dia sebenarnya orang yang baik ?
Batin Dylan bertanya-tanya. Entah kenapa di kepalanya terus saja berdenging nama Dasya setelah mendengar hal yang sebenarnya dari Sekertaris Yuri.