Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Baru Pintar


__ADS_3

" Hai Blair " Sapa Andromeda yang baru saja bergabung dan langsung menghempaskan tubuhnya yang terasa oleng, duduk di samping Blair.


" Ck " Decak Blair malas membuang muka, dia memang tidak terlalu menyukai Andromeda, tapi dia tidak membencinya. Namun lain lagi ceritanya sekarang semenjak dia tau kalau Andromeda merengek-rengek pada orang tuanya agar perjodohan mereka kembali di lanjutkan.


" Papa mu sudah bilang kan kalau nanti sepulang dari sini kita akan berkencan ? " Tanya Meda santai mengambil sebotol minuman lalu menenggaknya langsung.


" Tidak " Jawab Blair malas.


" Baiklah kalau begitu biar ku beritahu, nanti sepulang dari sini kita akan berkencan, aku akan mengajak mu pergi ke suatu tempat yang indah " Jawab Meda memainkan ujung rambut Blair yang tergerai.


" Aku tidak punya waktu, besok aku ada pemotretan " Tolak Blair ketus lalu berdiri dan pergi menjauh. Dia sedang ingin sendirian malam ini, tidak peduli kalau dia tidak mendapatkan informasi apapun mengenai bisnis atau gosip yang lainnya yang akan menguntungkan ayahnya.


Dia berjalan ke arah meja kosong yang terletak di sudut ruangan, tempat yang lumayan tersembunyi dari para muda mudi yang sedang asik berpesta.


" Megan ku dengar kau besok akan pemotretan untuk wajah baru mall milik Klan loyard ? " Suara seseorang yang terdengar samar di tengah kerasnya dentuman musik itu mengusik Blair.


Megan, dia kenal orang itu. Seniornya di dunia model, mereka berada di satu agensi. Tapi yang mengusiknya adalah bukankah dirinya yang mendapatkan kontrak itu, tapi kenapa orang lain malah membahasnya dengan Megan.


Blair menajamkan pendengarannya, menguping pembicaraan para gadis yang duduk di meja yang ada di belakangnya.


" Ya besok aku akan pemotretan untuk tema valentine " Jawabnya angkuh.


" Tapi yang ku dengar bukan hanya aku yang akan menjadi modelnya, Sekertaris Yuri menghubungi ku dan mengatakan kalau tema valentine mereka adalah persahabatan atau persaudaraan atau apalah itu " Lanjutnya sinis, dia mengambil gelas minuman yang ada di depannya.


" Cih, mana ada valentine bertema seperti itu, semua valentine selalu menceritakan tentang sepasang kekasih, klan Loyard itu terlalu kuno " Cibirnya ketus.


" Jadi kau besok akan berpasangan dengan siapa ? " Tanya temannya yang lain penasaran.


" Entahlah, katanya model baru yang sedang naik daun " Jawabnya malas menyandarkan punggungnya, bisa Blair dengar nada meremehkan yang kental dari suaranya. Tidak heran, Megan memang terkenal angkuh dan sombong, tapi mau bagaimana lagi, parasnya yang ayu di tambah dengan tubuhnya yang proporsional membuatnya tetap berada di peringkat atas dari deretan para model yang lainnya.


" Laki-laki atau perempuan ? " Tanya yang lainnya antusias.


" Tidak tau " Megan mengedikkan bahunya acuh.


" Kalau saja bukan karena tuan Ken, mana mungkin aku mau melakukan pemotretan dengan tema yang tidak masuk akal begitu. Dimana-mana suasana valentine selalu identik dengan kekasih, minum-minum, pesta lalu.... yah kalian tau sendiri lah. Ini malah bertema persaudaraan ? Persahabatan ? Cih menye sekali " Jawabnya kesal sendiri. Megan memang terkenal dengan image seksinya, dan terlalu berani dalam berpose. Jadi sudah pasti dia merasa tidak akan cocok dengan pemotretan kali ini.


" Memangnya kau belum bisa mendapatkan tuan Ken ? " Seru gadis yang lainnya.


" Kalau aku sudah mendapatkannya tidak mungkin aku duduk di sini bersama kalian, sudah pasti aku akan duduk di lantai 5 dan menjadi nyonya besar yang akan menerima semua uang yang kalian hambur-hamburkan disini " Teriaknya marah. Sebenarnya dia mengincar Rai, tapi semenjak berita pernikahan Rai tersebar dia lebih memilih jalur aman dan menjadikan Ken target berikutnya, tapi bahkan setelah menurunkan standartnya dia juga masih belum bisa menggaet Ken untuk menjadi kekasihnya. Baginya tidak masalah menjadi istri dari Ken yang anak pungut, toh menurut rumor yang berhembus Ken juga akan mewarisi separuh dari aset kekayaan klan Loyard.


Blair menghela napas panjang, merenungi dirinya sendiri. Dia tidak tau kehidupan macam apa yang sedang di jalaninya, kemanapun kakinya melangkah dia selalu mendengar pembicaraan tentang uang, kekuasaan, popularitas. Semua orang berlomba-lomba mengejarnya seakan-akan tidak bisa hidup tanpa hal itu.


Dadanya kembali sesak, karena masalah harta dan juga kekuasaan itulah dia tidak bisa dengan bebas berteman dengan siapapun tanpa embel-embel saling menguntungkan. Dan karena itu pula lah dia tidak bisa bersama dengan Dylan yang bukan siapa-siapa.


Setelahnya mereka tak membahas lagi masalah Klan Loyard, dan berlanjut membicarakan hal-hal yang menurut Blair tidak pantas dia dengar mengingat dirinya masih di bawah umur.


Dia meneguk botol minuman yang ada di tangannya dan menyandarkan punggungnya, memejamkan matanya untuk mengusir semua penat yang bergayut di benaknya. Dia merasa tubuhnya sangat lelah hari ini.


" Kenapa sih selalu menghindar sayang " Meda yang menyusul Blair langsung duduk di sampingnya dan menyusupkan tangannya merangkul pundak Blair.


Blair terhenyak dan langsung mendelik tajam dan menyentakkan tangan Meda.


" Apa-apaan ?! " Sentaknya penuh emosi. Ya begini baru benar, dia butuh seseorang untuk menjadi pelampiasan kemarahannya.


" Kau kenapa ? " Tanya Meda bingung.


" Di sekolah dan di sini beda sekali. Ah atau jangan-jangan selama ini kau hanya pencitraan saja ? " Cibir Meda sinis.


Mengingat dirinya seorang artis yang harus menjaga sikap, Blair berdehem dan menurunkan pundaknya yang tegang.


" Ti-tidak, aku hanya sedang tidak enak badan " Jawab Blair tergagap.


" Oh begitu " Meda yang bodoh itu percaya saja.


" Oh ya aku ingin mengatakan ini padamu. Kau jangan terlalu dekat dengan Dylan, dia itu tidak seperti yang kau bayangkan " Lanjutnya mengoceh sembari meneguk sebotol soju yang ada di tangannya.


" Dylan ? " Tanya Blair mengernyitkan keningnya.


" Memangnya kenapa dia ? " Lanjut Blair penasaran. Dia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Meda.


" Dia itu... sebenarnya anak... " Jawabnya menggumam. Anak angkat di keluarga Loyard.


" Ya ? " Kejar Blair antusias.


" Anak haram " Jawab Meda terkekeh menghina, lalu ambruk ke atas meja.


Blair langsung mencelos kecewa begitu mendengar penuturan Meda. Kalau itu dia sudah tau. Dia menarik napas panjang namun tercium aroma alkohol yang menusuk hidungnya.


" Kau mabuk ya ? " Pekiknya menegakkan punggungnya dan menutup hidungnya.


Aku benar-benar sudah gila, sampai omongan orang mabuk tentang Dylan saja ku anggap serius.


Batinnya menggelengkan kepala.


" Terserah saja lah " Gumamnya pasrah lalu ikut meneguk minumannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Blair ? " Teriakan Dylan seperti cuitan burung di tengah hutan belantara, tenggelam oleh suara musik yang berdentum keras.


Dengan panik dan gelisah dia menyusuri ruang remang-remang tersebut, menajamkan matanya mencari sosok gadisnya.


Berkali-kali dia sampai salah mengenali gadis lain yang di kiranya sebagai Blair.


" Maaf " Ucapnya sungkan pada seorang gadis yang sedang berjoget saat Dylan menarik tangannya agar berbalik menghadap dirinya. Itu adalah gadis ke lima yang di sangkanya adalah Blair. Dia mundur menjauh.


" Aish !!! " Teriaknya kesal karena tak kunjung menemukan Blair.

__ADS_1


Dylan berjalan cepat menuju meja bartender, memutuskan bertanya pada pelayan dimana kiranya Blair berada. Tidak mungkin bukan pelayan disana tidak mengenali Blair, si artis yang sedang naik daun.


" Blair ? " Pelayan itu mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Dylan. Dia mengamati Dylan dengan seksama, menilainya. Dia tidak bisa sembarangan memberikan informasi kepada orang lain, apalagi itu menyangkut tentang artis sekelas Blair yang di lindungi privasinya.


" Iya Blair artis, model " Jawab Dylan kesal karena pelayan itu seolah memandangnya dengan pandangan aneh.


" Maaf tuan kami tidak bisa memberikan informasi apapun terkait pengunjung club ini, terlebih lagi dia adalah seorang artis " Jawab pelayan tersebut sopan dan berbalik badan akan pergi, memilih mengabaikan Dylan.


" A-aku utusan tuan Dimitri " Seru Dylan dengan lantang mencegah pelayan tersebut pergi. Triknya berhasil, pelayan tersebut berbalik badan lagi dan mendekat ke arah Dylan dengan heran.


" Kau tidak tau ayahnya ? Tuan Dimitri " Lanjut Dylan lebih meyakinkan.


Sepertinya pelayan tersebut di didik untuk curiga, karena dia tak kunjung memberikan informasi terkait keberadaan Blair dan masih mengamati Dylan dengan rasa tak percaya.


" Baiklah kalau kau tidak percaya, aku akan meneleponnya untuk mu " Ucap Dylan mengambil ponsel dari sakunya, berpura-pura mencari nomor di kontaknya.


" Ba-baik tuan, saya percaya " Jawab Pelayan itu buru-buru.


" Kalau anda mencari nona Blair artis itu, anda harus pergi ke lantai 3, disanalah tempat para artis dan juga para pengusaha clubing " Lanjut pelayan tersebut menjelaskan.


" Baiklah terima kasih " Jawab Dylan cepat kemudian berlalu pergi. Setengah berlari dia keluar ruangan clubing tersebut menuju lift.


Selama perjalanan menuju lantai 3 dia terus menghubungi ponsel Blair namun tidak ada jawaban sama sekali.


Pintu lift terbuka dan dia bergegas masuk ke dalamnya, dengan kasar menekan-nekan tombolnya agar pintunya segera menutup.


" Awas saja kau oneng " Geramnya kesal sendiri.


Ketika lift telah berhenti dan terbuka dia segera keluar dan mengikuti suara musik yang samar-samar terdengar. Dia benar-benar marah dan kesal.


Wajahnya semakin tertekuk kusut saat melihat kerumunan orang-orang yang ada di dalam ruangan clubing tersebut, seperti mencari jarum di tumpukan jerami, sudah pasti tidak akan mudah untuk menemukan Blair di tengah-tengah banyaknya orang yang ada di ruangan itu.


Dylan mulai menyisir tempat itu, di mulai dari lantai dansanya. Dia menajamkan matanya di ruangan yang remang-remang di sinari lampu warna warni itu.


Sudah lebih dari lima menit dia mencari Blair, tapi tidak juga bisa menemukannya. Dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, ada puluhan meja yang harus di susurinya juga. Melelahkan sekali, pikirnya.


Namun demi keselamatan Blair, dia harus melakukannya. Dia berjalan dari satu meja ke meja yang lain, mengamati setiap orang yang duduk disana, namun Blair tetap tidak di temukan.


Dylan menghela napas jengah, kepalanya mulai terasa pusing karena suara musik yang memengkakkan telinga juga aroma miras yang kental membuat perutnya mual.


" Hai ganteng " Goda beberapa wanita yang berjalan sempoyongan saat melewati Dylan.


" Oh ? Kau anak baru ya ? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya " Celetuk salah satu wanita tersebut.


" Hei memangnya darimana kau bisa tau kalau dia anak baru " Oceh temannya yang lain.


" Hei meskipun aku sedikit mabuk, tapi jangan pernah remehkan kekuatan ingatan ku, aku hapal semua wajah yang ada disini kau tau " Tunjuknya kesal pada temannya, masing-masing dari mereka membawa sebotol minuman yang tanpa perlu di cari tahu pun Dylan sudah paham kandungan di dalamnya.


" Benarkah ? Wah kau hebat sekali " Jawab temannya yang lain mengacungkan jempolnya di tengah tubuhnya yang sempoyongan.


Dylan yang mendengar itu pun memiliki ide, kalau memang benar gadis yang ada di hadapannya saat ini memiliki ingatan sebagus itu, dia pasti tau Blair ada dimana.


" Blair ? Blair siapa ? " Tanyanya dengan gumaman yang tak jelas. Dylan menghela napas jengah, menyesal telah mempercayai orang mabuk. Tanpa bicara lagi dia berlalu meninggalkan sekumpulan wanita itu.


" Oh ya Blair si artis itu kan ? " Pekiknya keras, membuat Dylan yang sudah beberapa langkah langsung memutar kembali arahnya, mendekat pada wanita itu.


" Iya Blair si artis " Jawab Dylan antusias.


" Kau tau dimana dia sekarang ? "


" Dia.... dia... " Ocehnya sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.


" Dia di pojok " Tunjuknya ke arah pojok ruangan.


Tanpa basa basi Dylan langsung melesat menuju pojok ruangan, hanya ada 4 pojok ruangan jadi tidak akan sulit mencarinya.


Benar saja, dia melihat Blair sedang duduk menyangga dagunya dengan tangan yang lain memegang sebotol soju untuk di jadikan pegangan. Dan disampingnya, laki-laki yang tidak dia tau sedang duduk dengan kepala terbaring di atas meja.


" Awas kau ya " Geramnya kesal lalu berjalan mendekati meja Blair.


" Huh !! " Blair yang sedang setengah mabuk itu pun meracau sendiri.


" Kau pikir dirimu siapa ? Mempermainkan hati orang seenaknya begini, lihat saja aku akan membalasmu seribu kali lebih kejam. Aku akan membuat kau jatuh cinta padaku sampai-sampai kau tidak akan sanggup melirik gadis lain " Ocehnya.


" Dasya " Teriak Dylan marah bercampur lega, dia sudah berdiri di hadapan Blair saat ini.


" Oh ? " Blair membulatkan bibirnya saat melihat Dylan yang ada di hadapannya.


" Dylan ? " Tanyanya bergumam.


" Ayo pergi " Dylan memilih mengabaikan ocehan Blair dan menarik tangannya agar dia bangun dari duduknya.


" Aaah... sakit " Gumamnya malah menepis tangan Dylan.


" Ck " Decak Dylan semakin kesal, dia lalu meraih tangan Blair sekali lagi untuk menariknya dan membawanya pergi dari sana.


" Aduuuh " Namun sekali lagi juga Blair menepis tangan Dylan.


Habis sudah kesabaran Dylan, oneng yang ada di hadapannya saat ini bukanlah onengnya yang imut dan menggemaskan lagi, melainkan oneng yang membuat kepalanya berdenyut nyeri karena terbakar emosi.


Dylan lalu membungkukkan badannya dan meraup Blair dalam gendongan pundaknya, menggotongnya layaknya sekarung beras yang sedang diskon.


" Turunkan aku, turunkan aku " Teriak Blair meronta-ronta di atas panggulan Dylan. Tapi Dylan sudah tidak peduli lagi, baginya yang terpenting sekarang ini adalah Blair pergi dari sana.


Semua orang bukannya tidak melihat Dylan yang menggotong Blair, tapi mereka tidak peduli, hal seperti itu lumrah terjadi di club malam.


Meda yang juga mendengar teriakan Blair itu mengangkat kepalanya, dengan badan yang sempoyongan dia berdiri.

__ADS_1


" Hei lepaskan dia " Teriaknya lantang, membuat Dylan berhenti dan membalikkan badannya.


" Cih dia rupanya laki-laki yang di maksud pak sopir, benar saja. Dia memang brengsek " Gumam Dylan kesal tapi memilih tidak menghiraukan Meda.


Dia kembali berbalik dan meneruskan langkahnya. Meda yang melihat hal itu dengan matanya yang kabur mengambil botol kosongnya yang tergeletak di mejanya. Dia berjalan menerjang ke arah Dylan dan memukulkan botol kosong itu ke arah lengan kiri Dylan.


Suara pecahan botol itu membuat orang di sekitar mereka menjerit-jerit histeris.


Dylan yang memang sudah penuh emosi itu pun seketika meledak, dia menatap Meda, lalu tanpa menurunkan Blair dia melakukan tendangan atas ke arah kepala Meda.


Head shot !!


Tepat sasaran dan langsung membuat Meda ambruk seketika. Dylan lalu bergegas keluar dari area yang berbahaya nenurutnya itu.


" Turunkan aku, turunkan aku " Teriak Blair terus sepanjang perjalanan keluar dari ruangan tersebut.


" Diam " Sentaknya kasar saat mereka berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar, dia lalu menurunkan Blair sesuai permintaannya.


" Kau ini seberapa onengnya sih sampai tidak tau tempat apa yang kau datangi itu " Teriaknya marah meluapkan emosinya.


Blair menyandarkan tubuhnya ke dinding lift dan menatap Dylan dengan tajam.


" Oneng ? " Tanyanya bingung.


" Aku oneng ? Oneng bodoh maksudmu ? "


" Ya... " Jawab Dylan cepat, namun belum selesai kalimatnya Blair sudah mengangkat tangannya.


" Biar ku cerna dulu " Potongnya dengan suara berubah getir.


" Jadi selama ini kau memanggil ku neng itu kependekan dari oneng, begitu ? "


" Ini bukan saatnya membahas panggi... " Saut Dylan cepat.


" Apa menyenangkan ? " Potong Blair lagi. Dylan mengerutkan keningnya, bingung melihat tingkah aneh Blair.


" Ya, pasti menyenangkan bukan ? " Angguk Blair dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Dylan.


" Apanya ? " Gumam Dylan bingung.


" Menyenangkan menjuluki ku oneng hanya karena kau murid yang terpandai di sekolah " Cibir Blair sinis.


" Das... " Panggil Dylan sungkan, akan terdengar dia sangat jahat sekali jika Blair menggambarkannya begitu.


" Ya kau benar " Potong Blair lagi, tidak memberikan Dylan kesempatan sedikitpun untuk membela diri.


" Aku memang bodoh, aku memang oneng. Karena kalau aku pintar aku sudah pasti tidak akan memiliki kehidupan semenyedihkan seperti ini " Lanjutnya dengan suara bergetar. Bisa Dylan lihat mata Blair yang berkaca.


" Siapa kau ? " Blair menegakkan tubuhnya, mencoba berdiri tegap di hadapan Dylan.


" Siapa kau berani-beraninya menilai ku oneng. Kau tidak tau kehidupan seperti apa yang ku jalani sekarang dan kau seenaknya saja menyebutku oneng ? " Teriaknya putus asa.


Dylan hanya diam saja melihat sikap Blair yang baru dia tau memiliki sisi sentimental begini.


" Aku... aku tau kau anak seorang tunawisma dan pembunuh, tapi tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiranku untuk memanggilmu anak haram seperti yang lainnya, tapi kau... kau berani-beraninya memanggilku oneng hanya karena aku bodoh masuk ke tempat seperti ini ? " Air mata yang sedari tadi menggenang itu pun sukses meluncur turun.


" Kau pikir cuma hidup mu yang paling menderita di dunia ini ? Huh ? Kau benar-benar picik. Kau pikir aku juga sudi ada di tempat seperti ini, menjadi orang yang berpura-pura bahagia hanya demi sebuah informasi untuk ayahku yang serakah yang bahkan mungkin saja rela menjualku dengan harga murah hanya demi memuaskan ketamakannya " Lanjut Blair dingin.


" Dasya kau mabuk " Jawab Dylan mengalihkan pembicaraan.


" Kenapa memangnya kalau aku mabuk ? Ah sudah oneng, tukang mabuk pula, begitukah yang kau pikirkan ? Aku terlalu kotor untuk mu yang suci, begitukah ? " Cibir Blair.


" Si artis yang tukang mabuk tidak pantas bersanding dengan juara sekolah yang suci, begitukan pendapatmu ? " Oceh Blair.


" Kau mulai meracau tidak jelas " Jawab Dylan acuh, memegang tangan Blair karena pintu lift sudah terbuka. Dia menarikanya keluar dan berjalan melewati lobby club menuju pintu keluar.


Setelah berada di luar dia mencari-cari pak sopirnya, sembari terus menahan tangan Blair yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


Rupanya Pak Sopir itu telah menunggu dan begitu melihat Dylan keluar bersama Blair, dia langsung menyalakan mobilnya dan menghampiri mereka.


" Tuan " Ucapnya buru-buru saat turun dari mobil.


" Tidak usah turun, cepat jalankan saja mobilnya " Perintah Dylan sembari membuka pintu belakang mobil dan memaksa Blair masuk ke dalamnya.


" Baik tuan " Jawab Pak Sopir itu kembali masuk dan kemudian mengemudikan mobilnya begitu Dylan sudah ada di dalamnya.


" Kau tau rumah nona Blair kan pak ? Kita antar dia pulang " Perintah Dylan buru-buru, masih memegangi tangan Blair yang meronta-ronta.


" Tidak " Teriak Blair mencondongkan tubuhnya ke arah sopir.


" Aku tidak mau pulang, aku ma...hmp " Teriakannya tertahan oleh bekapan tangan Dylan. Dia melihat Pak Sopir yang kebingungan melihat tindakannya.


" Abaikan saja dia pak " Jawab Dylan sungkan.


" Argh " Dylan menarik tangannya dari bekapan mulut Blair karena dia menggigitnya.


" Tidak pak, jangan antar aku pulang, bawa aku pergi saja, kemana pun asal jangan pulang. Atau jadi anakmu saja tidak apa-apa, aku tidak keberatan " Rengek Blair kembali mencondongkan tubuhnya ke arah pak Sopir.


Dylan yang sudah kehabisan kesabaran juga cara untuk menenangkan Blair itu pun menarik tangan Blair dan mendorongnya bersandar pada sandaran jok mobil, menahan pundaknya dengan kuat.


" Kau tidak memberiku pilihan lain, maaf " Ucap Dylan menatap Blair dengan putus asa, dia langsung mencium Blair tepat di bibirnya. Dan benar saja, Blair langsung terdiam. Tenang dan sekaligus syok. Setelah dia merasa Blair cukup tenang, dia melepaskan ciumannya dan menatap Blair dengan tajam.


" Bisa diam ? Kalau masih berisik aku akan ******* bibir mu terus sepanjang perjalan sampai rumah mu " Ancam Dylan berbisik tepat di depan wajah Blair.


" Jangan coba-coba, aku serius " Lanjutnya saat melihat bibir Blair yang terbuka akan mengoceh lagi.


Dylan kemudian menyandarkan punggungnya dan menatap lurus ke depan. Di sampingnya, Blair sudah tidak bisa di gambarkan lagi, wajahnya berubah ungu karena ciuman mendadak yang di lakukan oleh Dylan. Saking syoknya dia bahkan duduk kaku seperti patung manekin, dia ingin sekali mencecar Dylan dengan berbagai pertanyaan tentang maksudnya menciumnya begitu, namun apa bisa di kata, tubuhnya tidak bisa bergerak. Untuk bernapas saja dia sudah kesulitan apa lagi harus mengeluarkan seluruh unek-uneknya saat ini.

__ADS_1


Dylan melirik ke arah Blair, lalu menggenggam tangannya erat, membawanya ke pangkuannya dan mengelus-elusnya.


" Nah begini baru pintar " Gumam Dylan santai.


__ADS_2