
Rai duduk di sofa yang ada di ruangan manager utama. Ruby di sebelahnya hanya bisa menghela nafas dan putus asa. Dia tau kali ini dia tidak akan selamat.
" Kau bilang apa tadi ? " Suara Rai lirih tapi terdengar menyeramkan.
Tina yang berdiri di tengah ruangan hanya bisa tertunduk. Mengumpulkan semua tenaga nya untuk menopang berat tubuhnya, karena kalau tidak begitu sudah di pastikan dia akan pingsan saat ini.
" Maafkan saya tuan " Tina menjawab lirih.
" Jawab !!! " Rai membentak. Tina juga Ruby terkejut.
" Saya tidak bermaksud membantu Ruby untuk membangkang, saya hanya merasa kasihan padanya " Tina menjawab terbata-bata.
" Kasihan ? " Rai bertanya heran, nada suaranya marah yang di tahan.
" Maafkan saya tuan " Suara Tina mulai tercekat karena menahan tangis.
" Kenapa kau harus kasihan padanya ? " Rai menginterogasinya.
" Karena dia bernasib sial, di club menjadi cleaning service pribadi anda, dan saat di luar jam kerja masih harus jadi pelayan anda " Tina menjawab di sela isak tangisnya, dia tau tamat sudah riwayatnya saat mengutarakan pendapatnya, karena dia telah mencampuri urusan Big Bos.
" Pelayan ? Memangnya siapa yang pelayan, dia itu... " Rai menjawab sinis.
" Saudara " Ruby memotong penjelasan Rai.
" Cukup Ruby " Rai membentak Ruby, dia sudah kehabisan kesabaran menghadapi Ruby yang selalu berusaha menyembunyikan pernikahan mereka. Ruby terkejut, bukan kali ini Rai berkata kasar padanya. Tapi itu tetap saja membuat hatinya terluka.
" Dia itu istri ku " Rai menoleh kepada Tina yang semakin mengkerut karena melihat Rai membentak Ruby.
" Haah " Tina terkejut dan segera menutup mulutnya sebelum mengeluarkan kata apapun yang akan membuat keadaannya semakin sulit.
" Tina aku mohon rahasiakan ini, jangan beri tahu siapapun. Aku tidak ingin ada gosip " Ruby memohon pada Tina.
Tina hanya menatap heran pada Ruby, dia bingung apakah ini benar atau hanya sandiwara.
" Ini sungguhan Tina, aku sebenarnya paling benci mengancam. Tapi kali ini aku terpaksa. Aku istri dari Rai J Loyard, kalau kau sampai membocorkan rahasia ini, aku yang akan memecatmu dari club dan akan ku pastikan kau tidak akan mendapat pekerjaan lagi dimana pun " Ruby mengancam Tina yang diam saja tidak memberikan reaksi apapun.
Tina segera menyadari ini bukan sandiwara, dia mengangguk cepat pertanda mengerti.
" Maafkan aku Tina " Ruby menatap Tina putus asa.
" Pergilah " Rai memerintah Tina yang segera menundukkan kepala dan pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Ruby menatap punggung Tina yang menghilang dari balik pintu. Dia menghela nafas, hatinya masih berdenyut nyeri mengingat Rai yang membentaknya tadi.
" Ayo cepat ikut aku " Rai menarik tangan Ruby. Tidak ingin menimbulkan keributan Ruby mengikuti Rai dengan terpaksa.
Rai membawa Ruby ke salah satu toko pakaian bermerk. Di depannya sudah berkumpul pegawai toko dan juga manager utama.
" Kalian lihat dan ingat baik-baik wajah wanita ini " Rai menunjuk Ruby dengan wajahnya.
Semua pegawai menoleh ke arah Ruby dengan serempak, mengamatinya dari atas sampai bawah.
" Dia adalah DPO " Rai menjelaskan santai.
" Apa ? " Ruby terkejut mendengar penjelasan Rai. Dia tidak habis pikir Rai akan memperlakukannya seperti itu.
" Ingat baik-baik wajah ini, kalau perlu kalian foto dan tempel di semua dinding yang ada di sini. Kalian pastikan jika wanita ini pergi dengan seorang laki-laki maka laporkan pada nomor ini. Ingat dia hanya boleh pergi dengan ku, selain denganku maka dia adalah buronan berbahaya " Rai memberi penjelasan dan memberikan secarik kertas berisi nomor ponsel.
Ruby mengepalkan tangannya menahan marah. Belum hilang rasa marahnya tadi dan sekarang Rai menambah kadar dosisnya.
" Kalian paham ? " Rai bertanya kepada semua pegawai.
" Paham Tuan " Jawab mereka semua kompak dengan menundukkan kepalanya.
" Kau puas ? " Ruby bertanya sinis.
" Belum puas mengurungku di rumah, membuatku jadi petugas cleaning service pribadi mu, dan sekarang menjadikanku buronan ? " Ruby bertanya tercekat.
" Apa kau bilang ? " Rai menahan geram.
" Aku tidak akan melakukan sampai sejauh ini kalau kau tidak macam-macam di belakangku " Rai menyangkal marah.
" Macam-macam ? Memangnya aku melakukan apa ? " Ruby bertanya ketus.
" Kau berselingkuh dengan bule itu " Suara Rai meninggi.
" Selingkuh ? Hei aku dengannya tidak ada apa-apa, dan kau sendiri bagaimana ? Pasti bahagia sekali punya istri dan mantan kekasih dalam satu tempat kerja ? " Ruby menjawab sarkas.
" Aku tidak ada apa-apa dengan Ignes " Rai menyangkal geram.
" Sama aku juga tidak ada apa-apa dengan Daniel, hanya karena dia menyukai ku bukan berarti aku berselingkuh " Ruby mengelak ketus.
" Kau membiarkan dia mencium tanganmu " Rai mengingatkan kejadian di rumah sakit.
__ADS_1
" Dia hanya mencium tanganku " Ruby mengelak ketus.
" Lalu kau sendiri ? Kau membiarkan Ignes mencium mu di kamar kita saat acara reuni kalian " Suara Ruby meninggi kehilangan kesabaran.
Rai terdiam mendengar kata-kata Ruby, dia mengakui kesalahannya yang tidak dia sengaja. Ruby memandangnya dengan tajam, kemarahan menguasainya. Matanya berkaca-kaca. Melihat Rai hanya diam saja dia memutuskan pergi meninggalkan Rai.
" Mau kemana kau ? " Suara Rai merendah, dia meraih tangan Ruby.
" Minggat " Ruby menjawab ketus dan menepis kasar tangan Rai. Dia berbalik dan pergi.
Rai meninju udara, dia kesal dengan pertengkaran mereka. Dia bergegas menyusul Ruby meninggalkan semua pegawai yang hanya jadi penonton pertengkaran mereka tanpa berani berkomentar.
" Ruby tunggu " Rai berusaha menghentikannya, tapi Ruby tidak peduli dia terus saja berjalan dan tidak menghiraukan Rai yang saat ini sudah ada di sampingnya.
Rai putus asa melihat Ruby yang marah, dia tau Ruby adalah orang yang keras kepala, pertengkaran mereka tidak akan selesai dengan cepat. Dia kemudian menghalangi Ruby tepat di depannya.
" Kau tidak memberiku pilihan lain " Rai memperingatkan.
Dia kemudian menunduk dan mengangkat tubuh Ruby diatas pundaknya. Ruby meronta berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia saja Rai terlalu kuat.
Rai berjalan melewati kerumunan orang yang melihat adegan mereka.
" Tolong penculikan, ini penculikan " Ruby berteriak. Tapi kerumunan orang-orang itu hanya mengawasi dan takut untuk berbuat sesuatu.
Maneger utama datang untuk memberitahukan bahwa mereka adalah suami istri dan itu hanya bentuk kasih sayang seorang suami. Kerumunan orang itu hanya mengangguk paham dan membubarkan diri.
Sementara Rai terus saja berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar, membawa Ruby pergi meninggalkan pusat perbelanjaan.
Petugas parkir sudah menyiapkan mobil Rai di depan pintu masuk, manager utama memberitahukan padanya bahwa Big Bos sedang marah besar dan membawa seorang buronan, jadi dia meminta petugas parkir segera menyiapkan mobilnya saat Big Bos turun.
Rai berjalan menuju mobil dan membuka pintunya, menurunkan Ruby dengan hati-hati dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Menutup pintu dengan keras dan berjalan memutari bagian depan mobil, masuk ke dalam dan duduk di kursi pengemudi.
Ruby hanya diam menatap keluar jendela. Dia sangat kesal dengan sikap Rai hari ini.
" Ruby jangan... " Rai berusaha membujuk Ruby, tapi terhenti karena bunyi ponsel Ruby.
Ruby mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat layar panggilan. Ken.
" Apa ? " Ruby mengangkat telfonnya dengan ketus.
" Kakak ipar kau jadi seorang buronan ? " Ken bertanya terkejut. Ruby menghela nafas mendengar pertanyaan Ken.
__ADS_1
Satu lagi biang kerok datang.