
Ruby membuka pintu kamarnya, dia mengedarkan pandangannya. Melihat Rai yang sedang tidur terbungkus selimut, dia merasa kesal.
" Anak ini " Ruby memaki Rai lirih.
Dia berjalan menghampiri Rai, dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
" Sayang bangunlah, aku tau kau pura-pura tidur untuk menghindari ayahmu " Ruby duduk di samping Rai.
" Tidak aku benar-benar mengantuk, aku tidak tidur dari kemarin " Rai mengusap matanya yang masih setengah terpejam.
" Kau ini kenapa sangat tidak berperasaan sekali, kau melewatkan momen di mana ayah mu mengungkapkan perasaannya " Ruby menjawab kesal, menyalahkan Rai.
" Momen apa ? " Tanya Rai heran, dia sudah duduk dan memeluk Ruby dari samping, bersandar di pundak Ruby untuk melepaskan rindu.
Ruby menghela nafas melihat kelakuan Rai yang tidak bertanggung jawab dengan berprasangka buruk kepada ayahnya.
Dia kemudian menceritakan tentang kejadian yang terjadi di ruang keluarga, tentang perasaan ayahnya selama ini. Dan Rai hanya mendengarkan dengan kepala tertunduk.
" Mungkin ayah kalian juga sama terluka nya seperti kalian, hanya saja dia menyembunyikannya dengan baik " Ruby mengakhiri ceritanya.
" Ya dia memang ahlinya menyembunyikan emosinya " Jawab Rai sedih.
" Aku merasa kalian hanya keluarga yang kurang komunikasi, jadi lah suasana di rumah ini begitu dingin. Bukankah mafia juga seorang manusia, dia juga memiliki kelemahan dan itu bukan aib " Ruby menjelaskan lagi.
Rai hanya mengangguk mendengarkan Ruby, jauh didalam hatinya dia sangat merindukan ayahnya. Keluarganya memang bukan keluarga normal, saat ibunya masih hidup dia dan Ken hanya mendapat kasih sayang tunggal, ayahnya terlalu sibuk membangun semua bisnisnya. Dan saat ibunya meninggal keadaan itu semakin bertambah buruk, ayahnya tidak pernah di rumah, dia yang mengidap mother compleks, dan Ken dengan sifatnya yang tidak pernah bisa di prediksi, kadang normal kadang tidak. Tapi sejak kehadiran Ruby, keluarga mereka kembali hangat, komunikasi normal dengan sesama anggota keluarga, dan juga kasih sayang. Mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Rai memeluk Ruby yang masih terus bercerita tentang perasaan ayahnya. Membuat Ruby terdiam.
" Terima kasih sayang... kau lah malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan kedalam kehidupan keluarga kami yang kosong. Memang benar sebuah keluarga tidak akan pernah hidup tanpa sentuhan kasih sayang seorang wanita di dalamnya " Rai mengucapkannya dengan lirih di dalam pelukan Ruby.
Ruby menghela nafas bahagia. Dia juga membalas pelukan Rai, menepuk lembut punggung Rai.
" Mulai sekarang mari kita bangun keluarga yang benar-benar keluarga, tanpa permusuhan atau suasana tegang ala mafia. Hanya keluarga kecil yang hangat dan penuh kasih sayang " Ruby menjawab lembut.
" Hu'um " Rai menganggukkan kepalanya.
" Sudah ayo cepat makan malam, ayah sedang menunggu di bawah " Ruby melepaskan pelukannya.
Mereka kemudian turun untuk makan malam bersama. Berjalan menuruni tangga dengan Rai yang merangkulkan lengannya di pundak Ruby.
Regis dan Ken sudah menunggu di meja makan, pak Handoko sudah menyiapkan makan malam istimewa untuk merayakan kembalinya Ruby, dan juga keutuhan keluarga Loyard.
Seekor kalkun panggang besar dan utuh terhidang di meja. Membuat Ruby membelalakan matanya melihat hidangan mewah tersebut.
Rai membantu menarikkan kursi untuk Ruby yang sudah tidak sabar.
" Makanlah sepuasmu nak, kalau ada yang kau inginkan bilang saja " Regis tersenyum melihat Ruby yang sangat antusias dengan kalkun panggang tersebut.
__ADS_1
" Tidak jangan ada yang namanya ngidam lagi, karena ngidam mu tidak wajar " Rai menjawab asal.
" Ini pasti sangat lezat, berbeda dengan ayam gosong yang aku makan tempo lalu " Ruby mengoceh sendiri, menyindir Rai dan Ken.
" Hei kenapa mengungkit insiden ayam itu " Rai menjawab ketus.
" Kakak ipar kau tidak menghargai usaha kami " Saut Ken juga ketus.
" Hanya cara memasak kalian yang terlihat profesional, tapi rasanya sangat buruk " Cibir Ruby.
Ruby lalu antusias menceritakan tentang pengalaman ngidamnya kepada Regis, dan tingkah konyol Rai juga Ken dalam memasak. Membuat Regis tertawa terbahak-bahak membayangkannya.
" Lain kali kalau junior ingin sesuatu lagi, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku, aku akan dengan senang hati mengabulkannya " Regis menawarkan kepada Ruby dengan tersenyum hangat.
" Baiklah ayah " Ruby menjawab riang.
Mereka makan malam bersama dengan suasana hangat penuh canda tawa dan cerita tentang kehidupan pernikahan Rai selama ayahnya tidak ada.
" Maaf tuan di luar sedang ada anak buah anda membawakan surat dari rumah sakit " Pak Handoko memberitahukan kepada Ken.
" Uhuk uhuk " Ken terbatuk mendengar pemberitahuan dari pak Handoko.
Suasana sedang baik kenapa dia malah datang, aish aku lupa membatalkannya.
Ken gugup dan menjawab pak Handoko agar mengambil surat itu dari anak buahnya.
" Mungkin tadinya tapi sepertinya aku sudah merasa baikan " Ken menjawab gugup, keringat dingin membasahi dahinya. Dia tau tidak akan bisa membohongi ayahnya.
" Kau menyembunyikan sesuatu ? " Regis bertanya heran.
" Tidak " Jawab Rai dan Ken berbarengan.
Reaksi mereka semakin membuat Regis merasa curiga, dia mencium rencana mereka.
" Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan menghukum kalian " Regis menjawab santai.
" Sungguh ? "
" Syukurlah " Rai dan Ken menjawab berbarengan.
" Jadi kau sampai repot-repot menyiapkan surat keterangan dari rumah sakit hanya demi menghindari hukuman dari ku ? " Regis bertanya, pura-pura bersedih.
" Tidak ayah bukan begitu, sebelumnya kau tidak pernah bercanda tentang semua ucapanmu jadi kali ini aku... " Ken berusaha menjelaskan kepada ayahnya, namun tidak mampu melanjutkan karena melihat raut wajah ayahnya yang sedih.
" Aish kalian ini benar-benar anak durhaka, kenapa kalian ini begitu jahat, tidak cukup hanya menjuluki ayah dengan siluman raja kerbau, bahkan sekarang kalian tega membohonginya dengan surat dari rumah sakit. Memangnya hukuman yang seperti apa yang akan di berikan seorang ayah ? Lihatlah kalian membuat ayah sedih seperti ini " Ruby memarahi Ken dan Rai dengan sekali tarikan nafas.
" Siluman Raja Kerbau ? " Regis mengulang ucapan Ruby.
__ADS_1
Omo !! Aku keceplosan lagi. Mulutku kenapa kau selalu membuat masalah.
Ruby menunduk tidak berani melihat ke arah Regis.
" Marimar !! " Rai menahan geram.
" Kakak ipar !! " Ken juga menahan geram.
" Sorry " Ruby tersenyum masam.
Mereka bertiga menoleh perlahan ke arah Regis yang berada di kursi ujung meja makan yang sedari tadi terdiam.
Tidak !! Super saiya mode on.
Ruby menelan ludah kaku.
Rai dan Ken hanya bisa lemas melihat ekspresi ayahnya yang menatap mereka dengan tatapan tajam dan dingin.
Kiamat sudah dekat.
Batin Ken dan Rai dalam hati.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di ruang ICU Ignes tersadar dari obat biusnya, dia mengedarkan pandangannya. Mencoba menyusun ingatan di kepalanya. Dan bayangan tentang Rai yang tega menembaknya membuatnya terkesiap.
Kenapa Rai begitu tega melukaiku, aku kekasihnya, calon istrinya, kenapa dia melakukan itu.
Ignes memegang kepalanya yang terasa sakit.
" Aaarrrgggg " Ignes berteriak histeris, membuat penjaga ruang ICU terkejut dan berlarian menghampirinya.
Ignes semakin menjadi-jadi, dia mencabut jarum infus yang ada di tangan kirinya. Dan turun dari tempat tidur dengan sempoyongan.
" Nona tenang dulu, kondisi anda belum stabil " Perawat berusaha menenangkan Ignes.
Ignes yang kalut terbakar emosi meraih vas bunga yang ada di meja samping ranjangnya. Memecahkannya dan meraih pecahan tajam vas itu, mengarahkannya kepada para perawat yang mengerumuni nya.
" Panggilkan Rai kesini, panggilkan suami ku ke sini cepat !!! " Teriaknya meracau.
" Cepat panggilkan dokter " Perawat itu memerintah temannya yang lain.
Dokter jaga dan beberapa security datang untuk menenangkan Ignes yang sedang mengamuk. Luka bekas operasi yang masih baru itu terlihat mengeluarkan darah lagi.
Ignes terhuyung karena menahan rasa sakit di bahu dan kepalanya. Kesempatan ini di gunakan oleh para security untuk menangkap Ignes. Dokter kemudian menyuntikkan obat penenang di lengan Ignes yang sedang meronta dan berteriak. Beberapa saat kemudian Ignes berangsur-angsur melemas dan matanya terpejam.
" Hubungi bagian psikiatri, jadwalkan konseling untuknya begitu dia sadar " Perintah dokter yang di jawab dengan anggukan paham dari para perawat.
__ADS_1
Mereka kemudian membaringkan Ignes di ranjang tempat tidur dan meninggalkannya, terlihat Ignes mengeluarkan air mata sebelum akhirnya terlelap oleh pengaruh obat penenang.