
Sebuah mobil hitam mewah meluncur mulus memasuki area club dan berhenti tepat di depan pintu masuknya.
" Selamat pagi tuan " Sapa penjaga pintu club tempat Rai bekerja setelah membukakan pintu mobil Rai, lalu mengikutinya berjalan hingga pintu masuk.
" Selamat pagi tuan " Sapa para pegawai lainnya yang sudah berbaris menyambut kedatangan Rai, mereka menundukkan kepala dengan kompak saat pimpinan tampan namun juga menyeramkan mereka lewat. Seperti biasa, wajah dingin Rai yang tanpa senyuman itu tidak membalas sapaan mereka.
Masih saja terdengar decak kekaguman dari beberapa pegawai wanita yang selalu berpapasan dengannya setiap hari.
" Bukankah dia terlihat semakin tampan ? " Terdengar gumaman kagum seorang pegawai.
" Sst... nanti tuan Rai dengar " pegawai yang lain buru-buru menyela temannya dan membawanya pergi dari sana sebelum Rai menegur mereka.
Rai terus saja berjalan menuju lift, seperti biasa langsung menuju lantai teratas di club ini.
" Selamat pagi tuan " Sapa pegawainya yang sudah menunggunya di depan lift.
Rai diam tidak membalas sapaannya, lalu pegawai itu memencetkan tombol lift untuknya.
Setelah pintu lift terbuka Rai masuk kedalamnya di ikuti dengan pegawai tersebut. Suasana hening di dalam lift, pegawai laki-laki yang terlihat berumur 20an itu berdiri tegap dengan tegang, sudah lebih dari 3 tahun dia bekerja di tempat ini, dan sudah lebih dari 3 tahun juga dia selalu menjadi pengawal Rai di dalam lift. Tapi dia tidak pernah terbiasa oleh aura mengintimidasi yang di pancarkan oleh Rai.
Ting ! Suara lift terdengar nyaring dan pintunya terbuka. Pegawai laki-laki itu menahan tombol lift agar pintunya terbuka lebih lama.
" Semoga hari anda menyenangkan tuan " Dia menundukkan kepalanya, mengucapkan salamnya yang seperti biasanya.
" Iya kau juga " Jawab Rai santai.
Mendengar Rai memberikan balasan sapaan padanya membuatnya mendongakkan wajahnya dengan cepat. Baru kali ini sapaannya di balas oleh Rai, setelah ribuan sapaan setiap pagi dan siang yang dia ucapkan, baru kali ini Rai membalasnya dengan kata-kata.
Aku mimpi apa semalam ?
Batinnya takjub, senang, bingung sekaligus terkejut.
Rai langsung berjalan menuju ruangannya, ruangan tunggalnya.
Ruangan di mana dulu tak ada satupun yang boleh naik ke atas sini. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalamnya. Kini orang-orang itu tidak pernah menginjakkan kakinya lagi selama beberapa bulan terakhir, bahkan jika dihitung dengan cermat, sudah lebih dari satu tahun. Siapa dia ? Rai malas mengingatnya.
Dia membuka pintunya, dan masuk ke dalam. Langsung menuju meja besarnya, membuka laptopnya dan menyalakannya. Sekejap saja, notifikasi email langsung memberondongnya begitu laptopnya menyala. Berbagai laporan dari seluruh perusahaannya masuk melalui surelnya.
Dia memeriksanya satu persatu, salah satunya adalah laporan dari Sekertaris Yuri yang berisi foto-foto Blair hasil pemotretan tempo hari.
Dia melihatnya, memeriksanya dengan seksama sebelum memutuskan foto mana yang akan di rilis bulan depan.
" Ck " Decaknya menopang dagunya.
" Ada yang kurang " Gumamnya berpikir.
Bukankah foto-foto Blair akan di rilis untuk tema valentine, tapi kenapa dia hanya berfoto sendirian.
Batinnya merasa janggal.
__ADS_1
" Kalau sendirian begini temanya valentine jomblo, mana ada orang yang mau melewatkan valentinenya sendirian " Decaknya malas.
Dia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Sekertaris Yuri.
" Kenapa Blair hanya berfoto sendirian saja ? Bukankah temanya valentine " Tanya Rai tanpa basa basi.
" Kami masih mencari model yang akan menjadi partner Blair tuan, dan rencananya Megan yang akan terpilih " Jawab Sekertaris Yuri.
" Megan ? " Kening Rai berkerut dalam.
" Kenapa harus wanita ? " Tanyanya bingung.
" Tema valentine kita kali ini tidak seputar romansa sepasang kekasih, tapi bertema kan persahabatan " Jelas Sekertaris Yuri dari ujung teleponnya.
" Memangnya kenapa kalau sepasang kekasih ? Valentine selalu identik dengan kisah manis bukan ? " Tanya Rai heran.
" Dewasa ini tren di kalangan masyarakat adalah I am single and i am happy, jadi banyak orang lebih memilih menjalin pertemanan sebanyak mungkin daripada harus ribet dengan urusan percintaan " Jelas Sekertaris Yuri detail.
" Kau sedang curhat atau sedang membicarakan tren pasar saat ini ? " Ejek Rai menahan tawanya.
" Haaah " Sekertaris Yuri menjauhkan ponselnya untuk menghela napas panjang.
" Saya bicara tren pasar saat ini tuan " Jawabnya tetap tenang.
" Oh ku kira kau sedang curhat tentang pilihanmu menjadi jomblo " Goda Rai lagi.
" Tidak tuan " Jawab Sekertaris Yuri tetap dengan tenang.
" Cih pantas saja Dylan menolak untuk memiliki kekasih, ternyata dia mengikuti tren jaman sekarang " Gumamnya lalu kembali memeriksa berkas-berkas laporan digital lainnya.
Kali ini dia memeriksa laporan dari perusahaan cabang luar negeri. Terlihat semuanya baik-baik saja dan perusahaannya mengalami perkembangan yang pesat.
Triiing, triiing !!! Ponsel di sebelah Rai berdiring, dia meliriknya sekilas.
Direktur perusahaan luar negeri yang menghubunginya. Rai meraihnya ponselnya, menggeser tombol hijau lalu menempelkannya di telinga, sedangkan matanya kembali membaca deretan kata-kata juga angka-angka di layar laptopnya.
" Hm ? " Jawabnya begitu mengangkat teleponnya.
" Selamat pagi " Sapanya riang.
" Sudah membaca surel ku ? Kita mengalami kenaikan profit lebih dari 30 persen, pencapaian yang luar biasa bukan " Ucapnya antusias.
" Ya aku sudah membacanya " Rai menandatangi berkas laporan itu secara digital lalu mengirimkannya balik.
" Kerja bagus " Pujinya basa basi.
" Terima kasih " Ucapnya riang.
" Bagaimana kabarmu ? " Lanjutnya.
__ADS_1
" Baik " Jawab Rai singkat.
" Ck " Decaknya sedikit kesal.
" Selalu saja dingin begini " Gumamnya ketus.
" Kau sudah sarapan ? " Tanyanya basa-basi, berusaha memperpanjang durasi percakapan mereka.
" Sudah ? " Tanya Rai memungkas pembicaraan, dan Rai mendengar helaan napas panjang dari lawan bicaranya.
" Iya iya sudah, dasar " Gerutunya kesal.
" Semoga harimu menyenangkan " Salamnya kemudian lalu menutup panggilan teleponnya.
Rai meletakkan ponselnya asal dan kembali fokus pada layar laptopnya.
Masih saja bersikap dingin, ck.
Decak batinnya kesal, lalu mencari lagi sebuah kontak di ponselnya.
" Hallo ? " Suaranya riang dalam bahasa asing.
" Bagaimana ? Apa sudah terkirim semuanya ? Ya saya Vivianne sendiri. Ah ya, terima kasih " Lalu menutup sambungan teleponnya.
Dengan raut wajah berbinar bahagia Vivianne mengambil kalender duduk yang ada di hadapannya. Menatap salah satu angka yang di lingkari dengan tinta ballpoin merah tersebut.
" Sudah hampir 80 persen, semakin dekat harinya " Gumamnya dengan senyum bahagia.
Sudah lebih dari satu tahun Viviane tinggal di luar negeri untuk memimpin cabang perusahaan Klan Loyard, dan kini hanya tinggal menghitung hari dia akan kembali ke tanah air untuk melangsungkan pernikahan.
Drrt, drrt !! Getaran ponselnya membuyarkan lamunannya.
" Hallo sayang ? " Sapanya riang.
Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya dia akan bertemu dengan seseorang selama masa pembuangannya yang di lakukan oleh Rai.
Gerald, Laki-laki berdarah campuran yang juga salah satu klien penting Klan Loyard jatuh cinta padanya saat pertama mereka bertemu.
Setelah saling mengenal selama beberapa bulan, Gerald akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Vivianne, dan gayung pun bersambut, Vivianne yang patah hati oleh pernikahan Rai menerima ungkapan cintanya.
Kini setelah menjalin hubungan yang cukup lama, keduanya memutuskan untuk menikah dan mendapat izin dari Regis untuk kembali ke tanah air.
Mereka akan melangsungkan pernikahan di salah satu hotel Klan Loyard, bukan tanpa alasan. Yatim piatu dan sebatang kara, membuat Regis merasa bertanggung jawab juga pada hidupnya, terlebih bibi Na, pengasuh Rai sedari kecil sudah di anggap keluarga oleh Regis. Jadi Regis yang akan membawa Vivianne naik ke altar pernikahan.
" Ya aku sudah mengirimkan undangan kita ke tuan Regis, mungkin akan sampai nanti malam waktu setempat " Jelasnya antusias.
" Ok baiklah, sampai bertemu nanti. I love you " Vivianne menutup sambungan teleponnya dan menatap fotonya bersama Gerald yang jadi wallpaper di ponselnya.
Foto itu di ambil saat Gerald melamarnya secara romantis di restoran ternama.
__ADS_1
" Selamat menempuh hidup baru " Gumamnya lirih lalu meletakkan ponselnya dengan layar terbalik.
Vivianne akan segera kembali, dengan kehidupan barunya, apakah dia akan tetap menjadi duri dalam daging di pernikahan Rai dan Ruby ? Atau memang sudah insaf ? Hanya waktu yang perlahan akan menjawabnya.