Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pemakaman ( bagian 2 )


__ADS_3

Lima buah mobil berjalan beriringan, memecah keramaian jalanan ibu kota, dua mobil di depan dan belakang bertindak sebagai mobil pengawal serta pengamanan. Sementara mobil di urutan kedua adalah sebuah mobil van besar yang membawa peti mati ayah Ruby, lalu mobil yang di tumpangi oleh Ruby dan Rai, dan satu lagi mobil yang berisi petugas pemakaman.


Ruby hanya diam saja selama perjalanan menuju pedesaan kampung halaman ibunya sekaligus tempat ibunya di makamkan.


Rai tidak tahu jika ibunya dan ibu Ruby berasal dari kampung halaman yang sama. Dia mengira ini adalah pengaturan pemakaman yang di buat oleh ayahnya.


Rai menoleh ke arah Ruby yang sedari tadi hanya memandang keluar jendela, dengan tatapan kosong menahan air mata.


Rai menghela napas, dia menggenggam tangan Ruby dan menciumnya.


" Kau bisa bersandar di bahu ku jika kau ingin menangis " Ucap Rai lirih dan merangkulkan tangannya ke pundak Ruby, membawanya masuk kedalam pelukannya dan menyandarkan kepala Ruby di dadanya.


" Aku baik-baik saja, sungguh " Jawab Ruby lirih dan lagi-lagi memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Apa yang membuatmu berusaha begitu keras terlihat tegar di hadapanku sayang ?


Rai mengelus lengan Ruby lalu menghela napas berat.


" Aku mengantuk, bolehkah aku tidur sebentar ? " Suara Ruby mulai bergetar.


" Ya tidurlah, nanti akan ku bangunkan begitu kita sampai " Jawab Rai lirih dan mencium puncak kepala Ruby.


Maafkan aku Rai, aku ingin sekali menangis sejadi-jadinya, tapi tidak di hadapanmu.


Butiran-butiran air mata langsung meluncur turun begitu Ruby memejamkan matanya, ingatannya terus saja memutar bayangan Rai yang menangis terisak-isak dan berlutut di hadapan foto ayah Ruby.


Dimalam mereka berbaikan, Rai dan Ruby memutuskan tidur di kamar tamu karena Raline yang sudah tertidur lebih dulu, mereka tidak ingin memindahkannya karena itu berpontensi membuatnya terbangun.


Namun saat tengah malam Ruby terbangun dari tidurnya, dia tidak menemukan Rai sampingnya. Dia bangun dan mencarinya di kamar mandi namun kosong. Dia mencarinya keluar kamar, karena biasanya Rai bangun untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya di ruang pribadinya.


Dengan mengikatkan tali mantel tidurnya, Ruby menyusuri lorong yang mengarah ke ruang pribadi Rai, samar-samar dia mendengar suara tangis menyayat hati.


Ruby menajamkan pendengarannya, maju selangkah demi selangkah dengan perlahan-lahan. Dan benar saja dugaannya, suara tangis itu berasal dari ruang pribadi Rai.


Lewat celah pintu yang sedikit terbuka, Ruby mengintip kedalamnya. Dan pemandangan yang tersaji di depan matanya sungguh membuat hatinya teriris sembilu. Ruby jatuh bersimpuh terduduk di depan pintu, di antara celah-celah yang menampilkan gambaran mengejutkan di dalam sana.


Rai sedang melukai dirinya sendiri dengan cambuk yang di pecutkannya ke punggungnya, seraya menangis terisak-isak di hadapan foto ayah Ruby.


" Maafkan aku ayah mertua, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Ruby, aku pantas mendapatkan ini " Rai memecut cambuknya sekali lagi.


" Tidak pernah sedetikpun aku hidup tanpa rasa bersalah yang mendalam padamu, tidak pernah sedetikpun dalam hidupku aku tidak mengutuki tindakanku sendiri yang membuatmu dan Ruby menderita " Isaknya lagi.


" Aku harus bagaimana meminta maaf padamu ayah mertua ? " Rai jatuh kelantai dengan tubuh berguncang naik turun karena kerasnya tangisannya.


" Aku bersumpah ayah mertua, setiap kali ku lihat Ruby menangis karena ku, aku akan menghukum diriku sendiri karena telah membiarkan air matanya yang berharga jatuh " Lanjutnya lagi dan kemudian menangis terisak-isak lebih dalam lagi.


Dengan hati yang hancur Ruby kembali ke kamarnya, tidak menyangka Rai akan berbuat sedemikian mengerikan untuk menghukum dirinya sendiri. Rai selalu bilang kalau tangannya dia gunakan untuk menghukum orang yang bersalah, tak pernah terpikirkan di pikiran Ruby bahwa itu juga berlaku untuk dirinya sendiri.


Pantas saja saat pagi hari Ruby memaksa untuk memakaikan pakaian Rai seperti biasanya, dia menolak dengan alasan mulai terbiasa memakai pakaiannya sendiri sejak Raline lahir, ternyata dia sedang menyembunyikan luka-luka memar bekas cambukannya sendiri.


Jika memang menangis di hadapan Rai bisa membuatnya menyiksa dirinya sendiri, Ruby memutuskan akan menyimpan air matanya di hadapan Rai, dengan begitu Rai tidak akan berbuat bodoh.


Mobil mereka mulai memasuki jalan pedesaan yang sedikit menanjak dan jalan yang lumayan berkelok-kelok.


Rai mengguncang pundak Ruby pelan untuk membangunkannya.


" Sayang kita hampir sampai " Bisiknya lirih.


Ruby yang sedari tadi tidak tidur itu pun mengusap air matanya dan kembali memasang senyuman di bibirnya sebelum menatap wajah suaminya.


" Hoaam... " Berpura-pura menguap demi menyamarkan sisa air mata yang masih terlihat dimatanya.


" Semalam aku tidak tidur dengan nyenyak, jadi aku mengantuk sekali " Jawab Ruby seraya menegakkan tubuhnya.


" Kau tidur nyenyak semalam ? " Pancing Ruby.


" Ya aku sedikit kelelahan semalam, jadi aku tidur sangat nyenyak " Rai memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Ruby saat sedang berbohong.


Bohong.


Batin Ruby sedih.


" Rai boleh aku minta sesuatu ? " Tanya Ruby dan menggenggam tangan Rai.


" Apa saja " Jawab Rai cepat.


" Jangan lakukan hal yang akan melukai dirimu sendiri ya " Ucap Ruby dan menatap wajah Rai yang kini sedang gugup.


" Tentu saja, untuk apa aku melukai diriku sendiri " Berbohong lagi. Ruby menghela napas melihat Rai yang masih saja berbohong padanya.


" Aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu, ok " Ucap Ruby dan mengelus pipi Rai, lalu mengecup bibirnya sebentar.

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area pemakaman, Ruby mengernyitkan keningnya memandangi keadaan pemakaman tersebut. Gapura yang dulu sudah tua dan terkikis cuaca itu kini telah berganti dengan yang baru dan lebih megah.


Oh ? Tempat ini kelihatan jauh berbeda.


Batin Ruby heran. Dia hanya beberapa kali mengunjungi makam ibunya, dulu karena dia tidak memiliki banyak uang dan waktu untuk pergi kesini, semua waktu dan uang yang dia miliki hanya cukup untuk menopang hidupnya dan obat-obatan ayahnya. Dan lagi transportasi ke tempat yang lumayan terpencil ini sangat sulit, harus berganti beberapa kendaraan umum, dan jika kemalaman maka tidak akan ada kendaraan yang melintas. Dan setelah menikah dengan Rai, dia juga beberapa kali mengunjungi makam ibunya, itupun tanpa Rai.


Tapi sekarang tempat ini terlihat jauh berbeda, jalanan yang menuju pedesaan itu telah lebih lebar dan lebih bagus, berbeda dengan dulu yang masih landai berbatu.


Beberapa orang terlihat telah menunggu di area pemakaman, sepertinya penduduk sekitar desa sini.


Ruby tidak mengenal satupun penduduk sekitar desa karena ibunya sudah pergi merantau sejak masih muda, dan tidak pernah mengajak Ruby kembali ke desa ini walau hanya sekedar berkunjung. Ruby sendiri pertama kali menginjak desa ini adalah saat pemakaman ibunya.


Rai turun lebih dulu dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Ruby, dia mengulurkan tangannya membantu Ruby untuk turun.


Mereka berjalan menuju ke dalam pemakaman, disana telah disiapkan tenda serta tempat duduk untuk Ruby dan Rai, juga liang lahat yang telah siap.


Para pengurus jenazah itu pun kemudian menurunkan peti mati ayah Ruby dan meletakkannya disamping liang lahat.


" Nyonya ada yang ingin kau sampaikan sebelum peti mati ini di turunkan ? " Tanya pemuka agama yang memimpin jalannya proses pemakaman.


Ruby hanya menggelengkan kepalanya dengan sekuat yang dia mampu, dia tidak akan mengucapkan apapun karena dia tau suaranya akan bergetar dan air matanya tidak akan sanggup di tahannya.


Rai memandang Ruby penuh iba, hatinya hancur melihat Ruby yang berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.


" Sayang kau boleh menangis " Ucap Rai penuh dengan nada putus asa, dia tidak ingin Ruby menahannya sendirian, dia ingin Ruby menangis dan mengeluarkan semua kesedihan, kemarahan serta kekecewaan yang dia rasakan, melihat Ruby bersikap setegar ini malah membuat Rai semakin merasa bersalah.


" Tidak " Jawab Ruby lirih dan tersenyum kepada Rai.


" Aku sudah merelakannya, ini keinginan ayahku dan aku sudah mewujudkannya " Jawabnya lirih lalu dengan cepat memalingkan wajahnya sebelum air matanya yang turun terlihat oleh Rai.


Para pengurus segera menurunkan peti matinya, lalu menguburnya dengan tanah.


Ayah... maafkan aku, maaf.


Teriak batin Ruby pilu.


Pemakaman ayah Ruby berlangsung tertutup dan khidmat, setelah semua prosesi pemakaman selesai, Ruby dan Rai segera kembali ke mobil mereka, Ruby memaksa ingin segera pulang saja. Terlalu lama berada disana membuatnya sesak dan semakin sedih. Rai yang mengerti hal itupun menuruti keinginan Ruby dan mengurungkan niatnya untuk mengajak Ruby mengunjungi makam ibunya. Masih ada banyak waktu untuk kembali kesana, dalam keadaan yang sudah lebih baik, pikir Rai.


Mobil mereka melaju perlahan-lahan meninggalkan area pemakaman. Rai yang terus saja menggenggam tangan Ruby selama prosesi tadi pun semakin hancur melihat Ruby yang semakin menjadi diam setelah memakamkan ayahnya, dan terus memandang keluar jendela.


" Sayang aku... " Suara Rai bergetar menahan tangis.


" Hei tempat ini banyak berubah ya ? " Potong Ruby yang mengerti bahwa Rai akan membuatnya menangis dengan permintaan maafnya untuk yang kesekian kalinya.


" Ya dulu tidak sebagus sekarang jalanannya, dan juga makam yang tadi tidak sebagus sekarang " Ucap Ruby dengan ceria.


" Kau pernah kesini ? " Tanya Rai bingung.


" Ya bukankah tadi ayahku dimakamkan disamping makam ibuku " Jawab Ruby.


" Oh ya ? " Saut Rai antusias.


" Iya ibu ku kan berasal dari desa ini " Jawab Ruby.


" Sungguh ? Jadi kau yang meminta ayahmu dimakamkan disini ? " Tanya Rai baru menyadarinya.


" Ya aku bilang pada ayahmu dan dia yang mengatur semua ini " Jawab Ruby.


" Ku kira ayahku yang mengatur semua ini karena ingin makam seluruh anggota keluarga jadi satu dengan makam ibuku. Semula ayah berniat menjadikan ini makam pribadi milik Klan Loyard, tapi karena itu adalah pemakaman umum milik desa, jadi ayah tidak bisa melakukannya. Dan sebagai gantinya ayah yang memugar makam dan juga jalanan menuju desa ini, supaya memudahkan kita kalau akan pergi mengunjungi makam ibu " Jelas Rai panjang lebar.


" Pantas saja semua keadaannya jadi berbeda. Oh ? " Pekik Ruby tiba-tiba.


" Kenapa ? " Tanya Rai panik.


" Kalau ibumu di makamkan disini kenapa kau tidak mengatakannya, aku kan harus mengunjungi makamnya, setidaknya mengucapkan salam dan hormat ku " Ucap Ruby kecewa.


" Besok-besok saja kita kesana kalau suasana hatimu sudah lebih baik " Jawab Rai.


" Kan sudah ku bilang aku baik-baik saja " Jawab Ruby seraya menunjukkan senyum lebarnya.


" Ibu mu penduduk asli desa ini ? " Tanya Ruby kemudian.


" Ya ayah bilang begitu, kenapa ? " Tanya Rai penasaran.


" Ibu ku juga asli penduduk desa ini, apa menurutmu mereka tidak saling kenal ? " Tanya Ruby menebak-nebak.


" Entahlah, mencari informasi yang sudah berpuluh tahun lamanya tidak mudah, banyak penduduk asli desa ini yang telah meninggal dan sebagian pergi merantau, kau ingin aku mencari tahunya untukmu ? " Tawar Rai.


" Tidak usah, yang lalu biar saja jadi masa lalu " Jawab Ruby menolak.


" Kau sering mengunjungi makam ibumu ? " Tanya Rai.

__ADS_1


" Tidak juga, hanya bisa di hitung jari, tapi ada satu kenangan yang tidak bisa ku lupakan saat aku mengunjungi makam ibu " Cerita Ruby.


" Apa ? " Tanya Rai penasaran dan kemudian menarik Ruby kedalam pelukannya, membiarkan Ruby bercerita dengan kepala yang menempel di dadanya, dengan begitu Rai bisa sambil mengelus-elus kepala Ruby, menunjukkan rasa sayangnya.


" Dulu saat mengunjungi makam ibu aku bertemu dengan seorang anak laki-laki... " Ruby memulai ceritanya, namun belum selesai kalimatnya Rai sudah mendorong tubuh Ruby dari pelukannya.


" Hei siapa dia, apa hubunganmu dengannya, kenapa kau harus bertemu di makam ? " Cecar Rai marah.


" Ck " Ruby berdecak kesal dan memutar bola matanya kesal.


" Kumat " Gumamnya malas.


" Jawab cepat " Rai menguncang pundak Ruby tidak sabaran.


" Entahlah aku tidak tau, aku hanya bertemu dengannya di makam tanpa sengaja, lalu tiba-tiba hujan turun dan aku menumpang pulang naik mobilnya, itu saja " Jelas Ruby dan menepis tangan Rai yang memegang pundaknya lalu menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


" Hei tidak masuk akal, kenapa kau harus menumpang mobil laki-laki yang baru kau kenal, dia pasti merayu mu, iya kan ? " Cecar Rai masih tidak terima.


" Dia tidak merayuku, dan perlu kau tau dia anak yang baik " Jawab Ruby malas.


" Mana ada anak yang baik langsung menyuruhmu masuk ke mobilnya, kalau dia baik dia tidak akan melakukan itu " Protes Rai marah.


" Aish kau ini, itu kan masa lalu, kenapa begitu saja marah " Omel Ruby kesal.


" Bagaimana aku tidak marah ketika ada anak laki-laki yang begitu kurang ajar, baru pertama bertemu sudah langsung menyuruhmu masuk ke mobilnya, berani bertaruh dia akan tumbuh jadi laki-laki brengsek dan kurang ajar " Rai mencaci maki dengan penuh emosi.


" Ya ya dia akan tumbuh jadi orang yang seperti itu, kau puas ? " Jawab Ruby asal.


" Bagus " Ucap Rai lalu menghela napas berusaha menenangkan hatinya yang panas.


Dia terus memikirkan cerita Ruby yang membuatnya cemburu, rasa panas dan kesal menggerogoti hatinya.


Aish siapa sih pemuda itu, bikin kesal saja, apa aku harus mencari tau ya ?


Batinnya kesal, dia lalu juga teringat dia pernah bertemu dengan seorang gadis saat mengunjungi makam ibunya.


Jangan-jangan...


Rai menoleh dengan cepat ke arah Ruby, menarik dagunya dan memutar wajahnya ke kanan dan ke kiri, mengamatinya.


Tidak mungkin, dulu yang kutemui berkulit hitam dengan tubuh yang sedikit gempal, tidak mungkin dia akan jadi secantik Ruby ku saat ini.


Rai menggelengkan kepalanya sendiri.


" Apa sih ? " Tanya Ruby bingung dengan sikap Rai yang mendadak.


" Kau tau siapa nama laki-laki itu ? " Tanya Rai memastikan.


" Tidak tau " jawab Ruby polos.


" Kenapa ? " Desaknya penasaran.


" Tidak, dulu aku juga pernah bertemu dengan seorang gadis, berkulit gelap dengan badan gempal seperti hulk begitu lah " Cerita Rai.


" Berkulit gelap ? Gempal ? " Ulang Ruby bingung. Dia terkejut karena begitulah dirinya sewaktu remaja.


" Iya, dengan wajah putih menakutkan karena make up nya yang aneh, lalu kau tau, make up itu luntur saat terkena hujan, aish sungguh mengerikan pokoknya, sempat ku kira dia seperti hantu, tapi aku bingung hantu apa ya yang cocok menggambarkannya " Oceh Rai panjang lebar.


" Mak lampir ? " Tanya Ruby datar.


" Ya benar, setelah di pikir-pikir dia seperti mak lampir, rambutnya juga mengembang keriting begitulah, hahaha... dia sangat lucu saat itu " Rai tergelak sendiri, lalu menoleh ke arah Ruby.


" Apa seperti ini wajah menyeramkannya ? " Tanya Ruby dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan tajam.


" Ke-kenapa kau memasang wajah begitu ? " Tanya Rai terbata-bata.


" Aku lah mak lampir yang kau bilang tadi " Teriak Ruby marah lalu memukul lengan Rai kesal.


" Ampun... ampun " Rai menamengi dirinya dengan kedua lengannya.


Kejadian di masa lalu...


Lorie yang lebih dulu akan pergi merantau ke kota sedang berpamitan kepada sahabatnya.


" Kalau aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang baik disana aku akan segera mengajakmu " Pamitnya dengan sedih.


" Baiklah, jangan lupakan aku ya " Jawab Rumi seraya tersenyum manis.


" Aku janji, kalau nanti kita sama-sama menikah dan punya anak, kita akan menjodohkannya agar persahabatan kita berubah jadi kekeluargaan " Janji Lorie.


" Baiklah, kita akan menjadi satu keluarga suatu saat nanti " Angguk Rumi.

__ADS_1


Dan Lorie pun pergi merantau lebih dulu, meninggalkan sahabatnya Rumi yang memutuskan tetap berada di desa membantu ibu pengasuh panti asuhan mengurus anak-anak yatim piatu yang lainnya.


Dan beberapa tahun kemudian ayah Ruby yang sedang mengunjungi desa itu dan tertarik kepada Rumi, dia berniat menikahinya, gayung pun bersambut. Setelah menikah ayah Ruby membawa Rumi pergi ke kota dan Lorie pun kehilangan kontak dengan Rumi.


__ADS_2