
Suasana malam yang cerah di penuhi bintang-bintang dan hembusan angin semilir yang sejuk itu seperti berbanding terbalik dengan suasana hati Ruby dan Dylan sekarang ini.
Dari ketiga pemasang taruhan itu harusnya Ken lah yang mengalami kerugian paling besar, secara logika dia harus mengeluarkan uang milyaran jumlahnya untuk membelikan Rai pesawat jet yang desainnya khusus di sesuaikan dengan keinginan Rai. Tapi nyatanya Ken terlihat sangat bahagia dan sedang merangkul Kiran yang ada di sampingnya. Malah sebenarnya Ken merasa berterima kasih kepada Rai, karena Rai yang menang taruhan dengan cara curang membuat Kiran tak berhenti mentertawakan kesialan Ruby dan Dylan.
Selagi Kiran dalam mode normal, Ken merayunya sebanyak mungkin, menjaga agar suasana hatinya tidak berubah ke mode gahar lagi.
Sedangkan Dylan dan Ruby terlihat sangat terpukul, terlebih Dylan. Raut wajahnya yang kusut penuh penyesalan itu terus saja menatap tembok yang ada di depannya, tembok tempat tergantungnya foto terlaknat yang menjadi bahan taruhannya tadi. Dalam hatinya dia mengutuki setiap inchi dari tubuhnya yang dengan mudahnya percaya dan tertipu begitu saja oleh rayuan mematikan Rai. Harusnya insting melindungi dirinya lebih kuat dari hari ke hari bukannya malah melemah hingga begitu mudahnya terpancing oleh angin surga yang di tiupkan Rai. Dan sekarang semua sudah terlambat, foto itu akan selamanya bertengger manis di tembok ruang keluarga. Malah akan bertambah. Sebentar lagi. Coming soon.
Sementara Ruby sedang duduk dengan pandangan mata kosong, menatap nanar ke arah Raline yang ada di atas kasur lantai yang sengaja di siapkan untuknya jika ingin tengkurap. Di telinganya terus saja terngiang-ngiang bahan taruhannya. Tujuh ronde.... tujuh ronde... begitulah lirik itu bernyanyi berpura-putar mengisi kepalanya yang kosong.
Tak pernah terbayangkan bahwa dia akan ikut menjadi korban kejahilan Rai. Bagaimana bisa dia masih saja kecolongan padahal dia merasa sudah sangat mengenal Rai luar dalam. Tapi nyatanya Rai tetap tak terkalahkan, setidaknya belum. Pasti suatu saat akan ada yang bisa membuatnya kalah.
" Melamun apa sayang ? " Bisiknya penuh sensual di telinga Ruby.
" Caranya di atas ya ? " Lanjutnya kemudian terkekeh sendiri saat melihat Ruby yang mendelik padanya.
" Sayang " Panggil Ruby dengan manja dan mengedip-ngedipkan matanya. Memakai jurus andalannya untuk merayu Rai. Dia tau cara ini selalu berhasil.
" Boleh ku cicil saja taruhannya ? " Tawarnya sambil membuat gerakan melingkar di paha Rai dengan jari telunjuknya. Mantra ajaib, do your magic. Harapnya dalam hati.
" Boleh " Jawab Rai santai, membalas godaan Ruby dengan gambar love di punggung Ruby dengan telunjuknya juga.
Yes !!
Pekik Ruby dalam hati, belum-belum kepongahan sudah menguasainya hingga sejenak dia lupa lagi siapa orang yang menjadi suaminya itu.
" Kau mau mencicil dengan cara bagaimana ? Kau berhutang 5 ronde plus bunga 2 ronde, totalnya 7 ronde, setiap kau mencicil satu ronde maka kau akan di kenakan bunga 1 ronde, dan kalau kau tidak bisa membayar bunganya maka itu akan berbunga lagi " Jelasnya lembut menggoda.
Tunggu ! Ada yang tidak beres. Setiap 1 ronde harus di bayar plus bunga 1 ronde, jadi...
Ruby menghitung-hitung dalam hati cara pembayaran yang di jabarkan oleh Rai. Dan ternyata hutang itu malah semakin banyak berbunga.
" Hei !! " Pekiknya berteriak, membuat yang lainnya berjengit kaget mendengar suara keras Ruby. Bahkan Raline yang tadinya akan tengkurap dan sudah separuh jalan itu pun terkejut dan kembali ke posisi awal lalu diam tak bergerak menatap ke arah ibunya.
" Kalau seperti itu kapan lunas nya ? " Desis Ruby mendelik kesal melihat Rai yang sudah tertawa terbahak-bahak.
" Kau ini oon sekali sih " Rai mengusak kepala Ruby dengan gemas.
" Oon ku yang menggemaskan " Dia lalu menghujani Ruby dengan ciuman di seluruh wajahnya.
Dulu, melihat Rai melakukan hal itu di depan matanya Dylan tidak pernah punya pikiran aneh-aneh ataupun bayangan nakal. Tapi semenjak Blair mengajaknya untuk menonton di kamar kost yang kosong, melihat Rai yang seperti itu saja sudah membuat perasaannya berdesir aneh.
Dengan wajah yang malu dan merona dia mengalihkan pandangannya dan berganti menghadap Raline. Memilih mengajaknya bermain-main saja.
" Oh ya Dylan " Panggil Kiran teringat sesuatu.
" Hm ? " Dylan menoleh ke arah Kiran.
" Katanya kau punya teman tapi mesra ya ? Cieeeee " Goda Kiran.
Dari tadi mereka terus saja membicarakan teman tapi mesra, apa sih ?
Batin Dylan heran sendiri.
" Iya iya bagaimana ceritanya kau bisa jadi teman tapi mesra dengan Blair ? " Saut Ruby menimpali dengan antusias.
" Blair ? " Dylan semakin mengerutkan keningnya.
" Siapa yang bilang aku dan dia teman tapi mesra ? " Tanya Dylan penasaran.
" Dia sendiri, tadi saat jam istirahat di sekolah dia mendatangi ku dan bilang katanya kalian teman tapi mesra. Cieeee.... rangers pink sudah dewasa rupanya " Goda Kiran lagi membuat wajah Dylan semakin merona malu.
__ADS_1
Antara percaya atau tidak, dia sangat bahagia Blair mengatakan mereka adalah teman tapi mesra. Rasanya itu adalah lampu hijau redup yang di berikan oleh Blair untuknya.
" Hooo malu-malu " Ruby yang ikut larut dalam suasana bahagia itu sejenak melupakan kekesalannya pada Rai.
" Ck apa sih " decak Dylan menyembunyikan rasa malunya, dia menegakkan punggungnya dan berdehem untuk menutupi ekspresi girang di wajahnya.
" Bagaimana ceritanya kau bisa jadi teman tapi mesra dengannya ? " Kejar Ruby antusias, dia sendiri merasa ikut bahagia untuk Dylan, terlebih romansa masa putih abu-abu tentu saja sangat mengasyikkan untuk di bahas, bagaimana tidak kisah cinta pertama yang masih malu-malu, lalu mencuri-curi waktu untuk berduaan di sela-sela jadwal pelajaran sekolah, aaah semua itu benar-benar cerita yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
" Entahlah, aku dan dia hanya berteman biasa tapi jika di menganggapnya begitu ya terserah dia " Jawab Dylan berpura-pura cuek, padahal sebenarnya di dalam hati, ada kupu-kupu gajah yang sedang berjingkrak-jingkrak kegirangan.
" Lalu kau sendiri bagaimana ? Apa kau merasakan sesuatu dengannya ? Semacam sengatan listrik begitu ? " Tanya Kiran ikut antusias.
" Aish sudah jangan tanya-tanya lagi " Dylan mengalihkan pembicaraan kemudian kembali fokus pada Raline.
" Ayo Raline sayang, kakak akan mengajakmu jalan-jalan " Ucap Dylan kemudian langsung menggendong Raline.
" Aaaa... oooo... " Balas Raline menghentakkan kakinya dan tertawa lebar.
" Kak aku kan mengajaknya jalan-jalan keluar ke halaman " Ucapnya meminta izin.
" Hei jangan kabur begitu " Protes Ruby belum puas menggoda Dylan yang jelas-jelas kabur untuk menghindari godaan dari mereka semua.
Namun Dylan sudah menggendong Raline dan mengajaknya keluar dari ruang keluarga, mengabaikan lenguhan panjang Kiran dan Ruby yang mencegahnya pergi.
Dylan berjalan menyusuri lorong menuju halaman samping mansion, dengan jantung yang masih berdebar kencang dia berusaha mengalihkan pikirannya dari bayangan Blair dengan senyum manisnya dan sikap manjanya.
" Cih teman tapi mesra apanya, dasar oneng " Gumamnya malu-malu. Udara segar langsung menerpa wajah Dylan dan semakin membuat perasaannya berdesir tak karuan. Seakan mengerti kalau pamannya sedang berbahagia Raline yang ada di gendongannya juga ikut tertawa dan berjingkrak-jingkrak.
" Oh kau ikut menggoda ku ya ? " Tanyanya pada Raline yang seperti sedang menggapai-gapai sesuatu di depannya sambil mengoceh tak jelas.
" Aaooo... " Raline menjawab pertanyaan Dylan lalu berjingkrak-jingkrak lagi dan tertawa lebih kencang.
" Raline sayang, memangnya kau tau seperti apa kak Dasya ? " Tanya Dylan.
" Dia itu sangat oneng, otaknya benar-benar lemot, tapi tidak tau kenapa dengan otak onengnya itu dia malah terlihat sangat menggemaskan. Dia itu tulus dan jujur, isi kepalanya juga sangat sederhana, dia juga sangat manja, tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, tapi anehnya hal itu membuatku merasa di butuhkan setiap saat kalau ada di dekatnya " Ceritanya seperti lebih kepada dirinya sendiri.
Dia sudah tiba di bangku kayu panjang yang ada di depan air mancur, suasana malam disana sangat indah, terdapat lampu warna warni di sekitaran air mancur itu yang membuat semburan air itu seperti pelangi.
" Dia itu benar-benar membuatku selalu merindukannya setiap saat " Gumamnya lirih sesaat setelah duduk di bangku kayu itu. Dan pikirannya langsung melayang membayangkan wajah Blair yang selalu saja memenuhi kepalanya.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Hachi... hachi.... " Blair langsung bangun dari posisi tidurnya dan melompat turun dari ranjang. Bergegas menuju lacinya dan mengambil kumpulan bawang butih yang di rangkai menjadi sebuah kalung.
" Hei keluar kalian wahai hantu-hantu pengganggu, aku punya bawang putih disini, jangan macam-macam dengan ku " Teriaknya dengan lantang.
Dia sudah sangat hapal dengan skema santet yang di tujukan padanya. Jika malam mulai beranjak larut dia pasti akan bersin-bersin hingga hampir menjelang dini hari. Tapi malam ini sepertinya serangan itu datang lebih awal. Jam dindingnya baru menunjukkan pukul 8 malam tapi dia sudah memulai ritual bersin-bersinnya.
Andai saja Blair tau jika dia akan terus bersin sepanjang malam ini sudah pasti dia tidak hanya menyiapkan bawang putih, jika perlu dengan untaian cabai sekalian. Karena bisa di pastikan Dylan tidak akan bisa tidur malam ini dan terus memikirkan Blair hingga pagi menjelang.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
" Sayang kau sudah merasa lebih baik ? " Tanya Ken kepada Kiran saat mereka sudah berada di dalam kamar.
" Iya maafkan aku ya, aku benar-benar tidak sadar kalau aku membuatmu serba salah begitu " Jawab Kiran sungkan.
Sepanjang sisa hari ini suasana hati Kiran sangat baik, apalagi sejak dia tau perihal taruhan itu, dia tidak berhenti tertawa meledek Ruby.
" Kenapa harus minta maaf, aku yang harusnya minta maaf karena tidak bisa memahami mu " Ken memeluk Kiran yang sedang berbaring di sampingnya. Mengelus-elus puncak kepalanya dengan lembut.
" Aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku bisa sesinsitif ini, aku hanya merasa ada yang aneh dengan tubuhku " Jawab Kiran juga bingung sendiri.
__ADS_1
" Kau ingin periksa ? " Tanya Ken khawatir. Dia tidak ingin bertanya pada Kiran perihal period nya karena berdasarkan keterangan Ruby Ken hanya perlu memahaminya. Menurut Ruby, Kiran sedang mengalami pramenstuasi syndrom atau yang lebih di kenal sebagai PMS dan PMS ini masih tergolong dalam siklus period.
Jadi Ken tidak ingin membuat masalah dengan banyak bertanya di tengah situasi hati Kiran yang tak menentu ini, salah bicara bisa-bisa mode gaharnya akan otomatis menyala, yang terpenting dia sudah tau penyebabnya jadi dia akan lebih berhati-hati ke depannya.
" Tidak usah terima kasih " Jawab Kiran semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Ken. Lalu menghirup napas dalam-dalam.
" Hm ? " Kiran mengernyitkan keningnya lalu mendongak menatap Ken.
" Kau mandi ya ? " Tanyanya kemudian.
" Iya kau bilang kemarin aku harus mandi sebelum tidur, katanya kau tidak suka bau keringatku " Jawab Ken santai. Apa ? Jangan berubah lagi, ku mohon.
" Baguslah, aku suka bau wangi sabun yang kau pakai, sangat menyegarkan " Jawab Kiran lalu kembali menghirup napas dalam-dalam tepat di dada Ken.
Ken menghela napas pelan, tindakannya sudah tepat dengan memperhatikan setiap detail yang Kiran ucapkan. Itu artinya dia bisa survive beberapa hari kedepan sampai siklus period nya berlalu.
Pikiran Ken teralihkan oleh Kiran yang terus saja mengendus-endus tubuhnya. Nalurinya sebagai laki-laki yang telah beristri seketika itu juga muncul.
Sikap Kiran yang menurutnya manja itu tentu saja membangkitkan sesuatu di dalam tubuhnya. Tangannya yang semula mengelus kepala Kiran kini turun beralih mengelus wajah Kiran. Kening turun ke pelipis lalu turun ke pipi dan dengan lembut beralih mengusap bibir Kiran.
Ken mendekatkan wajahnya perlahan, bisa dia lihat Kiran memejamkan matanya seolah tanda bahwa dia memberikan lampu hijau Ken untuk menciumnya.
Semula itu hanya kecupan ringan, lalu berubah semakin intens dan penuh nafsu. Hingga akhirnya keduanya larut dengan napas yang memburu. Merasakan gairahnya yang sudah mencapai batas maksimal, Ken melepaskan ciumannya dan menatap wajah Kiran yang sudah memerah.
" Kau ingin melakukannya ? " Ken meminta izin lebih dulu. Otaknya masih menyisakan sedikit akal sehat di tengah nafsu yang tengah menguasainya. Kiran hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Dengan satu hentakan kaki, Ken melemparkan naik selimut yang ada di kakinya, lalu menangkapnya dengan satu tangan dan dengan cepat menyelimuti tubuh mereka berdua.
Selalu ada hal baik di balik hal buruk, begitu juga sebaliknya. Ken yang tadi merasakan hal buruk kini akhirnya bisa merasakan nikmatnya buah dari kesabaran.
Satu jam telah berlalu, Ken dan Kiran kini sedang berbaring dengan napas yang terengah-engah dan tubuh yang penuh keringat.
" Terima kasih sayang " Ucap Ken kemudian mencium kening Kiran dengan lembut.
" Iya aku juga terima kasih " Kiran balas mencium pipi Ken. Mereka kembali berpelukan, merasakan suhu tubuh satu sama lain yang saling menempel kulit ke kulit.
" Sayang " Panggil Kiran pelan. Dia mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang menurutnya sangat sabar itu.
" Hm ? " Ken mengusap kepala Kiran, merapikan rambut-rambut halus yang menutupi keningnya.
" Aku lapar " Rengek Kiran dengan manja.
" Kau ingin makan ? " Tanya Ken.
" Hmm " Kiran menggelengkan kepalanya.
" Aku tadi terlalu banyak makan cabai, jadi sekarang aku ingin yang manis-manis " Jawab Kiran santai.
" Kau mau apa ? Ice cream ? Atau coklat ? " Tawar Ken.
" Mmm... " Kiran mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke bibirnya sambil berpikir.
" Aku ingin minum dalgona cofee yang kau beli tadi saja, kan sayang kalau di buang " Jawabnya riang.
Apa ?!?!
Serasa di hantam batu yang besar, Ken mengira sikap manja dan riang Kiran adalah pertanda bahwa dirinya sudah kembali normal, tapi ternyata tidak. Sikap Kiran yang riang dan manja ternyata juga bagian dari mood swing selama PMS.
" Anjeli... " Panggilnya dengan senyumnya yang kecut.
" Apa ? " Jawab Kiran dengan senyum riangnya.
__ADS_1
" Kita ruqyah yuk " Ajaknya dengan geraman yang tertahan. Persetan dengan period atau PMS atau apalah itu. Jerit batin Ken putus asa.