
" Hiaaaattt " Ruby menendang pintu itu.
Dasar kau mulut ember.
" Haaaah " Ruby dan Tina terkejut bersamaan.
Daniel yang membuka pintu jatuh tersungkur terkena tendangan Ruby. Tendangan itu tepat mengenai dadanya.
" Ruby kau mencoba membunuhnya ? " Tina berteriak histeris.
" Kau yang sedang coba aku bunuh " Jawab Ruby tajam dan menatap Tina.
Tina hanya menunduk mendengar kata-kata Ruby.
" Sudah cepat bantu aku membawanya ke ruang perawatan " Ruby menjawab panik.
" Iya iya " Tina membantu Daniel berdiri dan memapahnya.
Mereka membaringkan Daniel yang terlihat pucat ke atas ranjang pasien di ruang perawatan. Dokter jaga memeriksa keadaannya.
" Siapa yang melakukan ini ? " Tanya dokter itu menatap Ruby dan Tina bergantian.
" Apakah parah ? " Ruby bertanya lirih.
" Aku menggunakan seluruh kekuatan ku tadi " Ruby bergumam sendiri.
" Sepertinya dia harus di rawat inap di rumah sakit " Dokter jaga menginformasikan.
" Baiklah aku akan memberitahukan kepada bagian HRD " Dokter melanjutkan. Kemudian pergi ke mejanya untuk menghubungi seseorang.
" Kau ikut aku " Ruby menarik tangan Tina menjauh.
" Hei bukankah kau sudah berjanji tidak akan membocorkan informasi ini ? " Ruby menatapa Tina tajam.
" Maafkan aku, aku kelepasan bicara " Tina menunduk.
" Aish kau ini, untung saja kau masih teman ku, kalau tidak aku pasti akan... " Ruby mengangkat tangannya seperti akan memukulnya.
" Tapi Ruby kenapa kau tiba-tiba datang ke ruang kontrol ? " Tina bertanya heran.
" Hei suaramu terdengar ke seluruh club, bagaimana bisa aku tidak tau " Ruby menjawab sinis.
" Sungguh ? Kenapa bisa begitu ? Apa aku salah menekan tombol tadi ? " Tina berbicara kepada dirinya sendiri.
" Nyonya maafkan saya, tolong jangan pecat saya, saya akan berlutut " Tina memohon dan akan berlutut.
" Hei hentikan, apa kau sedang bermain drama ? Apa aku terlihat seperti orang yang kejam ? " Ruby menjawab kesal.
__ADS_1
" Tentu saja kau orang yang kejam, lihatlah kau menendang Daniel sampai dia hampir pingsan dan harus di rawat di rumah sakit. Pantas saja kalau kau berhasil merenggut kesucian Big Bos " Tina menjawab lirih.
" Apa ? Aduh kepala ku " Ruby memegang kepalanya yang sakit karena tekanan emosi.
" Kenapa semua orang di sekitarku adalah orang yang tidak waras " Ruby bergumam sendiri.
Ponsel Ruby berbunyi. Dia melihatnya. "Big Baby". Dia menghela nafas.
" Kenapa ? " Ruby bertanya sinis.
" Kau ada dimana ? " Rai berpura-pura ketus.
" Aku sedang senam " Ruby berbohong.
" Hei jangan berbohong, gara-gara pengumumanmu acara senam berantakan. Cepat kesini " Rai memerintah ketus.
" Iya tunggu sebentar lagi " Ruby menutup telfonnya.
" Apa itu Big Bos ? " Tina bertanya kepada Ruby yang di jawab dengan anggukan kepala.
" Kenapa kau sangat ingin merahasiakan pernikahanmu ? " Tina bertanya heran.
" Maksudku lihat suami mu, dia bukan orang sembarangan. Lihat betapa tampannya dia, gagahnya dan cintanya yang besar kepadamu. Kalau aku jadi kau, aku akan selalu menempel erat padanya. Kyaa aku iri membayangkan kau dan dia bermesraan " Tina melonjak-lonjak girang sendiri.
" Menempel lah padaku seperti permen karet maka kau akan tau kenapa aku harus menyembunyikannya " Ruby menjawab kesal.
" Siap nyonya " Tina menjawab tegas dan hormat ala militer, lalu tersenyum lebar. Ruby memutar bola matanya melihat tingkah konyol Tina.
Andai semua orang berpikiran seperti mu saat tahu rahasia ku, pasti aku akan senang hati mengungkapkannya.
🍁🍁🍁🍁🍁*
Brakk !! Ignes membuka pintu dengan kasar. Dia menghambur ke arah Rai yang sedang sibuk berdiskusi masalah pekerjaan dengan Ken.
" Apa benar Ruby istri mu ? " Ignes bertanya ketus.
" Iya " Rai menjawab singkat dan tidak memperhatikan Ignes.
Kekesalannya memuncak melihat Rai yang terus saja mengacuhkannya dan tidak membantah gosip itu.
" Kenapa kau tidak bilang padaku dari awal, kalau kau bilang sejak dulu, mungkin aku bisa mengerti " Ignes tiba-tiba menyampaikan isi hatinya.
Dia berhasil mendapatkan perhatian Rai. Ken dan Rai menoleh ke arah Ignes.
" Benarkah ? " Ken bertanya ragu. Menimbang sifat Ignes yang sepertinya tidak akan menyerah dengan Rai.
" Tentu saja, kalau kau bicara dari awal mungkin aku akan menyerah dengan Rai dan bisa bersahabat dengan Ruby " Ignes meyakinkan, dia duduk di sofa sebelah Rai.
__ADS_1
" Baiklah aku percaya padamu " Rai menjawab santai.
Tentu saja aku akan bersahabat dengannya dan membuat kalian berpisah. Kalau aku tidak bisa memiliki mu, maka siapapun juga tidak boleh memiliki mu.
Ignes tersenyum licik.
" Baiklah, sebentar lagi Ruby datang kesini, bicara lah sendiri padanya " Rai menjawab acuh.
Tidak lama kemudian Ruby dan Tina sampai di ruangan Rai. Dia melihat Ignes juga ada disana.
" Hai " Sapa Ruby kaku.
" Hai " Ignes berdiri menyambut Ruby dan memeluknya.
" Kenapa kau tidak bilang kalau kau adalah istri Rai, maaf selama ini menyusahkanmu dengan memintamu membuat hubungan kami mendekat " Ignes berpura-pura riang.
" Kau sudah tau ? " Ruby bertanya heran.
" Tentu saja aku tau, maafkan aku, tapi aku akan melepaskan Rai mulai sekarang, tidak mungkin aku mengejar laki-laki yang sudah memiliki istri " Ignes berbohong.
" Benarkah ? Lega mendengarnya kau menerima hubungan kami dengan pikiran terbuka " Ruby basa basi. Firasatnya mengatakan Ignes sedang berbohong.
" Jadi kau merahasiakannya karena aku ? Karena takut menyinggung perasaan ku ? " Ignes bertanya.
" Yah begitu lah " Ruby menjawab asal.
" Tenang saja, aku masih normal, tidak mungkin aku memaksakan kehendak ku kalau Rai tidak ingin " Ignes berusaha meyakinkan.
Normal ? Aku hampir menggila saat ini. Lihat saja lalat kecil, aku akan segera menyingkirkan mu. Dasar kau hama penganggu.
Ignes menahan amarahnya di balik senyum palsunya.
" Baiklah karena semua berakhir bahagia, maka tidak ada lagi halangan untuk aku dan istriku saat berada di club. Dan sekarang aku harus bekerja, ku harap kalian semua bisa pergi. Aku ingin bicara empat mata dengan Ken " Rai menyudahi pembicaraan mereka.
Mereka semua pergi meninggalkan Rai dan Ken di dalam ruangan. Ignes mengajak Ruby untuk ngobrol bersama, tapi dia menolak dengan alasan pekerjaannya menunggu. Dia segera menyeret tangan Tina untuk pergi menjauh.
" Kau awasi setiap gerak geriknya, Ignes bukan tipe orang yang menyerah semudah itu. Aku tidak percaya padanya " Rai memerintah Ken dengan serius.
" Iya aku juga curiga saat dia dengan mudah menerima status Ruby sebagai istrimu, mengingat dia hampir saja membunuh Lila teman sekelas kalian hanya karena dia mengutarakan cintanya padamu " Ken menyetujui pendapat Rai.
" Jangan sampai Ruby tau, aku tidak ingin dia terlalu terbebani dengan banyak pikiran, tidak akan baik untuk Junior " Rai menjawab tegas.
" Baiklah kak kau tenang saja, aku akan melindungi kakak ipar dan Junior " Ken menjanjikan.
Sementara itu Ruby dan Tina kembali ke lapangan untuk menyelesaikan kekacauan yang mereka buat, dan membantu acara senam berlangsung kembali.
" Meskipun aku baru mengenal Ignes tapi aku yakin dia menyembunyikan sesuatu, mengingat beberapa waktu yang lalu dia akan menghancurkan siapapun yang jadi istri Rai, dan anehnya sekarang dia menerima dengan ikhlas hubungan kami. Aku harus tetap waspada dengannya " Ruby bergumam sendiri di barisan paling belakang dari semua peserta senam.
__ADS_1
Siapa yang tau masalah sesungguhnya baru saja muncul kepermukaan.