
Hari mulai beranjak menuju malam, matahari telah tenggelam di ujung barat. Para koki dan pelayan di mansion Loyard juga mulai bersiap-siap untuk makan malam, mereka mulai menata meja makan dan para koki pun mulai memasak makanan, suara ramai bahan makanan yang masuk ke dalam penggorengan itu pun seakan menjadi musik rutinan bagi para koki, sehari 3 kali. Lalu denting-denting spatula yang beradu dengan wajan mulai terdengar, di selingi suara mesin food procesor yang berdengung merdu.
Menu kali ini adalah pesanan spesial dari Ken, dia meminta para koki secara langsung untuk menyiapkan sesuai dengan ingatan rasa di lidahnya.
" Hmm... kurang apa ya ? " Gumamnya berpikir saat mencicipi sesendok kecil makanan yang hampir matang itu.
" Sudah masak saja sesuai rasa mu " Perintahnya menyerah kepada para koki, selama ini dia hanya tau makan saja tanpa perlu repot-repot berpikir kandungan apa yang kurang di dalam masakan tersebut.
Setelahnya dia pergi ke ruang keluarga, dimana semuanya berkumpul menikmati waktu sore mereka.
" Dylan mana ? " Tanyanya mencari, melihat Dylan tidak kunjung berkumpul bersama.
" Saya akan segera memanggilnya tuan " Ucap Pak Handoko menganggukkan kepalanya dan berbalik.
" Tidak usah, tidak usah, aku akan meneleponnya saja " Tolak Ken lalu mengambil ponsel dari sakunya dan menekan tombol speed dial nomor 6. Tak lama kemudian nada sambung pun terdengar.
Cukup lama tak ada jawaban, dan Ken pun mengulanginya sekali lagi.
" Hm ? " Sebuah jawaban begitu panggilannya tersambung.
" Kenapa kau belum kesini ? Kami semua sudah berkumpul " Tanya Ken heran.
" Aku... tidak nafsu makan " Ucap Dylan dengan suara lemas, terlihat tak berdaya.
" Kau sakit ? " Tanya Ken khawatir, mendengar pertanyaan Ken semua yang ada disana langsung menoleh ke arah Ken yang terlihat cemas.
Melihat ada yang tidak beres Regis segera memberikan kode pada Sekertaris Yuri untuk menyiapkan mobil, berjaga-jaga jika harus melarikan Dylan ke rumah sakit.
Melalui sambungan teleponnya, Sekertaris Yuri memberitahukan sopir untuk bersiap-siap di depan pintu utama menunggu perintah selanjutnya.
Sementara Rai sudah bangkit dari duduknya dan mendekati Ken, mengangkat dagunya seakan bertanya " Ada apa ? ", Ken hanya menggeleng sebagai jawaban, dia masih mengamati suara Dylan yang terdengar lemas dan putus asa.
" Entahlah, aku merasa di kutuk, entahlah mungkin bukan di kutuk tapi karma atau sial, atau tidak beruntung, atau naas, yang jelas kepala ku berputar-putar sekarang " Ocehnya meracau.
" Pegang keningmu, apakah panas ? " Perintah Ken kemudian, semua orang semakin khawatir mendengar setiap penuturan Ken.
" Tidak, hanya dadaku yang sesak " Jawab Dylan masih lemas.
" Kalau begitu bukan kepalamu yang sakit, tapi jantungmu " Dengan santainya Ken mengatakan hal itu, membuat semua orang yang sedang tegang kini mendelik heboh. Merasa khawatir dengan kondisi Dylan jika penuturan Ken benar.
Dylan lalu menceritakan garis besar kejadian yang menimpanya, sementara Ken hanya mengangguk-angguk mendengarkan.
" Ok baiklah " Jawabnya kemudian lalu menutup sambungan teleponnya.
" Pak Handoko siapkan saja makanannya, nanti biar aku dan Kakak yang membawanya ke kamar Dylan " Perintah Ken.
" Baik tuan " Jawab Pak Handoko sopan lalu pergi dari ruangan itu.
" Kau yakin dia tidak perlu ke rumah sakit ? " Tanya Regis khawatir.
" Tidak, bukan masalah serius, hanya masalah anak muda, yang tua-tua menyingkir dulu " Jawabnya santai.
__ADS_1
" Apa ? " tanya Regis terkejut mendengar ucapan Ken, dia lalu mendekati Ken perlahan dan dengan gerakan cepat langsung mengunci Ken dengan pitingan mautnya.
" Aarrggh... sakit sakit " Teriak Ken meringis kesakitan.
" Yang tua-tua ? " Ulang Regis dingin.
" Bu-bukan begitu ayah, aarggh... lepaskan dulu " Mohonnya.
" Ah mungkin ini masalah percintaannya, aku mendengar selentingan gosip bahwa Dylan sedang menjalin hubungan dengan ketua osis, dan mereka terlihat beberapa kali makan siang bersama juga berduaan di perpustakaan " Jelas Sekertaris Yuri santai.
Regis melepaskan pitingannya lalu menatap Sekertaris Yuri.
" Siapa gadisnya ? " tanyanya serius.
" Dia putri tuan Gavin dan nyonya Monika, pemilik brand G&M dan pemilik G&M store yang ada di pusat perbelanjaan kita " Jelas Sekertaris Yuri.
" Oh memangnya mereka punya anak perempuan ? Setahu ku anak mereka hanya Jefry dan Robby " Tanya Regis.
" Ya tuan, anak mereka Dera memang tidak terlalu terekspose seperti kedua kakaknya " Jawab Sekertaris Yuri.
" Sedikit terlalu cepat ku rasa, tapi tidak apa-apa, biar Dylan merasakan romansa cinta SMA, hanya awasi saja mereka berdua agar tidak terlalu jauh melangkah. Aku suka keluarga tuan Gavin, mereka keluarga baik-baik " Perintahnya pada Sekertaris Yuri yang di jawab dengan anggukan hormat.
" Loh Dylan sudah punya kekasih ? " Tanya Ken memastikan.
" Ya dari gosip yang ku dengar begitu, beberapa murid di sekolah sedang hangat-hangatnya membicarakan mereka " Jawab Sekertaris Yuri santai.
" Kalau dia punya kekasih, kenapa dia harus galau karena Blair ? " Gumam Ken merasa ada yang tidak beres.
Dia lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan rahasia di dalam grup rangersnya.
Ketiga anggota lainnya pun membaca pesan dari Ken dengan kompak, lalu mengangguk tanpa suara sebagai jawaban.
Setelah suasana kembali kondusif, seorang pelayan masuk dan memberitahukan bahwa makan malam telah siap. Mereka semua pergi menuju ruang makan.
" Wah menu apa ini ? " Tanya Regis heran melihat hal aneh yang tersaji di depan matanya.
Semua menu kali ini bertemakan " desa ", makanan yang di rindukan Ken sewaktu berlibur ke desa Kiran hadir memenuhi meja makan. Adelia dan Kiran hanya bisa berbinar bahagia.
" Terima kasih nak, ibu sebenarnya ingin memakan makanan seperti ini karena merindukan bibi Mis, tapi ibu sungkan karena para koki sudah memiliki daftar menu harian untuk di sajikan " Ucap Adelia bahagia.
" Lain kali jangan sungkan meminta apapun " Saut Regis.
" Handoko lain kali sebelum menyiapkan makanan konsultasikan dulu pada semua orang, barangkali mereka ingin makan sesuatu " Perintahnya pada Pak Handoko yang sedang menuangkan minuman ke dalam gelas Regis.
" Baik tuan " Jawabnya sopan.
" Kalian tidak akan percaya sebelum makan yang ini " Tunjuknya pada sebuah wadah berisikan sup berwarna merah ke kuningan dengan kuah santan yang kental.
" Apa itu ? " Tanya Sekertaris Yuri penasaran.
" Sudah makan saja, setelah itu beri tahu padaku pendapat kalian, nanti aku akan memberitahukan ini makanan apa " Jawabnya bersemangat.
__ADS_1
Tidak perlu menunggu lama, mereka pun mengambil nasi dan kemudian sup yang di maksudkan Ken.
Dengan perlahan mereka mencobanya, sedangkan Ken sibuk mengamati setiap ekspresi dari masing-masing orang.
" Bagaimana bagaimana ? " Tanyanya antusias.
" Rasanya enak seperti buatan bibi Mis " Jawab Adelia tersenyum.
" Iya seperti buatan nenek Mis " Imbuh Kiran.
" Ya agak sedikit asing di lidah ku, mungkin karena sudah bertahun-tahun lamanya aku memakan makanan yang terlalu ke barat-baratan, tapi rasanya khas dan enak " Jawab Regis.
" Aku tidak terlalu suka sayuran, dan sayuran ini rasanya berduri halus " Sekertaris Yuri menggeleng memberikan penilaiannya.
" Aku makanan apa saja suka, aku bukan tipe orang yang pilih-pilih, selama masih bisa di makan bagiku enak " Kali ini Ruby yang memberikan penilaiannya.
" Sayang kau benar-benar sederhana apa adanya, i love you " Rai malah memberikan penilaiannya untuk Ruby bukannya makanan yang dia makan. Lalu mencium kening Ruby.
" Hei Rhoma tukang pamer, ini ruang makan, setidaknya hargai mereka yang tidak punya pasangan " Potongnya ketus.
" Aku memang tukang pamer, week " Rai mengejek Ken yang semakin membuatnya bertambah kesal.
" Sudah bagaimana penilaianmu ? " tanya Ken memungkas.
" Enak, meskipun asing dilidahku tapi rasa sayurannya yang crunchy dan perpaduan kuah supnya enak, di tambah sedikit rasa pedas membuat makanan ini memiliki daya tarik tersendiri. Overall bisa menjadi daya jual " Rai memberikan penilaian ala profesional kelas atas dengan gaya bossy nya.
" Kau pikir ini acara tuan Chef " Cibir Ken kesal. Lalu kembali mengamati seluruh wajah yang ada di hadapannya.
" Baiklah jangan terkejut ya saat ku beritahukan informasi ini, bersiap-siap ya " Jelas Ken dengan membusungkan dadanya.
Kiran dan Adelia sendiri ikut bingung melihat sikap Ken, apa yang perlu di jelaskan dari makanan sederhana ala pedesaan ini ? Begitu pikir mereka.
" Ini... bukan sayuran " Jawabnya kemudian.
" Ini adalah kayu bambu muda yang dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu tidak tahu namanya " Lanjutnya dengan nada " Surprise ".
" Apa ?!?! " Pekik mereka semua heran.
Berbagai macam ekspresi aneh langsung tergambar di wajah semua orang.
Kiran dan Adelia yang terkejut cara Ken mengatakan kayu bambu jelas-jelas membuat mereka syok, hanya cukup bilang bambu muda tidak perlu penambahan kayu di depannya yang akan menjadikannya konotasi negatif.
Sementara itu Regis dan Sekertaris Yuri langsung terbatuk-batuk dan mengambil gelas mereka, minum sebanyak-banyaknya air untuk mencerna kayu tersebut, khawatir dengan kondisi perut mereka yang memakan kayu.
Sedangkan Rai hanya bisa menelan ludahnya dan terbengong-bengong.
Pantas saja sayuran ini terlalu crunchy meskipun sudah di masak bersama kuah, tidak tahunya ini kayu. Seumur hidupku baru kali ini aku memakan makanan yang bukan makanan manusia.
Batinnya terkejut parah.
Ruby hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat Ken, bagaimana bisa dia mengorbankan keluarganya demi sebuah eksperimen memakan kayu, apa dia ingin membuat keluarganya semakin tak terkalahkan karena telah berani dan berhasil memakan kayu, manusia super, mungkin begitulah tujuan Ken menurut Ruby.
__ADS_1
" Enak bukan ? Aku sudah memesan kayu bambu yang lebih tua lagi yang biasanya di makan oleh panda langsung dari negeri china, pantas saja panda sangat menyukai bambu, ternyata rasanya benar-benar enak bukan. Apa tadi kau bilang kak ? Crunchy ? Kau benar sekali, crunchy " Jelasnya penuh senyuman bahagia tanpa dosa.
" KEN !! " Teriak mereka semua kompak menatap kesal pada Ken.