
Jarum jam di ruangan Regis terasa berdetak lebih keras, hari telah beranjak tengah malam, membuat Rai semakin cemas karena harus berpacu dengan waktu. Ken menguap tanda panggilan alamiahnya sebagai manusia yang butuh istirahat.
" Penculik Ruby tidak menginginkan tebusan, karena aku yakin kalau dia menginginkan tebusan dia pasti sudah menghubungi kita dari tadi. Dia juga tidak ingin menyakiti Ruby, karena kalau dia ingin menyakitinya, dia tidak akan perlu repot-repot menculiknya dan malah menembak pagawai mu, bisa saja mereka menembak Ruby dan temannya lalu melarikan diri, itu lebih mudah untuk menghabisi Ruby tanpa jejak. Jadi yang bisa ku pastikan saat ini Ruby baik-baik saja, untuk sementara kita bisa sedikit tenang " Regis mengungkapkan pendapatnya kepada 2 anaknya yang sedang duduk di hadapannya.
Rai yang dengan serius mendengarkan dan Ken yang dengan mata setengah terpejam juga mendengarkan.
" Tapi ayah yang menculik Ruby sedang mengalami gangguan kejiwaan, jadi bisa saja dia berbuat nekat, dia psikopat gila yang ingin balas dendam padaku " Rai menyanggah pendapat ayahnya.
" Kalau memang kau yang jadi tujuannya saat ini, seseorang pasti sudah datang sambil membawakan video dia menyiksa Ruby hanya untuk membuatmu ikut tersiksa juga. Psikopat seperti itu akan sangat menikmati ekspresi dari para korbannya, dan dia tidak akan ingin melewatkan momen kau yang menangis memohon-mohon sambil berlutut " Regis mematahkan argumen Rai.
" Lalu apa lagi motifnya ? " Tanya Rai tidak sabar.
" Sudah jelas sedari awal targetnya adalah Ruby, dia memang ingin menculik Ruby untuk dirinya sendiri " Regis menyimpulkan dengan serius.
" Ken apa benar begitu ? " Rai meminta pendapat Ken yang sedari tadi hanya diam saja.
Regis dan Rai menoleh kearah Ken yang tertunduk dalam. Suara dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
" Bisa-bisanya kau tertidur di saat seperti ini " Rai memukul paha Rai yang ada di sebelahnya.
" Maafkan aku kak, aku menjatuhkan sikat gigimu ke tempat sampah dan aku langsung mengembalikannya tanpa mencuci nya " Tiba-tiba Ken berdiri dan mengoceh masih dengan mata tertutup.
" Apa ?!?! " Rai terkejut mendengar Ken yang sedang mengigau, dia mual dan hampir muntah mendengar pengakuan dosa Ken.
Regis hanya terkekeh melihat tingkah anak bungsunya, Ken memang tidak pernah bisa menjadi dingin sepertinya atau Rai.
Ken lalu ambruk lagi ke sofa dan kembali mendengkur, Rai yang sangat kesal melingkarkan lengannya ke leher Ken, membuat Ken bangun dan tergagap dengan keadaan yang terjadi.
__ADS_1
" Apa ? Ada apa ? " Tanya nya bingung melihat kakaknya yang sudah mengunci lehernya. Dia melihat kakaknya yang sedang marah dan ayahnya yang hanya terkekeh.
" Maaf aku ketiduran, aku lelah sekali hari ini " Ken memohon maaf dengan suara memelas, merasa bersalah karena tertidur di situasi genting seperti saat ini.
" Aku tidak akan mengampuni mu, kapan kau melakukannya ? Hah ? Katakan cepat ! " Rai yang kesal semakin mengeratkan kuncian lengannya di leher Ken.
" Melakukan apa ? Ada apa sebenarnya ? " Tanya nya bingung.
" Pengakuan dosa mu, sikat gigi ku yang kau jatuhkan ke tempat sampah ? " Tanya Rai dengan nada geram.
" Haaah !!! " Ken membelalakkan matanya. Rahasia yang dia jaga bertahun-tahun akhirnya terbongkar.
Bagaimana kakak bisa tau aku membuang sikat giginya ? Dia pasti sangat marah.
Ken bergidik ngeri membayangkan Rai yang akan mengamuk.
" Tanpa mencuci nya dahulu ? " Tanya Rai dengan geram yang tertahan.
" Haaah !! " Lagi-lagi Ken membelalakkan matanya, tidak menyangka kakaknya tau sampai sejauh itu.
" Kau tau dari mana kak ? Ampuni aku " Ken memelas dengan menyatukan kedua telapak tangannya yang bebas.
" Hei aku ingat benar itu sikat gigi baru ku, dan aku masih menggunakannya selama 3 bulan ke depan, dasar kau anak nakal, rasakan hukuman ku " Rai kemudian menggosok-gosok kepala Ken dengan keras, mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi oleh gel pomade.
" Sudah, sudah hentikan kalian berdua. Sekarang pergilah tidur, kita harus berisitirahat untuk memulai rencana esok hari " Regis memisahkan kedua anaknya yang sedang bertarung ala anak TK.
" Tidak ayah, aku tidak akan tidur, bagaimana bisa aku tidur saat aku tidak tau bagaimana keadaan Ruby sekarang " Rai kembali serius, dia sudah melepaskan kunciannya pada Ken.
__ADS_1
" Kak kau harus sehat untuk menghadapi psikopat gila seperti Lucas, aku yakin kakak ipar baik-baik saja, karena Lucas pernah sangat menyukai nya, dia pasti akan memperlakukan kakak ipar dengan baik " Ken mencoba menenangkan Rai yang gelisah.
" Aku sudah memerintahkan anak buahku menjaga seluruh bandara, stasiun juga dermaga, menjaga agar setidaknya mereka tetap berada di kota ini atau di negara ini, kita akan mempersempit ruang geraknya dan akan menggiringnya ke tempat yang kita rencanakan untuk menangkapnya " Regis menjelaskan kepada Rai yang masih tetap saja bersikeras.
" Percayalah padaku nak, akan ku bawa kembali istri dan calon anak mu dengan selamat. Ayah berjanji " Regis mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh.
Setitik ketenangan menyentuh hati Rai yang seharian ini gelisah dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Bagai hujan di tengah gurun pasir, kehadiran ayahnya membuat semua badai pasir yang menutupi pikirannya seperti menghilang, dia bisa berpikir jernih kembali dan menyetujui bahwa rencana ayahnya adalah yang terbaik. Mereka akan menggiring Lucas menuju tempat yang sudah mereka sediakan.
Saat ini mereka hanya perlu membuat Lucas seolah-olah menang dan lengah, baru mereka akan menyergapnya tanpa mereka sadari.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ruby memandangi Lucas yang tertidur pulas di depannya, di bawah kaki nya, setelah berlutut meminta maaf Lucas terisak-isak menceritakan tentang dirinya yang tersiksa selama ini.
Tentang masa remajanya yang selalu mengalami bullying karena dia terlalu lemah untuk membela diri, teman-teman wanitanya yang selalu memandang dirinya sebelah mata hanya karena dia seorang kutu buku. Satu-satunya teman yang dia miliki hanya Lila dan setelah mereka masuk sekolah menengah atas bersama, Lila berubah total menjadi seseorang yang tidak dia kenal, dia memakai make up dan meninggalkan kesan cupu yang selama ini dia tampilkan di depan Lucas, semua itu karena dia menyukai Rai. Dan saat Lila jatuh dari atap lantai 2 karena cintanya di tolak oleh Rai, dia menjadi depresi dan membuat Lucas semakin kesepian karena dia tidak punya teman lagi.
Dia mengambil kuliah jurusan piano dan tetap rutin menjenguk Lila di rumah sakit jiwa, keadaan Lila membuatnya sangat prihatin, lalu tiba-tiba Anne menghubunginya untuk mengajaknya kerja sama, dia langsung menyetujuinya karena merasa Rai sangat kejam kepada Lila. Tapi ternyata dia jatuh cinta pada Ruby setelah mengenalnya lebih jauh. Dan tau bahwa pernikahan Rai dan Ruby hanya sebuah kesepakatan, dia bertekad akan menyelamatkan Ruby agar tidak bernasib sama seperti Lila.
Namun semua niat baiknya di tolak Ruby membuatnya patah hati, dia pergi keluar negeri untuk menyembuhkan luka nya, dan di sana lah dia bertemu Leon, seseorang yang di akuinya adalah teman baiknya. Dia yang mengajarkannya cara untuk merebut Ruby dari sisi Rai untuk menyelamatkannya.
Ruby heran bagaimana mungkin Lucas tidak menyadari bahwa Leon hanyalah seseorang yang tidak nyata yang dia buat sendiri hanya untuk menenangkan patah hati nya, hanya untuk membenarkan tindakan salahnya. Tapi kemudian Ruby berusaha memahami bagaimana bila menjadi Lucas. Dia sendiri melihat bagaimana Rai berusaha membuatnya menjadi nyonya Lorie hanya untuk mengobati kesepiannya karena ibunya meninggal. Mungkin itu juga yang di rasakan Lucas saat itu, sehingga berhalusinasi dan membuat teman khayalan lain demi mengobati kesepiannya dan juga patah hati nya.
Ruby menghela nafas mencerna setiap pikiran-pikiran yang hadir di kepalanya.
Manusia memang makhluk paling kompleks di muka bumi ini, kita tidak akan pernah tau apa dan bagaimana pikiran seseorang bekerja. Lucas maafkan aku, setidaknya aku juga lah penyebab kau jadi seperti ini.
Mata Ruby berkaca-kaca melihat wajah Lucas yang tertidur, sangat polos dan hangat seperti yang dia kenal selama ini.
__ADS_1