
Dylan langsung saja berjalan menuju kelasnya dan tempat duduknya, seperti biasa kelasnya selalu saja penuh sesak oleh siswa-siswa yang ingin bertemu Blair, si artis pendatang baru yang sedang naik daun.
Dylan duduk di bangkunya dan dengan malas meletakkan tasnya lalu mengeluarkan buku pelajarannya. Jam pertama pelajaran akan ada ujian matematika, dan Dylan ingin menunggu bel masuk dengan belajar, sekaligus mengabaikan suasana berisik di sekitarnya.
" Blair.... ya ampun itu dia datang !! " Teriak beberapa murid yang histeris melihat Blair berjalan di lorong menuju kelasnya, membuat suasana semakin berisik saja.
Dylan yang sudah sangat kesal segera mengambil ponselnya dan headsetnya, lalu memasangnya di kedua telinganya dan memutar musiknya keras-keras. Dengan kesal dia memutar-mutar pensil yang ada di tangannya.
Blair yang sudah terbiasa dengan sambutan histeris dari para fansnya terus saja tersenyum dan melambaikan tangan seraya berjalan menuju bangkunya.
Namun saat matanya menatap Dylan yang sudah lebih dulu duduk di bangku mereka, tiba-tiba senyumnya menghilang berubah menjadi rasa kesal. Bagaimana tidak, Blair yang berusaha sekuat tenaga menyembunyikan identitas aslinya malah ketahuan oleh orang yang kasar dan tidak sopan seperti Dylan.
Kriiieett !!! Blair sengaja menarik kursinya lambat-lambat agar menimbulkan suara decitan keras yang memengkakkan telinga akibat beradunya lantai dan besi dari bangkunya, dia berniat mengusik Dylan yang terlihat sedang serius belajar. Namun usahanya sia-sia, Dylan sama sekali tidak terpengaruh, matanya masih saja tetap mengamati tulisan-tulisan yang tercetak di bukunya.
" Haaahh.... " Blair menghela napas jengkel, namun karena banyak mata yang sedang mengawasinya, mau tidak mau dia harus tetap menjaga sikap dan ekspresinya agar tidak merusak imagenya sebagai artis yang popularitasnya sedang merangkak naik.
Dalam sekejap, meja Blair telah di kerumuni oleh para fansnya yang setia menunggu sejak tadi, masing-masing dari mereka membawakan Blair susu atau makanan ringan, atau bahkan setangkai bunga untuk di berikan kepada idola mereka.
" Terima kasih semuanya, aku sangat tersentuh " Ucap Blair lembut dan memasang senyum manisnya dan disambut dengan teriakan histeris para penggemarnya.
" Dia imut sekali "
" Bukankah dia sangat baik ? "
" Manisnya " Suara para penggemar Blair saling bersaut-sautan memenuhi ruangan kelas yang terasa sesak dan pengap itu. Namun dari kumpulan murid yang terhipnotis oleh kecantikan dan ketenaran Blair, Dylan menjadi satu-satunya murid yang bahkan tidak mau melirikkan matanya untuk sekedar melihat Blair.
Diam-diam Blair melirik ke arah teman sebangkunya yang seperti patung batu tak berperasaan itu, dan memakinya dalam hati.
" Ah ya teman-teman semua " Ucap Blair meminta perhatian semua orang, dan suasana riuhpun mendadak menjadi hening.
" Begini sebelumnya, apakah aku terlihat buruk di mata sebagian orang ? " Tanyanya lembut malu-malu, semua yang hadir hanya bisa menatap Blair heran dan saling melemparkan padangannya untuk mencari tau maksud ucapan dari idola mereka.
" Aku merasa sangat sedih jika sampai ada orang yang tidak menyukaiku, karena aku sangat mencintai para penggemarku. Aku akan menyesal dan menyalahkan diriku sendiri jika di antara kalian ada yang tidak menyukaiku atau bahkan menjadi haters ku " Ucap Blair dengan sedih dan menundukkan kepala, tentu saja itu hanya akting untuk memancing perhatian Dylan.
__ADS_1
" Tidak ada, kami semua mencintai mu Blair " Jawab semua yang hadir dengan kompak.
" Terima kasih " Ucap Blair lembut dan tersenyum riang, namun matanya terus saja mencuri-curi pandang ke arah Dylan yang lagi-lagi tidak tertarik padanya sama sekali.
Setan alass !! Baru kali ini harga diriku sangat terluka seperti ini.
Makinya kesal saat melihat Dylan yang bahkan lebih memberikan perhatiannya kepada buku matematika alih-alih kepada artis terkenal seperti dirinya.
Triiiing, triiiing !!! Bel sekolah berbunyi, semua murid melenguh kesal karena harus berpisah dengan idola mereka.
" Selamat belajar semuanya, semangat ! " Ucap Blair dan melambaikan tangan kepada para penggemarnya yang mulai membubarkan diri satu persatu, meninggalkan Blair dengan tumpukan hadiah persembahan mereka.
Dylan yang melihat suasana kelasnya sudah kembali normal melepas headsetnya dan menggulungnya lalu memasukkannya kedalam tas, hal itu tak luput dari pengamatan Blair.
Apa ? Jadi sedari tadi dia mendengarkan musik. Wuah... wuah... aku kesal sekali, ya ampun rasanya aku ingin mencekik anak sembong sepertinya.
Blair memegang lehernya yang terasa kaku karena marah dan kesal sendiri melihat sikap Dylan.
Sudah beberapa hari Blair menjadi teman sebangkunya, namun sekalipun dia tidak pernah disapa oleh Dylan, jangankan disapa, Dylan bahkan tidak pernah melirik ke arahnya. Hal itu membuat rasa percaya dirinya hancur, semula dia mengira saat dirinya menjadi artis, dia akan mendapatkan seluruh perhatian, namun prediksinya meleset, tidak semua orang mengidolakannya, atau mungkin hanya Dylan yang tidak mengidolakannya.
Dengan suara lenguhan panjang anak-anak memasukkan buku mereka kedalam tas.
" Jangan mengeluh, bukankah kalian sudah tau kalau hari ini akan ada ujian matematika " Ucap Pak Tomy meredakan suara murid-muridnya yang terlihat tidak siap, termasuk juga Blair.
Ujian ? Aku belum belajar. Aduh... bagaimana ini, kalau nilaiku jelek, aku akan sangat malu sekali, mereka akan mencap ku artis tanpa otak. Aish sial sekali, kenapa kemarin aku harus pergi ke club sih.
Omel Blair kesal seraya menyingkirkan semua hadiah-hadiah yang di dapatkannya kedalam laci meja, dengan kesal dia melirik Dylan yang juga sedang memasukkan buku matematikanya ke dalam tas. Lalu kembali mengutukinya saat menyadari bahwa yang Dylan lakukan tadi adalah belajar sebelum ujian.
Pak Tomy mengulurkan kertas berisi soal dan lembar jawaban kepada murid yang ada di bangku depan, dan mereka membaginya dengan cara menyalurkannya ke belakang.
Dylan yang memang merupakan murid terpandai terlihat tenang dan santai, berbeda dengan Blair yang sangat gugup dan gelisah. Berulang kali dia menghentak-hentakkan kakinya untuk mengusir rasa gelisahnya, namun sia-sia, ujian matematika seperti cerita horor di kalangan siswa.
Dan saat kertas soal serta lembar jawaban tiba di bangku mereka, Blair justru tidak mengambilnya, pikirannya terlalu sibuk dengan bayangannya sendiri, bayangan tentang bagaimana hasil ujian matematikanya nanti akan berdampak pada imagenya.
__ADS_1
Dylan yang kesal karena Blair tidak kunjung mengambil kertas ujiannya, meraihnya dengan keras dari teman yang duduk di hadapan Blair, lalu meletakkan dengan kasar di hadapan Blair.
" Oh terima kasih " Ucap Blair tersadar dari lamunannya, dan tanpa sadar tangannya mengetuk-ngetuk meja untuk mengusir gugup yang semakin hebat menderanya.
Dylan yang terganggu oleh suara berisik yang di timbulkan oleh ketukan jari-jari Blair dengan cepat menggenggam tangannya untuk menghentikannya.
Apa ini ?!?!
Pekik Blair terkejut menatap tangan Dylan yang saat ini sedang menggenggam tangannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ruby yang sudah sampai di rumah sakit segera menuju lantai khusus tempat ayahnya di rawat, di temani dengan petugas resepsionis mereka memasuki lift.
" Anda tidak memberitahukan dulu kalau akan datang sepagi ini nyonya " Ucap resepsionis itu terbata-bata.
" Tidak apa-apa, aku hanya ingin berkunjung sebentar " Jawab Ruby lembut.
Lift yang mereka naiki berhenti dan terbuka, resepsionis itu mempersilahkan Ruby untuk turun lebih dulu. Lalu dengan tergopoh-gopoh resepsionis itu menghampiri meja perawat yang khusus untuk menjaga ayah Ruby, mengabarkan kedatangan Ruby yang mendadak.
" Silahkan nyonya " Perawat itu dengan sigap membukakan pintu ruang perawatan untuk Ruby.
Ruby mengedarkan pandangannya di ruangan yang di tempati ayahnya. Masih sama seperti hampir setahun yang lalu saat Rai memindahkannya ke rumah sakit ini. Aroma kesedihan segera menyeruak mengisi dada Ruby, matanya berkaca-kaca.
" Bisa tolong tinggalkan aku sendiri " Pintanya sopan kepada perawat yang berdiri disampingnya, lalu pandangan matanya mengikuti perawat yang berjalan keluar.
Setelah pintu tertutup dan hanya ada dirinya di ruangan itu, Ruby berjalan dengan langkah gontai mendekati ranjang tempat ayahnya terbaring. Seminggu yang lalu, di hari yang sama, Ruby datang berkunjung bersama Raline dan Rai dengan penuh kebahagiaan, penuh harapan ayahnya akan segera bangun jika mendengar suara tangis Raline. Tapi waktu seperti berputar terlalu cepat, hanya dalam beberapa hari, dunia Ruby seakan di balik, kebahagiaan yang kini tengah disesapnya harus di iringi dengan kesedihan karena mengetahui kenyataan pahit tentang kondisi ayahnya.
" Ayah " Isak Ruby menggenggam tangan ayahnya dan membenamkan wajahnya di lengan ayahnya.
Hanya menangis yang bisa di lakukannya saat ini, mengeluarkan semua kesedihannya sebelum bertemu dokter Noh untuk menanyakan kondisi ayahnya yang sebenarnya. Ruby berpikir, setidaknya dia sudah menghabiskan seluruh air matanya agar nanti bisa dengan jelas mendengarkan penjelasan dokter Noh tanpa isak tangis lagi.
Ruby beranjak naik ke atas tempat tidur ayahnya, dia tidur disamping ayahnya dan memeluknya erat.
__ADS_1
" Kenapa kau tega sekali padaku ayah, apa gunanya semua yang ku lakukan sampai saat ini jika itu tidak bisa membuatmu kembali kepadaku " Isak Ruby semakin keras, dia menumpahkan semua perasaan sedihnya di atas lengan ayahnya, lengan yang dulu selalu memeluknya erat saat dia sedang bersedih, hingga tanpa sadar dirinya tertidur.