
Ruby duduk di kursi favoritnya, memandang air mancur dihadapannya. Setelah kepergian Vivianne, Rai belum memutuskan apakah akan terus memberikan kelas kepada Ruby, dan juga dia jadi lebih selektif terhadap orang yang akan mengajarinya.
Rasa bosan semakin menggerogotinya, dia benar-benar seperti burung dalam sangkar. Tidak ada yang bisa di ajak bicara dirumah ini, para pelayan menghindar setiap kali Ruby mengajaknya bicara.
Pak Handoko pun selalu tersenyum setiap kali Ruby mengajaknya bicara dan tidak merespon apapun pertanyaan yang di ajukan Ruby.
Begitu juga dengan satu-satunya teman yang dimilikinya di rumah itu, Ken. Klan Loyard membuka cabang pusat perbelanjaan baru dan itu di bawah kontrol Ken, jadi dia akan super sibuk menangani proses pembangunannya.
Dan Rai, Ruby hanya bisa berkomunikasi dengannya kalau Rai ingin melakukan “itu” , itupun sebuah pertengkaran karena Ruby selalu berusaha melarikan diri.
“ Apa aku kabur saja ? “ Ruby menghela nafas panjang.
“ Hei otak udang, apa yang kau lakukan disini ? “ Tanya suara yang tiba-tiba mengagetkan Ruby.
“ Cih “ Ruby mencibir tidak ingin melihat pemilik suara itu. Rai duduk disampingnya.
“ Apa kau lupa waktunya memasak untuk makan siangku ? “
Ruby meliriknya, dia masih memakai setelan jasnya, pertanda dia baru saja pulang. Akhir-akhir ini pak Handoko sering tidak memberitahukannya kalau Rai akan pulang, jadilah setelah Rai pulang baru dia memasak, dengan Rai yang selalu memeluknya dari belakang.
Hingga akhirnya Ruby sadar ini adalah cara baru Rai untuk membodohi nya. Saat Ruby sibuk memasak dia akan memeluknya dari belakang, dan menciumi lehernya, dan Ruby harus tetap memasak karena sekarang para koki tidak diperbolehkan memasak. Jika Ruby tidak memasak maka diapun akan kelaparan sendiri. Benar-benar seperti makan buah simalakama.
Untuk apa memperkerjakan para koki itu kalau pada akhirnya harus aku yang memasak.
“ Aku sangat lelah, bagaimana kalau hari ini biar para koki yang memasak untuk kita ? “ Ruby berusaha mencari alasan agar Rai tidak punya kesempatan untuk memeluknya dan menghindari tangannya yang bebas itu bergerilya menyusuri setiap tubuh Ruby.
“ Baiklah tidak masalah, aku akan menyuruh koki memasak untuk kita “ kata Rai dengan santai.
“ sungguh ? “ tanya Ruby tidak yakin, manusia satu itu tidak akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan dirinya.
“ Sungguh tapi dengan satu imbalan “ jawab Rai dengan liciknya.
“ Tidak terima kasih, lebih baik aku kelaparan daripada melakukan itu “. Jawab Ruby malas, merasa firasatnya tepat sasaran.
“ Hei bagaimana kau yakin kalau aku akan meminta itu untuk imbalannya ? “ Rai pura-pura terkejut.
__ADS_1
“ Melihatmu yang setiap hari dan setiap ada kesempatan membuatku selalu melakukan itu dan melihat senyum licik diwajahmu sekarang, aku tidak perlu penjelasan apapun lagi “ Jawab Ruby yakin dan melirik sinis Rai.
“ Cih padahal aku sudah berbaik hati padamu, melihatmu yang akhir-akhir ini seperti hampir mati bosan, aku sudah memikirkan akan membiarkan mu kembali bekerja di luar, tapi karena... “ belum selesai Rai berbicara, Ruby sudah menatapnya penuh takjub dan menggenggam tangannya.
“ Tidak, tidak aku tarik kata-kata ku, aku akan memasak sekarang “ Ruby menggoyangkan tangan Rai. Dia secepat kilat berubah pikiran.
“ Sudah lupakan, aku berubah pikiran “ Rai berusaha menahan tawanya, melihat ekspresi Ruby yang seperti anak kecil dengan wajah imutnya membuat Rai ingin memeluknya, tapi dia menahannya.
“ Aahh tidak, tidak aku hanya bercanda tadi, aku akan memasak untukmu bayi besarku, kau ingin babysittermu ini memasak apa? Sup ? Telur gulung ? “ Ruby berusaha merayu dengan memasang wajah imutnya.
“ Tidak aku lebih suka masakan koki “ Rai berpura-pura ketus dan tidak peduli.
“ Ei jangan marah, aku tau kau sangat menyukai masakanku, aku akan memasak banyak untukmu, bagaimana ? Ya ? Ya ? “ Ruby masih berusaha sekuat tenaganya.
“ Tidak “ jawab Rai tegas kemudian meninggalkan Ruby sendirian ditaman. Dia sudah tidak tahan lagi melihat sikap imut Ruby, lebih lama lagi Ruby merayunya maka pertahanannya akan runtuh.
Aish kenapa dia pendendam sekali, bodoh, bodoh, bodoh, kenapa kau tidak mendengarkan dia selesai bicara tadi, hilang sudah kesempatan ku untuk bebas dari sini. Maki Ruby pada dirinya sendiri.
Ruby menyusul Rai masuk dalam rumah, dia melihat para pelayan sudah mulai menata meja makan, dia terlambat. Kemudian dia mencari Rai dikamar, melihatnya menuju ruang ganti, Ruby segera menyusulnya.
“ Tuan muda saya akan memilihkan anda pakaian ganti “ Ruby memulai dengan sopan dan tersenyum lebar, menghalangi lemari pakaian Rai.
“ Cih, tidak perlu aku akan mengganti baju ku sendiri mulai sekarang “ Rai masih tetap pura-pura ketus.
“ Aah tidak, tidak, saya akan membantu anda memilihkan pakaian dan kemudian membantu anda berganti pakaian juga “ Ruby berbicara dengan selembut kapas.
“ minggirlah, aku bisa sendiri “ Rai mendorong Ruby kesamping agar dia tidak menghalanginya membuka lemari.
“ Saya akan memilihkan tuan muda pakaian yang paling indah sehingga tuan muda terlihat lebih tampan “ Ruby kembali secepat kilat menghalangi Rai didepan lemari.
“ Tanpa kau pilihkan baju pun aku sudah terlahir tampan “ Rai memberi alasan menolak Ruby.
Cih narsis sekali, dia pikir bumi mengelilinginya.
“ Tapi saya akan membuat anda sejuta kali lebih tampan “ Ruby berusaha meyakinkannya dengan mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
" Ya ? Ya ? " Ruby menggoyang-goyang lengan Rai, memasang wajah seimut mungkin.
kenapa dia sangat menggemaskan begini, aku ingin memakanmu.
Rai berusaha menahan dirinya.
“ minggirlah sebelum aku marah “ Rai berpura-pura menaikkan nada suaranya.
Merasa semua cara sia-sia akhirnya Ruby mengeluarkan jurus terakhirnya. Dia memeluk Rai erat.
“ Sayangku, izinkan aku memilihkan pakaian untukmu dan memasak untukmu, aku janji akan jadi babysitter yang baik untukmu mulai sekarang “ ruby merayunya.
Mengingat cara ini dulu bisa berhasil, maka dia yakin saat ini juga pasti berhasil.
“ ehem ehem “ Rai terkejut melihat sikap Ruby, dia berdehem untuk menutupi rasa ingin tertawanya.
“ Dasar otak udang, berani-beraninya memelukku, lepaskan “ Rai berpura-pura meronta.
“ tidak mau, aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mengizinkan aku bekerja diluar kembali “ Ruby tetap memeluk Rai dengan erat.
“ Baiklah, tapi kau harus membuatku senang “ Rai memberikan penawaran.
“ bagaimana caranya ? “ Ruby bertanya, menebak apakah Rai akan meminta “itu” lagi, menimbang apakah dia akan melakukannya atau tidak.
“ Rayu aku setiap hari sampai aku merasa bahagia, maka akan aku izinkan kau bekerja di luar “
“ Ok deal “ Ruby melepaskan pelukannya. Dia merasa merayu Rai bukan hal sulit karena Rai sebenarnya seperti anak kecil.
Ini akan semudah memberikan permen untuk anak kecil.
Senyum Ruby mengembang.
Kau masuk dalam perangkapku, akan ku buat kau memohon untuk melakukan itu hahaha, permainan baru akan dimulai.
Senyum Rai tak kalah mengembang.
__ADS_1