Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Lebih Menyeramkan


__ADS_3

Ruby terbangun dari tidurnya, namun dia tidak berada di ruangan ayahnya yang ada di rumah sakit, melainkan di rumah lamanya. Dia mengedarkan pandangannya, bingung.


" Ayah ? " Panggil Ruby keras dan segera turun dari ranjangnya, berlari cepat ke arah pintu dan membukanya dengan buru-buru.


" Kenapa teriak-teriak ? " Tanya ibunya lembut sambil membawa piring dari arah dapur menuju meja makan.


" Ibu ? " Ruby terkejut mendapati ibunya yang terlihat sehat dan bahagia sedang menata meja makan, dan ayahnya yang terlihat gagah sedang duduk di kursi ujung, seperti saat mereka masih bersama dulu, seperti saat Ruby masih anak-anak.


Dengan bingung dia berlari kembali ke masuk ke dalam kamarnya dan menatap cermin, dia masih terlihat sama, tidak berubah menjadi gadis cilik tomboy yang dulu. Dengan buru-buru dia berlari keluar ruangan untuk menemui ayah dan ibunya.


" Ibu " Isak Ruby menghambur lari memeluk ibunya.


" Aduh " Pekik ibunya terkejut, lalu membalas pelukan Ruby.


" Huweee.... " Tangis Ruby pecah di dalam pelukan ibu yang sangat di rindukannya.


" Aku sangat merindukan mu bu, kemana saja kau selama ini ? " Isak Ruby keras.


" Ibu tidak kemana-kemana, ibu selalu mengawasimu " Jawabnya lembut.


" Kau bahkan tidak pernah muncul sekalipun dalam mimpi ku, kau jahat sekali " Isak Ruby lagi.


" Jangan menangis, itu tidak cocok denganmu, sudah ayo cepat makan, ibu membuatkan makanan kesukaanmu " Mendorong lembut tubuh putrinya dan mengusap air mata yang membanjiri wajah Ruby, lalu menarik kursi dan mendudukkan Ruby.


" Apa ini mimpi ? " Tanya Ruby lirih, ditatapnya terus wajah ibunya yang lembut dan keibuan.


" Menurutmu ? " Ibunya balik bertanya.


" Entahlah, aku merasa seperti sedang bermimpi, tapi... " Ruby sendiri bingung menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.


" Jadi seperti ini rasanya jadi Harry Potter saat bertemu Albus Dumbledore yang sudah mati " Gumamnya lirih dan meraba jantungnya yang berdetak dengan cepat.


Namun ayah dan ibunya malah tertawa mendengar gumaman Ruby dan menggelengkan kepalanya, heran dengan isi kepala putri kesayangan mereka.


" Bagaimana cucu ibu ? " Tanyanya lagi dengan lembut.


" Ibu tau tentang Raline ? " Pekik Ruby bingung.


" Tentu saja ibu tau, kan sudah ibu bilang, ibu tidak pergi kemanapun, ibu selalu ada di hatimu " Jawabnya lembut dan mengulurkan piring berisi makanan kesukaan Ruby ke hadapannya.


" Sayang " Mengelus pelan kepala Ruby.


" Kami tau kau sudah berkorban banyak untuk kami, dan sekarang sudah waktunya berhenti. Sudah cukup. Kau sudah punya keluarga yang harmonis sekarang, fokuskan pikiranmu hanya pada mereka " Nasehatnya lembut.


" Tapi ayah... " Rengek Ruby, air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.


" Ayah baik-baik saja, tidakkah kau lihat ayah sudah bahagia bersama ibu mu saat ini ? " Jawab Ayahnya tersenyum lebar.


" Tidak, kau tidak boleh bersama ibu, kau harus bersama ku, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau ayah " Tangis Ruby semakin keras, dia kembali memeluk ibunya, memegangnya dengan erat berharap mimpi itu tidak akan berakhir.

__ADS_1


" Kau tidak boleh egois seperti itu sayang " Ucap Ayah Ruby lembut.


" Kau sudah punya suami yang sangat mencintaimu dan juga anak yang lucu, ayah mertua, di tambah saudara-saudara ipar yang pasti juga menyayangi mu, sedangkan ibu mu disini hanya sendirian, ayah harus menemaninya, apakah kau tidak bahagia melihat ayah dan ibu mu bahagia ? " Lanjutnya.


" Tapi...tapi... " Ruby tidak sanggup meneruskan kalimatnya, ucapan ayahnya semakin membuatnya sedih. Seperti sebuah salam perpisahan.


" Dengarkan ibu baik-baik " Ibunya mendorong Ruby pelan dan mengangkat dagu Ruby agar pandangan mereka sejajar.


" Kau anak ibu yang paling luar biasa bukan, beginikah sikap mu seharusnya ? " Tanyanya.


" Tapi bu... " Ruby masih merengek di sela isak tangisnya.


" Ibu dan ayah bahagia memiliki putri sebaik dirimu, tapi memang sudah saatnya kita berpisah " Ucap Ibu Ruby lagi.


" Berjanjilah kau akan menjaga keluarga barumu " Lanjutnya.


Ruby tidak mampu mengucapkan apapun, dia hanya mengangguk dan terus saja menangis.


" Sekarang bangunlah, kau dengar suara itu ? " Tanya Ibu Ruby lagi.


Ruby lalu terdiam mengamati suara apa yang dimaksud oleh ibunya, dia menajamkan pendengarannya. Itu suara tangisan Raline. Tangisan putrinya yang sedang mencarinya.


" Pergilah, kami selalu ada di dekatmu, jangan bersedih lagi, ok " Ucap Ibu Ruby dan kemudian memencet hidung Ruby dengan gemas. Ruby yang tau sudah waktunya berpisah semakin menangis sesegukan.


Dia belum siap melepaskan ayahnya untuk pergi dengan ibunya, di alihkannya pandangannya ke arah ayahnya yang sedang tersenyum bahagia, terlihat sehat tanpa tersiksa rasa sakit dan puluhan kabel serta selang yang menancap di tubuhnya.


" Ayah lebih bahagia bersama ibu, jadi relakan ya " Ucapnya untuk yang terakhir kali. Dengan berat hati Ruby menganggukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu kembali menangis dengan keras hingga dadanya terasa nyeri dan sesak.


Kelahiran disambut dengan senyuman, dan kematian di sambut dengan tangisan. Seperti hukum mutlak tak tertulis, begitulah dunia ini berjalan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ruby yang sudah merasa tenang setelah berjam-jam menangis di samping ayahnya akhirnya bangun dan menata kembali dirinya. Merapikan rambut dan pakaiannya serta wajahnya yang terlihat berantakan.


Dengan hati yang masih hancur dia berjalan keluar ruangan, menuju ruang perawat.


" Anda butuh sesuatu nyonya ? " Tanya perawat dengan gugup melihat kedatangan Ruby yang tiba-tiba ke ruangan mereka saat mereka sedang bersantai menonton televisi.


" Bisa tolong hubungi dokter Noh, aku ingin bicara dengannya, sampaikan padanya untuk menemui ku langsung kesini " Jawab Ruby dengan suara yang masih serak karena terlalu lama menangis.


" Baik nyonya, silahkan duduk, saya akan segera menghubunginya " Jawab perawat itu sopan lalu bergegas menuju pesawat telepon dan menekan sederetan nomor untuk menghubungi Dokter Noh.


Dokter Noh yang sedang praktek di lantai bawah rumah sakit segera bergegas naik untuk menemui Ruby dengan tergopoh-gopoh.


" Maaf Nyonya, saya tidak tau anda telah kemari " Ucap Dokter Noh cepat begitu sampai di ruangan perawat, dengan takut dia menundukkan kepalanya dan mencuri-curi pandang mencari Rai. Namun ruangan itu telah sepi, hanya ada Ruby dan dirinya. Para perawat yang berjaga pun tidak terlihat di sekitar ruangan. Itu karena Ruby ingin bicara hanya 4 mata dengan dokter Noh.


" Duduklah Dokter Noh " Jawab Ruby lemas.


Dokter Noh yang bingung langsung duduk di sofa yang ada di hadapan Ruby, dengan ragu-ragu dan juga takut.

__ADS_1


" Maaf Dokter Noh, kalau anda mencari Rai dia tidak ada disini, saya hanya datang sendiri " Ingatan tentang Rai yang tega membohonginya kembali membuat nyeri di dadanya, Ruby menghela napas untuk mengusir sesak yang dia rasakan.


" Maaf nyonya " Jawab Dokter Noh sopan.


" Bisa tolong ceritakan kondisi ayah saya ? " Tanya Ruby tanpa basa-basi.


" Ayah anda baik-baik saja nyonya " Jawab Dokter Noh seperti biasanya, terdengar menenangkan dan meyakinkan.


Ruby menatap Dokter Noh yang terlihat lebih santai setelah Ruby mengutarakan maksudnya. Di tatapnya dengan nanar Dokter yang selalu membuatnya memiliki harapan yang tinggi terhadap kesembuhan ayahnya itu.


" Dasar pemberi harapan palsu " Gumam Ruby lirih memaki Dokter Noh dan menghela napas lagi.


" Maaf ? " Tanya Dokter Noh bingung mendengar Ruby bergumam dan berubah menatapnya tajam.


" Dokter Noh, apakah kau sudah punya istri ? " Tanya Ruby asal.


" Ya nyonya " Jawab Dokter Noh semakin bingung melihat Ruby menanyakan masalah pribadinya.


" Apa kau suka berbohong kepada istri mu ? " Tanyanya lagi, dan semakin tajam menatap dokter Noh, sementara yang di tatap semakin salah tingkah di tempat duduknya.


" Tidak nyonya " Jawabnya mulai takut dan menyeka keringat di dahinya, seperti sudah menjadi ancaman tak kasat mata, jika sudah bertanya tentang keluarga, maka klan Loyard berniat menghancurkannya.


" Aku akan memberikan mu nasehat dokter Noh, dari seorang istri. Jangan pernah berbohong apalagi menyembunyikan sesuatu dari istri mu, kau tidak pernah tau, mereka terlihat lembut di luar tapi sangat berbahaya di dalam. Dia tiba-tiba bisa menjadi dukun hebat yang bisa menebak semua isi hatimu dan pikiranmu atau tiba-tiba bisa menjadi agen mata-mata sekelas james bond jika kau menyembunyikan sesuatu, percayalah, kemarahan seorang istri lebih menakutkan dari letusan gunung merapi yang di huni mak lampir. Kau tau mak lampir ? " Oceh Ruby panjang lebar.


" I-iya nyonya " Jawab Dokter Noh merasa tersudut.


" Dia menjadi mak lampir karena di khianati pasangannya " Lanjut Ruby merendahkan suaranya agar terlihat menyeramkan, dan memasang wajah datar dengan tatapan tajam menusuk.


Apa iya benar begitu legendanya mak lampir ?


Batin Dokter Noh bingung.


" Jadi sekarang cepat, buka semua rahasia yang kau sembunyikan dari ku " Ancam Ruby tajam.


" Tidak ada rahasia nyonya " Dokter Noh masih tetap bersikeras menyembunyikannya dari Ruby, dia lebih takut kepada Rai ketimbang Ruby.


" Kau tau rencana ku apa setelah ini ? " Tanya Ruby asal.


" Maaf ? " Tanya Dokter Noh semakin tidak paham.


" Setelah aku merasa tertipu begini, aku jadi ingin mendirikan asosiasi serikat para istri untuk seluruh anggota Klan Loyard, jadi mereka akan tau setiap gerak gerik para suami, kau mau itu terjadi ? " Ancam Ruby dingin.


Glek !! Dokter Noh menelan ludahnya dengan kaku, tenggorokannya terasa tercekat, keringat dingin semakin mengucur deras di dahinya. Jika harus berurusan dengan istri maka akan lain ceritanya. Wanita tidak pernah salah, begitulah pepatah yang rasanya di setujui para laki-laki, termasuk dokter Noh.


" Maafkan saya nyonya " Ucap Dokter Noh menunduk dalam.


" Jelaskan semuanya sekarang, jangan ada yang anda sembunyikan, karena saya akan tau hal itu meski anda berusaha menutupinya " Jawab Ruby dingin.


Maafkan saya Tuan Rai, ternyata istri anda lebih menyeramkan dari yang terlihat.

__ADS_1


Batin Dokter Noh pasrah.


__ADS_2