
" Hei berhenti " Perintah Rai tegas saat melihat Dylan yang terus saja berlalu menjauh.
Dylan berhenti dan membalikkan badannya, menatap kakak pertamanya dengan kesal.
" Kenapa kau tidak mau jadi model dengannya ? " Tanya Rai santai begitu telah sejajar dengan adiknya tersebut.
" Aku bukannya tidak mau kak, aku tidak bisa " Jawab Dylan putus asa, kemudian menyandarkan punggungnya di tembok.
" Cih " Cibir Rai sinis.
" Menciumnya dengan mesra saja bisa masa menjadi model yang hanya berfoto-foto saja tidak bisa " Sindir Rai jahil.
" Me-mencium ? Kau ini bicara apa sih ! " Wajah Dylan langsung memerah begitu mendengar pernyataan Rai, salah tingkah dia membuang mukanya menghindari tatapan jahil kakaknya.
" Yakin kau belum pernah menciumnya ? " Ken yang baru saja bergabung ikut menggodanya.
" Ck " Decaknya dengan ekspresi kesal.
" Pokoknya aku tidak mau jadi modelnya " Lanjutnya sembari mengibaskan tangannya acuh.
" Ya sudah, tapi kau jangan menyesal ya " Jawab Rai asal, dia lalu menoleh ke arah Ken dan memberi kode pada Ken untuk melanjutkan rencana mereka.
" Tapi kak kalau dia tidak mau jadi modelnya lalu kita harus mencari siapa ? " Tanya Ken berpura-pura bingung dan ikut berpikir.
" Setelah melihat kejadian tadi, kurasa sebaiknya untuk pemotretan kali ini modelnya harus sudah akrab satu sama lain. Kalau mereka tidak akrab bisa saja mereka baku hantam seperti tadi " Jelas Rai dengan serius sembari memegang dagunya berpura-pura berpikir keras.
" Akrab ya ? " Ulang Ken manggut-manggut.
" Ah bagaimana kalau Andromeda saja, bukankah Blair dan Andromeda akrab, bahkan menurut gosip yang ku dengar mereka akan bertunangan karena perjodohan " Jawab Ken dengan meyakinkan.
" Jangan !! " Sentak Dylan secara reflek.
Ken dan Rai menoleh ke arahnya bersamaan.
" Memangnya kenapa tidak boleh dia yang jadi modelnya ? " Tanya Ken berpura-pura tidak mengerti.
" Malah kurasa bagus jika Andromeda yang jadi pasangan si Dipsy, sekalian saja membuat pemotretan bertema tunangan, pasti akan jadi boom... " Rai memperagakan gaya ledakan dengan tangannya.
" ... berita yang heboh " Lanjutnya memanas-manasi.
" Baiklah, baiklah " Jawab Dylan dengan pasrah.
" Aku mau jadi modelnya " Lanjutnya tapi masih dengan gaya berpura-pura jual mahal.
" Tidak, tidak, tidak " Rai menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri.
" Dari apa yang ku lihat kau tidak terlalu akrab dengannya, kalian tidak akan terlihat baik di foto, apa ya... kurang chemistry nya " Lanjut Rai berkacak pinggang menolak keinginan Dylan.
" Kau benar, kalau dia dan Blair aku rasa hasil fotonya tidak akan terlalu bagus, akan terlihat kaku. Aku setuju Andromeda saja " Ken ikut memanas-manasi suasana.
Dylan menegakkan punggungnya dengan sedikit panik, dia menatap wajah Ken dan Rai bergantian, mencari celah sedikit saja yang membuatnya yakin kalau kedua kakaknya sedang mengerjainya. Namun ekspresi Ken dan Rai terlalu meyakinkan untuk di anggap remeh.
" Ya sudah kalau begitu hubungi pengacara Henry, bilang padanya agar menyuruh Andromeda kesini sekarang juga " Perintah Rai santai kemudian berlalu pergi.
" Siap big boss " Jawab Ken dengan mantap dan kemudian mengekori Rai yang sudah agak menjauh.
" Kak, aku saja " Ucap Dylan putus asa, namun Ken dan Rai masih saja acuh terus berjalan.
" Kak, aku bilang aku mau " Dylan semakin mengeraskan ucapannya, kali ini dengan nada sedikit memaksa. Nihil, Rai dan Ken sama sekali tidak peduli.
" Hei kak, aku saja yang jadi modelnya " Suara Dylan berubah jadi teriakan dengan agak kasar. Tapi Rai dan Ken sudah benar-benar jauh dan tak menoleh ke belakang sedikitpun.
" HEI TINGKI WINGKI, DIPSI, HEI, HEI, HEI !!!! " Penuh emosi Dylan berteriak dengan sangat kencang hingga membuat orang-orang yang kebetulan lewat berjalan melipir takut mengira Dylan orang gila yang sedang kumat.
Tukang photographer yang menyaksikan hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengacak-acak rambutnya dengan semakin frustasi, dia tau Rai sedang bermain-main, tapi hal itu akan membuat proses kerjanya semakin sulit.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu Ruby yang sedang meluncur turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift itupun telah sampai di basement khusus untuk tempat parkir keluarga Loyard.
Dia menjemput Raline secara langsung karena tidak ingin sampai ada paparazi yang diam-diam mengambil fotonya.
" Masih aman kan ? " Tanyanya melongok ke dalam mobil begitu kaca mobil di buka oleh Lusi dan Sinta.
" Aman nyonya " Jawab Lusi dengan yakin.
Dilihatnya Raline sedang tertawa girang saat melihat wajah Ruby yang melongok di jendela.
" Kangen mama ya ? " Tanyanya kepada Raline yang di jawab dengan hentakan tangan dan kakinya dengan semangat.
Raline memang sengaja tidak di ajak menghadiri pesta Vivianne dan mereka janji bertemu di pusat perbelanjaan saja karena kata Rai mereka akan sekalian mengambil foto keluarga.
" Sudah ayo cepat " Ajak Ruby memungkas acara kudang mengkudang Raline yang terus saja berjingkrak-jingkrak girang.
Sinta yang pertama turun dengan membawa sebuah selimut bulu berukuran besar, di susul dengan Lusi yang kemudian turun dengan menggendong Raline.
Setelah mereka keluar Sinta menyelimuti Raline ke seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan sedikit saja celah di bagian wajahnya agar Raline tidak rewel.
Persiapan menyembunyikan Raline pun rampung, kemudian para bodyguard yang berpakaian santai langsung mengelilingi mereka dan menggiring mereka masuk ke pusat perbelanjaan.
Mereka semua layaknya rombongan teman-teman yang sedang hangout bersama. Dan benar saja dugaan Ruby, para wartawan terlihat berkerumun di lantai dasar pusat perbelanjaan tersebut.
Tidak heran, selain akan ada pemotretan Blair yang memancing para wartawan, juga mereka ingin melihat barangkali saja Rai datang dengan membawa serta keluarganya.
" Itu semua wartawan ? " Tanya Lusi syok menunjuk ke arah bawah. Lift yang mereka gunakan memang lift yang terbuat dari kaca.
" Iya " Jawab Ruby sedikit cemas.
" Kalau di kerumuni wartawan segitu banyaknya siapapun juga tidak akan tahan " Ucap Lusi.
" Maka dari itu, kalau sampai mereka melihat Raline, sudah pasti mereka tidak akan melepaskannya dengan mudah, belum lagi kilatan lampu dari kamera itu benar-benar membuat mata sakit, bayangkan saja Raline mengalami hal itu, aku rasa 2 hari 2 malam dia akan terus rewel " Jelas Ruby. Dia masih terus saja waspada, tidak akan merasa tenang sebelum memasuki ruangan yang private.
Denting lift yang berhenti seakan memberikan kelegaan untuk Ruby. Mereka telah sampai di lantai teratas dari pusat perbelanjaan itu. Lantai yang hanya di gunakan untuk rapat atau pemotretan dalam ruangan serta tempat istirahat Rai jika sedang bekerja dari sini.
" Terima kasih atas bantuannya " Ucapnya kepada para bodyguard yang mengawal mereka, Ruby mempersilahkan mereka untuk jalan-jalan saja karena Ruby tidak akan kemana-mana lagi.
Ruby dan kedua pelayannya juga Raline berjalan menuju ruangan tempat Kiran dan Blair menunggu, dia tak sabar mengenalkannya pada Blair.
__ADS_1
" Kak " Tiba-tiba saja suara Dylan memanggil Ruby dari arah belakang.
Ruby berhenti dan menoleh ke arahnya. Di lihatnya Dylan yang berwajah lesu berjalan ke arah mereka.
" Kenapa wajahmu ? " Tanya Ruby bingung.
" Kak tolong bujuk kak Rai agar aku saja yang jadi modelnya, ya " Rengeknya dengan putus asa.
" Hm ? " Ruby mengerutkan keningnya. Kenapa jadi dia yang merengek begini ? Tadi katanya tidak mau.
" Bukankah tadi kau bilang tidak mau ? " Tanya Ruby.
" Ya memang tadinya aku tidak mau, tapi karena ada sesuatu aku jadi mau, masalahnya sekarang Kak Rai yang tidak mau " Jawabnya sedih.
" Ck " Decak Ruby kesal.
" Rumit sekali sih " Gumamnya malas.
" Ya sudah aku akan membujuknya, sekarang dimana dia ? "
" Kurasa masih rapat dengan tukang fotonya " Jawab Dylan sembari bernapas lega, jika Ruby yang meminta Rai pasti tidak akan menolak. Karena dia tau semboyan hidup Rai, " Dia tidak akan menolak Ruby meskipun permintaannya aneh-aneh ".
" Nanti aku akan meneleponnya saja kalau begitu " Jawab Ruby santai.
" Sekarang saja, aku takut kak Ken sudah menghubungi orang lain " Desak Dylan tidak sabaran, membuat Ruby menghela napas kesal.
" Ish kau ini, bukankah dia sedang rapat sekarang " Balas Ruby.
" Ayolah kak, mm... sebagai gantinya aku akan menjaga Raline " Rayu Dylan dan langsung meminta Raline dari gendongan Lusi.
" Kau ini suka sekali memaksa " Gerutunya kesal namun Dylan sudah berlalu pergi meninggalkannya bersama Lusi dan Sinta.
" Jangan jauh-jauh banyak wartawan di lantai bawah " Teriak Ruby memberitahu.
" Tenang saja, aku hanya akan mengajaknya berkeliling di sekitar sini " Jawab Dylan santai.
" Maunya apa sih anak itu " Gerutu Ruby sembari menghela napas pasrah.
Dia lalu mengambil ponselnya dan menelepon Rai sesuai permintaan Dylan. Bukan hal yang susah meminta sesuatu pada Rai, nyawanya saja dia berikan apalagi cuma menjadikan Dylan model dadakan.
Setelah hutangnya pada Dylan lunas dia kembali berjalan menuju ruang tunggu Blair dan Kiran.
" Loh ? Mana Raline ? " Tanya Kiran saat melihat Ruby yang datang seorang diri.
Blair yang sudah tegang sedari tadi itupun menghela napas lega, batinnya belum siap bertemu dengan kekasih Dylan saat ini.
Syukurlah kalau dia tidak jadi datang.
Blair mengelus-elus dadanya dan berusaha menenangkan debarannya.
" Dylan mengajaknya jalan-jalan " Jawab Ruby santai kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Blair.
Bagai ada sebuah belati tajam yang di tancapkan ke jantungnya, rasa nyerinya begitu dalam.
Semula tangannya mengelus dadanya untuk menenangkan debarannya kini dia mengelus dadanya sedikit lebih keras, seolah memijit bagian yang terasa nyeri itu.
" I-itu... photographer bilang mereka sedang merubah konsepnya karena perubahan rencana yang mendadak, jadi mereka sedang mempersiapkan tempatnya " Jawab Blair dengan suara tercekat dan senyum yang di paksakan.
" Hm ? " Ruby menatap wajah Blair dengan seksama.
" Kau pucat ? Kau baik-baik saja ? " Tanya Ruby khawatir.
" Oh ya ? " Kiran pun ikut menatapi wajah Blair dengan seksama.
" Ti-tidak nyonya, saya baik-baik saja " Jawab Blair salah tingkah. Dia segera memalingkan wajahnya yang mungkin saja sudah pias mengetahui kenyataan menyesakkan itu.
" Kalaupun sakit bertahanlah sedikit lagi, karena nanti kau akan berpasangan dengan Dylan saat pemotretan " Ucap Ruby seraya mengusap lembut punggung Blair.
" Jadi Ken dan tuan Rai berhasil meyakinkan Dylan agar mau menjadi model ? " Tanya Kiran antusias.
" Ini malah sebaliknya, tadinya anak itu menolak untuk jadi model, tapi barusan saja dia merengek-rengek padaku agar aku membujuk Rai supaya menjadikannya model " Jelas Ruby.
Dan mereka berduapun terlibat pembicaraan basa basi tentang hal-hal remeh temeh. Blair yang berusaha sekuat tenaga mengikuti alur mereka tetap saja merasa kesulitan. Itu karena pikirannya di penuhi dengan bayangan dia harus berpasangan dengan Dylan tapi di saksikan oleh Raline.
Apa dia sengaja di undang oleh mereka berdua agar bisa mendukung Dylan ya ?
Batin Blair bertanya-tanya sendiri.
Raline wanita beruntung, kedua calon kakak iparnya sepertinya orang yang baik. Andai saja itu aku...
Lanjutnya menghela napas panjang dan berat, sesak di dadanya seolah bertambah seratus kali lipat.
Untung saja seorang kru pemotretan segera masuk dan memberitahu Blair bahwa lokasi mereka telah siap, dan Blair di minta segera berganti pakaian.
Dengan lesu dia mengambil pakaian yang telah di siapkan oleh bagian penata busana dan masuk ke ruangan yang lebih kecil lagi untuk berganti baju.
Baju yang dia kenakan kali ini sangat cocok di tubuhnya, dia terlihat cantik dan mempesona. Namun rasa bangganya akan wajahnya yang ayu kini sirna. Di depan cermin berukuran besar Blair menatap bayangannya sendiri.
" Apa gunanya secantik ini kalau Dylan saja tidak jatuh cinta padamu " Gumamnya sedih, belum pernah dia merasa sekosong ini di dalam dadanya.
Jatuh cinta memang aneh dan mampu membuat orang yang percaya diri mendadak menjadi insecure, jadi benar apa yang di dendangkan oleh sang diva pop yang terkenal itu. Cinta ini memang tak ada logika.
" Jangan menangis Blair, kuatkan hatimu. Dia bukan milikmu, kau tidak boleh serakah seperti papa, kau tidak boleh merebut apa yang bukan milikmu " Dia menyemangati dirinya sendiri di depan cermin. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan beberapa kali.
Setelah merasa cukup tenang, dia pun keluar dari ruang ganti tersebut.
" Wah kau cantik sekali " Puji Kiran dan Ruby hampir bersamaan. Dengan pandangan takjub mereka memutari Blair.
" Terima kasih nyonya " Jawab Blair sopan menundukkan kepalanya.
" Ei.. jangan panggil nyonya, panggil saja kami kakak " Jawab Ruby sembari tersenyum tulus.
" Iya jangan sungkan-sungkan dengan kami, tapi kau harus tetap memanggilku bu Kiran ya kalau di lingkungan sekolah " Gurau Kiran kemudian terkekeh.
Mendapat perhatian yang begitu tulus dari Ruby dan Kiran semakin membuatnya sedih dan menyalahkan takdir kenapa bukan dirinya yang menjadi orang seberuntung Raline.
" Mari kita berangkat menuju tempat pemotretannya " Ajak kru yang bertugas menyiapkan perlengkapan Blair tadi.
__ADS_1
" Eh tapi model laki-lakinya ? " Tanya Kiran memotong.
" Kalau model laki-lakinya di ruangan yang lain nyonya, kita tidak mungkin mencampur mereka dalam satu ruangan bukan ? " Ucapnya dengan sungkan.
" Ah ya kau benar, maaf " Jawab Kiran juga ikut sungkan.
Mereka semua pergi keluar ruangan menuju lokasi pemotretan. Mereka akan mengambil gambar di beberapa lokasi, seperti cafe, restoran, area groceries, dan beberapa butik.
Lokasi pertama adalah sebuah cafe, dengan tema mengusung gaya santai ala anak muda yang sedang berkencan.
Area cafe telah di sterilkan dari pengunjung dan hanya ada kru yang terlibat saja. Sofia yang melihat kedatangan Blair langsung bergegas menghampirinya.
" Maaf aku tadi tidak tahu kejadiannya, aku pergi ke apotek yang ada di jalan utama dan aku baru saja kembali lalu ada salah satu kru yang memberitahuku, ini obat penghilang bau mulutnya, dan juga aku membelikanmu obat penghilang rasa mabuk, barangkali kepala atau perutmu masih tidak nyaman " Bisik Sofia seraya menyodorkan botol yang telah terbuka tutupnya.
" Tidak apa-apa kak, lagipula aku sudah tidak mabuk lagi " Jawab Blair dengan senyum yang dipaksakan. Siapa juga yang tidak akan langsung merasa segar jika di hadapkan pada situasi yang memicu adrenalin seperti tadi.
" Ok Blair, kita akan mengambil gambar mu lebih dulu, kau akan terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu teman kencanmu " Suara tukang foto itupun terdengar dengan lantang. Dia mengarahkan Blair agar segera duduk di salah satu meja yang telah di siapkan.
" Kau harus terlihat seperti sedang menunggunya dengan sepenuh hati ya " Lagi dia mengarahkan ekspresi wajah dan pose Blair.
Dengan cekatan Blair segera mengatur posenya agar sesuai dengan yang di harapkan oleh tukang foto.
Dia meletakkan satu tangannya di meja dan satu tangan yang lain menyangga dagunya.
Kilatan-kilatan dari lampu kamera langsung menyambar berulang-ulang seiring dengan perpindahan pose Blair. Kiran dan Ruby yang duduk di salah satu meja itupun ikut melihat proses pengambilan gambar tersebut.
" Kemana Dylan, kenapa dia tidak datang-datang ? " Bisik Kiran.
" Entahlah, aku juga mencari Raline. Sinta dan Lusi juga tidak bisa di hubungi " Jawab Ruby seraya terus mencoba menelepon kedua pelayannya itu.
Tak berselang lama, rombongan yang di tunggu-tunggu pun datang. Rai and the gang yang beranggotakan Ken, Dylan, kedua pengasuh Raline dan tentu saja sang tuan putri itu sendiri.
Ruby langsung menghela napas lega begitu melihat mereka masuk.
" Darimana saja ? " Bisik Ruby cemas begitu Lusi dan Sinta mendekat. Sementara Rai dan Ken langsung berdiri di samping tukang foto dan terlihat serius mengamati.
" Kami bertemu dengan tuan Rai dan tuan Ken tadi, tapi nona Raline tidak mau pisah dengan tuan Dylan, jadi kami semua menunggui dia berganti pakaian dan berdandan " Jawab Lusi.
" Ish kau ini " Ruby mencubit gemas pipi Raline.
Raline memang sangat dekat dengan Dylan, dan sering menangis jika di tinggal oleh Dylan.
Blair yang melihat rombongan yang baru datang itupun langsung menganalisa setiap orang. Dan hanya 2 wanita yang tidak dia kenali.
Pasti salah satu dari mereka adalah Raline.
Batinnya. Dan serangan nyeri itupun kembali muncul.
" Ok baiklah sekarang kita akan mengambil gambar Dylan " Suara lantang tukang foto itu memberitahu Dylan.
Dia di minta berpose di depan pintu masuk terlebih dahulu sebelum akhirnya akan berfoto bersama dengan Blair.
Meskipun kesulitan berpose karena ekspresi datarnya, namun Dylan berhasil melakukannya dengan cukup baik.
Sekarang mereka akan mengambil gambar bersama-sama. Dylan dan Blair duduk di satu meja, berhadapan layaknya pasangan muda mudi yang sedang berkencan.
Mereka berpose senatural mungkin dan seprofesional mungkin.
" Bukankah mereka serasi sekali " Ucap Kiran dengan mata yang berbinar kagum melihat Dylan dan Blair.
" Benar sekali, mereka benar-benar cocok satu sama lain " Jawab Ruby yang juga ikut kagum.
" Raline ayo dadah ke paman Dylan " Bisik Ruby ke arah Raline yang di sambut dengan hentakan kaki dan tangannya.
Lusi yang menggendong Raline itupun meraih tangannya dan menuntunnya untuk melambai ke arah Dylan.
" Dadah.... " Ucap Lusi dengan cukup keras.
Dylan yang melihat hal itu lantas membalas lambaian tangan Raline sementara tukang foto sedang berdiskusi dengan Rai dan Ken.
" Dia benar-benar cute bukan ? " Gumam Dylan lirih.
Blair yang saat ini duduk di sebelahnya itupun menatap ke arah Lusi dengan nanar.
Jadi itu yang namanya Raline, kelihatan lebih tua di banding dengan Dylan. Kenapa dia sukanya dengan yang tua-tua sih ? Baiklah kalau begitu.
Blair sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya dan kepedihannya. Tidak peduli di bilang valakor atau perusak hubungan orang lain sekalipun, Blair bertekad membuat Dylan juga jatuh cinta padanya.
Selama janur kuning belum melengkung, kau masih bisa di tikung.
Batinnya mantap saat menatap Dylan yang tak melepaskan pandangannya dari Raline dan terus tersenyum.
" Dylan... " Panggil Blair lirih.
" Hm ? " Dylan menoleh kepada Blair.
" Aku sebenarnya... " Ucap Blair ragu-ragu.
" Ya ? " Dylan mengerutkan keningnya bingung.
" Aku sebenarnya lebih tua darimu, aku lebih tua dari mu setahun. Tidak, 2 tahun. Ya 2 tahun, a-aku wanita yang lebih tua dan dewasa " Lanjutnya dengan satu tarikan napas panjang.
" Jadi kau tidak naik kelas? 2 kali? " Malah itu yang di tangkap oleh Dylan.
" Apa ? " Blair membelalak syok.
Hiaaahh !!! Bukan itu maksudku Dylan.
Rencananya membuat dirinya terlihat lebih tua agar masuk kriteria wanita idaman Dylan pun gagal total. Dia malah terlihat seperti orang oneng yang tidak naik kelas 2 tahun berturut-turut.
Sekali lagi, oneng di lawan !
🍁🍁🍁🍁🍁
**Note :
Saat kalian membaca adegan Dylan yang memaksa jadi model mungkin kalian akan langsung berpikir ke salah satu adegan drama yang sedang hits saat ini. Tidak salah, karena saya terinspirasi dari adegan itu. Jadi kalian bacanya juga bisa sambil membayangkan ekspresinya bagaimana ya hehehe.
__ADS_1
Selamat membaca... semoga suka**