Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Baikan


__ADS_3

Ruby yang berada di kamar tamu itu sedang berdiri menghadap jendela yang mengarah ke halaman belakang, matahari sore bersinar lembut menembus kedalam kamar melalui celah jendela yang tidak tertutup tirai. Ruby sedang mengenang masa lalunya bersama ayah dan ibunya. Raline yang seakan mengerti kesedihan ibunya itu seharian ini tidak terlalu rewel dan lebih banyak tidur.


Aku tau aku harus merelakan ayah, tapi ini terlalu berat.


Batinnya pilu, dan lagi-lagi air mata membanjiri pipinya.


Disaat seperti ini dia membutuhkan teman untuk berbagi kesedihan, tapi dia tidak bisa melakukannya dengan Rai setelah pertengkaran mereka siang tadi.


Ruby terus saja memikirkan Kiran, berkali-kali hatinya berkata ingin membagi kesedihannya kepada Kiran, namun berkali-kali itu pula dia mengurungkan niatnya. Kiran sedang berbahagia saat ini, tidak seharusnya dia mengganggunya dengan masalah pribadinya.


Tapi saat pikirannya semakin kalut pertahanan dirinya runtuh, dia mengambil ponselnya yang ada di nakas dan menghubungi Kiran.


Kiran yang sedang menikmati menu pembukanya itu mendengar ponselnya berbunyi dari dalam tasnya, dia mengambilnya dan seketika senyum mengembang di bibirnya.


" Sayang ini Ruby, aku angkat dulu ya " Ucap Kiran seraya menunjuk ponselnya dan meminta izin untuk mengangkatnya di tempat yang lebih sepi.


" Ok " Jawab Ken dan Kiran pun bangkit pergi mencari tempat yang agak sedikit private.


" Hai " Sapa Kiran girang begitu mengangkat teleponnya.


" Hai " Balas Ruby.


" Aku baru akan menghubungi mu melalui video call tapi aku sedang menghadiri pesta " Cerita Kiran antusias.


" Benarkah ? " Ruby yang mendengar suara ceria Kiran pun tidak sampai hati menceritakan kesedihannya.


" Ya sebenarnya aku juga tidak ingin menghadiri pesta ini tapi Ken memaksa " Ceritanya lagi.


" Hei bersenang-senanglah, ajak Ken jalan-jalan sampai ke ujung pulau, jangan hanya berdiam diri di kamar saja " Goda Ruby dan keduanya pun tertawa bersama dan kembali bercerita panjang lebar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Rai yang baru kali ini menjelajahi mansionnya yang besar itu mulai kesal saat dia membuka satu persatu pintu yang ada disana namun tak kunjung menemukan Ruby.


" Berapa banyak kamar sih yang ada di rumah ini " Decaknya kesal. Karena setiap pelayan yang dia temui menjawab tidak tau kamar mana yang di tempati Ruby.


" Kalau Raline bermain petak umpet di rumah ini pasti sampai besok lusa juga tidak akan ketemu " Gumamnya semakin kesal.


Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Pak Handoko untuk menanyakan dimana keberadaan Ruby.


" Hei kamar tamunya yang mana ? " Teriaknya kesal saat Pak Handoko mengangkat sambungan teleponnya.


" Dibawah tangga ada lorong yang mengarah ke utara, masuk saja lorong itu dan belok sebelah kanan kamar pertama setelah belokan " Jawab Pak Handoko santai.


" Pak Handoko memangnya selama ini kau belum pernah tersesat di rumah ini ? " Tanya Rai asal.


" Belum pernah tuan " Jawab Pak Handoko sopan.


" Kalau begitu aku akan menambah lagi jumlah kamar dan lorongnya agar kau tau bagaimana rasanya tersesat di rumah sendiri " Jawab Rai dingin lalu mematikan sambungan teleponnya.


Dia kemudian berjalan menuju arah yang di tunjukkan oleh Pak Handoko. Setelah menemukan kamar yang di maksud oleh Pak Handoko Rai mengetuknya pelan dan membukanya.


Kamar itu seperti kamarnya, luas namun lebih terlihat sederhana, hanya ada set ranjang tanpa sofa dan juga tanpa boks bayi.


Dia melihat Ruby sedang berbicara di telepon dengan seseorang di depan jendela. Ruby menoleh kepada Rai saat Rai masuk ke dalam kamar, lalu berpamitan kepada lawan bicaranya dan menutup sambungan teleponnya.


Dia berjalan mendekat ke arah ranjang, begitu juga Rai.


" Aku mencarimu kemana-mana " Ucap Rai lirih berbisik saat melihat Raline yang sedang tertidur pulas di ranjang.


" Ya Raline menangis tadi dan kamar berantakan jadi aku disini sementara " Jawab Ruby dan duduk di tepi ranjang.


Rai yang melihat mata Ruby yang masih sembab itupun berlutut di hadapan Ruby, dengan menggenggam tangannya dia menatap Ruby lekat.

__ADS_1


" Maafkan keegoisan ku yang membuatmu terluka " Ucapnya tercekat.


" Ya aku bisa mengerti " Jawab Ruby menunduk menatap Rai.


" Saat aku pertama kali bertemu denganmu, pikiranku langsung menjadi gila dan hanya ingin memilikimu tidak peduli bagaimanapun caranya. Dan saat aku melihat satu-satunya kesempatan untuk membuatmu menjadi milikku, aku mengambilnya tanpa pikir panjang " Jelas Rai dengan suara tercekat kembali mengingat masa-masa awal pertemuan mereka. Namun Ruby hanya terdiam mendengar cerita Rai, tidak tau harus berkomentar apa.


" Bukannya aku tidak ingin memberitahumu keadaan yang sebenarnya, tapi saat kau bilang ingin cerai dari ku, aku sangat ketakutan, aku takut kehilanganmu, jadi aku bersumpah akan membuat ayahmu terlihat hidup sampai kau bisa mencintaiku " Lanjut Rai, mengambil jeda sebentar untuk menarik napas dan membuangnya perlahan.


" Lalu saat kau mulai mencintaiku, aku ingin memberitahukanmu yang sebenarnya, tapi aku tidak ingin kau menangis dan bersedih, dan lagi-lagi karena keegoisanku, aku menyembunyikan keadaan ini selama yang aku mampu, dengan dalih melakukannya demi kebahagianmu, aku malah membohongi mu sejauh ini " Jelasnya lagi dan membenamkan wajahnya di pangkuan Ruby.


" Harusnya jika itu menyangkut kebahagiaanku ada baiknya kau bertanya padaku lebih dulu karena bahagia menurutmu belum tentu bahagia menurut ku " Jawab Ruby kemudian dan mengelus kepala Rai yang ada di pangkuannya.


" Aku tau aku bersalah, sangat bersalah, tapi mau kah kau memaafkan ku ? Aku sangat benci bertengkar denganmu, rasanya seperti perutku di penuhi cacing yang sedang menari-nari, mual dan tidak nyaman " Ucap Rai lirih, mendongakkan wajahnya dan memasang ekspresi yang paling tulus yang mampu dia pasang.


" Cih " Cibir Ruby namun dia tak mampu menyembunyikan senyumnya mendengar perumpamaan yang di gunakan oleh Rai untuk menggambarkan keadaannya.


" Aku juga minta maaf telah sangat keterlaluan membentakmu " Lanjutnya kemudian.


" Tidak apa-apa, memang aku yang salah, orang bilang tahun-tahun awal pernikahan adalah yang terberat " Jawab Rai asal dan tersenyum bahagia.


" Setiap kehidupan pernikahan itu berat " Ralat Ruby membenarkan pernyataan Rai.


" Terserah kau sajalah. Berjanjilah kau akan menceritakan semua masalahmu padaku, dan aku akan berjanji mulai sekarang aku tidak akan menyimpan rahasia lagi darimu " Balas Rai.


" Ya aku janji " Jawab Ruby lirih.


" Aku sangat mencintaimu Ruby, lebih dari apapun " Ucap Rai semakin mengeratkan genggamannya pada Ruby dan mengecup tangan Ruby.


" Aku juga " Balas Ruby dan tersenyum.


Mendengar hal itu Rai menghembuskan napas lega dan ikut tersenyum.


" Kau tidak tersesat ? " Tanya Ruby basa-basi.


" Itu karena setiap hari rute mu hanya kamar, ruang makan, ruang keluarga dan pintu keluar " Jawab Ruby terkekeh.


" Memangnya kau hafal semua sudut rumah ini ? " Tanya Rai mengejek.


" Aku terkurung di rumah ini setiap hari, jadi mana mungkin aku tidak hafal setiap belokan di rumah ini " Jawab Ruby sombong.


" Cih " Cibir Rai dan kemudian tersenyum senang melihat Ruby sudah kembali ceria.


" Sangat tidak keren ya tersesat di rumah sendiri " Lanjut Rai kemudian mereka tertawa bersama.


" Jadi kita sudah baikan sekarang ? " Tanya Rai.


" Hmm " Jawab Ruby dengan anggukan kepala dan senyuman.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu Kiran yang telah selesai menerima telepon dari Ruby berniat kembali ke mejanya. Namun beberapa wanita datang dan mencegat langkahnya.


" Hei teman-teman, bukankah dia gadis yang bersama laki-laki sombong tadi sore ? " Ucap seorang gadis yang maju perlahan mendekati Kiran.


Kiran tidak mengerti apa yang di ucapkan gadis itu, tapi melihat dari ekspresi wajahnya yang kesal Kiran paham bahwa gadis yang ada di depannya itu sedang kesal. Kiran mengamatinya lekat dan kemudian ingat bahwa itu adalah gadis yang di permalukan oleh Ken saat mereka di restoran cepat saji tadi. Penampilannya jadi sedikit terlihat berbeda karena make up tebal yang di gunakannya.


" Maaf " Hanya itu bisa di ucapkan Kiran dalam bahasa asing yang menjadi bahasa international.


" Oh jadi kau bisa bahasa inggris rupanya " Balas gadis itu dengan senyum miring sombong.


" Hanya sedikit " Jawab Kiran sopan.


" Apa kau kemari dengan teman laki-laki mu itu ? Mana dia ? Berani-beraninya dia sudah membuatku sangat malu tadi " Tanya gadis itu. Namun kemampuan Kiran berbahasa asing yang terbatas membuat gadis di hadapannya menjadi tidak sabaran.

__ADS_1


" Jawab aku " Sentaknya kesal karena Kiran tidak segera menjawab.


" Maaf " Kiran kembali meminta maaf dan menundukkan kepalanya.


" Geezz... dasar bodoh, apa hanya itu yang bisa kau ucapkan ? " Teriaknya semakin kesal dan mendorong bahu Kiran.


Kiran yang takut hanya bisa mundur selangkah demi selangkah saat gadis itu terus saja mendorong bahunya dengan kasar.


" Sudah balas dendam saja padanya atas perlakuan kekasihnya " Ucap teman-teman gadis itu.


" Tentu saja " Jawabnya dan kemudian mengangkat tangannya akan melayangkan tamparannya pada Kiran.


Kiran yang melihat itu pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya takut.


" Hei lepaskan tangan ku " Teriak gadis itu, Kiran yang bingung segera mengangkat kepalanya dan membuka matanya. Ken sudah berdiri diantara gadis itu dan Kiran, dengan memegang tangan gadis yang akan menampar Kiran.


" Kimy " Teriak Brandon lantang saat melihat kejadian itu.


" Ayah ? " Pekiknya terkejut melihat ayahnya datang bersama laki-laki yang ada di hadapannya yang sedang memandangnya penuh kemarahan.


" Jaga tanganmu nona muda, atau kau tidak akan bisa menggunakannya lagi selama sisa hidup mu " Ancam Ken penuh kemarahan dan menepis tangan gadis yang di panggil Kimy itu.


" Maaf tuan Loyard, maafkan putri ku " Ucap Brandon dan menarik Kimy menjauh.


" Aku menghormati anda tuan Hamington, karena kalau tidak aku harap dia bisa menggunakan tangan kirinya dengan baik " Jawab Ken dingin dan langsung menarik Kiran pergi menjauh dari sana. Membawanya pergi kembali ke kamar mereka.


" Sial !! " Teriak Ken penuh emosi dan membanting jas yang langsung di lepasnya begitu masuk ke dalam kamar.


" Tenanglah Ken, tenang " Ucap Kiran mengelus-elus punggung Ken untuk menenangkannya.


" Bagaimana aku bisa tenang saat aku tau ada orang lain yang akan menyakitimu seperti itu ? " Teriaknya masih kesal.


" Dia itu gadis dompet yang ada di restoran cepat saji tadi, aku pikir dia marah karena kau mempermalukannya dan ingin membalasnya kepadaku " Jelas Kiran.


" Kenapa kau diam saja di perlakukan begitu ? Harusnya kau melawannya seperti Ruby, dia tidak pernah membiarkan orang lain menginjak-injaknya " Omel Ken masih kesal.


" Tentu saja Ruby akan melawannya karena dia pandai dalam bela diri, sedangkan aku ? " Balas Kiran.


" Aish kau ini ! " Lirik Ken kesal mendengar jawaban pasrah dari Kiran.


" Memangnya tidak ada yang bisa kau lakukan untuk melawan mereka ? " Tanya Ken ketus.


" Kalau mereka berbicara bahasa yang sama denganku mungkin aku bisa " Jawab Kiran menimbang-nimbang.


" Benarkah ? " Tanya Ken sangsi.


" Benar. Kalau dia berbicara bahasa yang sama denganku, aku akan dengan berani membalasnya " Jawab Kiran meyakinkan.


" Bagaimana caranya ? " Tanya Ken masih sangsi.


" Tak borong sate mu kir " Ucap Kiran dengan mata melotot tajam dan nada suara yang sengaja di buat seseram mungkin.


" Pura-pura kesurupan suketi " Lanjut Kiran seraya tertawa terbahak-bahak.


" Cih " Cibir Ken kesal.


" Sudah jangan marah lagi, kau jelek kalau sedang marah " Goda Kiran.


" Tidak bisa begini, mulai besok aku akan melatihmu bela diri, paling tidak kau bisa melindungi dirimu sendiri dari gadis-gadis kasar seperti mereka " Ucap Ken.


" Siap komandan " Jawab Kiran tegas dan mengangkat tangannya untuk memberikan hormat pada Ken.


" Kalau begitu cium aku sekarang " Ucap Ken.

__ADS_1


" Hei dasar genit " Balas Kiran memukul lengan Ken dan lalu memeluknya.


__ADS_2