
Rai berjalan mendekati Ruby yang sudah duduk berjongkok di depan pintu kamar mereka.
" Ehem ehem " Rai berdehem agar mendapatkan perhatian Ruby.
Ruby mendongakkan kepalanya mencari tau siapa yang berdehem. Melihat Rai yang sedang memasang ekspresi kesal, dia memalingkan wajahnya.
" Kalau kau ingin mengajak bertengkar, lupakan saja, aku sedang tidak berselera " Ruby mengelak malas.
" Kenapa kau pergi meninggalkan sidang itu ? Aku bahkan belum memutuskan hukuman apa yang pantas untuk mereka " Rai menjelaskan ketus.
" Cepat buka pintunya " Ruby menyuruh Rai seakan tidak perduli dengan kata-kata Rai.
Rai menuruti keinginan Ruby, menempelkan kartu akses khusus untuk membuka pintu. Ruby segera merangsek masuk sesaat setelah pintu terbuka, berjalan malas menuju sofa dan merebahkan dirinya disana, memejamkan matanya. Suasana hatinya benar-benar sedang buruk.
" Aku ingin kita segera mengungkapkan pernikahan kita agar orang lain tidak merendahkan mu " Rai memerintah ketus. Dia duduk di sofa sebelah Ruby.
" Apa kau tidak sayang kehilangan penggemarmu seperti Cecil, Ignes atau yang lainnya " Ruby mencibir sinis, menjawab asal.
" Tidak, kenapa aku harus merasa sayang ? " Rai membela diri ketus.
" Seperti nya di sangat cantik, kau bahkan memanggilnya sayang. Wuah kalau tau kau akan memanggilnya sayang di depan semua orang, aku seharusnya menjambaknya lebih keras lagi, kalau perlu membuat rambutnya rontok " Ruby *** jarinya di udara.
Rai salah tingkah melihat Ruby yang seperti sedang cemburu, jauh di lubuk hatinya dia senang melihat Ruby cemburu, tapi di satu sisi dia tidak ingin terus bertengkar dan salah paham.
" Apa kau cemburu ? " Rai bertanya lirih.
" Menurutmu ? " Ruby bertanya malas.
" Kau terlihat cemburu " Rai menjawab yakin.
" Apa kau tidak takut padaku ? Saat melihatmu cemburu aku sangat takut, aku sangat takut kau salah paham dan meninggalkan ku, tapi lihatlah, kau bahkan hanya tersenyum melihatku cemburu " Ruby mengomel.
" Tentu saja aku senang melihatmu cemburu, momen langka melihatmu cemburu, kau selalu saja cuek padaku, tidak peduli berapa banyak wanita yang mengelilingi ku, kau sama sekali tidak cemburu " Rai menjelaskan isi hatinya.
" Baiklah kalau begitu sekarang kau akan melihat, aku juga bisa seseram dirimu kalau sedang cemburu " Ruby menjawab sinis.
" Yaah meskipun aku tidak punya pistol, tidak bisa memecat orang lain seenaknya, tidak... " Omelan Ruby terhenti oleh lumatan bibir Rai.
Ruby mendorong tubuh Rai menjauh.
" Hei setidaknya rayu aku dulu sebelum mencium ku " Ruby protes.
" Baiklah, aku yakin kau akan terpana oleh rayuanku " Rai percaya diri.
" Kita lihat saja " Ruby mengejek.
" Apa kau tau menara eiffel ? " Rai bertanya tegas.
" Ya " Ruby menjawab heran.
__ADS_1
" Apa kau tau taj mahal ? " Rai bertanya lagi.
" Ya " Jawab Ruby semakin heran.
" Hei aku menyuruhmu merayu bukannya bermain tebak-tebakan " Ruby menjawab ketus.
" Lalu kenapa kau bisa tidak tau kalau aku sangat mencintai mu ? " Rai mengeluarkan rayuan yang sebenarnya.
Wajah Ruby merona mendengar rayuan Rai yang sederhana. Jantungnya berdegub kencang.
" Bagaimana rayuan ku ? " Rai bertanya antusias.
" Cih " Ruby memalingkan wajahnya, malas mengakui bahwa rayuan Rai sangat berkesan.
Melihat Ruby yang merona malu tanpa basa basi Rai segera mencium bibir Ruby, mendorong tubuhnya pelan hingga berbaring di sofa. Tangannya yang bebas menyusup masuk kedalam baju Ruby. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam.
Tiba-tiba ketukan pintu mengejutkan mereka. Membuat mereka menghentikan aktifitas intim mereka.
" Aku akan menghajar siapapun itu kalau tidak penting " Rai bangkit dan berjalan membuka pintu dengan marah.
Ken sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum lebar. Rai menghela nafas kesal. Tanpa di persilahkan Ken sudah menerobos masuk.
" Aku punya berita buruk dan baik untuk kalian berdua " Ken menjelaskan kedatangannya setelah sampai di depan Ruby.
Rai yang baru selesai menutup pintu dan sudah kembali duduk di sofa sebelah Ruby, menatap Ken bingung.
" Kalian ingin dengar yang mana dulu, berita baik atau buruk " Ken tidak menghiraukan pertanyaan Rai.
" Baik dulu " Jawab Ruby malas, suasana hatinya sudah buruk, dia tidak ingin ditambah dengan berita buruk.
" Pernikahan kalian akan segera terbongkar, jadi kau bisa tersenyum bahagia " Ken menunjuk Rai yang masih tidak mengerti maksudnya.
" Berita buruknya ? " Ruby bertanya memotong.
" Pernikahan kalian akan segera terbongkar, jadi kau bisa tersenyum masam sekarang " Ken menunjuk Ruby yang sudah terlihat pucat, kemudian tergelak.
" Hei kau ini, apa bedanya berita itu untuk kami " Ruby bertanya ketus.
" Tentu saja berbeda, bagi kakak ku ini akan jadi hari yang bahagia, tapi bagimu ini akan jadi seperti... ujian kesabaran " Ken terkekeh menjelaskannya.
" Apa maksudmu ? " Rai masih berusaha mencerna kata-kata Ken.
" Foto kalian sangat sempurna untuk menjadi tajuk utama di berita online " Ken mengeluarkan ponselnya dan mencari artikel berita itu.
" Apa nya yang... " Ruby berusaha mencerna kata-kata Ken yang sudah menyodorkan ponselnya kepada Rai.
Rai menerima dan membaca artikel online dari ponsel Ken. Foto mereka sedang berpelukan memasuki hotel menjadi berita utamanya. Ruby yang penasaran segera merebut ponsel Ken.
Rai J Loyard kedapatan sedang memasuki hotel dengan seorang gadis, siapakah gadis itu.
__ADS_1
Begitu judul artikel itu. Terlampir foto mereka yang baru saja keluar dari mobil dan Ruby yang di peluk erat oleh Rai.
" Itu lah alasan kenapa restoran pagi ini sangat ramai oleh penggemarmu, melihat kau yang sudah tidak pernah terlihat di club atau hotel lagi selama beberapa bulan terakhir, tentu saja mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan mu kali ini " Ken menjelaskan kepada Rai.
" Dan itu juga alasan kenapa para gadis itu menyerangmu, karena wajahmu terlihat jelas di situ sebagai tersangka yang merebut idola mereka " Ken terkekeh menjelaskannya kepada Ruby.
" Ini tidak bisa di hindari lagi Ruby, kau tau itu. Cepat atau lambat memang kita harus mengumumkan pernikahan kita karena kau juga sudah hamil, tidak mungkin kau terus mengaku masih sendiri dengan perut buncit berisi bayi " Rai menyakinkan Ruby.
Ruby menghela nafas panjang, dia tau suatu saat hari seperti ini akan datang, yang perlu dia lakukan hanya menambah jumlah stok sabarnya.
" Ya sepertinya memang begitu " Ruby menjawab malas, dia sudah tidak bisa menghindar lagi.
" Baiklah aku akan mengatur konferensi pers untuk kalian nanti malam di gedung pertemuan lantai 2 " Ken menawarkan.
" Atur saja sesuka mu " Rai menjawab malas.
Ruby larut dalam pikirannya, bayangan para wanita-wanita tadi berkelebat, lalu Ignes yang sedang marah, dan belum lagi tatapan sinis dari orang-orang di luaran sana. Dia menghela nafas kasar, putus asa, berakhir sudah kehidupan normalnya, setelah ini pasti akan ada banyak mata yang mengawasi setiap gerak geriknya, berusaha mencari celah kesalahannya untuk di jadikan bahan gosipan.
" Baiklah aku akan menemui menager hotel agar mempersiapkan semuanya " Ken pamit undur diri, berjalan menuju pintu, membukanya dan pergi menghilang dari pandangan karena terhalang oleh pintu yang tertutup.
Rai yang melihat ekspresi sedih Ruby mendekat padanya, merangkulkan lengannya ke pundak Ruby.
" Jangan khawatir, ini tidak akan seburuk bayanganmu, lihat saja mereka akan menghormatimu mulai dari sekarang, bila perlu mereka akan terbungkuk bungkuk saat berpapasan denganmu " Rai berusaha menghibur Ruby.
Dia kemudian mencium pipi Ruby, terlihat jelas bekas merah berbentuk telapak tangan di pipinya, membuat Rai heran.
" Kenapa pipimu ? " Tanya nya curiga.
" Wanita bernama Cecil itu menyebutku pelacur dan menamparku karena aku menginap disini denganmu " Ruby menjawab Rai asal, dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri tentang acara nanti malam, sehingga tidak bisa mengontrol apa yang dia ucapkan.
" Apa ?!? " Rai berteriak menahan geram, membuat Ruby terlonjak kaget.
" Ada apa ? " Tanya Ruby heran.
" Berani-beraninya mereka menamparmu. Hei kau kan bisa bela diri, kenapa tidak membalas mereka ? " Rai memarahi Ruby.
" Kau tidak lihat tadi aku sudah menghajar mereka ? " Balas Ruby sengit.
" Mereka bercerita kalau kau duluan yang memulai keributan, tentu saja aku tidak percaya, tapi mereka tidak bilang kalau dia sudah berani-beraninya menamparmu. Aku harus membalas mereka dengan sangat kejam, tidak akan ku maafkan " Rai menjadi sangat emosi membayangkan kejadian tadi, dia mengelus pipi Ruby tepat di bekas tamparan yang masih terlihat merah di wajah putih Ruby.
" Sudahlah lupakan, itu hanya masalah kecil " Ruby mengabaikan amarah Rai.
" Beritahu padaku tangan sebelah mana yang dia pakai untuk menamparmu ? " Tanya Rai tajam.
" Aku akan mematahkannya untuk mu "
Ini tidak akan cukup hanya menyuruhnya berlutut, aku akan membuatnya malu di depan semua orang.
Seringai Rai menyeramkan.
__ADS_1