
Apa kau kekurangan sesajenmu wahai suketiiii.
Ken menatap Kiran dengan pasrah, sudah tidak tau lagi caranya menghadapi Kiran yang sedang aneh. Dia mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
" Baguslah kalau kau percaya " Jawab Kiran ketus, lalu kembali duduk di samping Ken.
" Ngomong-ngomong apa ada murid yang datang padamu memberikan keluhannya tentang aku ? " Tanya Kiran kembali membahas topik rawan yang menjadi asal muasal pertengkaran mereka.
Murid-murid lagi yang di bahas. Dia sepertinya sedang sensitif jadi lebih baik aku mengalihkan perhatiannya saja.
Batin Ken memutuskan.
" Mm.. sayang bagaimana kalau nanti sore kita jalan-jalan ? " Tawar Ken santai kemudian merangkulkan tangannya ke pundak Kiran dan mengusap-usapnya lembut.
" Kenapa kau mengalihkan pembicaraan ? Kau sudah tidak mau mendengarkan cerita-cerita ku lagi ? " Tanya Kiran ketus.
" Bukan tidak mau sayang, aku hanya tidak suka kau menceritakan orang lain yang tidak penting " Jawab Ken dengan hati-hati.
" Jadi menurutmu cerita ku tidak penting begitu ? " Suara Kiran mendadak berubah dari semula yang ketus kini terdengar bergetar seperti menahan tangis.
Yaah kan salah lagi, salah lagi.
Ken memejamkan matanya lalu menghirup napas dalam, meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi stok kesabarannya dalam menghadapi sikap aneh Kiran yang tidak biasanya itu.
" Aku bukannya bilang cerita mu tidak penting sayang, aku cuma ingin bilang jangan menceritakan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita, kan lebih baik membahas tentang kita berdua, lebih bermanfaat " Jelas Ken dengan pelan-pelan dan sabar.
" Tapi murid ini ada hubungannya dengan ku, teman tapi mesra Dylan bilang kalau ada satu murid perempuan yang cemburu melihat kedekatan ku dengan Dylan, jadi dia berniat mengadukan ku padamu. Makanya aku tanya apa ada yang datang menyampaikan keluhannya pada mu atau tidak, tapi kau malah bilang kalau ceritaku tidak penting " Tanya Kiran dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.
" Iya iya maafkan aku ya sayang, aku bukan bermaksud menganggap cerita mu tidak penting, maksudku yang tidak penting adalah si murid itu " Jelas Ken masih berusaha sabar.
" Kenapa ? " Tanya Kiran dengan polos.
" Ya dia itu tidak penting. Karena meskipun dia mengadukan mu pada ku, aku tetap tidak akan menggubrisnya " Jawab Ken santai seraya mengangkat bahunya.
" Sungguh ? " Tanya Kiran masih belum percaya.
" Tentu saja, untuk apa aku menggubrisnya. Kan aku tau kau memang dekat dengan Dylan karena kita semua saudara " Jawab Ken tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kiran.
" Sudah ya jangan marah lagi, senyum dong " Rayunya mencubit pelan pipi Kiran.
" Kau ini " Kiran memukul lengan Ken pelan dan tersenyum malu-malu.
Dia ini sebenarnya kenapa sih ? Aku harus mencari tau sebabnya atau aku bisa berada dalam bahaya jika sikapnya terus menerus tidak jelas begini.
Batin Ken memastikan.
Setelah berhasil merayu Kiran, Ken pun melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Sementara Kiran yang sudah merasa baikan sedang bermain-main dengan ponselnya.
" Sudah selesai " Ucap Ken kemudian menutup laptop dan membereskan barang-barangnya.
" Jangan lupa mampir ke kafe depan ya " Ulang Kiran begitu melihat Ken berjalan mendekat ke arahnya.
" Iya iya, ayo " Ken mengulurkan tangannya untuk membantu Kiran berdiri. Dan mereka pun pergi keluar ruangan bersama-sama.
Mereka berdua berjalan menuju mobil Ken yang terparkir di area parkir khusus. Setelah membukakan pintu untuk Kiran Ken pun berjalan memutar dan masuk ke dalam kursi pengemudi.
Ken melajukan mobilnya dengan pelan menuju gerbang depan sekolah, keluar dari area sekolah, berjalan lurus sebentar dan kemudian membelokkan setirnya memasuki area parkir kafe yang memang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari sekolah.
Cafe itu cukup ramai di kunjungi murid-murid sepulang sekolah, tempatnya sangat khas anak muda dan memiliki spot yang bagus untuk berfoto-foto ria.
" Kau saja ya yang turun, aku sedang malas " Ucap Kiran tiba-tiba saat mobil telah berhenti di depan cafe.
Ken menghela napas lagi, berusaha tetap tersenyum dan menuruti permintaan Kiran.
" Baiklah, dalgona cofee yang seperti apa yang ingin kau minum ? " Ken menanyakan pesanan Kiran.
" Dalgona yang biasanya " Jawab Kiran santai.
" Aku tidak mengerti kau biasanya memesan apa " Jawab Ken dengan rasa sabar yang semakin menipis.
" Bilang saja kalau Kiran yang pesan, nanti pelayannya akan mengerti, ini kartu member cafe ku, serahkan saat membayar, biar kupon digitalnya bisa masuk, kan lumayan kalau nanti aku sudah membeli 10 dalgona bisa gratis satu porsi lagi " Terang Kiran menggebu-gebu.
Ken yang mendengarkan hal itu hanya menggelengkan kepalanya, untuk apa Kiran repot-repot mengumpulkan kupon jika dia bisa minum dalgona kapan pun dia mau. Tinggal bilang saja pada Pak Handoko pasti para koki akan membuatkannya.
" Ok siap " Jawab Ken singkat seraya mengambil kartu dari tangan Kiran.
" Jadi aku hanya perlu bilang dalgona cofee seperti yang biasa di pesan Kiran, begitu kan ? " Ken bertanya sekali lagi memastikan pesanannya.
" Yup tepat sekali " Angguk Kiran dengan semangat. Dia memang sering kesini saat jam istirahat dengan para guru yang lain, untuk sekedar makan cake atau minum kopi. Dan pramusaji di cafe ini sudah sangat hapal dengan geng Kiran.
Ken memang tidak membatasi pergaulan Kiran karena dia tau masa lalu Kiran yang sudah cukup suram tanpa teman seorang pun. Jadi sekarang saat Kiran sudah mulai bangkit dengan rasa percaya dirinya, Ken tidak ingin mengekangnya seperti yang di lakukan Rai kepada Ruby.
Dia hanya perlu mengawasi Kiran seperlunya saja. Toh menurutnya Kiran bukan tipe orang yang neko-neko. Jadi saat mereka sama-sama berada di sekolah, mereka akan bekerja dengan profesional layaknya seorang atasan dan bawahan di tempat kerja.
Dengan gayanya yang santai Ken keluar dari mobil, berjalan memasuki cafe. Terdengar bunyi gemerincing lonceng yang di pasang di atas pintu masuk begitu Ken membukanya.
" Sela...mat siang " Pramusaji yang tadinya menyapa dengan ramah itu langsung melongo begitu melihat Ken yang berjalan semakin mendekat menuju meja pemesanan dan akhirnya saling berhadapan dengannya. Bagaimana tidak, Ken seperti semangkok es campur di siang hari, terlihat sangat menyegarkan dan menggiurkan. Kemana pun dia berjalan seperti ada sinar yang menyilaukan mata yang terpancar dari arahnya.
" A-ada yang bisa di bantu ? " Sapa pramusaji itu gelagapan sendiri.
Dia terus saja memandangi Ken dengan takjub. Berbeda dengan wajah-wajah anak sekolahan yang biasa dilihatnya, jika di ibaratkan dengan buah maka Ken adalah buah yang hanya di jual di supermarket besar. Mungkin sama-sama jenisnya, tapi bungkusannya yang membedakan. Ken seperti buah yang di bungkus dengan plastik wrap dan di beri pita pemanis, sedangkan yang lainnya seperti buah yang hanya di masukkan ke dalam kantong plastik.
Ken yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang melekat pas di tubuhnya itu tentu saja berbeda dengan seragam anak sekolahan yang di balut jaket berukuran oversize.
__ADS_1
" Aku pesan dalgona cofee " Jawab Ken ramah membalas senyuman pramusaji tersebut.
" Pesan dalgona cofee yang apa ? Kebetulan hari ini kami baru saja meluncurkan varian baru yaitu dalgona cheese " Tawar pramusaji itu riang seraya menunjukkan deretan menu yang ada di depan Ken.
" Aku pesan yang biasa di pesan Kiran " Jawab Ken sesuai perintah Kiran, tidak kurang tidak lebih.
" Kiran ? " Pramusaji itu mengernyitkan keningnya bingung.
" Kiran siapa ya ? " Tanyanya kemudian.
" Ah ya ini " Ken baru teringat sesuatu, dia kemudian mengulurkan kartu member yang di berikan oleh Kiran.
" Dia bilang kalau aku menunjukkan kartu ini kau akan paham " Jawab Ken santai.
" Ah ya baiklah " Pramusaji itu mengambil kartu member Kiran dan menscan barcodenya. Dilayar monitor yang di hadapnya saat ini tampil daftar riwayat pemesanan Kiran.
" Nona Kiran biasanya memesan dalgona mocha, mau saya buatkan yang itu saja atau ada tambahan yang lain ? " Tawarnya khas seorang pramusaji.
" Tidak itu saja " Jawab Ken santai.
" Anda pasti teman kerja bu Kiran ya ? " Tanya pramusaji itu tiba-tiba sambil membuatkan pesanan Ken.
" Ya " Jawab Ken singkat, merasa tidak nyaman jika ada yang sok kenal dengannya.
" Kenapa anda tidak pernah ikut kesini ? Bu Kiran dan juga guru-guru yang lainnya sering kesini " Tanya pramusaji itu lagi.
" Tidak " Ken mulai menunjukkan ekspresi wajah datarnya.
" Anda guru apa ? " Seperti berusaha ingin berkenalan dengan Ken, pramusaji itu terus melontarkan pertanyaan padanya.
" Guru biasa " Jawab Ken malas. Dia merasa tidak perlu mengumumkan identitasnya pada semua orang yang bertanya, toh mereka hanya bertemu sekali saja, begitu pikir Ken.
" Oh begitu ya " Gadis pramusaji itu tersenyum lebar.
" Ini pesanan anda " Dia menyodorkan segelas besar dalgona cofee yang langsung di sambut Ken dengan rutukan dalam hati. Sial gara-gara di tanya-tanya terus jadi lupa kalau harus pesan setengah porsi saja.
Nasi sudah menjadi bubur, mungkin itu rezeki Kiran begitu pikir Ken, dia lalu mengambil dompetnya, membukanya dan mengeluarkan kartu kreditnya.
" Berapa ? " Tanyanya singkat.
" Dua puluh ribu " Jawab Pramusaji itu dengan senyumnya yang masih terkembang.
" Bayar cash atau pakai kartu ? " Tanyanya lagi.
" Kartu. Ini " Ken mengulurkan kartu kreditnya dan pramusaji itu mengambilnya.
Setelah menggesekkan kartunya dan menekan layar monitor mesin kasir, dia mengembalikan kartu itu kepada Ken beserta dengan struknya.
" Eh tunggu dulu kak " Cegat pramusaji itu. Ken memincingkan matanya bingung.
" Apa kakak tidak mau daftar jadi member di cafe ini ? Akan ada banyak potongan, juga promo menarik lainnya. Bu Kiran dan guru-guru yang lainnya sudah mendaftar menjadi membernya loh " Tawar pramusaji itu dengan maksud bisa mendapatkan nomor ponsel Ken secara halus.
Namun Ken yang tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
" Permisi " Pamitnya pergi begitu saja meninggalkan gadis itu dalam keadaan kecewa.
Dengan buru-buru dia berjalan keluar dari cafe dan menuju mobilnya.
" Nih pesanan mu " Ken mengulurkannya pada Kiran begitu telah masuk ke dalam mobil.
" Lama sekali sih, kau ngobrol dulu ya dengan pramusajinya " Bukannya ucapan terima kasih malah tuduhan yang tidak benar yang di terima Ken.
" Tidak " Jawab Ken santai.
" Cih " Cibir Kiran ketus.
" Padahal aku melihat mu senyum-senyum dengannya " Gumam Kiran pelan kemudian meminum dalgonanya.
" Hmm... " Pekik Kiran tiba-tiba.
" Ada apa ? " Ken yang baru saja akan menginjak pedal gas itu pun terhenyak kaget dan berganti menginjak pedal rem secara reflek.
" Kenapa krimnya banyak sekali sih, jadi enek " Omel Kiran seraya mengangkat gelas plastik transparan yang di pegangnya tersebut. Memutar-mutarnya untuk memeriksa isinya.
" Ya mana ku tau, aku pesan sesuai dengan perintah mu " Jawab Ken bingung tidak paham apa yang bereda dari minuman itu.
" Kau tidak lihat ini ? " Kiran menyodorkan gelasnya ke arah Ken.
" Ini di beri tambahan krim kocok " Tunjuknya ke arah busa putih yang ada di atas busa berwarna coklat di dalam gelas itu.
" Memangnya kenapa sayang ? " Tanya Ken mulai tidak sabaran.
" Ya rasanya jadi tidak enak, terlalu manis " Dia memberengut kesal dan meletakkan gelas minumannya di tempat wadah gelas yang ada di dekat perseneling mobil.
Ken menghela napas lagi, sudah tidak tau bagaimana lagi menghadapi Kiran dengan suasana hatinya yang mendadak berubah jadi gampang emosi begitu.
" Kau mau beli lagi ? " Tawar Ken memutuskan.
" Tidak mau, aku sudah tidak berselera minum dalgona cofee " Jawabnya kesal.
" Yakin ? " Ulang Ken memastikan.
" Iya sudah ayo cepat pulang " Jawab Kiran dengan cemberut.
__ADS_1
" Ok sesuai perintah mu " Jawab Ken kemudian segera melajukan mobilnya meninggalkan cafe tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang Kiran terus saja diam cemberut. Ken yang tidak ingin berada dalam masalah itu pun lebih memilih bungkam saja. Belum pernah di lihatnya Kiran secerewet ini. Selama ini baginya Kiran adalah sosok yang sangat pas melengkapi dirinya.
Dia adalah wanita tersabar yang pernah di temui Ken, yang bisa menerima semua tingkah konyolnya yang terkadang di luar akal sehat tanpa protes pula. Makanya Ken sedikit kebingungan saat menghadapi sisi lain dari Kiran yang seperti ini.
" Sudah menunggu lama, pesanannya salah pula " Omel Kiran akhirnya membuka mulut mengeluarkan kekesalannya.
" Maaf ya sayang, nanti sampai rumah aku akan menyuruh para koki membuatkan mu dalgona yang lebih enak daripada yang ini. Ok " Rayunya dengan lembut.
" Janji ya ? " Tuntut Kiran memastikan.
" Tentu saja sayang, sudah ya jangan cemberut lagi. Kau jadi makin cantik kalau sedang cemberut " Goda Ken mengulurkan tangannya ke samping dan mencubit pipi Kiran.
" Cih " Cibirnya malu-malu.
Suasana hati Kiran sudah kembali membaik, sepanjang perjalanan dia terus bercerita tentang Dera dan juga Blair serta kejadian di kantin tadi.
" Kalau kau lihat tatapan matanya padaku, kau pasti yakin seribu persen kau dia tidak suka aku ikut bergabung disana, padahal aku hanya berniat menggoda Blair. Tidak mungkin juga aku akan makan siang dengan sepasang teman tapi mesra itu " Oceh Kiran dengan mengebu-gebu.
" Oh ya ? " Sedari tadi hanya itu kalimat yang di ucapkan Ken untuk merespon cerita Kiran. Dia tidak ingin terlalu banyak bicara yang nantinya malah akan membuat Kiran kembali ke mode gahar lagi jika sampai dia salah sedikit saja dalam kata-katanya.
" Tapi Blair itu ternyata sangat lucu, awalnya ku pikir saat aku melihatnya di majalah atau di tv dia terlihat dewasa dan apa ya... powerfull begitulah. Tapi justru sebaliknya, dia sangat polos dan juga menggemaskan. Pantas saja Dylan di buat mati gaya olehnya " Kiran kemudian tertawa yang di susul dengan tawa Ken. Memilih jalur aman, Ken akan mengikuti semua ekspresi yang di perlihatkan oleh Kiran. Jika Kiran tertawa dia akan ikut tertawa, jika Kiran kesal dia juga akan ikut kesal.
" Menurut mu Dylan akan memilih siapa ? Blair atau Dera ? " Tanya Kiran tiba-tiba.
Ups !! Gawat. Aku tidak mengira akan ada pertanyaan di dalam ceritanya.
Batin Ken gelisah, dia takut salah bicara.
" Entahlah sepertinya memilih Blair " Jawab Ken ragu-ragu.
" Oh ya ? Kenapa menurutmu begitu ? " Tanya Kiran lagi.
Ken semakin gelisah, jika dia bisa selamat di pertanyaan pertama bukan berarti dia akan selamat juga di pertanyaan kedua.
" Karena cantik mungkin " Jawab Ken hati-hati. Dia hanya menjawab secara asal, karena yang memang menonjol dari Blair adalah kecantikannya.
" Oh jadi tipe mu yang seperti Blair ? " Tanya Kiran mulai terdengar berbeda.
" Ti-tidak kenapa jadi aku, kan tadi kau bertanya alasan kenapa Dylan memilih Blair " Ralat Ken membela diri.
" Ya kan bisa kau jawab kalau Blair pintar atau lucu atau imut, kenapa harus cantik ? " Kiran menyilangkan tangannya di dada dan menatap Ken dengan tajam.
" Ya sudah aku ralat jawabanku, karena dia lucu dan imut " Ucap Ken mengalah.
" Ih kau ini, bisa-bisanya memuji perempuan lain di depan ku, tidak menghargai perasaan ku sama sekali " Omel Kiran kesal lalu membuang wajahnya menghadap keluar jendela.
" Hei kan tadi kau yang menyuruhku menjawab begitu " Teriak Ken kehabisan kesabaran.
" Kenapa kau malah membentak ku ? " Suara Kiran bergetar dan perlahan kemudian terdengar suara isak tangisnya mulai pecah.
" Bu-bukan begitu sayang, aku tidak membentak mu, aku hanya... " Ken mulai panik tapi dia harus terus berkonsentrasi menyetir. Jadi dia semakin menambah kecepatannya agar bisa segera sampai di rumah.
" Aku saja selalu menerima mu apa adanya dan tidak pernah protes dengan apapun yang kau lakukan, tapi inikah balasan mu ? " Isaknya semakin kencang.
Ken yang sudah kebingung tidak tahu harus berbuat apalagi mengusap wajahnya dengan satu tangan. Menghadapi Kiran yang begini bisa-bisa dia bertambah lima tahun lebih tua dengan cepat.
" Sayang... sayang dengarkan aku dulu, jangan menangis lagi " Ken mengusap kepala Kiran dengan lembut untuk menenangkannya, namun Kiran malah menepis tangannya dengan keras.
" Sudah jangan pegang-pegang, malam nanti kau tidur saja di kamar lain " Perintahnya ketus.
" Jangan, ku mohon. Ya ? Ya ? " Ucap Ken memelas.
" Tidak, pokoknya kau tidur di kamar lain. Awas kalau kau datang ke kamar kita " Ancamnya mendelik kesal lalu membuang muka.
Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sedang di liputi emosi, begitulah pikir Ken. Dia lebih memilih mengalah dan menutup mulutnya agar keadaan tidak semakin runyam.
Mobil yang di kemudikan Ken akhirnya memasuki gerbang mansion dan berhenti tepat di belakang mobil milik Rai yang sudah lebih dulu sampai.
Masih dengan marah Kiran membuka sendiri pintu mobilnya, membuat Ken semakin merasa bersalah karena telah membuatnya menangis.
" Sayang ini dalgona mu " Teriak Ken saat Kiran sudah berjalan menjauh.
" Buang saja ke laut " Teriak Kiran acuh dan terus saja berjalan meninggalkan Ken.
Ken menghela napas frustasi, semalam Kiran bertingkah aneh, paginya dia normal, lalu siangnya aneh lagi, semoga malam nanti dia sudah kembali normal dan mereka bisa berbaikan, harap Ken dalam hati.
Dengan lemas dan malas dia berjalan masuk ke dalam rumah, tak lupa memberikan dalgona itu kepada seorang pelayan yang kebetulan lewat di depannya.
" Tolong buangkan ini " Ucapnya mengulurkan gelas itu.
" Baik tuan " Pelayan itu menerimanya dengan sopan dan membawanya pergi.
Sambil berjalan menuju ruang keluarga dia mengambil ponselnya dan menghubungi Ruby.
" Kakak ipar tolong aku " Suaranya terdengar sangat mengenaskan membuat Ruby yang sedang menunggu Raline bersama Adelia dan kedua pelayannya itu terlonjak kaget.
" Kau kenapa ? " Tanyanya panik.
" Aku sedang di hantui suketi " Jawabnya asal dan menghempaskan tubuhnya dengan keras ke sofa besar yang ada disana. Setelah mendengar jawaban dari Ruby dia menutup teleponnya dan mengangkat lengannya untuk menutupi wajahnya.
Apa ini yang di namakan karma ya ? Biasanya aku yang mengerjai Kiran, kenapa sekarang rasanya aku yang seperti sedang di kerjai Kiran ya ?
__ADS_1