
Ignes keluar dari toilet, dia membanting pintunya. Tina menempelkan telinganya di pintu, merasa suasana sudah sepi dia bernafas lega. Mengambil ponselnya dari saku dan dengan cepat menghubungi Ruby.
Ponsel Ruby berbunyi, dia melihatnya. Tina. Dia yang sedang kesal karena Rai menolaknya bahkan setelah Ruby menawarkan itu, tiba-tiba ide licik muncul di kepalanya.
" Hallo Daniel ada apa mencariku ? " Ruby menggoda Rai.
Rai yang mendengar Ruby mengangkat telfon dari Daniel terkejut, dia melempar berkasnya dan meraih ponsel Ruby dengan cepat.
" Berani - berani nya kau, jaga sikap mu Ruby !!! " Rai berteriak keras, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Tina di ujung telfon yang juga mendengar teriakan Rai menjauhkan ponsel dari telinganya.
Rai kemudian membanting ponsel Ruby dan menginjak-injaknya jadi pecahan. Ruby terkejut dengan reaksi Rai.
" Hei kenapa membantingnya, itu tadi Tina " Ruby menjelaskan putus asa melihat ponselnya yang hancur.
" Jangan berbohong !!! " Rai berteriak tidak percaya.
" Kalau tidak percaya panggil saja Tina kemari dan dengar sendiri dari mulutnya " Ruby menjawab sinis.
" Kau !!! " Rai menahan geram melihat Ruby.
" Aku minta maaf karena menggodamu sedikit keterlaluan " Ruby menjawab lirih, dia tersenyum masam.
" Baiklah aku akan pergi mencari Tina dulu " Ruby berdiri, dia akan pergi meninggalkan ruangan.
Rai menarik tangannya membuatnya jatuh terduduk.
" Suruh Tina kesini, kau pikir aku semudah itu mempercayaimu " Rai melempar ponselnya ke arah Ruby.
" Aku tidak tau nomor ponselnya, aku tidak hafal " Ruby menjawab cepat.
Rai segera meraih ponselnya lagi, dia menghubungi seseorang.
" Cari dan bawa Tina dari divisi cleaning service ke ruangan ku sekarang, dalam 5 menit " Rai memerintah keras.
" Kenapa kau melakukan itu ? Kau tau aku sangat benci kau membuatku cemburu seperti itu " Rai memarahi Ruby.
" Kenapa kau tidak memperhatikanku ? Apa berkas - berkas itu lebih penting di banding aku ? " Ruby membalas ketus.
" Kau tau suasana hati ku sedang sangat buruk, apalagi Ignes yang mencoba memprovokasi ku untuk cemburu denganmu " Ruby bergumam lirih.
" Apa ? Ignes melakukan apa ? " Rai duduk disamping Ruby dan memeluk tubuh mungil Ruby, menariknya mendekat ke dadanya.
" Yah kau tau dia membual tentang hubungan kalian di masa lalu, mengatakan bahwa dia sangat mengenalmu dan jika aku butuh bantuan aku bisa bertanya padanya " Ruby menjelaskan kesal.
" Jangan dengarkan dia, dia pembohong " Rai menjawab.
" Tentu saja aku tidak percaya padanya, dia pikir aku tidak tau bagaimana hubungan kalian dulu " Ruby menjawab sinis.
__ADS_1
" Baguslah, kau memang cerdas " Rai mencium kening Ruby.
" Baiklah karena kau sudah bersikap cerdas maka aku akan mengabulkan permintaanmu, tidak baik menolak keinginanmu yang sedang hamil " Rai tersenyum menjawab Ruby.
" Apel ? " Ruby bertanya heran dengan jawaban Rai.
" Bukan tapi itu " Rai langsung melumat bibir Ruby tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab.
Ruby membalas ciuman dari Rai. Dia memeluk erat punggung Rai. Mereka terhanyut dalam suasana romantis setelah pertengkaran. Rai membuka sisa kancing baju Ruby, dengan tetap melumat bibirnya.
Kancing baju Ruby sudah terbuka semua, memperlihatkan tank top berenda Ruby yang semakin menggoda nafsunya. Dia mengalihkan ciumannya ke leher Ruby, membuat tanda merah di sana sini.
" Bolehkah aku melakukannya ? Aku janji akan pelan dan lembut " Rai bertanya, wajahnya merah menahan nafsu.
" Kita coba saja " Ruby menjawab lirih dan tersenyum.
Rai menyusuri tubuh Ruby dengan tangannya, bibirnya kembali mencium bibir Ruby. Nafas mereka terengah-engah karena ciuman yang intens.
" Tok tok tok " Terdengar ketukan pintu yang membuat mereka terkejut.
Rai mengabaikannya dan mencium Ruby lagi, dia sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi. Ruby mendorong pelan tubuh Rai.
" Itu pasti Tina " Ruby berbisik lirih.
" Selalu saja ada pengganggu " Rai bersungut kesal. Dia kemudian melepaskan pelukannya pada Ruby.
" Masuk " Perintah Rai dingin.
Tina membuka pintu perlahan dan masuk dengan gugup. Dia melihat Ruby dan Rai yang sedang duduk di sofa.
Ruby yang melihat Tina ketakutan segera berdiri dan menghampirinya. Menggandengnya agar duduk di sofa.
" Apa kau yang menelfon ? " Rai bertanya tanpa basa basi, nada suaranya sudah kembali dingin dan terdengar kejam.
" Iya tuan " Tina menjawab terbata-bata.
" Bagaimana aku percaya itu kau ? " Tanya Rai curiga. Tina menatap Ruby heran tidak mengerti maksud pertanyaan Rai.
" Periksa saja ponselnya, apa benar dia menelfonku barusan " Ruby menjawab santai.
" Kemarikan ponselmu " Rai memintanya. Tina mengeluarkan ponsel dari sakunya dengan berhati-hati dan menyerahkannya pada Rai dengan tangan gemetar.
Rai mengambilnya dan memeriksa, lalu melemparkan ponsel itu ke meja.
" Kenapa kau menelfon ? " Rai bertanya melanjutkan karena ternyata benar yang menelfon adalah Tina.
" Saya mendengar Manager Utama menelfon seseorang dan memerintahkannya untuk melenyapkan Ruby " Tina menjawab gugup.
" Apa ? " Ruby dan Rai terkejut bersamaan.
__ADS_1
" Apa kau yakin yang kau dengar ? " Tanya Rai menyelidik.
" Benar tuan saya berani bersumpah, saya mendengarnya tadi di toilet perempuan " Tina menjelaskan detailnya.
" Sial " Rai mengumpat kesal.
Ruby terlihat pucat, yang dia takutkan sepertinya terjadi. Firasatnya tepat, Ignes tidak akan mungkin semudah itu menerima Ruby sebagai istri Rai.
" Kau jangan khawatir, aku akan melindungimu dan segera menyingkirkan Ignes " Rai menenangkan Ruby yang terlihat khawatir.
" Dan kau, aku perintahkan kau mulai sekarang menempel terus di sebelah Ruby, aku akan memberikanmu nomor ponselku, kalau terjadi sesuatu yang mencurigakan segera hubungi aku " Rai memerintah kepada Tina, yang di jawab dengan anggukan.
" Aku akan memberikan pengawal untukmu, untuk menjagamu tetap aman " Rai berkata pada Ruby.
" Tidak perlu, aku akan baik-baik saja. Kalau kau memberikan ku pengawal Ignes akan semakin siaga, dan kita tidak tau rencana selanjutnya apa, kita harus berpura-pura mengikuti permainannya, jadi kita bisa tau apa rencananya " Ruby memberikan pendapatnya.
" Kau benar juga, tapi aku tidak akan membiarkanmu tidak aman, kau kembali saja kerumah, dengan begitu Ignes tidak akan bisa menyentuhmu " Rai memerintah Ruby.
" Aku tidak mau. Percayalah padaku, dia tidak akan bisa melukaiku di club, dan saat pulang kerja aku akan langsung pulang kerumah, jadi dia tidak akan ada kesempatan untuk melukaiku " Ruby meyakinkan.
" Baiklah untuk saat ini, aku akan mengizinkanmu, tapi kalau situasi semakin berbahaya kau harus segera tinggal saja di rumah " Rai memerintah Ruby dan di jawab dengan anggukan.
Aku akan memikirkan langkah selanjutnya, aku akan mendiskusikan ini dulu dengan Ken.
Rai mencium kening Ruby.
" Baiklah kau boleh pergi " Rai memerintah Tina.
" Tapi ingat perintahku, menempel terus pada Ruby " Rai mengingatkan.
Tina bangkit dan mengambil ponselnya di meja, dia segera pergi meninggalkan ruangan. Tapi Ruby juga segera berdiri, dia ingin tau lebih lanjut dari Tina sendiri dengan suasana yang sepi dan santai.
" Tunggu Tina " Ruby memanggil Tina yang sudah membuka pintu, membuatnya menghentikan langkahnya.
" Maaf Rai aku bekerja dulu " Ruby segera pergi meninggalkan Rai yang masih termenung dengan pikirannya.
Dia menggandeng tangan Tina dan menyeretnya keluar dengan cepat. Menutup pintu dengan hati-hati.
" Hayo kau sedang melakukan apa tadi dengan Big Bos ? " Suara Tina menggoda Ruby.
" Hah ? Apa ? " Ruby bingung dengan pertanyaan Tina.
" Itu " Tina menunjuk leher Ruby yang banyak sekali bekas kecupan dari Rai, dia tersenyum menggoda.
" Apa ? " Ruby segera menutupi lehernya.
Aish bagaimana ini.
Ruby menutup wajahnya malu.
__ADS_1