
Hari beranjak sore menampilkan matahari yang telah condong ke arah barat, dan Blair baru saja pulang ke rumah dari kegiatan pemotretannya seharian ini.
Dengan langkah yang gontai kelelahan, dia memasuki rumahnya dan langsung menghempaskan dirinya di atas sofa empuk panjang yang ada di ruang tamunya tersebut.
" Tolong ambilkan minum untuk ku " Sautnya lemas kepada asistennya yang mengikutinya di belakang.
Mendapat perintah dari Blair, asistennya itupun langsung bergegas menuju dapur untuk mengambilkan minuman dingin.
" Aku lelah sekali Manager Yo, boleh ya besok aku tidak masuk sekolah ? Sehari saja " Rengeknya memasang wajah memelas kepada laki-laki yang sibuk memeriksa sesuatu di ponselnya itu.
" Tidak boleh, kau harus ke sekolah besok, atau kau tidak boleh menjadi model lagi " Jawab Manager Yo datar.
Blair meriliknya dengan tajam lalu dengan kesal bangun dan menegakkan punggungnya.
" Seharian ini aku sudah bekerja sangat keras, bukankah ini seharusnya hari liburku. Lihat, di hari libur aku bahkan tidak bisa bersantai, jadi wajar kan kalau aku meminta satu lagi hari libur ? " Omelnya kesal.
" Kau bisa mendapatkan seluruh hari liburmu kalau kau berhenti menjadi model " Sautnya santai.
Dengan geraman yang tertahan dia kembali menghempaskan tubuhnya di sofa dan memunggungi managernya.
Mendengar suara berisik di lantai bawahnya, Dimitri ayah Blair pun turun untuk memeriksanya.
" Oh kau sudah pulang rupanya ? " Tanya Dimitri dan langsung duduk di sofa tunggal yang ada di samping Blair.
" Hm " Jawab Blair malas.
" Bagimana, kau sudah mendekati tuan Rai ? " Tanya Dimitri antusias.
Mendengar hal itu Blair menghela napas jengah dan memutar bola matanya malas. Lalu dengan kesal dia bangkit berdiri.
" Pa tuan Rai itu sudah memiliki istri, kenapa papa terus saja memaksaku untuk dekat dengannya " Protesnya kesal.
" Tapi yang papa dengar, dia sudah menceraikan istrinya itu setelah memiliki anak, wanita itu cuma perantara saja agar keluarga Loyard memiliki keturunan " Jelas Dimitri asal.
" Papa tau dari mana ? " Cecar Blair sangsi.
" Dari fans club klan Loyard di media sosial " Jawab Dimitri santai.
" Aish berita receh seperti itu di percaya " Geram Blair kesal.
" Kenapa tidak ? Sekarang pikirkan baik-baik, saat dia mempublikasikan pernikahannya, dia mengundang para wartawan dengan sangat banyak, lalu berita itu muncul ke publik dan menjadi heboh. Tapi selang beberapa hari berikutnya, wajah istrinya sudah di hapus dari kanal berita manapun, situs pencarian tentang berita tersebut juga telah di blokir, dan saat pengumuman kelahiran putrinya, mereka tidak menampilkan satu pun foto keluarga, itu karena apa ? Karena memang wanita itu telah di depak dari hidup tuan Rai " Cerita Dimitri panjang lebar.
" Papa terlalu banyak menonton infotaiment " Cibir Blair dan berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga tersebut.
" Ingat ya kau harus jadi nyonya Loyard berikutnya " Teriak Dimitri saat melihat putrinya sudah menaiki tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada.
Blair membuka pintunya dengan keras lalu membantingnya saat menutup pintu, kesal dengan ayahnya yang selalu saja memaksanya untuk menjadi nyonya Klan Loyard.
Dimitri adalah ceo perusahaan yang memproduksi obat-obatan dengan merk dagang yang cukup terkenal. Namun sifat serakahnya membuatnya ingin lebih. Dia melebarkan sayapnya ingin mendirikan rumah sakitnya sendiri, tapi bisnisnya tidak berjalan lancar, rumah sakit itu sepi dan tidak bisa mencukupi biaya operasionalnya, dan membuatnya merugi dengan nominal yang cukup besar dan akhirnya menutup rumah sakit tersebut.
Namun keinginannya untuk memiliki rumah sakit sendiri begitu kuat, hingga akhirnya dia mendapatkan pencerahan. Dia tidak perlu susah payah mendirikan bisnis rumah sakit dari nol jika dia bisa langsung mendapatkan rumah sakit yang telah terkenal.
Jadi dia berusaha keras mendekatkan Blair, putri semata wayangnya dengan Rai, pemiliki rumah sakit terkenal yang menjadi rekanannya dalam bisnis memasok obat-obatan.
__ADS_1
" Haaah... " Blair menghela napas panjang, mengusir penatnya.
Apa benar yang di katakan papa ? Tapi mungkin saja benar, buktinya tuan Rai sendiri bersama kekasih Dylan.
Batin Blair ragu, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mengambil ponselnya dari saku celananya.
Dia melakukan pencarian di seputar kehidupan pribadi tuan Rai yang sempat terekspose beberapa waktu silam.
Istri tuan Rai.
Ketiknya di mesin pencarian otomatis.
Berita tidak di temukan.
Jawaban nihil.
Istri Big Boss Klan Loyard.
Ketiknya lagi, namun yang muncul hanya berita-berita seputar bisnis yang sedang di geluti Klan Loyard.
Bahkan berita tentang kelahiran putrinya pun telah di hapus.
" Apa benar ya ? " Gumamnya sendiri.
" Kalau menilik sejarah masa lalu tuan Rai yang sering bergonta ganti pasangan setiap hari, hal itu sangat mungkin terjadi ".
Dia lalu iseng-iseng mencari media sosial yang merupakan fans club tuan Rai.
Keningnya berkerut saat menemukan foto-foto tuan Rai yang terlihat berjalan bersama beberapa wanita yang berbeda-beda.
Ada yang tau istri tuan Rai ?
Ketiknya disana.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama komentarnya langsung mendapat balasan dengan cepat.
*Dia belum menikah.
Dia sudah bercerai.
Itu hanya istri musiman.
Dia hanya istri sewaan.
Istrinya pergi bersama laki-laki lain*.
Begitu banyak balasan yang masuk di kolom komentarnya, dan sebagaian besar mereka juga mengira demikian.
" Kalau memang benar begitu, apa aku bisa mendekati tuan Rai ya ? Wajar saja bukan mendekati seseorang yang single, aku tidak akan menjadi perusak rumah tangga orang lain kan ? " Ocehnya sendiri.
Pikirannya kembali terbayang masa lalu saat dimana Sekertaris Yuri menghubunginya dan memintanya menjadi teman kencan semalam dari Tuan Rai, tentu saja hal itu di sambut girang Blair yang memang mendambakan seseorang seperti Rai.
Setelah mempersiapkan diri seharian di salon, dia pergi ke club tempat biasa Rai menghabiskan malam-malamnya. Dia bersumpah akan mendapatkan Rai bagaimana pun caranya.
__ADS_1
" Maaf nona, bisakah kau tunggu sebentar, tuan Rai sedang ada urusan " Ucap Sekertaris Yuri di telepon kala itu, Blair yang sudah akan naik ke lantai 5 itu pun mengurungkan niatnya.
Dengan gelisah dia duduk di meja bar dan meminum segelas jus.
" Apa dia berubah pikiran ya ? " Dengan tak sabaran dia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, menatap layar ponselnya terus tanpa berkedip.
Dia sudah terlanjur sesumbar kepada teman-temannya bahwa dia akan menjadi teman kencan Rai J Loyard. Rencananya sendiri, dia akan menggaet Rai dengan berbagai macam cara agar bisa menjadi kekasih aslinya, atau rencana cadangan jika dia gagal maka dia akan meminta imbalan agar bisa menjadi artis papan atas dan terkenal. Dari kedua rencananya, yang manapun yang akan berhasil tidak masalah, tidak bisa menjadi kekasih Rai pun setidaknya dia bisa mewujudkan impiannya sejak kecil, menjadi artis terkenal di usia muda tanpa perlu bersusah payah ikut casting kesana kemari.
Namun pemberitahuan dari Sekertaris Yuri itu seakan membuyarkan rencananya, jika dia tidak bisa berkencan dengan tuan Rai malam ini, jangankan menjadi kekasih aslinya, menjadi artis pun dia tidak akan bisa.
" Apa aku langsung kesana saja ya ? " Gumamnya sendiri menimang apa yang akan terjadi jika dia nekat untuk menerobos masuk ke area terlarang dari club itu.
" Aaahh... aku ingin jadi artis " Rengeknya seraya membenamkan wajahnya di meja bar.
" Aish, tidak tau lah. Lakukan saja, kalaupun harus di usir setidaknya aku sudah mencobanya " Ucapnya memberi semangat pada dirinya sendiri. Dia lalu mengambil cermin kecil dari dalam tasnya, dan mematut wajahnya sebentar, merapikan rambut dan memeriksa dandanannya. Setelah di rasa telah sempurna, dia pun berdiri dan nekat pergi ke lantai 5 menemui Rai.
Suasana lorong lantai 5 sangat sepi, tentu saja tidak ada yang boleh naik ke atas sini tanpa persetujuan Rai, tapi bukankah Blair teman kencan tuan Rai, begitu yakinnya dalam hati.
Dengan tangan gemetaran dia mengetuk pintu ruangan tersebut, menunggu dengan gugup sebelum pintunya di buka.
Sekertaris Yuri membukakan pintu dan terkejut mendapati Blair sudah di depan ruangan tersebut.
" Maaf nona Dasya tapi tuan Rai sedang ada urusan penting " Jawabnya sopan.
" Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya " Paksa Blair memelas, dia tidak bisa melepaskan begitu saja kesempatan emas yang hanya datang sekali seumur hidupnya
" Tapi nona... " Jawab Sekertaris Yuri ragu-ragu.
" Sebentar saja, ya ? Aku hanya akan menyapanya " Rengek Blair lagi. Jika dia bisa menyapanya barang sebentar saja, itu sama artinya dengan dia telah menjadi teman kencan tuan Rai, dan dia akan mendapatkan kompensasi darinya.
" Tidak bisa nona " Putus Sekertaris Yuri menolak.
" Kalau aku tidak bertemu dengannya aku tidak bisa menjadi artis nanti " Rengek Blair lagi.
" Baiklah kalau anda memaksa, saya harap anda akan baik-baik saja, karena tuan Rai sedang tidak dalam kondisi suasana hati yang baik " Sekertaris Yuri menyerah pada akhirnya.
Dia sangat bingung, di dalam sana ada Rai yang sedang berusaha menjadikan Ruby sebagai istrinya, dan di luar sini ada seseorang yang terlanjur memiliki janji kencan dengannya.
“ Tuan muda ini nona yang akan menemani anda malam ini “ Ucap Sekertaris Yuri.
Blair masuk ke dalam ruangan dan terkejut mendapati banyak orang disana. Dan ada satu yang membuatnya lebih terkejut lagi, seorang gadis sedang berlutut di hadapan tuan Rai, ketakutan dengan kertas kosong di tangannya seperti baru saja mendapatkan ceramah dari Rai yang terkenal kejam dan dingin.
Ok aku salah timing, tidak apa-apa tidak jadi artis, asal aku bisa pulang dengan selamat dan utuh.
Blair langsung membalikkan badannya akan pergi meninggalkan ruangan itu.
" Tunggu " Cegah Rai yang melihat Blair akan berlalu.
" Y-ya tuan " Jawab Blair tergagap.
" Bicarakan saja dengan Yuri apa yang kau inginkan " Perintahnya datar.
Yess !! Jadi artis, jadi artis....
__ADS_1
Teriak batin Blair girang.
" Pergilah... " Ucap Rai bahkan tanpa melihat Blair sedikitpun dan hanya menatap Ruby yang ada di hadapannya. Blair lalu menundukkan kepalanya dan segera pamit dari ruangan itu.