Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Tembus


__ADS_3

Bel istirahat telah berbunyi, dan lorong-lorong sekolah telah di penuhi dengan murid yang berhamburan keluar. Pergi ke kantin atau sekedar mengobrol dengan teman-teman yang lainnya di depan kelas.


Dera yang sedari pagi tidak terlihat batang hidungnya itu kini sedang duduk berhadapan dengan Andromeda di kelasnya.


Setelah mendapat penolakan yang menyakitkan dari Dylan, semangat Dera semakin terbakar. Dia semakin terpacu untuk menaklukkan Dylan meski harus dengan cara kotor sekalipun.


" Kau itu becus tidak sih mengurus calon istri mu ? " Sentak Dera pada Meda yang sedang asyik bermain game online di ponselnya.


" Hm " Hanya itu yang keluar dari mulut Meda, dia terus saja menatap layar ponselnya dan sesekali berteriak heboh saat gamenya hampir saja over, mengabaikan Dera.


" Hei kau ini tuli atau apa sih ? " Dengan kasar Dera merebut ponsel Andromeda.


" Kau tidak lihat semakin hari Blair dan Dylan semakin dekat " Lanjutnya mendelik kesal.


" Kau itu sudah seperti nenek sihir saja " Cibir Andromeda kesal.


" Pantas saja si anak sialan itu tidak menyukai mu, setidaknya matanya masih berfungsi dengan normal dan bisa melihat kau itu serigala berbulu domba " Ejeknya kemudian.


" Apa kau bilang ?!? " Teriak Dera semakin kesal, bangun dari duduknya dan mengangkat ponsel Meda tinggi-tinggi, berniat melemparnya hingga hancur.


" Menghadapi dia itu tidak boleh gegabah, kau harus tenang dan santai " Jawab Meda, mengangkat kedua kakinya dan menopangkannya ke atas meja.


" Bagaimana aku bisa tenang, kau tidak tau saja Dylan itu ternyata banyak sekali penggemarnya " Jawab Dera frustasi dan menghempaskan tubuhnya kembali duduk dibangkunya.


" Bu Kiran saja juga dekat-dekat dengannya " Lanjutnya kemudian mengembalikan ponsel Meda dengan cara melemparnya ke atas meja.


" Bu Kiran ? " Meda mengernyitkan keningnya.


" Bu Kiran guru BP kita ? " Tanyanya terkejut.


" Iya memangnya ada berapa bu Kiran di sekolah kita " Jawab Dera malas.


" Wah sepertinya kau itu tidak ada harapan sama sekali, saingan mu berat " Ejek Meda meremehkan.


" Apa maksudmu ? " Dera mulai mengeluarkan nada tingginya lagi.


" Ya aku hanya heran saja, dia di sukai oleh para gadis yang kecantikannya di atas rata-rata " Jawab Meda asal sembari melirik Dera dari atas sampai bawah.


" Apa kau lihat-lihat " Dera menyilangkan kedua tangannya di dada.


*Apa mereka sudah tau ya kalau si anak pungut itu adalah keluarga Loyard, jika tidak mana mungkin Dera mengejarnya sampai seperti i*ni.


Batin Meda bertanya-tanya. Bukan tanpa alasan Meda tidak berani membalas pukulan Dylan waktu itu.


Ayahnya memberitahukan bahwa Dylan adalah putra ketiga dari tuan Regis. Meski hanya anak angkat tapi ayahnya tetap melarang Meda mencari gara-gara dengan Dylan, karena tuan Regis tidak pernah membeda-bedakan ketiga putranya. Jadi kalau sampai Meda salah langkah dan berurusan dengan Dylan, maka sama saja dia juga berurusan dengan Klan Loyard.


" Memangnya kenapa sih kau mengejar si anak haram itu sampai segitunya ? " Tanya Meda menyelidik. Jika di lihat dari sikap Dera, sepertinya dia belum tau identitas Dylan yang sesungguhnya.


" Bukan urusan mu " Sinis Dera ketus.


" Tentu saja ini jadi urusan ku sekarang, karena kau meminta tolong padaku " Jawab Meda santai.


" Aku bukannya meminta tolong padamu, aku mengajak mu bekerja sama karena kebetulan saja kita berurusan dengan orang yang sama. Kau berurusan dengan Blair yang dekat dengan Dylan " Jelas Dera sinis.


" Ya sudah kalau begitu aku tidak akan menjauhkan Blair dari Dylan, toh pertunangan ku dengannya baru akan di gelar nanti setelah upacara kelulusan, jadi akan ku biarkan saja mereka dekat-dekat sampai kau darah tinggi " Jawab Meda santai mencebikkan bibirnya, mengejek Dera terus.


" Cih " Decak Dera semakin kesal.


" Baiklah, baiklah aku tarik ucapan ku. Aku minta tolong padamu, jauhkan Blair dari Dylan. Memangnya kau tidak cemburu melihat mereka dekat-dekat seperti itu ? " Tanya Dera mulai merendahkan suaranya.


" Biasa saja, percuma cemburu buang-buang waktu, pada akhirnya juga Blair akan jadi milik ku. Memangnya aku seperti mu yang tidak memakai otak untuk mendapatkan keinginan ku " Ejek Meda pongah.


Habis sudah kesabaran Dera karena sedari tadi terus menerus di hina Meda. Jika bukan karena butuh, Dera juga malas dekat-dekat dengan Meda yang otaknya kosong tapi gayanya sok pintar.


" Iya terserah kau saja, yang penting cepat buat mereka menjauh " Jawab Dera malas, lalu berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Meda yang masih terus tersenyum mengejeknya hingga tubuh Dera menghilang di balik pintu.


Setelah di rasa cukup aman, dengan sigap Meda mengambil ponselnya yang ada di atas meja, mencari nomor kontak ayahnya dan kemudian meneleponnya.


" Ayah, benarkan kalau pertunangan ku dengan Blair akan di gelar setelah upacara kelulusan ? " Tanyanya memastikan, hilang sudah kepercayaan dirinya yang tadi dia sombongkan di depan Dera.


" Bukan begitu Yah, masalahnya Blair sekarang sedang dekat dengan Dylan si anak pungut itu. Pastikan kalau perjodohan ini tidak akan batal demi apapun ya, aku mohon " Rengeknya kepada ayahnya.


Setelah mendapat kepastian dari Ayahnya, Meda mengakhiri panggilannya dan bernapas lega. Setidaknya ayahnya berani menjamin kalau Blair akan jadi miliknya, itu saja sudah cukup baginya.


Karena kalau harus bersaing secara jujur dengan Dylan, maka dia jelas bukan tandingannya. Dari segi wajah, Meda sudah kalau jauh dengan Dylan yang memang sudah tampan dari lahir. Dari segi otak, bahkan mereka tidak bisa di bandingkan. Ibarat bumi dengan langit saja masih kurang untuk menggambarkan kesenjangan kecerdasan antara mereka. Di tambah lagi sekarang Dylan telah menjadi salah satu dari putra mahkota Klan Loyard, maka sudah tidak ada harapan lagi untuk Meda, seujung kuku pun tidak.


Dera yang mencari-cari Dylan ke seluruh penjuru sekolah itu mulai frustasi saat tidak menemukan dia di mana pun. Dengan putus asa dia lebih memilih melaksanakan rencananya yang selanjutnya. Dia akan mengadukan perihal sikap Kiran yang terlalu dekat dengan Dylan. Dia harus mulai menyingkirkan satu persatu saingannya hingga hanya tersisa Raline. Dia sangat percaya diri bisa bersaing dengan Raline, tapi nanti bukan sekarang. Karena dia sendiri juga belum pernah bertemu dengan Raline.


Dia yakin saat perlombaan olimpiade nanti Raline pasti akan datang untuk memberikan dukungannya pada Dylan. Barulah dia bisa merencanakan langkah selanjutnya setelah melihat Raline orang yang seperti apa. Untuk saat ini dia harus fokus menyingkirkan kerikil-kerikil kecil yang menghalangi langkahnya.


Dera sudah berada di depan pintu ruang kepala sekolah, dia berhenti sejenak untuk menarik napas dan merapikan diri juga sikapnya. Lalu setelah di rasa telah siap, dia pun mengetuk pintu itu.


" Masuk " Jawab Ken dengan suara lantang dari dalam.


" Selamat pagi pak, maaf mengganggu " Jawab Dera sopan saat memasuki ruangan Ken.


" Oh ? Dera kan ? " Sapa Ken sedikit terkejut.


" Iya pak " Jawabnya sopan.


" Maaf mengganggu, saya ingin menyampaikan sedikit keluhan saya sebagai siswa pak " lanjut Dera.

__ADS_1


" Silahkan, duduk dulu disana, aku akan menyelesaikan ini sedikit lagi " Jawab Ken ramah sembari menunjuk layar laptopnya.


Dera berjalan menuju sofa, dengan penuh percaya diri dia duduk di sana. Sudah siap mental lahir batin untuk memberikan keluhannya. Dia sudah berlatih semalaman merangkai kata-kata yang menurutnya mematikan namun masih dalam batas kesopanan.


" Ya ada apa ? " Tanya Ken setelah menutup laptopnya dan berdiri, lalu berjalan menghampiri Dera di sofa. Kemudian duduk di sofa tunggal yang langsung berhadapan dengan Dera.


" Begini pak, saya sangat bangga sekali menjadi salah satu bagian dari sekolah Loyard yang sangat terkenal karena reputasi dan prestasinya " Ucap Dera memulai pembukaan agenda menghasutnya.


" Lalu ? " Tanya Ken mengerutkan keningnya bingung.


" Semua orang berlomba-lomba menjadi bagian dari Klan Loyard, entah itu menjadi mitra bisnis atau menjadi bagian dari kerajaan bisnis Klan Loyard sebagai karyawannya. Saya yang merasa menjadi bagian dari Klan Loyard tentu saja ingin ikut menjaga nama baik dari Klan Loyard itu sendiri. Dan saya begitu terpukul saat melihat orang lain yang tidak kompeten masuk menjadi bagian dari Klan yang di isi oleh orang-orang yang bermartabat dan terhormat ini " Jelasnya panjang lebar.


Makanya dia bisa jadi ketua osis, bicaranya banyak begini. Untung saja bukan dia teman tapi mesranya Dylan, bisa-bisa dia di buang ke antartika oleh Rhoma karena terlalu banyak bicara.


Batin Ken lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa membayangkan urat-urat kemarahan Rai jika harus mendengar ceramah dari bocah ingusan ini.


" Terus ? " Ken berpura-pura menyimaknya dengan baik demi kesopanan belaka, padahal dia bukan tipe orang yang suka dengan intermezo seperti dongeng sebelum tidur begini. Dia dan keluarganya adalah tipe orang-orang yang to the point, suka lestarikan, tidak suka bumi hanguskan.


" Maka dari itu saat saya melihat ada seorang guru yang berbuat tindak asusila di area sekolah, saya merasa sangat marah dan ingin sekali menegurnya, tapi saya sadar saya tidak memiliki kuasa atas hal itu, jadi saya ingin menyampaikannya pada anda sebagai orang yang bertanggung jawab penuh di sekolah ini " Ucap Dera dengan sikapnya yang tenang dan penuh percaya diri.


" Tunggu dulu " Ken memotong penjelasan Dera.


" Maksudmu ada seorang guru yang berbuat tidak senonoh begitu ? " Tanyanya dengan syok. Kenapa dia bisa seceroboh itu hingga tidak tau ada kejadian seperti ini. Jika ayahnya tau bisa-bisa tubuhnya di belah menjadi potongan kecil-kecil dengan samurai kesayangan ayahnya yang mampu menebas leher sapi hingga nyaris putus dalam sekali ayunan.


" Jika bisa di kategorikan tindak pelecehan seksual maka jawabannya adalah ya " Jawab Dera dengan mantap, sejauh ini rencananya berjalan lancar seperti jalan toll.


" Pelecehan seksual bagaimana maksudmu ? " Tanya Ken semakin panik, kata pelecehan seksual selalu sukses membuatnya membayangkan kembali Kiran dan Ganung, dan hal membuat darahnya langsung mendidih.


" Seorang guru memegang-megang seorang murid " Jawab Dera dengan tenang, masih belum tau badai apa yang akan tejadi setelah ini.


" Seorang guru dan seorang murid ? " Pekik Ken hampir saja berdiri karena terlalu emosinya.


" Ya pak Ken dan saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, dia memegang-megang seorang murid, dan hal itu sangat tidak pantas di lakukan oleh seorang guru, terlebih guru di sekolah yang bergengsi ini " Jawab Dera semakin memperkeruh suasana karena melihat Ken yang sepertinya sudah sangat marah.


" Katakan padaku siapa guru itu, akan ku pastikan dia di usir dari sekolah ini dan tidak akan bisa di terima di sekolah mana pun " Ancam Ken dengan tegas.


Yess !! Perfect. Mati kau Bu Kiran.


Batin Dera tersenyum puas.


" Dia adalah guru BP " Jawab Dera mantap dan tenang.


" Guru BP ?!? " Teriak Ken berdiri.


" Guru BP adalah guru yang tugasnya memberikan konseling pada murid-murid, dan dia memanfaatkan wewenangnya untuk melakukan tindakan pelecehan seperti itu ?!? Tidak akan ku ampuni dia " Jawab Ken berapi-api, lupa bahwa yang menjadi guru BP di sekolahnya adalah istrinya sendiri. Dia terlalu tegang membayangkan wajah ayahnya yang sedang mengancamnya dengan pedang samurai jika sampai hal ini di dengarnya.


" Itu lah maksud saya pak, mungkin dia berpikir dekat dengan murid adalah bagian dari tugasnya, tapi jika sampai menyentuh-nyentuh bukankah itu sudah melenceng dari yang seharusnya " Dera terus memanas-manasi Ken yang benar-benar di kuasai emosi. Dia benar-benar baru akan merasa puas jika Kiran di tendang dari sini dengan cara yang paling memalukan. Karena menurutnya, Kiran adalah salah satu penyebab Dylan sampai mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan padanya kemarin.


Aku bisa menyukai semua perempuan di dunia ini kecuali kau.


" Tentu saja, dekat dengan murid bukan berarti dia bisa menyentuh mereka seenaknya " Jawab Ken mengangguk setuju.


" Aku akan memanggilnya saat ini juga " Ken lalu berjalan menuju mejanya, mengambil pesawat telepon yang ada di sudut meja dan menekan serangkaian angkanya untuk menghubungkan panggilannya dengan ruang BP.


" Ya sayang ada apa ? " Jawab Kiran begitu mengangkat teleponnya, karena dia tau jika panggilan yang masuk berasal dari ruangan Ken.


" Kiran ? " Teriaknya baru sadar. Kiran yang di ada di ujung sana langsung menjauhkan gagang telepon dari telinganya.


" Hei kenapa teriak-teriak sih, sakit telinga ku " Jawab Kiran ketus.


Sial, sial, sial !!! Kenapa aku bisa lupa kalau yang jadi guru BP adalah Kiran. Gawat, kalau sampai salah bicara bisa-bisa aku di suruh membuat dalgatot lagi.


Rutuknya dalam hati mengutuki kebodohannya sendiri. Dia melihat Dera yang sedang menatapnya dengan tegang, menunggunya memarahi Kiran.


Ken lalu berdehem dan kembali bersikap penuh wibawa.


" Bisa kau ke ruangan ku sebentar bu Kiran " Ucapnya sopan.


" Iya aku kesana sekarang " Jawab Kiran juga ikut sopan karena Ken sedang memposisikan dirinya sebagai atasannya, jadi Kiran juga harus bisa bersikap profesional.


" Terima kasih " Balas Ken lalu menutup teleponnya. Ingin sekali dia membentak dan mengusir Dera yang telah membuatnya jatuh dalam masalah, mengingat Kiran saat ini sedang dalam masa rawan. Rawan gahar, rawan sedih dan rawan-rawan yang lainnya.


Namun demi sebuah kata profesionalitas, dia menahan segala bentuk emosinya yang bersifat pribadi. Dengan santai dia berjalan mendekati Dera dan kembali duduk di hadapannya.


" Kau yakin melihat sendiri bu Kiran menyentuh-nyentuh murid-muridnya ? " Tanya Ken tajam dengan pandangan mata dingin.


" Tentu saja pak, kalau tidak mana mungkin saya akan melaporkan kejadian ini pada Bapak " Jawab Dera mantap.


" Baiklah terima kasih atas laporanmu, sekarang kembali lah ke kelasmu " Perintah Ken tanpa basa-basi.


" Iya baik pak, terima kasih " Jawab Dera kemudian berdiri, membungkukkan badan lalu pergi.


" Tunggu " Cegat Ken saat Dera memutar handle pintu.


" Ada baiknya kau memiliki bukti-bukti yang kuat jika ingin melaporkannya, jadi aku harap kau bisa menyelidiki dulu tentang bu Kiran sebelum membuat pengaduan " Lanjut Ken.


" Baik pak " Jawab Dera sopan dan segera keluar dari ruangan Ken.


Apa maksudnya ya ?


Batinnya bingung sendiri.

__ADS_1


" Sial gara-gara bocah ingusan yang sedang jatuh cinta itu aku jadi harus berurusan dengan Kiran yang sedang PMS " Maki Ken tak henti-hentinya.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Tadi katanya tidak ingin makan, maunya minum susu coklat " Ejek Dylan saat melihat Blair yang sedang memakan camilannya yang terakhir.


" Kan sayang kalau tidak di makan " Jawabnya membela diri.


" Tuh kan " Dylan mencubit pipi Blair dan menariknya ke kanan ke kiri.


" Tadi kau bilang kalau kau akan tersedak kalau makan tanpa minum, tenggorokan mu akan penuhlah, kau akan batuk-batuklah, bla bla bla, tapi kenyataannya semua camilan ini ludes tak tersisa " Omel Dylan semakin gemas.


" Ish " Blair menepis tangan Dylan lalu memanyunkan bibirnya.


" Sakit " Dengan kesal dia mengelus-elus pipinya.


" Salah sendiri siapa suruh jadi orang yang begitu menggemaskan " Jawab Dylan santai.


Blair langsung menahan napas saat Dylan memujinya begitu, Dylan memang ahlinya dalam hal menaik turunkan, menjungkir balikkan, membolak balikkan, dan mengambyarkan hatinya.


Jika memang benar Blair punya penyakit jantung, pasti sekarang ini dia sudah terkapar tak berdaya di rumah sakit. Semua tentang Dylan selalu membuat jantungnya jadi tidak normal.


" Cih " Cibir Blair berpura-pura ketus.


" Katanya tidak suka pada orang yang manja " Godanya mengulang kata-kata Dylan untuk Dera kemarin.


" Memang " Jawab Dylan dengan serius dan Blair langsung mendelik kaget.


Apa aku salah bicara ? Aduh kenapa sih mulut ku ini, dasar si dodol !!


Maki Blair pada dirinya sendiri lalu mengkerut sedih menyesali ucapannya yang barusan. Karena dia sadar kalau dirinya terlalu bersikap manja pada Dylan.


" Tapi kau itu pengecualian " Lanjut Dylan sembari tersenyum manis.


" Maksudnya ? " Tanya Blair takut-takut.


" Entah kenapa kalau kau yang bersikap manja padaku aku malah suka, aku merasa jadi orang yang berguna untuk orang lain, merasa di butuhkan, selama ini aku kan punya kekuatan super menjadi tak terlihat, tapi sejak ada dirimu aku merasa ada gunanya juga aku hidup " Jelas Dylan santai.


" Sstt... " Blair langsung memotong ucapan Dylan dan menempelkan jari telunjuknya di bibir Dylan.


" Kau itu berguna tau, jadi jangan pernah bilang kalau hidupmu tidak berguna " Ucap Blair dengan suara bergetar sedih. Dia tidak bisa membayangkan kalau Dylan akan menghilang darinya, ya mungkin suatu saat Dylan memang akan menghilang darinya karena dia sudah pasti lebih memilih Raline, tapi setidaknya jangan saat ini, nanti saja, nanti kalau dia sudah menyiapkan hati untuk kehilangan, begitu pikirnya.


" Oh ya ? Berguna untuk apa ? " Tanya Dylan menggoda, mendengar si oneng bersikap bijak membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.


" Berguna... berguna " Jawab Blair melirik ke atas untuk berpikir mencari alasan.


" Berguna untuk nusa dan bangsa " Lanjutnya kemudian.


" Hahahaha... " Pecah sudah tawa Dylan mendengar jawaban polos Blair. Baginya kalimat itu biasa di ucapkan oleh anak TK jika ditanya tentang cita-citanya kelak saat dewasa.


" Iihh kau ini " Sungut Blair kesal.


" Selalu mengejek ku " Omel nya kesal lalu memukul tangan Dylan dengan keras.


" Ya habisnya kau itu seperti anak TK yang di tanya cita-citamu " Jawab Dylan di sela gelak tawanya.


" Anak TK ? " Pekik Blair semakin kesal.


" Iiih aku benci padamu. Huh ! " Blair membuang wajahnya lalu berdiri.


" Ei mau kemana ? " Cegat Dylan meraih tangan Blair.


" Aku bukan anak TK, aku sudah dewasa tau " Omelnya ketus lalu berbalik dan pergi meninggalkan Dylan.


Pantas dia tidak memilihku, rupanya karena dia menganggapku hanya seperti anak TK.


Sungut Blair berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.


" Tunggu aku " Seru Dylan langsung berlari mengejar Blair dan memeluknya dari belakang.


" Jangan pergi " Bisiknya lembut di telinga Blair.


Jedug, jeder, jedug, jeder, kiranya seperti itulah detak jantung Blair saat ini saat Dylan melingkarkan tangannya memeluknya dari belakang. Kalau bukan karena pelukan Dylan yang sangat erat mungkin Blair sudah merosot lemas seperti jelly.


" A-apa maksudmu ? " Tanyanya tergagap. Seluruh tubuhnya terasa terbakar oleh perasaan bahagia yang membuncah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia seperti tersengat belut listrik berkekuatan enam ribu volt, panas membara.


" Kau jangan pergi, tetap disini saja " Bisik Dylan lagi tepat di telinga Blair.


Hembusan napas hangat yang menerpa telinganya membuat darah Blair berdesir.


" Ke-kenapa memangnya ? " Tanyanya semakin gelegapan dengan napas yang tercekat.


" Karena kau sedang tembus " Jawab Dylan semakin pelan berbisik.


" Hm ? " Blair mengerutkan keningnya. Tembus? Istilah apa itu ? Tembus ke jantung ? Tembus ke hati ? Atau tembus apa sih ? Batinnya bingung sendiri, apa dia masih kurang gaul hingga masih ada istilah yang tidak dia mengerti.


" Haid mu tembus dan membuat rok mu terkena noda darah " Jelas Dylan masih berbisik lirih.


" HAH ?!?! " Pekik Blair terhenyak kaget mendengar jawaban Dylan yang di luar bayangannya. Dia lalu panik sendiri.


" Banyak sekali " Bisik Dylan lagi mengabarkan berita buruk lainnya.

__ADS_1


Bukan cuma perasaan ku yang ambyar tapi juga harga diriku !!! Aduh Gustiiii kisah kasih macam apa ini !!!


Blair menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah berubah jadi ungu.


__ADS_2