
Rai yang sedang minum langsung menyemburkan kembali minumannya dengan sangat keras. Semua orang terkejut melihat Daniel, tapi sekarang mereka lebih terkejut lagi melihat reaksi Tuan Rai.
" Tidak Rhoma, ah bukan maksudku Rai, ah bukan bukan maksudku Tuan, aiisshh !! " Ruby gelagapan menenangkan Rai yang sudah berdiri sekarang.
Ekspresi wajahnya sangat marah, tangannya mengepal. Otot-otot wajahnya menegang. Dia sudah seperti singa jantan yang melihat singa jantan lainnya memasuki wilayahnya. Insting bertarungnya untuk mempertahankan miliknya sedang menguasainya sekarang. Semua orang yang melihat ini bingung sekaligus takut. Bingung melihat Daniel yang menyatakan perasaannya kepada Ruby di depan kekasihnya tapi yang terlihat marah adalah Tuan Rai. Dan takut karena suasana seram yang di akibatkan dari aura kemarahan dari Rai.
Ken yang sudah melihat kakaknya dalam mode seperti itu juga khawatir, saat kakaknya menggila dia juga pasti tidak akan bisa menghentikannya.
" Hahaha... " Ken tertawa kaku berusaha memecah ketegangan yang ada.
" Kau lucu sekali tuan " Ken menatap Daniel yang juga sedang bingung dengan sikap Rai.
" Kalian semua terima hukuman kalian besok pagi " Tiba-tiba Rai memerintah, menekankan kalimatnya memandang semua wajah mereka satu per satu.
Dia pergi dengan kemarahan yang berusaha sekuat tenaga di tahannya. Ruby melihatnya dengan khawatir, dia menoleh ke arah Ken yang juga terlihat sangat khawatir.
" Daniel bisakah kita tunda dulu masalah ini, sepertinya aku harus pergi sekarang " Ruby beralasan.
" Tidak Ruby aku ingin kau menjawab sekarang " Daniel menolak.
" Aku akan segera kembali ke negara ku, aku harap kau mau menerima ku dan ikut pergi bersama ku " Daniel melanjutkan.
" Maaf Danny aku tidak bisa " Ruby menolak halus.
" Aku hanya menganggapmu sebagai teman yang baik " Ruby melanjutkan.
Daniel yang menerima penolakan itu hanya terdiam. Ruby kemudian segera pamit pergi kepada semua teman-temannya. Dia dan Ken meninggalkan acara pesta dengan panik dan buru-buru.
" Habislah kita, apa yang salah dari acara ini tadi ? " Pak Hong bertanya khawatir.
" Iya kenapa tuan Rai bisa sangat marah begitu ? " Mey bertanya takut, dia merinding melihat wajah Rai tadi.
" Baiklah ayo kita pulang, pesta ini selesai disini, bersiap-siaplah menerima hukuman kalian besok, berdoa saja besok saat kita pulang bekerja bukan hanya nama kita saja yang pulang " Pak Hong membubarkan acara dengan sedih.
Semua orang pun pergi dengan perasaan takut dan khawatir.
Rai mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang, membelah jalanan yang mulai sepi karena sudah larut malam. Ponselnya terus berbunyi. My Ruby. Tapi dia mengabaikannya.
Ruby yang berada di dalam mobil bersama Ken bingung harus mengejar Rai kemana, mereka tertinggal dan kehilangan jejaknya.
" Coba telepon terus " Perintah Ken kepada Ruby sambil terus menyetir dengan kencang.
__ADS_1
" Dia tidak mau mengangkatnya, apa dia pulang ? " Ruby bertanya panik, dia berpegangan erat pada panel pegangan mobil. Menjaga tubuhnya agar tetap tegak.
" Tidak mungkin, dia tidak pernah pulang saat sedang marah " Ken menjawab cepat. Konsentrasinya terpecah karena harus memikirkan dimana kakaknya sekarang dan juga menyetir.
" Sepertinya aku tau dimana dia sekarang " Ken tiba-tiba teringat. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Mobil yang di kendarai Ken berbelok tajam ke sebuah gedung, langsung menuju tempat parkir, terlihat mobil Rai juga sudah terparkir disana. Ken memberhentikan mobilnya di samping mobil Rai. Mereka kemudian turun dari mobil.
" Pikirkan cara apapun yang bisa kau lakukan untuk merayu nya, cara terekstreem kalau perlu, dia sedang sangat marah sekarang " Ken memberikan interuksi dengan cepat.
" Dan jangan terlalu dekat dengannya, dia bisa lepas kendali, aku takut dia akan menyakitimu dan Junior " Ken menambahkan, nada suara nya terdengar panik dan khawatir.
Ruby hanya bisa mengangguk mendengar perintah darinya, jantungnya sekarang seperti akan meledak. Suasana sangat tegang dan menyeramkan seperti di film action.
Apa, merayu apa ? Ayo otak berfikirlah, aku harus apa ? Dia suka apa ? Dia suka mesum. Tapi tidak mungkin ada Ken disini. Apa aku beralasan Junior ? Ya benar Junior, aku akan menggunakannya untuk alasan. Tidak tidak, Ken bilang dia bisa saja melukai aku dan Junior, itu artinya Junior pun tidak akan bisa meredakan kemarahannya. Aku harus apa ????
Ruby berfikir keras selama berjalan melewati tempat parkir.
" Ken apa dia semarah itu ? " Ruby bertanya lirih, dia mencengkeram ujung jaket Ken.
" Kalau orang normal saja bisa sangat marah melihat istrinya di lamar laki-laki lain, maka kemarahan itu akan seribu kali lebih besar untuk seseorang yang posesif seperti kakak ku " Ken menjelaskan cepat, nafasnya tak beraturan, terengah-engah.
" Aku takut sekali " Ruby gemetaran.
" Kenapa harus kabur ? " Ruby bertanya heran, semakin panik.
" Kau akan lihat sendiri nanti alasan kenapa kita harus kabur " Ken menjawab.
Mereka sudah sampai di depan pintu utama gedung itu, pintu dengan kaca bening dan besar yang terlihat sangat tebal. Suasana disana sepi. Sepertinya tempat itu sudah tutup. Ruby sendiri juga baru pertama kali kesana. Mereka berhenti sejenak untuk mengatur nafas.
" Baiklah aku jelaskan sekali lagi rencana nya, kau merayunya sebanyak 3x rayuan, dan kalau itu tidak berhasil maka lihat aba-aba dari ku dan segera lari menjauh darinya " Ken mengulangi rincian rencananya.
" Aba-aba apa ? " Ruby bertanya semakin takut.
" Aku akan menghitung sampai 3 " Ken menjawab cepat.
" Tunggu dulu " Ruby menarik tangan Ken yang sudah akan membuka pintu.
" Ini sungguhan atau kau hanya bercanda ? " Ruby meyakinkan dirinya sendiri.
" Bercanda ? Kau melihat kakak ku sudah seperti itu dan kau masih berani bilang bercanda ? Whoah Ruby kau benar-benar tidak takut mati rupanya " Ken menjawab sarkas.
__ADS_1
" Bukan begitu maksudku, aku istrinya, orang yang paling di cintainya, tidak mungkin kan dia akan melukai ku ? " Ruby bertanya yakin, dia percaya diri.
" Kau baru beberapa bulan menjadi istrinya, dan aku sudah 18 tahun menjadi adiknya, mana menurutmu yang akan dia pilih. Istri yang dilamar laki-laki lain didepan matanya atau adik yang selalu ada untuknya dan mendukungnya ? " Ken memberikan pilihan.
" Ah ya kau benar, mungkin aku tidak seistimewa itu untuk membandingkan " Ruby menjawab semakin khawatir. Jantungnya berdetak sangat kencang seakan bisa keluar dari dadanya.
Ken sudah memegang handle pintu, dia akan membukanya.
" Tunggu dulu " Ruby lagi-lagi menghentikannya.
" Apa ? " Ken menoleh bertanya.
" Apa nanti kau akan menghitung 1,2,3 baru kita lari atau 1,2, dan lari pada hitungan ketiga ? " Ruby bertanya lagi memastikan.
" Aku akan menghitung 1,2 dan kemudian kita lari. Apa kau tidak mengerti standart pelatihan seperti ini ? Kau bilang pernah belajar bela diri ? " Ken bertanya heran.
" Aku belajar bela diri bukan belajar teknik menyergap seperti ini " Ruby menjawab sinis.
Ken menghela nafas, dia kembali memegang handle pintu lagi dan akan membukanya.
" Tunggu dulu " Ruby menahannya lagi.
" Apa lagi ??? " Ken kehabisan kesabaran, di saat genting dan menegangkan seperti ini Ruby malah bertingkah aneh.
" Aku hanya ingin mengingatkan kalau sebaiknya kita berdoa dulu sebelum membuka pintunya agar kita selamat " Ruby menjawab lirih.
" Baiklah baiklah " Ken menuruti saja permintaan Ruby. Mereka kemudian berdoa bersama.
" Amin " Ucap mereka berbarengan. Ken kemudian memegang handle pintu, dan membukanya perlahan. Kali ini sudah tidak bisa mundur lagi.
Pintu kaca besar itu sudah terbuka, mereka memasukinya dengan mengendap-endap dan tidak menimbulkan suara sama sekali.
Ruby yang mengekori Ken di belakangnya semakin gugup, dia mencengkeram ujung jaket Ken.
Mereka berjalan melewati lorong yang sepi, suasana semakin mencekam seperti perpaduan film horor dan action.
Mereka berjalan cukup jauh, tapi belum juga melihat Rai dimanapun. Setelah berjalan lebih jauh lagi samar-samar terdengar suara yang semakin lama semakin keras seiring mereka berjalan mendekati sebuah ruangan.
Dor !! Dor !! Dor !! Suara tembakan berulang ulang terdengar.
Ruby yang mendengar itu merasakan seluruh tubuhnya seperti kehilangan tulangnya untuk menyangga. Dia menyeret kakinya, memaksanya agar terus berjalan. Dan mereka berhenti di depan pintu besar, dimana suara tembakan berasal. Ruby dan Ken saling pandang, seakan-akan menyampaikan salam perpisahan kalau salah satu dari mereka tidak akan selamat dalam misi kali ini.
__ADS_1
Cukup Rhoma !!! Hentikan !!!
Jeritan hati Ruby.