Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Liburan


__ADS_3

Ruby sudah memasuki gerbang, dia melihat mobil Rai terparkir di depan pintu utama. Dia mempercepat langkahnya. Memasuki mansion dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Dia membuka pintu kamarnya, mengedarkan pandangan. Terlihat Rai sedang tertidur. Ruby mendekatinya dengan khawatir.


" Rai kau baik-baik saja ? " Ruby menyentuh pundak Rai yang sedang tidur.


" Ah ya aku hanya seperti tidak enak badan " Rai menjawab lemas.


" Apa kita harus ke rumah sakit ? " Ruby menawarkan dengan khawatir.


" Tidak perlu aku baik-baik saja " Rai meyakinkan.


" Baiklah, aku sempat khawatir kau akan terkena tetanus dan harus di opname di rumah sakit " Ruby menjawab lega, dia pergi menuju kamar mandi.


Tiba-tiba Rai berteriak lagi. Membuat Ruby panik dan kembali ke tepi ranjang.


" Kenapa ? Ada apa ? " Tanya Ruby panik.


" Entah lah tiba-tiba badan ku menggigil, aku merasa kedinginan " Rai meringkuk di atas kasur.


" Dingin ? " Ruby mengambil remote ac yang ada di laci dan mematikannya.


" Apa masih dingin ? " Tanya nya khawatir.


" Sepertinya aku harus kerumah sakit " Rai menjawab lemas.


" Baiklah, aku akan meminta pak Handoko menyiapkan mobil, tunggu sebentar " Ruby panik dan bergegas keluar kamar mencari pak Handoko.


Rai di dalam kamar tersenyum melihat Ruby yang sangat panik dengan keadaannya.


Maafkan aku, aku tidak bermaksud berbohong. Hanya saja bahagia melihatmu khawatir dan peduli padaku.


Ruby sudah kembali ke kamar, Rai segera melanjutkan pura-pura nya.


" Kau bisa jalan ? Atau aku harus meminta sopir mengangkat mu ke mobil ? " Ruby menawarkan dengan panik.


" Tidak perlu, papah aku saja " Rai menjawab lemas.


" Iya iya " Ruby menjawab cepat dan langsung membantu Rai berdiri untuk memapahnya.


Dia memapah Rai dengan hati-hati menuju ke pintu utama, pak Handoko juga sangat panik dan menawarkan bantuan untuk memapah Rai, tapi Ruby menolaknya, dia tidak ingin merepotkan pak Handoko.


Sopir membukakan pintu dan Ruby membantu Rai masuk. Setelah menutup pintu sopir bergegas masuk ke dalam dan duduk di kursi pengemudi, melajukan mobil menuju rumah sakit.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Bagaimana dokter ? " Ruby bertanya cemas kepada dokter yang memeriksa Rai.


" Anda tidak perlu khawatir nyonya, presdir baik-baik saja, itu hanya luka gores dan tidak terlalu dalam, kami sudah merawat lukanya “ dokter menginformasikan kepada Ruby.

__ADS_1


“ Syukurlah “ Ruby menghela nafas lega.


“ aku merasa tidak baik-baik saja “ Rai yang berbaring di ranjang rumah sakit mengeluh.


“ aku ingin perawatan intensif di sini untuk beberapa hari “ perintahnya.


Dokter hanya bisa menundukkan kepala mematuhi perintah Rai.


Apa lagi ini ? Apa lagi yang dia rencanakan ? Ruby menghela nafas panjang tidak mengerti maksud Rai.


Perawat mengantarkan Ruby dan Rai menuju ruang rawatnya di bangsal VVIP. Ruby menghela nafas tidak habis pikir dengan tingkah konyol Rai yang memaksa ingin rawat inap karena luka di telapak tangan kirinya. Dia bersikukuh mengatakan bahwa darah di kepalanya hampir habis, dan membuat dokter rumah sakit pun mengiyakan diagnosis yang Rai buat sendiri. Mungkin dokter itu juga masih sayang dengan pekerjaannya, jadi menyetujui ide gila Rai untuk rawat inap beberapa hari di rumah sakit.


“ Yang sakit telapak tanganmu, kenapa kau harus pakai kursi roda untuk ke kamarmu ? “ Tanya Ruby berbisik lirih, dia tidak ingin perawat yang mendorong kursi rodanya mendengar pertengkaran mereka.


“ Kau dengar sendiri bukan, dokter bilang darahku hampir habis, jadi aku lemas sekali tidak mungkin berjalan kaki “ Rai menjawab santai dan tangannya menggandeng Ruby, dia tidak ingin Ruby melepaskannya.


“ Cih “ Ruby mencibir, memalingkan wajahnya menghentikan debat mereka, tidak ada gunanya melawan bayi besarnya itu.


Mereka memasuki ruangan khusus untuk Rai, meskipun sama-sama VVIP dengan kamar ayahnya ternyata ruangan itu sangat berbeda. Bahkan di tingkat gedung yang berbeda. Seluruh lantai itu hanya terdiri dari 3 ruangan, ruang perawatan khusus, dapur khusus dan ruang santai khusus.


Ruby tidak percaya apa yang dilihatnya, ini melebihi akal sehat. Bagaimana mungkin sebuah ruang inap rumah sakit seperti itu. Perawat meninggalkan mereka.


“ Ini ruangan khusus ? “ Tanya Ruby.


“ Ya ini ruangan khusus yang di bangun oleh rumah sakit atas perintah ibu, dulu sewaktu kecil aku harus tinggal disini, jadi ibu membuatnya senyaman mungkin seperti rumah “ Rai menjawab santai.


" Besok aku akan pergi ke club untuk meminta izin cuti pada bagian HRD " Ruby memberi tahu, dia membantu Rai pindah ke tempat tidur, Ruby duduk di tepi ranjang.


" Tidak boleh, bagaimana bisa kau meninggalkan suami mu yang sedang gawat darurat di rumah sakit ? " Rai melarang, ketus.


" Aku hanya sebentar saja dan lagipula siapa yang gawat darurat ? Itu hanya luka kecil " Ruby mencibir.


" Biar aku yang urus itu besok, sebaiknya kau fokus untuk merawatku saja " Rai memerintah ketus.


" Baiklah " Ruby memilih mengalah.


" Hei bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan kita yang tertunda tadi ? " Rai merayu Ruby, dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Ruby, membuat bentuk lingkaran di punggung Ruby dengan jarinya, membuat Ruby merasa geli.


" Baru kali ini aku melihat pasien sesehat ini " Ruby menyindir.


Tapi Rai tidak memperdulikan ucapan Ruby, dia sudah bangun dan memeluk Ruby, mendorong pelan tubuhnya, dan menind*ihnya.


" Tidak akan ada yang mengganggu kita disini " senyum Rai menggoda.


Tanpa menunggu jawaban Ruby Rai langsung menciumi nya. Dan mereka menikmati malam yang panjang.


🍁🍁🍁🍁🍁


Rai terbangun oleh suara alarm di ponsel Ruby, dia meraihnya dan dengan cepat mematikannya agar tidak membangunkan Ruby.

__ADS_1


Rai meraih ponselnya yang ada di meja sebelah ranjang, mencari daftar kontak dan menghubunginya.


“ Ruby dibagian cleaning service sakit dan akan izin selama 3 hari, dia dirawat dirumah sakit “ Rai menelfon kepala HRD, memberitahu.


Ruby terbangun dan melihat Rai yang sedang duduk bersandar di kasur.


" Ada apa ? " Ruby bertanya serak, setengah mengantuk.


" Aku sudah memintakan izin cuti mu, jadi kau tidak perlu ke sana " Rai menjelaskan. Ruby hanya mengangguk paham.


Matahari sudah terbit, sinarnya menembus kaca jendela dan menyinari seluruh kamar. Ruby sudah selesai mandi dan juga membantu pasiennya mandi. Rai duduk di sofa dan mengerjakan sesuatu di laptopnya.


" Kau ingin sarapan apa ? " Ruby menawarkan, dia akan pergi ke dapur.


" Tidak perlu, aku akan menelfon pak Handoko agar kesini membawakan makanan " Rai menjawab sambil mengambil ponsel di sebelahnya untuk menelfon. Ruby berbalik dan duduk di sebelah Rai, dia mengambil remote tv dan menyalakannya.


" Kau ingin makan apa ? " Tanya Rai lirih.


" Entahlah, mulutku terasa pahit, aku ingin makan yang asam-asam, sepertinya akan segar " Ruby menjawab santai, dia kemudian berpamitan pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Ruby membuka lemari yang ada di dapur, deretan botol air mineral tersusun rapi. Dia mengambil satu dan membukanya. Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk, dia membuka pesan itu ternyata Danny.


My diamond Ruby, kenapa kau tidak masuk hari ini, gosip yang beredar kau sedang sakit, apa parah sampai mengharuskan kau masuk rumah sakit ?


Gosip apa ? Jangan dengarkan gosip, aku baik-baik saja, dan yah aku memang di rumah sakit, tapi ini tidak seperti yang kau bayangkan, ceritanya panjang. Jadi kau tidak perlu khawatir.


Ruby membalasnya, secepat itu pula Danny membalas pesannya.


Well aku lega mendengarnya. Aku akan batalkan acara ku untuk menjenguk sapi, dan menjengukmu saja, okay ?


Ruby tertawa melihat balasan dari Danny.


Aku sangat terharu kau lebih mementingkan aku daripada sapi hahaha


Tentu saja karena kau adalah permata yang berkilau blink-blink di bagian kita hahaha


Darimana dia belajar bahasa aneh-aneh ini. Ruby menggelengkan kepalanya.


Semua pesan lelucon dari Danny membuat Ruby tertawa sendiri hingga tidak menyadari Rai sudah berdiri di sebelahnya.


“ Kau menghubungi siapa ? “ Tanya Rai ketus dan wajah menyeramkan.


Ruby terkejut, ponselnya hampir saja jatuh. Dia melihat ekspresi Rai yang marah dan segera membuat alasan.


" Ah tidak ini hanya spam " Ruby beralasan. Dia segera mematikan ponselnya agar Danny tidak membalas pesannya lagi, dia tidak ingin memancing keributan.


Baiklah karena sudah sejauh ini nikmati saja liburanmu di rumah sakit.


Ruby menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2