
“ Triiiing triiiing “ seperti biasa alarm diponsel Ruby berbunyi.
Dia bangun terduduk, semalam dia berfikir dan tertidur di sofa, dilihatnya tempat tidur, kosong.
Apa Rai semalam tidak pulang ?
Ruby merasa hatinya sangat kecewa. Dia meraih ponselnya dan mematikan alarm. Dilihatnya juga tidak ada panggilan dari Rai, itu artinya dia pulang tanpa kabar.
Matahari belum terbit, tapi Ruby tidak punya sesuatu untuk di kerjakan. Dia turun ke lantai bawah, dilihatnya rumah itu masih gelap, semakin sunyi.
Ruby berjalan-jalan di halaman yang berembun, menghirup udara segar. Duduk di bangku kayu favoritnya. Merasa ada sesuatu yang sepertinya hilang mata Ruby mulai berkaca-kaca, udara segar nyatanya tidak mampu membuat sesak didadanya lenyap, malah semakin menjadi-jadi.
“ Kalau kau tidak pulang harusnya memberi tahu, walau bagaimana pun bukankah aku istri sah mu ? Hiks “ dia mulai menangis.
Matahari telah terbit, sinarnya mulai mengenai daun-daun di taman itu, memunculkan pantulan warna keemasan. Ruby sudah merasa cukup puas menumpahkan kekecewaannya.
Ruby memutuskan untuk menunggu Rai pulang, dia berjalan mondar mandir di pintu utama. Melirik sekilas jam ditangannya, sudah 2 jam dia menunggu Rai tapi tidak tau kapan Rai akan pulang.
Dari jauh terdengar suara mobil memasuki halaman, seketika hati Ruby menjadi senang, senyum terpancar di wajahnya. Mobil Rai datang.
“ Ada apa kau berdiri disitu seperti orang bodoh ? “ tanya Rai pura-pura seperti tidak terjadi apa-apa saat turun dari mobil.
“ Kenapa tidak pulang ? “ Ruby menghambur memeluk Rai, dia sangat merindukannya.
“ Hei apa kau salah minum obat ? Sudah lepaskan, aku harus menjaga kesucian mata para pelayan bukan ? “ goda Rai. Wajah Ruby merona, dia melepaskan pelukannya.
Rai memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya, Ruby mengekori di belakangnya. Dulu dia benci melakukan hal ini, tapi entah kenapa hari ini sepertinya itu hal yang paling menyenangkan.
Mungkin efek dari kesepian yang mendalam , dan saat melihat orang lain meskipun itu adalah orang yang paling kita benci, kita pasti merasa bersyukur, setidaknya membuat kita tetap tersadar bahwa kita tidak sendiri.
“ Aku sangat lelah, aku ingin istirahat “ Ucap Rai.
“ Apa kau tidak akan bekerja hari ini ? “ Tanya Ruby.
“ Ya aku akan libur sehari “ jawab Rai santai.
“ sungguh ? “ Wajah Ruby berbinar bahagia.
“ sesenang itu melihatku ? “ Tanya Rai heran.
“ tentu saja, bagaimana aku bisa merayumu kalau kau tidak ada dirumah, itu semakin menjauhkan izinku untuk segera bekerja keluar “ Ruby beralasan, dia tidak ingin Rai mengetahui bahwa dia sebenarnya merindukannya, itu akan membuat Rai merasa penting dan besar kepala.
__ADS_1
“ Ah aku hampir lupa dengan itu “. Jawab Rai.
Setelah mereka selesai sarapan Rai mengajaknya pergi ke ruangan gym, dia akan berolahraga.
“ Aku dengar setiap malam kau selalu di club, apa yang kau lakukan ? “ Ruby memulai pembicaraan, mencari tau.
Dia sedang menahan kaki Rai yang melakukan sit up, menempelkan dagunya di lutut Rai.
“ tidak ada, hanya cuci mata “ Jawab Rai asal.
“ Cih “ Ruby mencibir, dia memutar bola matanya, malas kalau harus terus melihat Rai.
Cup. Satu kecupan mendarat di bibir Ruby saat Rai melakukan sit up. Wajah Ruby merona.
“ Hei sembarangan saja mencium orang lain ? “ Suara Ruby ketus.
“ aku tidak mencium orang lain, aku mencium istri ku, itu tidak melanggar hukum “ Jawab Rai santai di tengah nafasnya melakukan sit up.
Deg. Mendengar Rai menyebutnya istri hatinya sedikit bahagia.
“ kau tidak ingin merayuku hari ini ? Atau kau memang suka terkurung di rumah ini ? “ Rai menggoda Ruby, menunjukkan senyum nakalnya.
Dasar kau maniak gila, tunggu saja akan aku pastikan hari ini kau bahagia, jadi mulai besok aku bisa pergi keluar dari tempat ini. Senyum Ruby membayangkan dirinya yang akan bebas sebentar lagi.
“ aku beritahukan padamu, aku bukan orang yang mudah dirayu, dan aku yakin hasilnya akan biasa saja “ Rai merendahkan.
“ Tunggu saja, kau pasti terkejut, dan ini akan berhasil dalam satu kali rayuan “ sinis Ruby.
Sudah sekitar 2 jam Ruby menemani Rai berolahraga, dia sudah mulai bosan. Rai yang melihatnya cemberut tersenyum, wajah babaysitter kecilnya itu sangat polos dan imut.
“ kau masih lama ? “ Tanya Ruby.
“ sebentar lagi, kalau kau bosan pergilah dulu “ jawab Rai.
“ Baiklah, aku tunggu di kamar, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan “
Ruby beranjak pergi meninggalkan Rai.
Dia sudah menyusun rencananya. Meskipun harus membuang harga dirinya dan menanggung malu dia tidak peduli. Baginya terkurung dirumah ini tanpa seorang teman adalah hal yang lebih mengerikan.
Ruby sedang bersiap-siap di depan cermin, rencananya tidak boleh gagal kali ini atau dia akan semakin lama terkurung disini. Dia menyiapkan setiap detail agar semua berjalan sempurna dan hanya satu kali rayuan.
__ADS_1
“ kau pasti bisa melakukannya, semangat “ Ruby memberi semangat pada dirinya sendiri.
“ Ceklek “ terdengar pintu di buka, Rai memasuki kamar, Ruby keluar dari kamar mandi.
“ Mandilah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu “ Suara Ruby di buat selembut mungkin.
Rai mengeryitkan alisnya, memang biasanya Ruby melakukan hal itu, lantas apa yang berbeda ?
Selesai mandi Ruby juga membantunya memilihkan pakaian, seperti biasanya.
“ Hei otak udang, kau bilang akan merayuku, tapi yang kau lakukan hanya seperti biasanya, apa yang berbeda ? “ Tanya Rai heran.
“ diamlah, atau kau akan merusak rencanaku, sekarang pergilah keluar, aku sudah menyiapkan susu hangat untuk mu di meja, aku akan membereskan ini dulu “ dia menunjuk tumpukan baju kotor Rai.
Rai menuruti perintah Ruby, dia berjalan menuju sofa, semua masih terlihat seperti biasanya.
Dia merebahkan dirinya disofa, dan meminum susu hangat itu.
“ Sayang.... Apa kau siap untuk siang kita yang erotis “
Ruby berdiri di ambang pintu ruang ganti, mengenakan gaun tidur warna hitam dengan belahan dada rendah dan celana pendek berenda. Bersandar pada pintu dan bergaya seperti model.
Rai yang baru saja meminum susunya menyemburkan kembali minumannya. Dia sangat terkejut dan tidak percaya ini lah rayuan yang dimaksud Ruby. Dia tidak menyangka Ruby akan merayunya dengan cara seperti ini.
Ruby berjalan mendekatinya, jantungnya berdegub kencang, wajahnya merona malu. Duduk disamping Rai yang sedang batuk karena tersedak susu.
“ kau tidak apa-apa? “ Tanya Ruby memukul ringan punggung Rai membantunya agar tidak batuk lagi.
“ Aku tidak apa-apa “ jawabnya berusaha menjaga wibawanya. Dia tidak menyangka rayuan Ruby membuatnya kalah telak.
“ ehem, ehem, jadi ini rayuanmu ? “ Rai berdehem menghilangkan gugupnya.
“ kau terlihat gendut memakai baju tidur itu “ sinis Rai. Ruby melotot marah, dia tidak menyangka Rai akan berkata seperti itu, demi hari ini dia rela memutus urat malunya dan mengubur dalam-dalam harga dirinya. Tapi reaksi Rai malah seperti itu.
Ruby menatap Rai tajam, emosinya naik, dia memukul punggung Rai dengan keras.
“ semoga kau mati tersedak susu “ makinya dan berdiri akan meninggalkan Rai.
Namun Rai menggenggam tangannya dan menariknya kembali duduk, mendorongnya hingga tubuh Ruby jatuh tertidur, dengan cepat Rai sudah men*ndih tubuhnya bertumpu pada lututnya.
“ Tapi aku suka kau yang gendut, bersiaplah, ini tidak akan sebentar, ini akan jadi siang yang panjang “ goda Rai menunjukkan senyum nakalnya.
__ADS_1
Rai mencium lembut bibir Ruby yang dibalas dengan ciuman juga, semakin lama semakin dalam, Rai beralih turun ke leher Ruby, menciumnya dengan keras meninggalkan bekasnya. Tangannya sudah menyusuri pundak Ruby, membantunya melepas baju tidur mini itu. Tubuh Ruby bereaksi dengan setiap sentuhan Rai, membuatnya menegang dan menggeliat. Rai tersenyum penuh kemenangan. Ini lah tujuannya, Ruby datang sendiri ke pelukannya, tanpa ada paksaan.
Bersambung....