Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Daun Tua


__ADS_3

" Hei tuan putri, memangnya ayah dan ibu mu kemana ? Kenapa kau di tinggal disini sendirian ? " Tanya Dylan dingin seraya menimang Raline yang ada di gendongannya.


Di temani Regis dan sekertaris Yuri serta dua pelayan yang di tinggalkan Rai tadi, mereka semua berkumpul di halaman belakang mansion untuk menjaga Raline.


" Berikanlah mereka waktu untuk bersama, kau tidak tau betapa sulitnya bagi pasangan untuk memiliki waktu berduaan jika sudah menjadi orang tua " Jawab Regis santai yang sedang duduk di bangku kayu yang ada di hadapan Dylan.


" Baik ayah " Jawab Dylan sopan.


" Ah ngomong-ngomong soal menjadi orang tua, kau sendiri bagaimana ? " Tanya Regis menoleh ke arah sekertaris Yuri yang berdiri disampingnya.


" Maaf tuan ? " Tanya Sekertaris Yuri tidak paham maksud pembicaraan Regis.


" Kau tidak sadar kalau kedua keponakanmu sudah menikah semua, tapi kau masih saja betah sendiri, jangan sampai dia juga mendahului mu " Tunjuk Regis ke arah Dylan.


" Mendahului apa " Gumam Dylan ketus dan salah tingkah mendengar perkataan Regis.


" Aku tidak berniat menikah " Lanjutnya kemudian.


" Tentu saja kau tidak berniat menikah sekarang ini, kau kan masih sekolah " Jawab Regis terkekeh.


" Hei tapi apa kau tidak punya kekasih ? " Lanjut Regis menggoda Dylan.


" Tidak ada ! " Sautnya tegas dengan wajah tegang.


" Iya iya tidak ada, kau tidak perlu berlebihan menyangkalnya " Jawab Regis terkekeh, di ikuti dengan sekertaris Yuri yang ada di sampingnya.


" Hei kau ! " Regis yang mendengar Sekertaris Yuri ikut terkekeh segera menoleh ke arahnya.


" Kau juga tidak punya kan ? Jadi jangan ikut tertawa, kau itu senasib dengannya " Lanjut Regis dan Sekertaris Yuri langsung terdiam begitu mendengar kalimat yang di lontarkan Regis.


" Maaf tuan " Jawabnya cepat dan menundukkan kepala.


" Kenapa kau tidak menikah ? Paling tidak carilah kekasih " Omel Regis kepada Sekertaris Yuri.


" Maaf tuan saya... " Jawab Sekertaris Yuri tergagap.


" Apa kau masih belum bisa melupakan dia ? " Tebak Regis seperti tepat sasaran karena melihat Sekertaris Yuri yang langsung gugup begitu topik pasangan di angkat ke permukaan.


" Tidak tuan " Pungkas Sekertaris Yuri singkat dan langsung menghampiri Dylan untuk meminta Raline.


" Dasar anak ini " Gumam Regis kesal.


Melihat Sekertaris Yuri yang biasanya sangat tenang menjadi gelagapan seperti itu membuat Dylan tersenyum.


" Apa kau ? " Tanya Sekertaris Yuri ketus saat mengambil Raline.


" Paman Yuri, aku tidak menyangka ternyata kau pernah patah hati juga " Goda Dylan usil.


" Hei kau tidak dalam posisi bisa menggodanya, dia masih lebih baik daripada kau, setidaknya dia pernah memiliki kekasih " Saut Regis kepada Dylan.


" Aku kan sibuk belajar " Protes Dylan.


" Tapi biasanya anak seumuranmu setidaknya pernah merasakan romansa cinta SMA, sedangkan yang ku lihat kau selalu saja berkutat dengan buku " Balas Sekertaris Yuri merasa menang di atas awan.


" Aku tidak suka romansa, hanya buang-buang waktu " Jawab Dylan membela diri.


" Oh ya, kenapa kau membuat keributan dengan Blair ? " Tanya Sekertaris Yuri spontan karena mereka sedang membicarakan masa SMA, membuatnya ingat kejadian siang tadi saat Blair menerobos masuk ke ruangan kepala sekolah untuk melayangkan protes.

__ADS_1


" Tuan Ken " Seru Blair yang langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan kepala sekolah tanpa mengetuk pintu, membuat Sekertaris Yuri yang sedang duduk dan mengerjakan sesuatu di laptopnya mendongak heran.


" Oh ? " Pekik Blair terkejut karena mendapati Sekertaris Yuri dan bukannya Ken, dengan cepat dia segera membungkukkan badannya memberi hormat.


Jika dia bisa bersikap seenaknya dengan Ken itu karena sifat Ken yang ramah, tidak dengan Sekertaris Yuri, orang kepercayaan Regis yang bahkan sudah di anggap Regis sebagai adiknya sendiri itu memiliki sifat yang sama persis dengan Regis. Diam dan menghanyutkan.


" Maaf tuan " Ucap Blair berubah sopan.


" Kenapa kau kemari ? " Tanya Sekertaris Yuri tanpa basa basi.


" Apa tuan Ken ada ? " Tanya Blair sopan.


" Dia sedang pergi ke luar negeri beberapa hari bahkan mungkin minggu, ada apa ? " Tanyanya lagi.


" Begini, bukankah saya sudah mendaftar dengan nama Blair, tapi kenapa arsip sekolah saya masih menggunakan nama Dasya ? Bagaimana jika yang lainnya tau nama asli saya, bukankah itu sangat memalukan, melanggar hak asasi saya sebagai seorang artis " Protesnya kesal namun masih berusaha sopan dan takut-takut.


" Entahlah, aku menerima berkas-berkas mu dengan nama Dasya, mungkin bisa kau tanyakan kepada ayahmu atau manager mu " Jawab Sekertaris Yuri acuh dan kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya dengan serius.


Aish dasar !!!


Makinya dalam hati dan tanpa sadar menghentakkan kakinya karena kesal.


" Ada yang lain lagi ? " Tanya Sekertaris Yuri dingin tanpa melepaskan matanya dari layar laptop, membuyarkan lamunan Blair.


" Oh tidak, terima kasih " Jawabnya sopan dan menundukkan kepala kemudian cepat-cepat pergi keluar ruangan.


" Aku tidak membuat keributan dengannya " Jawab Dylan acuh.


" Bukan begitu maksud ku, bukankah aku sudah memberi tahumu bahwa harus memberikan kertas itu pada Blair " Jelas Sekertaris Yuri.


" Aku sudah memberikan kepadanya sesuai perintahmu " Jawab Dylan masih saja acuh.


" Paman bilang aku harus memberikannya kepada Dasya, dan sudah ku berikan " Jawab Dylan membela diri.


" Apa kau memanggilnya dengan nama aslinya ? " Tanya Sekertaris Yuri lagi.


" Memangnya aku harus memanggilnya siapa lagi kalau bukan namanya ? " Protes Dylan tidak terima.


" Hei bukankah aku sudah meralatnya, berikan kepada Blair " Saut Sekertaris Yuri ketus.


" Sama saja bukan ? Aku memberikannya kepada Dasya atau Blair, toh mereka orang yang sama " Jawab Dylan acuh.


" Kalian ini bicara apa ? " Tanya Regis menengahi karena melihat perdebatan di antara mereka berdua.


" Maaf tuan " Jawab Sekertaris Yuri sopan.


" Kami sedang membicarakan keluarga tuan Dimitri, anaknya yang bernama Dasya menjadi murid di sekolah kita, dia juga sekaligus menjadi model pendatang baru untuk brand ambassador pusat perbelanjaan kita " Jelas Sekertaris Yuri.


" Ah anak Dimitri " Jawab Regis paham seraya mengangguk-anggukan kepalanya.


" Aku agak kurang menyukainya " Lanjut Regis santai.


" Maaf tuan ? " Tanya Sekertaris Yuri sopan dengan rasa penasaran, begitu juga Dylan yang sedari tadi hanya diam menyimak.


" Dia terlalu berambisi untuk menjadikan anaknya menantu di keluarga ini, bahkan saat ku katakan Rai sudah punya istri dia tidak peduli, terus saja menawarkan putrinya untuk menjadi istri ke dua Rai, aku sangat tidak menyukai sifatnya yang serakah seperti itu " Jelas Regis santai.


" Istri ke dua ? " Tanya Ruby tiba-tiba karena mendengar pembicaraan Regis dan yang lainnya.

__ADS_1


" Oh itu bukan apa-apa nak " Jawab Regis berusaha meluruskan.


" Iya itu bukan apa-apa, itu hanya masa lalu " Rai ikut menimpali santai.


" Jadi di masa lalu kau punya kekasih lain begitu ? " Tanya Ruby penasaran.


" Tidak, dia hanya salah satu gadis yang rencananya akan menemaniku, tapi karena tiba-tiba kau datang, aku membatalkannya " Jawab Rai santai.


" Hm ? " Ruby mengernyitkan keningnya bingung dengan jawaban Rai.


" Kau ini pelupa sekali, dia itu wanita yang sekertaris Yuri pilihkan untuk menemaniku, tapi tiba-tiba kau datang dan pingsan di ruangan ku " Jelas Rai lebih mendetail.


" Tunggu dulu, maksud mu dia adalah salah satu wanita yang akan kau kencani ? Dan sekarang dia sekolah di SMA Loyard ? " Tanya Ruby memastikan.


" Hm " Rai menganggukkan kepalanya santai, seraya memasukkan tangannya di saku celananya.


" Hei itu artinya dia masih di bawah umur ?!? " Pekik Ruby marah.


" Tidak tau, dia yang memilihkannya " Jawab Rai polos dan menunjuk Sekertaris Yuri dengan dagunya. Seketika itu juga Ruby melirik tajam ke arah sekertaris Yuri yang sudah salah tingkah.


" Itu karena tuan Dimitri terus saja menawarkan putrinya " Jawab Sekertaris Yuri tergagap.


" Tetap saja, masa kau menyarankan gadis di bawah umur " Sentak Ruby kesal.


" Dan kau !! " Ruby menoleh ke arah Rai yang juga ikut takut melihat kemarahan Ruby.


" Jadi begitu selera mu ? Daun muda, iya ? " Omelnya ketus.


" Aku tidak suka daun muda, aku suka daun tua, seperti mu " Kilah Rai asal untuk membela diri.


" Apa ? Daun tua ? Seperti ku ? " Ulang Ruby dingin, seperti ada aura super saiya yang saat ini sedang membungkus tubuhnya.


" Baiklah, ini adalah permasalahan pribadi antar pasangan, jadi mari kita menyingkir " Saut Regis menengahi, kemudian dia memberikan kode untuk Dylan dan Sekertaris Yuri yang sedang menggendong Raline, serta kedua pelayan untuk mengikutinya pergi dari zona berbahaya itu.


" Ayah, kau mau kemana ? " Tanya Rai panik.


" Ajak aku juga " Teriaknya semakin keras saat melihat mereka semua pergi menjauh. Namun Regis hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh, dengan gaya yang santai.


" Jadi menurutmu aku daun tua ? " Ulang Ruby tajam.


" Tidak " Jawab Rai cepat.


" Lalu apa maksud mu tadi " Lanjut Ruby masih tajam.


" Maksud ku tadi adalah kau wanita yang matang, seperti buah yang matang, apa ya ? " Rai berusaha mencari persamaan yang tepat agar kemarahan Ruby segera mereda.


" Matang ? " Geram Ruby semakin kesal.


" Aish entahlah, tidak peduli kau daun tua atau buah matang, yang penting aku lebih menyukai mu dari siapapun di dunia ini, titik " Teriak Rai putus asa.


" Cih " Ruby mencibir sinis, tapi tak urung dia tersenyum juga melihat Rai yang panik menghadapi kemarahannya.


" Baiklah aku maafkan kali ini, awas saja kalau kau mendua " Ruby kemudian membuat tanda sayatan di lehernya seakan menegaskan apa yang akan terjadi jika sampai Rai macam-macam.


" Aku tidak mungkin mendua, jika aku sudah memiliki dua wanita paling sempurna di dalam hidupku " Jawab Rai lega dan langsung memeluk Ruby.


" Dua ? " Ruby menaikkan alisnya dan menaikkan nada suaranya.

__ADS_1


" Kau dan Raline " Jawab Rai terkekeh, dan mereka berdua pun tertawa bersama.


__ADS_2