
Bel makan siang berbunyi dengan nyaring, semua murid segera membereskan buku mereka dan berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin, sebagian dari mereka berjalan cepat bahkan berlari demi menghindari antrean yang panjang dan padat merayap.
Dylan juga sedang membereskan semua buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, lalu mengambil ponselnya dan memasukkannya ke saku celananya.
Blair yang seharian ini merasa tak karuan karena tangan Dylan yang tiba-tiba menggenggamnya tadi pagi hanya berani melirik Dylan.
Bagiamana dia masih bisa bersikap begitu biasa setelah memegang tanganku dengan tiba-tiba seperti itu ?
Batin Blair canggung, dia meraba dadanya, bahkan jantungnya saja masih belum berdetak secara normal.
Setelah selesai mengemasi buku-bukunya Dylan pergi begitu saja tanpa melihat ataupun menoleh kepada Blair, seolah-olah hanya tinggal dirinya seorang di kelas itu.
Wuah !!! Dia... dia...
Pekik batin Blair kesal melihat sikap Dylan yang masih saja mengabaikannya.
" Blair apa kau mau makan siang bersama kami ? " Tanya murid-murid yang entah darimana sudah mulai mengeremuni Blair.
" Ah ya tentu saja " Jawab Blair dengan senyum manisnya. Dan mereka pun pergi bersama-sama menuju kantin.
Dylan yang sudah lebih dulu tiba di kantin langsung saja masuk ke dalam antrean, tidak terlalu panjang.
" Wow " Pekikan suara siswa-siswa tiba-tiba bersaut-sautan saat Blair memasuki kantin.
Semua mata langsung memberikan perhatiannya kepada idola di SMA Loyard tersebut. Begitu pun para siswa yang sudah mengantre langsung memberikan jalan kepada Blair.
" Terima kasih, terima kasih " Ucap Blair lembut dengan senyumnya yang menghipnotis selurus penduduk sekolah.
Blair berjalan menuju ujung antrean, namun dia melihat seseorang yang tidak bersikap layaknya semua orang yang ada disini. Dia tidak memberikan jalan pada Blair seperti yang di lakukan semua murid.
" Ehem... ehem... " Blair berdehem untuk memberitahukan keberadaannya kepada seseorang yang ada di depannya. Namun bukannya menoleh, anak itu malah mengangkat ponselnya yang bergetar.
" Kenapa ? " Tanyanya tanpa basa basi. Blair yang hapal suara Dylan sangat terkejut, bagaimana bisa mereka berpapasan di kantin. Blair menjadi sedikit panik, masih belum bisa menguasai jantungnya jika mengingat kejadian tadi pagi. Dia membalikkan badannya, memutuskan akan pergi saja dari kantin.
" Hei kau mau mati ? " Sungut Ken kesal di ujung telepon.
" Iya iya, ada apa ? " Suara Dylan tiba-tiba berubah melunak dan menjadi lembut, membuat Blair yang tadinya sudah satu langkah menjauh dengan cepat kembali membalikkan badan dan lebih mendekat pada Dylan.
Semua tentang Dylan begitu mengusik perhatiannya, bagaimana tidak, jika seluruh remaja sangat tergila-gila padanya, tapi kenapa Dylan tidak. Blair bahkan sudah membuat beberapa kemungkinan alasan kenapa Dylan tidak menyukainya.
Satu, Dylan tidak pernah melihat tv.
Dua, Dylan tidak punya tv.
Tiga, Dylan tidak suka wanita, namun kemungkinan yang terakhir segera di coret Blair begitu mengetahui bahwa ada seorang wanita yang mengelus-elus pipi Dylan.
__ADS_1
Aish membayangkannya saja aku sudah merasa kesal setengah mati, dia sudah punya kekasih tapi seenaknya saja memegang tanganku. Tunggu dulu, apa ini termasuk pelecahan ya ? Apa sebaiknya aku melapor pada polisi saja.
Maki Blair dalam hati, dia begitu kesal melihat Dylan yang sedang tertawa menerima telepon.
Blair yang penasaran semakin mendekat tanpa mencurigakan, dia memiringkan sedikit tubuhnya agar telinganya lebih dekat kepada ponsel Dylan.
" Jadi kau menelepon cuma ingin memberitahukan itu ? " Jawab Dylan dingin.
" Hei aku ini kakak yang baik, kau tau betapa merasa bersalahnya aku tidak membagikan mu peran dalam pikiranku, aku sangat takut aku menjadi kakak yang pilih kasih, jadi aku mengabari mu, kau bisa memilih menjadi apa saja, tapi dalam cerita teletubbies hanya tersisa penyedot debunya, peran lainnya sudah terisi " Jelas Ken antusias.
Dylan menghela napas jengah, jika sudah berhubungan dengan the amburadul family, masalah teletubbies pun akan di bahas dengan serius.
" Aku tidak mau " Jawab Dylan malas.
" Aku ingin jadi mataharinya saja " Lanjutnya.
Matahari ? Dia membicarakan apa sampai harus menjadi matahari segala. Ya ampun, apa dia sedang main rayu-rayuan, kau jadi bulan, aku jadi bintang, kau jadi siang aku jadi matahari, begitu kah ?
Batin Blair panik, merasa kesal sendiri.
" Tapi mataharinya harus Raline, memangnya kau tidak kasihan pada Raline kalau dia jadi penyedot debunya ? " Omel Ken ketus.
" Cih " Dylan berdecak lalu terkekeh sendiri.
" Raline ? Tentu saja Raline pasti akan sangat menggemaskan jika jadi mataharinya " Jawab Dylan juga ikut tertawa.
Ejek Blair sinis.
" Jadi bagaimana, kau baik-baik saja ? " Tanya Ken sedih.
" Hm ? " Dylan mengernyitkan keningnya bingung dengan pertanyaan Ken.
" Apa tidak masalah kalau kau jadi penyedot debunya " Jawab Ken kesal Dylan tidak juga segera paham maksudnya.
" Iya iya terserah kau saja, terima kasih sudah sangat perhatian padaku " Jawab Dylan lalu menutup sambungan teleponnya dan memasukkannya kedalam saku. Dan bergegas mengambil nampan berisi makan siangnya.
Apa ? Perhatian ? Huek, mau muntah rasanya mendengar hal menjijikkan seperti itu, seperti tidak pernah pacaran saja. Memangnya aku tidak perhatian padamu, aku juga sangat perhatian padamu, tiap hari tersiksa memikirkan apa yang salah dengan otakmu sampai kau mengabaikanku seperti itu.
Maki Blair lagi dalam hatinya.
Dylan yang membawa nampannya langsung saja membalikkan badan dan menabrak Blair yang berada terlalu dekat di belakangnya.
" Huaaa !!! " Jerit Blair saat makanan yang di bawa Dylan tumpah ke arahnya.
Semua orang langsung menatap ke arah keributan. Baju Blair yang putih kotor oleh noda makanan.
__ADS_1
" Aduh bagaimana ini ? " Ucap Blair panik seraya mengusap-usap noda makanannya dengan tangannya. Sementara siswa yang lainnya langsung bergegas memberikannya tissu.
" Kenapa kau berdiri dekat sekali sih ? " Omel Dylan ketus, karena dirinya pun harus terkena cipratan makanan yang membuat seragamnya sedikit terkena noda.
" Apa ? " Tanya Blair dengan suara tercekat menahan emosi, di tatapnya Dylan dengan tatapan tajam. Namun bukannya meminta maaf Dylan malah pergi berlalu meninggalkan Blair yang masih syok oleh sikap Dylan.
Ya ampun !! Dasar anak sialan !!!!
Teriak batin Blair kesal setengah mati, namun demi menjaga imagenya dia hanya tersenyum kepada orang-orang yang mengkhawatirkannya.
" Tidak apa-apa, aku akan ke kamar kecil membersihkan ini " Jawabnya dengan tersenyum
" Kau ingin di temani ? " Tanya murid-murid yang lain.
" Tidak apa-apa, aku bisa sendiri " Jawabnya masih dengan tersenyum lalu segera pergi ke kamar kecil.
Suasana lorong-lorong kelas tentu saja sepi karena semua anak sedang makan siang di kantin, Blair berjalan dengan cepat dan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
Dia segera menuju toilet dan dengan kesal membuka semua pintu bilik-biliknya yang tertutup. Setelah memastikan semua kosong dan keadaan aman dia berteriak.
" Aaaarrrggghh !!! " Geramnya marah, dengan menggenggam tangannya dan gigi yang terkatup rapat dia mengeluarkan semua rasa kesalnya sejak pagi.
" Dasar laki-laki sialan !!! " Teriaknya lagi.
" Memangnya siapa kau bisa bersikap seenaknya seperti itu ? Apa susahnya minta maaf, dan apa tadi dia bilang ? Aku berada terlalu dekat dengannya ? Cih ! Siapa yang sudi dekat-dekat dengan mu, memangnya siapa kau bisa berbuat seenaknya kepadaku, Blair si ratu iklan. Lihat saja aku pasti akan membalasmu " Omelnya kesal seraya menghadap kaca dan menyalakan keran di wastafel. Lalu dengan kesal dia terus saja menggosok-gosok noda di bajunya, tapi sia-sia nodanya tidak mau hilang, dan bajunya malah semakin basah.
" Aish ! " Desisnya menyerah dan melihat tangannya yang sudah memerah karena terus menggosok.
" Aku mau pulang saja " Ucapnya pasrah dan sedih. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi managernya agar segera menjemputnya.
Lalu dengan langkah gontai dia keluar dari dalam toilet.
" Aahh... " Pekiknya terkejut mendapati seseorang di hadapannya sedang mengulurkan sebuah jaket kepadanya dengan tiba-tiba.
" Kau ?!? " Pekiknya ketika melihat Dylan berdiri di depan toilet bersandar pada tembok dengan gaya coolnya.
" Bajumu basah semua, bra mu terlihat tuh " Jawabnya acuh dan menunjuk bagian dada Blair dengan dagunya.
" Apa ?!?! " Pekik Blair makin terkejut mendengar ucapan Dylan, lalu dengan cepat menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
" Nih, lain kali jangan pakai warna hitam " Dylan menyampirkan jaketnya dengan asal ke pundak Blair dan langsung pergi dari sana.
" Hei !! Hei !!! " Teriak Blair semakin kesal.
Darah tinggi, darah tinggi !!!
__ADS_1
Maki Blair dalam hati seraya menghentak-hentakkan kakinya kesal.