
Barikade pengamanan sudah di pasang di sepanjang jalan, polisi di dampingi anak buah Rai memeriksa satu persatu mobil yang melintas hanya sebagai formalitas saja. Sampai akhirnya mereka melihat mobil yang terekam cctv menculik Ruby. Polisi mengarahkan mobil untuk menepi dengan menggunakan tongkat lampu.
" Tuan kami melihat mobil target sudah mendekat, kami akan segera melakukan pemeriksaan " Kepala pengawal menelfon dan menginformasikannya kepada Ken.
" Tahan dengan alasan apapun " Ken memberi perintah.
" Kak mereka sudah menemukan mobilnya, mereka sedang memeriksa nya sekarang " Ken mengabarkannya kepada Rai yang sangat gelisah di sampingnya, yang hanya di balas dengan anggukan, dan Ken semakin kencang melajukan mobilnya.
Mobil itu menepi dan berhenti, polisi menghampirinya dan mengetuk jendela kaca pengemudi.
" Selamat siang, kami hanya sedang melakukan pemeriksaan rutin tentang kelengkapan surat-surat kendaraan, mohon anda turun untuk menunjukkannya " Ucap polisi sopan begitu jendela kaca itu di buka.
" Baiklah " Pengemudi berwajah kaku itu hanya menjawab singkat. Dia menyembunyikan pistol di balik jas hitamnya.
Begitu si pengemudi turun, anak buah Rai segera memeriksa isi mobil, nihil. Tidak ada bekas jejak penculikan di dalamnya. Mereka memberi kode kepada polisi yang sedang memeriksa sopir untuk menahannya lebih lama lagi.
" Tuan bisa kah anda datang ke meja di sebelah sana, kami ingin mencatat surat-surat anda " Polisi itu mengarahkan dengan sopan, dan mereka berjalan menjauh dari mobil.
Baru beberapa langkah menuju meja, mereka semua di kejutkan dengan suara decitan rem dari mobil Ken yang baru saja tiba. Membuat sopir dan polisi itu menoleh dan melihat Rai yang turun dengan tergesa-gesa.
Merasa identitasnya terbongkar dia segera meraih polisi di sampingnya dan menjadikannya tawanan. Menodongkan pistol yang dia sembunyikan di balik jasnya.
Melihat kejadian itu, semua polisi dan juga pengawal Rai sigap dan juga mengangkat senjata mengarahkan kepada penjahat yang sedang menawan polisi.
" Jatuhkan senjata kalian, atau... atau.. akan ku tembak dia " Ucap penjahat itu terbata-bata menghadapi puluhan orang yang mengepungnya dengan todongan senjata.
" Tembak saja dia " Balas Rai dingin berjalan mendekati penjahat itu.
" A.. A.. aku tidak bercanda " Penjahat itu mencoba menggertak sekali lagi.
__ADS_1
" Lakukan saja, lagi pula kau akan bernasib sama dengannya " Rai tetap saja melangkah mendekatinya.
Mendapat balasan seperti itu dari Rai membuatnya semakin gugup dan bingung. Aura gelap menyelimuti keadaan sekitar, semua merasa terintimidasi dengan sikap Rai yang terlihat sangat dingin dan seperti tidak takut mati.
Dor !!! Suara tembakan menggema di udara. Polisi yang menjadi tawanan itu memejamkan matanya, ketakutan setengah mati. Setelah beberapa saat dia berdiri kaku, tidak merasakan apa-apa di tubuhnya, dan hanya merasakan cengkaraman lengan di lehernya mengendor, dia memberanikan diri membuka matanya. Penjahat itu sudah terkapar dengan lengan yang terluka. Dia menoleh ke arah si penembak. Rai berdiri dengan tegap dengan senjata yang masih teracung ke depan. Polisi itu hanya bisa terkejut melihat kecepatan dan ketepatan Rai dalam menembak. Karena meleset sedikit saja, maka dia lah yang akan terkapar di tanah sekarang.
Mendapati keadaan itu polisi tersebut langsung berlari untuk melindungi dirinya, dan anak buah Rai segera meringkus penjahat yang sedang mengerang kesakitan. Darah dengan cepat menggenang di sekitarnya.
" Dimana Ruby ? " Rai melayangkan tinjunya ke wajah penjahat itu tanpa memperdulikan keadaan lawannya yang sudah tidak berdaya.
Namun penjahat itu seperti sudah siap mati, terbukti dia masih saja bungkam perihal dimana korban penculikannya itu di bawa. Melihat hal itu semakin membuatnya geram, Rai membabi buta melayangkan tembakannya dengan jarak dekat ke arah kaki penjahat itu, membuatnya ambruk seketika dan genangan darah semakin meluap.
" Kak sudah lah, kalau kau membunuhnya kita tidak akan bisa mendapatkan kakak ipar " Ken berusaha menenangkan Rai yang sudah gelap mata, menghabiskan seluruh isi pistolnya hanya untuk di sarangkan ke kaki penjahat itu.
" Aish !!!! " Rai menghantamkan gagang pistolnya kepada wajah penjahat itu sebagai serangan terakhir.
Dia kembali ke mobil Ken dan mengendarai sendiri mobilnya, berbalik arah dengan manuver tajam dan menekan pedal gas sampai maksimal, membuat mobil sport berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Ken memberikan perintah agar segera membawa penjahat itu ke markas mereka,dan dia segera pergi menuju mobil lainnya, meminta kepada sopir agar dia mengemudikannya sendiri. Dengan cepat juga segera melajukan mobilnya menyusul Rai.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Apa sekarang kau percaya aku suami mu ? " Tanya Lucas dengan seringai yang mengerikan, dia kembali menutup kancing di kemejanya yang sudah setengah terbuka.
" Iya iya aku percaya " Ruby terisak-isak menjawabnya. Dia terpaksa berbohong agar Lucas tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Maafkan aku Rai yang tidak bisa menjaga diri dan anak kita. Maafkan aku yang sudah mengkhianatimu dengan setuju mengakuinya sebagai suami ku untuk saat ini. Aku berjanji aku akan segera kembali padamu, tunggu aku Rai.
" Baiklah karena kau sudah mengakui nya, aku akan menyuruh pelayan untuk membantu mu berganti pakaian. Dan kita akan segera makan malam yang romantis. Berdandanlah yang cantik untuk suami mu " Lucas mencubit dagu Ruby dengan lembut dan kemudian mencium keningnya.
__ADS_1
Dia berjalan keluar ruangan dengan bersiul-siul bahagia. Meninggalkan Ruby yang semakin terisak-isak.
Tak berselang berapa lama, 3 orang pelayan masuk membawakan pakaian ganti untuknya.
" Nona, aku mohon lepaskan aku dari sini, aku mohon padamu nona " Ruby memohon lirih begitu mereka mendekat padanya.
" Maafkan kami nona, tuan muda sangat kejam, dia tidak akan mengampuni kami kalau sampai itu terjadi " Pelayan itu menolak seraya menundukkan kepalanya, setengah berbisik agar Tuannya yang ada di luar ruangan tidak mendengarnya.
" Kenapa dia bisa jadi seperti ini, apa yang terjadi ? " Ruby bertanya di sela isak tangis ketakutannya.
" Tuan Muda menjadi aneh sejak beberapa bulan yang lalu nona, dia bersikeras telah memiliki seorang istri yang sedang di tawan oleh penjahat " Pelayan yang lain berbisik menjelaskan.
" Mari nona, akan kami antar anda ke kamar " Pelayan lain menimpali dan membantu Ruby berdiri dari kursi rodanya. Menuntunnya berjalan memasuki sebuah ruangan lain yang ada di ujung ruangan itu.
Pelayan membuka pintu itu dengan perlahan, Ruby memasukinya dengan langkah ragu-ragu. Ruangan itu gelap. Pelayan kemudian menghidupkan saklar lampu yang ada di dekat pintu.
Ceklek !!! Seketika ruangan itu menjadi terang benderang dengan cahaya 4 buah lampu LED yang terpasang di tiap sudut ruangan.
Ruby terkejut dan membelalakan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Bukan desain interior yang super mewah yang membuatnya terkejut, bukan juga elektronik canggih keluaran terbaru yang menghiasi ruangan tersebut. Tapi tatapannya terpaku pada dinding di sisi ruangan yang ada di hadapannya. Tubuhnya membeku menyadari bahaya yang sedang mengintainya saat ini.
" Tidak mungkin. Ini.... " Wajah Ruby yang sudah pucat menjadi semakin pucat, serasa seluruh darah yang mengaliri pembuluh darah di wajahnya mendadak berhenti.
Tubuhnya hampir saja jatuh terduduk jika bukan karena para pelayan yang menahannya.
Kenapa bisa jadi seperti ini. Apa salahku. Rai tolong selamatkan aku secepatnya.
Ruby terisak-isak di tengah suasana sepi itu.
__ADS_1