
Ruby dan Rai sedang makan di ruang makan, Ruby merasa akhir-akhir ini selera makannya berkurang, tapi entah kenapa saat itu dia makan banyak sekali. Rai hanya melihat Ruby makan dengan lahap dan tersenyum bahagia.
“ kau seperti orang yang tidak pernah makan, lihatlah sangat berantakan “ Rai mengambil nasi yang menempel di pipi Ruby. Mendapat perhatian seperti itu wajahnya merona. Dia menyukainya.
“ Hari ini sepertinya nafsu makan ku bertambah, aku selalu merasa lapar setiap jam “ Ruby menjawab santai.
" Kenapa ? " Rai bertanya heran dengan ucapan Ruby.
" Entahlah, terkadang aku mual dan tidak bernafsu makan, tapi terkadang aku merasa kelaparan setiap jam “ Ruby menjelaskan perubahan pada dirinya.
" Apa kau ingin periksa ? " Rai menawarkan.
" Nanti aku akan melakukannya sendiri " Ruby menjawab santai.
" Ruby jangan-jangan kau... “ Rai membuat asumsi.
" Jangan-jangan apa ? " Ruby mendekatkan telinganya untuk mendengar.
" Jangan-jangan kau terkena penyakit busung lapar, makanya selalu kelaparan setiap jam " Rai menjawab serius.
" Aish tidak mungkin begitu, aku sesehat ini mana mungkin kena busung lapar " Ruby mengelak ketus.
Selesai sarapan mereka kembali ke ruang perawatan, Rai melanjutkan pekerjaannya dengan laptopnya, dan Ruby menonton drama pagi hari.
“ Aahh aku kenyang sekali “ Ruby menepuk-nepuk perutnya. Dia melihat ponselnya yang tadi dia tinggalkan di sofa. Sebuah pesan di terima. Ruby terkejut dengan isi pesannya.
“ Omo... Hei hei teman-temanku akan menjengukku nanti pulang kerja, aku harus bagaimana ? “ Ruby panik.
“ Tolak saja “ Jawab Rai santai. Ruby meliriknya sinis.
“ Enak saja kau bicara, menurutmu semua kekacauan ini karena siapa ? Kau yang menelfon dan menyebarkan gosip aku sakit dan harus dirawat disini, sekarang mereka berbaik hati akan menjengukku dan aku harus menolaknya ? “ Ruby ketus.
“ kalau begitu biarkan saja mereka menjengukmu disini “ Rai tetap santai dan fokus pada laptopnya.
“ Hei otakmu sedang kau taruh dimana ? Apa menurutmu masuk akal aku seorang cleaning service sakit dan di rawat diruangan seperti ini ? “ suara Ruby meninggi.
“ Lantas apa mau mu ? “ Rai kesal juga pada akhirnya.
“ bilang pada pihak rumah sakit agar aku boleh memakai ruangan bangsal umum untuk sementara, agar mereka percaya aku benar-benar sakit, aku tidak mau di cap sebagai pembohong “ Ruby memohon, membuat wajah memelas.
“ Cih bukannya kau memang pembohong ? “ Rai sinis mengingat kejadian Lucas yang memeluknya.
“ Apa ? “ tanya Ruby tidak mengerti.
__ADS_1
“ Baiklah, akan ku suruh mereka menyiapkannya, kau itu menyusahkan sekali, sudah ku bilang jangan berteman, lihat sekarang kau susah sendiri “ Rai ketus.
“ Ini kan karena kau, jadi kau yang harus bertanggung jawab “ Ruby memakinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sore telah tiba, pasti sebentar lagi teman-temannya akan datang. Ruby sudah bersiap-siap dia atas tempat tidurnya di ruangan bangsal rumah sakit. Dia melirik tempat tidur disebelahnya, seseorang berbaring dengan menggunakan masker.
“ Hei untuk apa kau ikut-ikutan berbaring disini “ Ruby kesal.
“ Aku akan mengawasimu, siapa tau mulutmu itu bicara yang aneh-aneh “ Rai beralasan, dia hanya ingin tau apa ada laki-laki yang akan menjenguknya juga, mengingat kejadian rekan kerjanya yang mengatakan sangat menyukai Ruby saat apel pagi.
“ Bicara aneh-aneh apa ? Bukannya kau yang selalu bicara tidak masuk akal ? “ Ruby kesal. “ Lagipula ini terlalu mencolok, bagaimana ruangan bangsal dengan banyak tempat tidur pasien tapi hanya aku yang ada disini “ Ruby memainkan logikanya.
“ Karena itu aku menemanimu disini supaya sandiwara mu itu berhasil “ Rai bangga merasa idenya benar.
“ Tapi jangan berisik disitu, diam saja, mengerti ? “ Ruby menarik tirai pembatasnya agar mereka terpisah.
Suara ketukan di pintu mengagetkan mereka, ternyata teman-teman Ruby. Mereka beramai-ramai.
“ Kau sakit apa ? “ Tanya Mey.
“ Entahlah hanya merasa kurang enak badan “ Ruby beralasan.
“ Ku dengar kau sakit diare karena salah makan ? “ Anton menimpali. Rai terkekeh mendengar gosip yang beredar.
“ Aneh rumah sakit ini sangat terkenal tapi kenapa di ruangan ini hanya ada kau ? “ Tanya Tina melihat sekeliling ruangan.
“ Aku tidak sendiri, ada seseorang di sebelah, mungkin aku bernasib baik jadi tidak terlalu ramai disini “ Jawab Ruby terbata-bata.
“ Iya diruangan sebelah mungkin sudah penuh jadi mereka menempatkan Ruby disini “ Mey setuju dengan Ruby.
“ Hei kau tau tidak, saat kau tidak masuk hari ini seharian Danny hanya diam saja, bisa kau bayangkan wajahnya yang biasanya secerah matahari sekarang berubah jadi awan mendung “ Mey mulai bergosip.
“ Benar, benar, dia sampai tidak berselera makan hari ini, aku rasa dia menyukaimu “ Tina menambahi gosip.
“ Ei jangan bicara aneh-aneh, itu tidak mungkin “ Ruby tersenyum di paksakan, dia tidak ingin Rai mendengarnya dan kemudian marah.
“ itu benar, Danny yang mengajak kami semua untuk menjengukmu “ Anton membenarkan.
“ Dia sedang membelikan hadiah untukmu sekarang, jadi dia agak terlambat datang “ Tina menjelaskan.
“ Ehem ehem... “ Rai berdehem keras sekali, semua orang menoleh kearah tirai yang tertutup.
__ADS_1
“ pelankan suara kalian, aku rasa dia terganggu “ Ruby berbisik kepada teman-temannya.
“ Baik “ tina dan Mey mengangguk dan Anto membuat tanda Ok dengan jarinya.
Tak lama pintu ruangan terbuka, dan Danny datang dengan membawa sekotak kue. Melihat ruangan sepi jadi membuatnya tidak sungkan untuk berbicara.
“ Oh my sun shine, are you okay ? “ Danny mendekat. Ruby melotot mendengar ucapan Danny, dia tersenyum terpaksa. Namun matanya melirik ke arah Rai.
Prangg !!!! Suara benda terjatuh dari arah tempat tidur Rai, semua kaget dan menengok ke arahnya.
“ Ssttt... Pelankan suara mu “ Ruby membuat tanda di bibirnya dengan telunjuk ke arah Danny.
“ Ehem ehem.. “ Rai semakin keras berdehem. Ruby merasa dia mulai marah.
“ Kenapa ? Orang di sampingmu ini sakit apa ? “ tanya Mei heran melihat batuk yang tidak wajar.
“ Dia sakit batuk akut dan menular “ Ruby asal menjawab.
“ Hiiiyy “ semua kompak bergidik dan menjauh dari sekitar tempat tidur Rai.
“ Hei cepat sembuh dan pulanglah dari sini, pantas saja tidak ada pasien lain disini, rupanya gara-gara disebelahmu ada penyakit menular “ Mey bergidik.
“ Iya aku akan secepatnya pulang dari sini “ Ruby menjawab lirih.
“ I miss you so much, get well soon babe “ Danny menggengam tangan Ruby.
“ Cieeeee... “ teman-teman yang lain menggodanya.
Wajah Ruby semakin pucat, dia takut Rai akan melihat ini dan salah paham. Ruby berusaha melepaskan tangannya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Danny. Tapi Danny malah menggenggamnya semakin erat.
“ sudahlah kalian jadian saja, kalian berdua serasi “ Tina menggodanya. Ruby hanya senyum terpaksa.
Sraakkkk !!! Suara tirai pembatas itu di buka Rai, mereka semua terkejut dan menoleh kearahnya, pandangan matanya menunjukkan dia marah meskipun ekspresi wajahnya tertutup masker. Rai melihat Ruby dan Danny berpegangan tangan semakin membuatnya marah.
“ Hei kalian berisik sekali, lihatlah penghuni sebelah marah kan “ Ruby memberitahu teman-temannya.
Mereka merasa takut karena telah menganggu di Rumah sakit dan membuat keributan, mereka buru-buru berpamitan.
“ Baiklah ayo kita pergi dari sini, Ruby semoga cepat sembuh “ anton mengajak kedua teman wanitanya segera keluar.
“ Semoga kau bisa cepat bekerja lagi, suasana disana sepi tanpamu “ Danny juga berpamitan, dia masih menggenggam tangan Ruby dan menciumnya.
Danny meninggalkan ruangan, Ruby melirik Rai, dengan kasar dia melepas maskernya dan membuangnya, dilihatnya wajah Rai yang sudah seperti siap menerkamnya.
__ADS_1
Emosi mode on.
Ruby menghela nafas panjang.