
Jam makan siang tiba, seperti biasa semua pegawai pergi ke kantin perusahaan. Meskipun club itu merangkap restoran tapi para pegawai tidak ingin makan di restoran itu, mereka tidak akan mau membayar tagihan dari makanan yang di sajikan karena harganya yang terlalu mahal.
“ Ruby let’s get lunch “ Danny mengajak Ruby untuk makan siang bersama. Dia sudah bersama para pegawai yang lain, wajah tampan dan macho Danny tentu saja menjadi daya tarik tersendiri. Jadi saat makan siang banyak pegawai yang ingin makan bersamanya.
“ Apa kalian lupa setiap jam makan siang aku harus membersihkan ruangan big bos “ jawab Ruby malas.
“ Ah iya benar, kenapa waktu itu kau mengajukan dirimu sendiri “ Jawab Mey yang ikut kelompok makan siang bersama.
“ Apa ? Hei kalian semua lah yang mendorongku maju kedepan secara tidak langsung “ Suara Ruby kesal.
“ Maafkan kami, ku pikir kau akan paham dan juga ikut mundur “ kepala pengawas Hong menjelaskan.
“ Ruby semangatlah, ku dengar big bos sangat kejam, jangan terlihat cemberut atau kau akan ngeekk “ kata Tina seraya membuat tanda sayatan di leher dan kemudian menepuk pundak Ruby.
“ benar dia sangat sangat sangat kejam “ Ruby memakinya.
“ semangatlah Ruby “ mereka semua memberi semangat lalu bersama Danny pergi ke kantin.
Tentu saja dia sekejam rumornya, tidak puas mengurungku di rumah, sekarang sampai harus mengurungku disini juga. Dasar anak kecil manja, apa kau tidak pernah di ajari artinya berbagi ?
Maki Ruby dalam perjalanan ke lantai 5.
Di club memang sudah tersebar berita bahwa Ruby adalah petugas cleaning service khusus yang akan menangani kebersihan ruangan 999 dilantai 5, tugasnya menunggu big bos selesai makan siang dan kemudian Ruby harus membersihkan sisa-sisanya.
Ruby berhenti di depan ruangan 999, dia menarik nafas panjang dan menyiapkan dirinya. Ruby mengetuk pintu, dan tidak ada jawaban. Ruby memegang handle pintu, ternyata tidak dikunci, dia masuk untuk memeriksa, dilihatnya Rai sedang duduk di meja kerjanya mengerjakan sesuatu.
Padahal tinggal bilang masuk saja dia tidak mau, apa dia tidak punya mulut.
Maki Ruby melihat Rai yang tidak memperdulikannya sama sekali.
“ Sayangku, cintaku, manisku, buah hatiku, seluruh hidupku, apa kau sedang sibuk ? “ Rayuan Ruby yang dipaksakan.
Rai hanya diam dan tidak menoleh, dia sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Ruby duduk di sofa yang ada di ruangan itu, menyiapkan makan siang.
“ Kemarilah dan ayo makan siang “ Ajak Ruby kemudian karena Rai tetap saja acuh. Ruby menoleh ke arahnya, dia tetap saja tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.
Ruby menghela nafas, dia berharap ini cepat selesai, bayi besarnya itu sungguh merepotkan.
__ADS_1
Ruby menghampiri Rai di mejanya. Berdiri di sampingnya.
“ Apa kau sibuk ? setidaknya makanlah dulu “ Rayu Ruby sambil memegang pundak Rai. Tapi dia tetap acuh.
“ Baiklah terserah kau saja “ Ruby kemudian pergi melihat lihat ruangan itu, menuju ke jendela besar yang katanya anti peluru.
Dia penasaran dengan kaca itu. Berdiri di depannya, dia bisa melihat keadaan di sekitar club. Dia bisa melihat jalan raya, bangunan di seberang jalan dan taman tempat Ruby bekerja.
Tiba-tiba Rai memeluknya dari belakang, membenamkan wajahnya di pundak Ruby. Sekarang Ruby tidak lagi meronta berusaha melepaskan pelukan itu, karena itu salah satu point yang harus dipatuhinya juga dalam perjanjian pembebasannya.
“ Indah bukan ? Kau bisa melihat semua pemandangan sekitar kota dari sini. Atau kau bisa juga mengawasi seseorang kalau mau “ ucap Rai lirih di telinga Ruby.
Deg. Jantung Ruby berdetak kencang, wajahnya pucat mendengar kata-kata Rai. Apa selama ini Rai mengawasi dia bekerja dari sini. Dan dia akan melihatnya dengan Danny.
Apa setiap hari dia mengawasiku dari sini ? Tidak, tidak, aku dan Danny sangat menjaga hubungan profesional, jadi aku hanya ngobrol dengannya untuk urusan pekerjaan, dan lagi pula kami bersama yang lain juga tidak hanya berdua. Tenang Ruby jangan terpancing dengannya.
Ruby diam saja menutupi kegelisahannya. Rai semakin mengeratkan pelukannya dan itu menyakitinya.
“ Ruby apa aku sudah pernah bilang kalau kau milikku ? “ Tanyanya kemudian.
“ Tentu saja setiap hari kau mengatakannya “ suara Ruby di buat sewajar mungkin.
“ Tentu saja “ Jawab Ruby singkat berusaha tetap tenang, tapi jantungnya berdegup kencang tak beraturan.
“ Baiklah kalau begitu “ Rai menjawab singkat dan masih membenamkan wajahnya di pundak Ruby.
Satu tangan Rai mulai naik ke arah kancing baju Ruby, dia mulai melepaskannya. Ruby memegang tangannya, menahannya.
“ Tunggu dulu, kau mau apa ? “ Tanya Ruby terbata-bata.
“ Aku ingin menikmati milikku “ Jawab Rai masih dengan suara rendah dan lirih, tapi kata-katanya terdengar seperti ancaman yang menakutkan.
“ Tidak, jangan disini, ini tempat kerja. Kita tidak boleh melakukannya disini “ Ruby menolak.
“ kenapa ? Tidak akan ada yang tau dan berani mencari tau “ Rai tetap membuka kancing baju Ruby.
“ Tidak aku mohon, jangan disini, nanti saja dirumah, ok ? “ Ruby membujuknya.
“ Aku ingin menunjukkan padamu bahwa kau itu milikku dan hanya milikku, milikku yang berharga, tidak boleh ada orang lain yang menyentuhmu apalagi berani-beraninya memelukmu “ Rai mengancam lirih. Sekarang semua kancing baju Ruby telah lepas, memperlihatkan tank top Ruby yang berleher rendah sampai bagian dada.
__ADS_1
Ruby terkejut dengan kata-kata Rai, dia menyadari sesuatu. Apa dia melihat Lucas memeluknya dari atas sini. Tubuh Ruby menegang menyadari kenyataan.
“ kenapa kau gugup ? Apa kau melakukan kesalahan ? “ Tanya Rai, tangannya mulai masuk kedalam baju Ruby dan *** dadanya.
“ tidak “ Ruby menjawab cepat, berbohong.
“ Baiklah kalau kau tidak melakukan kesalahan, harusnya kau lebih tenang, mari nikmati siang kita yang erotis “ Rai dengan cepat memutar tubuh Ruby, mendorongnya ke jendela kaca, dan menciuminya dengan kasar, menggigit bibir Ruby. Tangannya menyusuri dada Ruby, mer*masnya dengan kasar membuat Ruby meringis kesakitan.
Tidak ini tidak baik, dia sedang marah, tapi apa salahku ? Apa dia melihat Lucas atau Danny ?
Ruby mendorong perlahan tubuh Rai, membuat Rai menghentikan ciumannya, dilihatnya wajah Rai yang memerah antara menahan marah dan nafsu.
“ sayangku, aku mohon jangan lakukan itu disini, kita lakukan nanti dirumah, aku janji aku yang akan memulainya “ Ruby berusaha menenangkan Rai.
Rai memeluknya membenamkan wajahnya di antara pundak Ruby, menciumi lehernya. Ruby menepuk pelan punggung Rai.
Ruby bernafas lega, setidaknya dia selamat untuk saat ini, dirumah akan difikirkan nanti.
Ruby dan Rai duduk disofa panjang, Ruby sedang menyuapi Rai. Tapi bayi besarnya itu sedang memeluknya dari samping dan tidak ingin melepaskannya.
“ Makanlah dulu “ Ruby menyuruhnya.
“ Aku cuma ingin memakanmu, dengan begitu tubuhku akan kenyang “ Jawabnya sambil terus memeluknya di samping Ruby.
“ Baiklah, kalau begitu aku akan makan sendiri “ Ruby mulai memakan telur gulung kesukaan Rai. Tapi secepat kilat Rai sudah mencium Ruby dan mengambil telur gulung yang belum dikunyah itu berganti ke mulutnya.
“ Hei kenapa melakukan itu ? “ suara Ruby meninggi karena terkejut.
“ itu menjijikkan, jangan lakukan itu lagi, mengerti “ Ruby menasehati Rai seperti babysitternya.
“ Aku tidak pernah jijik denganmu, semua tentang tubuhmu aku tidak akan jijik, bahkan kalau harus menciumi itu “ Rai menjawab santai, melirik ke arah bawah.
“ Hei kenapa bicara seperti itu, jangan bicara macam-macam “ wajah Ruby merona malu, teringat setiap mereka melakukan itu.
“ kau milikku, hanya milikku, milikku yang berharga “ Rai mengeratkan pelukannya.
Ruby menghela nafas membiarkan Rai melakukan sesukanya, dia tidak akan menang melawan bayi besarnya yang rewel.
Kenapa kau tidak mengerti juga tentang perasaanku, akan ku buat kau merasakan sakitnya cemburu. Rai tersenyum sinis.
__ADS_1