
Mobil Rai memasuki gerbang mansion. Berhenti tepat di depan pintu utama. Ruby segera membuka pintu mobil, turun dan menutupnya dengan kasar, tanpa memberi kesempatan Rai membukakan pintu untuknya.
Dia bergegas masuk dan melewati ruang tamu langsung menuju tangga. Rasa kesal di hatinya membuatnya ingin segera tidur dan menghindari pertengkaran dengan Rai.
" Sayang dengarkan aku dulu " Rai berusaha membujuk Ruby yang sudah memasuki kamar.
Ruby mengabaikannya, masuk ke ruang ganti, mengambil baju asal dan menggantinya.
" Dengarkan aku dulu " Rai menghentikan Ruby yang ingin menghindarinya lagi.
" Aku tidak ingin bicara denganmu " Ruby menepis tangan Rai.
Dia pergi keluar dan langsung menuju tempat tidur, buru-buru membungkus tubuhnya dengan selimut.
Rai keluar dari ruang ganti dan melihat Ruby yang sudah pura-pura tidur. Dia pun segera merebahkan dirinya di samping Ruby.
" Aku mencintaimu " Rai mencium keningnya.
" Dan juga kau " Rai beranjak mencium perut Ruby dari balik selimut.
Memeluk tubuh Ruby dari samping dan membenamkan wajahnya di leher Ruby.
Aku akan mogok bicara padamu. Ruby tetap berpura-pura tertidur.
🍁🍁🍁🍁🍁
Rai dan Ruby sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Pagi ini dia tidak mengajak Rai bicara sama sekali, bahkan menghindarinya.
" Ada apa kakak ipar ? " Ken yang baru saja datang bertanya pada Ruby tanpa basa basi. Dia menarik kursi untuk duduk.
" Tidak tau " Ruby menjawab malas.
Ken bingung dan menoleh ke Rai dan Ruby secara bergantian.
" Aku menjadikannya DPO " Rai menjawab malas.
" Kenapa ? Semalam pak Darmawan menghubungi ku dan mengirimkan foto kakak ipar, menanyakan apakah benar dia buronan berbahaya, dan bertanya apa dia harus menuruti perintahmu atau tidak untuk menyebarkan foto kakak ipar " Ken menjelaskan sambil mengambil makanan ke piringnya.
" Iya kau tidak tau apa yang di lakukannya di belakangku, teman-temannya mendukung hubungannya dengan bule yang menjadi cleaning service, cari tau siapa dia, aku akan memecatnya "
" Tenanglah kak, biarkan kakak ipar menjelaskannya " Ken berusaha menengahi.
" Aku tidak akan menjelaskan apapun " Ruby menjawab sinis. Dia berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ruby sedang menunggu busnya di halte, suasana hatinya benar-benar buruk saat ini. Dia memikirkan Tina semalaman.
__ADS_1
Mungkin dia tidak akan membocorkannya secara langsung, tapi melihat sifatnya yang ceroboh, bisa saja di kelepasan bicara.
Ruby menghela nafas.
Suara rem bus membuyarkan lamunannya. Dia mendongakkan wajahnya. Bus itu berhenti tepat di depannya. Semua orang buru-buru masuk kedalam bus sesaat pintu sudah di buka.
Ruby masuk dan mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong. Danny yang sudah lebih dulu berada di bus, melambaikan tangan padanya.Ruby menghampirinya.
" Aku sudah mengamankan tempat duduk untukmu " Danny menepuk kursi kosong di sebelahnya.
" Terima kasih " Ruby tersenyum dan duduk di sebelahnya.
Tidak ada alasan untuk menghindari teman, meskipun pada akhirnya dia menyatakan cinta seperti kata Tina, dan aku harus menolaknya, tetap saja kami teman, tidak baik menghindarinya.
Ruby menghela nafas, membenarkan argumennya.
" Kau kenapa ? Kau seperti sedang bersedih ? " Danny bertanya kepada Ruby.
" Tidak apa-apa " Ruby menjawab lirih.
Ruby memperhatikan wajah Daniel. Tampan dan macho. Wajah dengan garis rahang yang tegas, alis yang tebal dan hidung mancung khas bule.
" Kenapa ? Apa ada yang salah dengan wajahku ? " Daniel bertanya heran karena melihat Ruby terus memperhatikannya.
" Tidak hanya merasa kau tampan, dengan wajah seperti itu kau pasti bisa mendapatkan wanita dengan mudah " Ruby memulai pembicaraan. Jika Daniel menyatakannya sekarang dia akan menolaknya langsung, lebih cepat lebih baik, agar tidak menimbulkan lebih lama lagi salah paham antara dia dan Rai.
" Cih " Ruby memalingkan wajahnya,mencibir.
Daniel tersenyum melihat ekspresi Ruby.
" Well, you know. Aku sudah punya seseorang yang aku suka " Daniel menjelaskan.
" Dia orang yang sangat baik, selalu membantuku, dan dia sangat cantik, bukan hanya wajahnya tapi juga hatinya " Daniel menjelaskan dengan berbinar.
Terlalu dini untukku menyimpulkan kalau itu aku, aku cuma wanita biasa. Sudah pasti Tina salah mengartikan sikap Daniel padaku.
Ruby mengangguk-angguk sendiri.
" Menurutmu dia juga menyukaiku ? " Daniel bertanya pada Ruby.
" Entahlah, kalian yang menjalaninya, aku tidak bisa memberikan pendapat. Bisa saja dia menyukaimu " Ruby menjawab asal.
Ya sudah pasti itu bukan aku, Tina hanya asal bicara. Ruby semakin yakin dengan firasatnya.
Mobil berhenti di halte, beberapa orang turun termasuk Ruby dan Daniel. Mereka berjalan bersama menuju club.
Ckiiitt !!! Sebuah mobil berhenti dengan keras di belakang mereka. Ruby terkejut mendengar suara rem mobil tersebut.
__ADS_1
Dia menoleh ke arah mobil. Matanya terbelalak. Seseorang dengan penuh emosi keluar dari mobil. Berjalan cepat menghampiri mereka.
" Aku menangkap basahmu dengan hasil curianmu, buronan " Rai berkata lirih menahan geram. Kilatan emosi berkelebat di matanya.
" Ya tangkap saja aku, lagi pula aku hanya seorang tahanan di mata mu " Ruby menjawab ketus.
" Masuk mobil " Rai memerintah.
Ruby mengabaikan perintahnya, dia berbalik dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Rai yang semakin marah.
Ruby berjalan cepat mengabaikan panggilan Rai dan juga tatapan heran Daniel. Dia memberikan kartu aksesnya pada penjaga dan masuk terburu-buru setelah pegawai mengembalikan kartunya.
Setengah berlari menuju ruang loker untuk mengganti seragamnya. Tina yang sudah menunggunya dari tadi segera menghampirinya.
" Ruby bagaimana ini ? Apa semalam Big Bos serius dengan ucapannya kalau kau istrinya ? " Tina berbisik lirih kepada Ruby.
" Pastikan saja sendiri, hari ini suasana hatinya sangat buruk, menunduk saja dan hindari kontak mata dengannya " Ruby memberikan saran.
" Hei dalam suasana biasa saja aku tidak mungkin berani menatap wajahnya, apalagi dengan suasana hatinya yang buruk " Tina menggoyang lengan Ruby dengan panik.
" Sudahlah, kau akan baik-baik saja, aku akan melindungi mu " Ruby menenangkan Tina yang sudah pucat.
Mereka keluar bersama menuju ruang cleaning service untuk kegiatan apel pagi. Semua pegawai yang lain sudah bersiap disana. Ruby dan Tina segera memasuki barisan. Mereka sudah berbaris rapi. Pak Hong akan maju untuk memimpin apel tapi tiba-tiba Rai muncul sesaat sebelum pak Hong memulai.
Tina melihat Rai dan teringat kejadian semalam, dia merapatkan dirinya kepada Ruby. Wajahnya semakin pucat.
" Apa dia akan memecatku sekarang ? " Tina bertanya takut.
" Tidak, tenang saja " Ruby menenangkannya.
" Baiklah kita mulai apel pagi kali ini, disiplin lah dan bekerja dengan semangat. Semoga pekerjaan kalian lancar " Rai memberikan pidato singkatnya.
" Aku menyukai mu " Suara pak Hong memecah keheningan. Semua orang terkejut dan menoleh kearahnya.
" Aku menghapus peraturan itu, mulai sekarang kalian tidak boleh saling menyukai " Rai seenaknya merubah peraturan.
Semua orang terkejut dengan perubahan peraturan yang dia buat, tapi hanya bisa diam tidak berani membantah. Mereka terdiam, suasana di ruangan sangat hening, ketakutan karena aura menyeramkan dari Rai. Tina hanya menundukkan wajah menghindari kontak mata dengannya. Tidak berkonsentrasi dengan arahan yang di berikan Rai.
" Paham " Suara Rai tinggi.
" Sial sekali nasibmu Ruby bisa berurusan dengan playboy seperti nya " Kata-kata Tina memecah keheningan. Dia terkejut karena Rai berbicara dengan keras, isi pikirannya meluncur begitu saja.
Semua kompak menoleh ke arah Tina yang sekarang menjadi pusat perhatian. Dia sadar telah membuat kesalahan, melingkarkan lengannya di lengan Ruby, agar tidak jatuh terduduk karena pandangan tajam Rai.
" Kau dan Ruby ikut aku ke ruanganku sekarang " Rai menunjuk Tina.
Wajah Tina mendadak pucat, tubuhnya gemetar. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
__ADS_1