
Suara alarm yang nyaring membangunkan Ruby. Semalam Rai tidur tertidur nyenyak karena kelelahan setelah melakukan 200 kali push up dengan menanggung berat badan Ruby di atasnya.
" Selamat pagi " Ruby mengecup bibir Rai yang masih tertidur dengan memeluknya.
Rai membuka matanya perlahan karena mendapat kecupan selamat pagi dari Ruby.
" Jangan menggoda ku di pagi hari, aku tidak akan menjamin keselamatan mu kali ini " Rai memperingatkan dengan suara serak khas bangun tidur.
" Aku akan menggodamu seharian ini " Ruby menciumi seluruh wajah Rai, dan berhenti untuk mencium bibir Rai lebih lama lagi.
Menggigit bibir bawahnya, melakukan persis seperti yang Rai lakukan saat menciumnya. Rai membalas ciuman itu. Mereka berciuman dengan hot, Rai melepaskan ciumannya dengan berat hati, nafasnya terengah-engah.
" Hei aku sudah memperingatkanmu " Rai memeluk tubuh Ruby. Dia bangkit dan memposisikan tubuhnya di atas tubuh Ruby, bertumpu pada lututnya, menahan berat badannya agar tidak menyakiti Ruby dan Junior.
" Bagaimana kalau kita coba sebentar saja ? Aku akan sangat pelan dan lembut " Rai membujuk Ruby, tangannya mulai di tempatkan di dada Ruby, dan merem*snya.
" Hahaha... sudahlah patuh saja pada dokter, ini hanya sementara " Ruby tertawa melihat wajah Rai yang memerah menahan nafsu.
" Dokter sialan, aku juga akan menskors nya sampai dia memperbolehkan aku melakukan itu dengan mu, agar dia tau bagaimana perasaan ku saat ini " Rai bergumam sendiri.
" Sudah sudah ayo bangun " Ruby mengajak Rai, membantunya mengalihkan perhatian Rai.
Rai turun dari tempat tidur dan duduk di tepi ranjang dengan wajah kecewa. Ruby yang melihatnya semakin ingin menggoda lagi.
" Sayang gendong aku ke kamar mandi, aku ingin kau ganti melakukan apa yang aku lakukan dulu " Ruby naik ke punggung Rai.
" Apa ? " Tanya Rai heran.
" Sudah jangan membantah, ini keinginan Junior. Jalan kapten " Ruby berteriak menggoda.
" Kau !! " Rai menahan kesal karena Ruby terus saja menggodanya, membuat pikiran mesumnya lebih dominan saat ini.
Rai berdiri dan menggendong Ruby menuju kamar mandi.
Pagi yang sangat indah dan juga menyiksa.
Rai tersenyum lebar.
Ruby dan Rai berpisah di depan gerbang, Rai pergi dengan mobilnya dan Ruby berjalan kaki menuju halte, dia beralasan bahwa jalan kaki merupakan olahraga terbaik untuk orang hamil, jadi Rai tidak memaksanya naik mobil pribadi, lagi pula hubungan mereka jadi lebih baik sekarang, dan perlahan-lahan mulai terbongkar.
Bus yang di tunggu Ruby sudah datang, dia menaikinya, menempelkan kartu uang digitalnya pada alat pembayaran yang ada di bus itu. Dia mengedarkan pandangannya mencari kursi kosong, dilihatnya seseorang sedang melambaikan tangan dengan semangat ke arahnya. Ruby terkejut tapi kemudian tersenyum dan menghampirinya untuk duduk di kursi kosong sebelahnya.
“ aku sudah mengamankan tempat duduk ini untukmu dengan segenap jiwa ragaku “ ucapnya tersenyum.
__ADS_1
“ Selamat pagi juga “ Ruby membalas tersenyum. Laki-laki itu tergelak Ruby tidak menanggapi rayuannya.
" Kau baik-baik saja, dokter bilang kau harus di rawat di rumah sakit ? " Ruby bertanya khawatir.
" Aku baik-baik saja, aku tidak butuh perawatan apapun " Daniel meyakinkan.
" Maaf aku tidak sengaja melakukannya " Ruby merasa bersalah.
" It's Ok, no problem " Daniel tersenyum lebar.
“ Ruby aku akan selalu ada di sampingmu, kalau kau butuh bantuan, aku percaya kau bukan pencuri seperti yang di tuduhkan Big Bos “ Danny berkata serius, raut wajahnya bahkan tidak tersenyum.
“ Tidak kau salah paham, dia hanya bercanda “ Ruby meluruskan.
“ Benarkah ? Ah sudahlah yang jelas aku akan selalu ada disampingmu “ Danny lagi-lagi berwajah serius.
Ruby tidak menanggapinya, dia merasa Danny hanya salah paham. Bus mereka telah sampai di halte dekat club, mereka turun dan berjalan bersama seperti biasanya. Berpisah sebelum benar-benar sampai di depan club untuk menghindari gosip yang mungkin terjadi di kemudian hari, atau lebih parah menghadapi kemarahan Rai.
Ruby menyerahkan kartu akses masuknya kepada para penjaga untuk di periksa. Dia sangat bersemangat sekali pagi ini karena hubungannya telah membaik dengan Rai.
Meskipun masih harus merahasiakannya dari publik, tapi setidaknya Ignes, ketakutan terbesar Ruby sudah mengetahuinya. Jadi dia merasa lega.
Dia berjalan menuju ruang loker untuk berganti seragam dinas cleaning service nya.
Tina yang baru saja sampai dan melihat Ruby ada di lokernya segera menghampirinya.
" Cih " Ruby mencibir.
" Kalau di ingat-ingat lagi semua ini berkat kau dan mulut embermu itu, Ignes jadi tau dan aku sekarang merasa lega " Ruby tersenyum kepada Tina.
" Ignes ? Maksudmu manager utama ? " Tina bertanya heran.
" Iya itu dia, dia sebenarnya mantan kekasih Rai, dan aku sangat menjaga rahasia ku karena takut dia bertindak bodoh " Ruby menjelaskan.
" Bertindak bodoh ? Seperti bunuh diri ? " Tina mencoba menebak.
" Tidak tidak, bukan itu maksudku dia sedikit menyeramkan, beberapa saat yang lalu saat dia tau Rai sudah menikah dia bersikeras akan mencari tau siapa istrinya dan menghancurkannya, tapi kemarin setelah tau aku istrinya dia berubah 180 derajat, itu sangat aneh " Ruby bercerita.
" Mungkin saja dia memang sudah berubah, apalagi melihat sisi lain dari dirimu yang menyeramkan, yang bisa menendang seorang laki-laki dan membuatnya tersungkur " Tina menjawab yakin.
" Hei ku tanya padamu, kalau kau masih sangat mencintai mantan pacarmu apa yang akan kau lakukan ? " Ruby bertanya sinis.
" Tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk bisa kembali padanya " Tina menjawab jujur.
__ADS_1
" Lalu kau menemukan saingan baru ? " Ruby menambahkan.
" Aku akan melakukan apapun untuk mengalahkannya " Tina lagi - lagi menjawab jujur.
" Kau yang begitu ceroboh saja bisa melakukan itu, apalagi Ignes yang dengan dukungan kekayaan dan kecerdasan otaknya, tentu saja dia akan melakukan semua macam taktik untuk menyingkirkan ku dan kembali pada Rai " Ruby menjawab pertanyaan awal Tina.
" Kau benar sekali, apalagi yang di perebutkan adalah Tuan Rai " Tina mengangguk-angguk membenarkan pendapat Ruby.
" Apa kau ingin aku mengawasinya nyonya ? Seperti melakukan pekerjaan mata-mata ? " Tina menawarkan sungguh-sungguh.
" Lupakan saja, ku percayakan satu rahasia saja kau membongkarnya dengan cara yang tidak biasa, apalagi menyuruhmu menjadi mata-mata " Ruby mencibir.
" hehehe... maafkan aku atas hal yang kemarin. Tapi aku melihat Danny yang sepertinya baik-baik saja, dia tidak jadi rawat inap di rumah sakit " Tina memberitahukan.
" Ya aku bertemu dengannya saat berangkat tadi " Ruby menjawab santai.
" Nyonya, melihatmu yang menendang Danny sampai seperti itu, apakah kau juga menggunakan cara yang sama untuk mencuri kesucian dari Big Bos " Tina bertanya polos.
" Apa ? Hei kalau kau bicara seperti itu lagi, kau yang akan ku tendang. Dia yang pertama kali melakukannya " Ruby menjawab lirih, wajahnya merona malu.
" Lihat lihat wajahmu merah sekali, kyaaa aku ingin mendengar cerita saat kalian melakukan itu " Tina memukul-mukul lengan Ruby dengan gemas.
" Tina perhatikan pergaulanmu " Ruby mencibir.
" Sepertinya semua orang di sekitar Rai berpikiran mesum, mungkin benar dia itu penyakit menular, penyakit mesum " Ruby bergumam lirih.
Mereka bersama keluar dari ruang loker dan menuju ruang cleaning service untuk apel pagi. Kali ini dia akan mengakui sepenuh hati kalau dia menyukai Rai di sesion " Aku menyukaimu "
Semua pegawai sudah berkumpul dan bersiap melakukan apel pagi, Ruby gelisah menunggu kedatangan Rai untuk memimpin apel pagi tapi dia tidak kunjung muncul.
Pak Hong sudah mempimpin barisan di depan. Ruby yang kecewa karena Rai tidak muncul menundukkan wajahnya. Rencananya untuk bilang bahwa dia menyukainya gagal.
" Baiklah saya akan memimpin kali... " Pak Hong memulai, tapi lagi-lagi dia berhenti saat Rai menepuk pundaknya. Pak Hong terkejut dan menoleh. Lalu kembali ke barisan di ujung, bergabung bersama pegawai lainnya.
Rai melihat Ruby menundukkan wajahnya, menghentakkan kaki dengan kesal, tidak menyadari keberadaan Rai sekarang.
" Saya yang memimpin apel kali ini " Rai berbicara tegas penuh wibawa.
Ruby yang mendengar suaranya segera mengangkat wajahnya, matanya berbinar menatap wajah Rai yang ada di depannya.
" Aku menyukai mu " Suara Ruby lantang. Dia tidak sadar mengungkapkan perasaannya karena terlalu senang melihat Rai saat ini.
" Hah !!! " Semua orang terkejut menoleh ke arah Ruby secara serempak.
__ADS_1
Tidak semudah itu menyukai ku marimar.
Rai tersenyum licik menatap Ruby.