Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Lovey Dovey


__ADS_3

Ruang UKS, di sanalah mereka berada saat ini. Dokter jaga yang melihat Blair terluka itu pun panik. Dengan tergesa-gesa segera mengambil kotak p3k dan menyiapkan obat-obatan.


Blair yang duduk di ranjang uks hanya bisa tersenyum sungkan saat dokter itu menabrak meja kerjanya sendiri saking gugupnya melihat Blair terluka.


" Kemarikan tangan mu " Ucap Dylan mengulurkan tangannya, dia sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


" Tangan ? " Tanya Blair bingung.


" Ck " Decak Dylan tidak sabar dan langsung merenggut tangan Blair yang terluka, melihat seberapa parah lukanya lalu meniup-niupnya pelan sembari menunggu dokter.


Nah kan, pilihan Blair berada di zona berbahaya lagi-lagi membuat jantungnya berdebar-debar. Dengan tersipu malu dia menundukkan wajahnya. Menikmati dosa terindah yang sedang di lakukannya.


Maaf ya Raline, aku pinjam pacar mu dulu, sebentaaar saja.


Batinnya sedikit merasa bersalah.


" Kenapa bisa begini ? " Tanya Dylan dengan ketus.


" Umm... aku tidak hati-hati berjalan lalu menabrak Andromeda dan jatuh " Jawab Blair polos.


Nyuuut !! Rasa nyeri tiba-tiba menusuk di jantung Dylan saat mendengar Blair menyebut nama Andromeda, laki-laki yang menurut informasi Sekertaris Yuri pernah hampir saja di jodohkan dengannya.


" Hah ! " Pekik Blair tiba-tiba, Dylan menatapnya bingung.


" Kau memukul Andromeda begitu apa tidak apa-apa ? " Tanya Blair panik.


" Tidak apa-apa " Jawab Dylan ketus.


" Kenapa ? Kau mengkhawatirkan mantan calon tunangan mu ? " Sinis Dylan, entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Detik berikutnya dia sudah merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana nanti jika Blair bertanya dari mana dia tau perihal perjodohan itu.


" Mantan calon tunangan ? " Ulang Blair tidak paham.


" Siapa ? Andromeda maksudmu ? " Tanya Blair.


" Hm " Dylan mengedikkan bahunya dan mencebikkan bibirnya, malas menjawab.


" Hiiiy " Blair memukul lengan Dylan, kesal sendiri.


" Aku ini mengkhawatirkan mu tau ! " Ketusnya kemudian.


" Aku ? " Tanya Dylan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


" Tentu saja kau, memangnya siapa lagi yang terlibat perkelahian tadi ? " Sinis Blair, masih kesal.


" Kenapa kau mengkhawatirkan ku ? " tanya Dylan penasaran, sesuatu di dalam hatinya mendadak menari-nari menggelitik geli.


" Kau tidak tau siapa bapaknya ? " Saut Blair berapi-api.


" Bapaknya itu pengacara Henry, pengacara yang terkenal itu. Dia pasti tidak akan tinggal diam anaknya di hajar begitu saja " Ceritanya dengan ekspresi ngeri.


Otak oneng Blair berpikir keras, dengan cara apa dia akan membantu Dylan jika sampai pengacara Henry benar-benar menuntutnya.


Keheningan membentang, mereka saling diam. Larut dalam pikiran masing-masing.


Dylan sedang berusaha mengartikan degub jantungnya yang tak karuan saat tahu Blair mengkhawatirkannya, sibuk dengan perasaan aneh apa yang seperti menggelitik geli yang tiba-tiba saja muncul di dadanya.


Dan Blair seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.


" Seperti deja vu, tapi apa ya ? " Gumamnya sendiri. Masih berusaha berpikir dengan keras.


Tak lama dokter masuk membawakan kotak p3k dan obat-obatan untuk luka Blair, baik obat luar maupun dalam.


" Bisa permisi sebentar ? " Tanyanya pada Dylan.


Dylan pun berdiri dan memberi ruang untuk dokter mengobati Blair. Dokter itu duduk di kursi yang tadi di tempati Dylan.


" Aduuh... kenapa bisa begini ? Kau tidak butuh operasi plastik kan ? " Tanya Dokter itu panik saat melihat luka lecet Blair, tentu saja dia panik, yang di obatinya saat ini adalah artis yang sedang naik daun yang biasanya memiliki dokter pribadi meski hanya untuk luka kecil sekalipun.


" Oh tidak perlu " Jawab Blair sungkan lalu tersenyum.


Masih dengan raut wajah cemas, Dokter membuka kotak p3k nya, dan mengambil kapas untuk di tuangi cairan antiseptik.


" Dokter tolong " Suara teriakan panik dari arah luar membuat mereka bertiga terkejut. Baru saja dokter itu akan mulai mengobati siku Blair. Dia ragu-ragu, menimbang mana yang harus di tangani lebih dulu.


" Yang luar saja, sepertinya lebih darurat " Ucap Blair mempersilahkan dokter yang sedang bimbang itu. Lukanya tidak terlalu serius jadi dia bisa menahannya.


" Baiklah kalau begitu " Jawab Dokter itu, dan dia pun beranjak keluar. Namun baru beberapa langkah dia berbalik dan kembali.


" Kau bisa mengobatinya kan ? " tanyanya pada Dylan yang sedang berdiri diam saja di pojokan.


" Ya bisa " Saut Dylan cepat, kaget tidak menyangka dokter menyuruhnya mengobati Blair.


" Kalau begitu tolong ya " Dokter menunjuk lengan Blair yang terluka dengan wajah sungkannya.


" Ya baik, tak masalah " Jawab Dylan sopan, lalu mengambil kembali tempat duduk yang tadi di tempatinya.


Dia mengambil kapas, memberikannya sedikit cairan antiseptik dan mengoleskannya di luka Blair, untuk membersihkannya dari debu, kotoran dan kuman sebelum di tutup dengan plaster.


" Auuh... " Blair menarik tangannya sedikit saat merasakan perihnya alkohol menyentuh area lukanya.


" Sakit ? " Tanya Dylan khawatir.


" Hm " Blair mengangguk malu sendiri, hanya luka kecil begitu saja tapi dia sudah merintih.


Tanpa bertanya lagi Dylan lalu meniup luka Blair pelan-pelan. Jarak di antara mereka sangat dekat, hanya terpaut sekitar 30 senti saja. Dari jarak sedekat itu bisa Blair lihat wajah Dylan dengan seksama, bagaimana bentuk alisnya, bentuk matanya, bentuk hidungnya, bentuk rahangnya, bahkan hal kecil seperti letak tahi lalat Dylan pun tak luput dari pengamatan Blair.


Semua bagian dari wajah Dylan seakan menghipnotis Blair, membuatnya terpana dan tak sadarkan diri walau nyatanya dia sedang duduk tegap saat ini.


" Kau tampan juga ya " Tanpa sadar Blair bergumam sendiri, cukup keras hingga Dylan yang ada di hadapannya bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Dylan berhenti meniup luka Blair, lalu menatap ke dalam matanya.


" Ma-maaf " Blair gelagapan, tak menyangka kata-kata itu akan meluncur dengan mulus dari mulutnya.


" Kepala mu tadi ikut terbentur ? " Tanya Dylan memastikan, lalu menyentuh kening Blair, memeriksa suhunya dengan telapak tangannya.


" Tidak panas " Gumamnya sendiri.


" Hehehe.... " Blair tersenyum, berpura-pura normal padahal hatinya mencelos kecewa melihat reaksi Dylan. Sepertinya dia cukup setia pada Raline, dia bahkan tidak tergoda oleh ku ucapan ku tadi.


" Sudah ku duga " Decak Dylan, entah kenapa di dalam hatinya dia juga mencelos kecewa, sempat mengira apa yang di ucapkan Blair tadi sungguh-sungguh, tapi ternyata hanya gurauan semata. Mana mungkin Blair akan menganggapnya benar-benar tampan.


Dan di balik tirai pembatas antar ranjang, ada satu lagi hati yang mencelos kecewa mendengar percakapan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Dera. Dia yang tadi berteriak meminta tolong kepada dokter, dia datang bersama Andromeda yang mengalami mimisan setelah menerima bogem mentah Dylan. Sebenarnya hanya alasan saja dia membawa Andromeda ke ruang uks, tujuan utamanya adalah dia ingin mengawasi dan mencegah Dylan dan Blair agar tidak terlalu dekat.


Sebelum Dylan dan Blair semakin dekat lagi, Dera memutuskan untuk menjadi orang ketiga di ruangan itu.


" Hai Blair " Sapanya kemudian menerobos masuk, melewati tirai yang tertutup.


" Oh hai " Balas Blair, Dylan menegakkan punggungnya begitu melihat Dera datang. Membuat jarak antara dirinya dan Blair.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Dera basa-basi.


" Ah ya hanya luka kecil biasa " Jawab Blair.


" Aku akan memasangkan plasternya " Ucap Dylan kepada Blair. Dia lalu mengambil plaster dari kotak p3k.


" Sini Dylan biar aku saja yang melakukannya " Potong Dera cepat, dia tidak ingin Dylan bersentuhan dengan Blair.


" Tidak apa-apa biar aku saja " Tolak Dylan acuh.


" Tidak apa-apa, anak laki-laki biasanya tidak akan telaten melakukan ini. Dan juga biasanya sedikit kasar " Jelas Dera mengedipkan matanya pada Blair, lalu segera merebut plaster dari tangan Dylan dan duduk di samping Blair.


Yaaah... aku masih ingin di tiup-tiup oleh Dylan.


Blair menghela napas kecewa, namun tetap berusaha tersenyum.


Dengan pelan Dera menempelkan plaster ke siku Blair yang terluka.


" Nah sudah " Ucapnya kemudian lalu melihat hasil kerjanya. Bagus dan rapi.


" Terima kasih ya " Jawab Blair sungkan.


" Tidak masalah, kan kita satu perkumpulan di club malam " Celetuk Dera tiba-tiba, entah apa maksudnya mendadak membahas masalah club malam di hadapan Dylan.


Mendengar kata club malam membuat Dylan kembali kesal. Seketika saja dia membayangkan Blair yang mengenakan pakaian seksi sedang berjoget-joget dengan laki-laki lain, dan dia tidak suka itu. Lalu tanpa pamit dia keluar dari ruangan. Blair yang bingung melihat Dylan kembali bersikap dingin itu pun berniat untuk menyusulnya.


" Tunggu " Cegat Blair, melompat turun dari ranjang uks.


" Eh mau kemana ? " Dera menahan langkah Blair.


" Sebaiknya kau istirahat di sini saja selama sisa jam sekolah. Siapa yang tau nanti luka mu mengalami peradangan dan membuatmu kesakitan " Saran Dera perhatian, dan tentu saja hanya pura-pura. Dia tidak mau Blair menyusul Dylan.


" Ah tidak apa-apa, aku baik-baik saja " Tolak Blair, dia melangkahkan kaki bersiap menyusul Dylan.


" Sudah ayo naik kembali ke ranjangmu, nanti aku akan bilang pada Dylan untuk memintakan mu izin pada guru " Lanjut Dera.


Blair menghela napas pasrah, dia menurut saja pada Dera dan kembali ke atas ranjang. Hatinya bertanya-tanya kenapa mendadak Dylan pergi begitu saja. Apa karena dia menjaga perasaan Dera yang sedang melakukan pendekatan padanya, atau mendadak dia teringat Raline dan merasa bersalah telah mengkhianatinya karena terlalu dekat dengan dirinya. Apapun itu alasannya, Blair harus berbesar hati menerimanya, bukankah dia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan di terimanya karena memilih zona berbahaya ini. Salah satunya mendadak sakit hati atau mendadak kecewa seperti sekarang.


" Istirahat baik-baik ya, aku pergi dulu " Pamit Dera lalu berbalik dan keluar dari sana dengan sungingan senyum penuh kemenangan.


Di ranjang itu, Blair merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruang uks. Lalu menghela napas panjang lagi.


Aku cuma punya satu hati, tapi berani mengambil keputusan sebesar ini. Semoga saja hati ku kembali dalam keadaan utuh.


Batinnya sedih.


Sementara itu Dylan yang merasa kesal sedang berjalan menuju kelasnya. Dia sendiri tidak tau kenapa bisa sebegitu marahnya melihat Blair bersama laki-laki lain meskipun itu hanya dalam bayangannya saja yang mungkin bahkan tidak pernah terjadi. Dia kan belum pernah melihat Blair mengenakan pakaian seksi dan berjoget-joget dengan laki-laki lain.


" Tunggu " Teriak Dera dari arah belakang, berlari-lari kecil menyusul Dylan yang sudah lumayan jauhnya.


" Ih kau ini " Dera langsung saja melingkarkan tangannya ke lengan Dylan, berpura-pura mencari pegangan karena lelah berlari.


Dengan napas tersengal-sengal dia membungkukkan punggungnya.


" Kenapa tidak menunggu ku dulu ? " Tanya Dera berpura-pura kesal.


" Sudah bel masuk " Jawab Dylan acuh, dengan gerakan pelan dia melepaskan tangan Dera dan kembali berjalan.


" Blair memilih beristirahat selama sisa pelajaran, dia ingin kau memintakan izinnya dari guru " Jelas Dera ikut berjalan di samping Dylan.


" Hm " Hanya itu jawaban untuk Dera, dia bahkan tidak meliriknya ataupun menoleh ke arah Dera.


Dengannya saja kau banyak bicara, tapi denganku hanya hm hm saja.


Batin Dera sedih.


Mereka sudah sampai di depan kelas Dera, dia berharap Dylan akan berhenti sejenak untuk melihatnya masuk.


" Aku masuk dulu ya " Pamit Dera dengan manisnya.


" Hm " Lagi-lagi hanya itu jawaban untuk Dera, tidak seperti apa yang di harapkan Dera, Dylan tidak berhenti dan terus saja berjalan menuju kelasnya.


Kecewa ? Ya, Dera terus saja merasa kecewa dengan sikap Dylan, tapi dia tidak ingin menyerah. Dia masih tetap ingin mendapatkan Dylan meskipun menurut Blair dia sudah memiliki kekasih, dia tidak peduli.


Baginya, yang menjalin hubungan bertahun-tahun saja belum tentu pada akhirnya menikah, apalagi hanya cinta anak SMA. Bertahan satu atau dua tahun saja sudah rekor yang luar biasa. Jadi tidak masalah untuknya, selama dia terus ada di sisi Dylan, Dera yakin suatu saat nanti jika Dylan putus dengan kekasihnya, maka dia akan berlari padanya.


Blair masih saja gelisah di atas ranjangnya, dia terus saja memikirkan Dylan.


Memikirkan alasan kenapa Dylan memukul Andromeda, lalu tiba-tiba sikapnya berubah kembali ke pengaturan pabrik.

__ADS_1


Huh repot !! Dia seperti ponsel saja, saat ada sesuatu yang tidak di sukai langsung kembali ke pengaturan pabrik. Hilang sudah aplikasi manisnya.


Batinnya sedih.


Ah benar !!


Ngomong-ngomong soal ponsel membuat Blair menemukan ide, dia mengambil ponselnya dan memasuki pesan aplikasi whatsup nya. Dia masuk ke dalam grup kelas, mencari nomor Dylan di antara deretan anggota grup. Namun nama pengguna Dylan tidak ada.


Apa dia juga tidak di masukkan dalam grup kelas ya ?


Sekeras apapun dia mencari, tidak ada nama Dylan. Dia pun mengirimkan pesan pada ketua kelas secara pribadi, menanyakan nomor Dylan.


Tak berselang lama, balasan pesannya pun di terima. Sebuah foto tangkapan layar dengan sebuah nomor di dalam deretan anggota grup kelas yang di lingkari coretan merah.


Hm ?


Alis Blair mengerut dalam, dia kemudian mencari sekali lagi nomor yang di beritahukan ketua kelas. Aneh. Begitulah yang di pikirkan Blair. Gambar profilnya seperti tidak asing bagi mata Blair. Dia ingat dengan jelas, itu adalah gambar profil yang sama dengan orang yang mengiriminya pesan aneh tempo hari.


Memungkas rasa penasarannya, dia kemudian mengklik nomor tersebut dan memilih melakukan chat pribadi.


Jengjreeng !!!


Hmm... sudah ku duga.


Blair langsung tergelak saat ruang obrolan itu terbuka di ponselnya, pesan aneh dari Dylan yang tempo hari dikirimnya masih tersimpan, utuh dan jelas. Berisi tentang deklarasi identitasnya.


Dia ranger pink ? Apa-apaan ini ?


Blair tidak dapat menahan tawanya kali ini. Dia tertawa terbak-bahak.


Ide jahil Blair muncul. Dia lalu mengetikkan dengan cepat sebuah pesan kepada Dylan, lalu kembali tergelak saat membaca ulang seluruh pesan dari Dylan.


Sementara itu di ruang kelas, Dylan sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Perasaannya aneh, bahagia sekaligus marah. Bahagia karena apa dia tidak tahu, tapi marah karena apa dia sangat tahu.


Apa aku sudah mulai ketularan the amburadul family ku ya ? Ketidak normalan mereka seperti sebuah virus yang lama-lama menjangkiti ku. Sebentar senang, sebentar sedih, sebentar marah, lalu sebentar lagi gila.


Dia menghela napas frustasi.


Drrt, drrt, drrt !! Ponsel di sakunya bergetar. Biasanya Dylan akan mengabaikan pesan atau pun telepon selama jam pelajaran, tapi kali ini seperti pengecualian. Tangannya tiba-tiba saja bergerak sendiri mengambil ponsel dari sakunya.


Sebuah pesan masuk, alisnya berkerut saat melihat nomor baru mengiriminya pesan. Dylan belum sempat menyimpan nomor Blair kala itu, jadi dia tidak tau kalau yang mengirimi pesan itu Blair.


Hai ranger pink, aku lapar, mana katanya kau akan mengajak ku makan ?


Dylan mendelik saat membaca pesan dari Blair, tanpa sadar dia langsung terhenyak berdiri dengan cepat hingga membuat bangkunya terbalik.


Semua murid yang sedang serius mendengarkan berjengit kaget saat suara gedubrak kursi bertabrakan dengan lantai, dan dengan kompak mereka menoleh ke arah belakang, letak bangku Dylan berada.


" Kenapa ? " Tanya guru yang sedang mengajar dengan bingung.


" Aaa... anu pak, saya izin ke uks, perut saya mual " Dylan beralasan, lalu berpura-pura memegangi perutnya.


" Ya baiklah " Jawab guru menyetujui izin Dylan.


Tidak buang-buang waktu lagi, dia segera berjalan cepat keluar ruangan. Berjalan buru-buru menuju ruang uks.


" Sst... " Cissy yang kebetulan melihat ke arah jendela itu pun langsung menyenggol lengan Dera saat Dylan melintas.


" Dylan " Bisiknya lirih, takut terdengar guru yang sedang menerangkan.


Mendengar nama Dylan di sebut, Dera langsung menoleh. Di lihatnya Dylan sedang tergesa-gesa, berjalan cepat.


Apa dia mau ke uks menemui Blair ?


Batinnya gelisah, dan seperti mendapat bisikan ghoib, Dera yakin Dylan memang benar menuju uks untuk menemui Blair. Hatinya berdenyut nyeri, lagi-lagi sakit tak berdarah. Dengan wajah penuh kemarahan dia menunduk, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


Sraak !!! Dylan membuka tirai ruangan Blair dengan keras, di lihatnya Blair sedang berbaring di atas ranjang dengan tawa tertahan.


" Hallo ranger pink " Sapanya jahil.


Dylan mendelik kepada Blair lalu mendekat ke arahnya dengan cepat, tak lupa kembali menutup tirainya agar tidak ada yang melihat mereka berdua.


" Aku tidak menyangka kalau kau adalah rang hmpp... " Dylan membungkam mulut Blair dengan telapak tangannya, menghentikan ocehan Blair yang sedang menjahilinya.


Dengan tawa tertahan di balik bekapan tangan Dylan, Blair berusaha melepaskan diri, meronta-ronta, hingga keseimbangan tubuh Dylan oleng dan jatuh ke atas tubuh Blair yang sedang tiduran, dengan siku yang menahan bobot tubuhnya agar tidak menindih Blair.


Wajah mereka sangat dekat saat ini, hanya kurang dari 30 senti, mata dengan mata, hidung dengan hidung, dan mulut dengan mulut. Masing-masing keduanya merasa terhipnotis, diam membeku menikmati momen tak sengaja ini.


" Tidak apa-apa, aku suka ranger pink " Ucap Blair lirih di depan wajah Dylan.


Larut dalam suasana yang tiba-tiba berubah romantis itu pun, Dylan tanpa sadar mulai mendekatkan bibirnya perlahan-lahan.


Blair memejamkan matanya, bersiap menerima apapun yang akan di berikan Dylan saat ini, ciuman setidaknya begitulah prediksi Blair.


Jarak mereka semakin dekat.


20 Senti...


15 Senti...


10 Senti...


Dan sedikit lagi...


Krieeet !!! Tiba-tiba saja suara decitan ranjang uks yang sudah tua itu membuat keduanya terhenyak kaget. Ranjang itu seolah merintih kesakitan menahan berat badan kedua anak remaja yang ada di atasnya.


Dylan langsung menegakkan tubuhnya, salah tingkah. Begitu juga Blair, dia langsung duduk tegap di tepi ranjang, merapikan penampilannya. Keduanya merasa canggung.


Adegan lovey dovey mereka pun gatot alias gagal total.

__ADS_1


Dasar ranjang sialan !!


Maki mereka berdua di dalam hati masing-masing.


__ADS_2