Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Jaga Batasanmu


__ADS_3

" Jadi bapak umumkan ya... " Suara lantang Pak Dony menggema dengan keras, mengumumkan hasil diskusi para muridnya tentang pemilihan judul film untuk tugas resensi mereka.


" ..... Dylan dan Blair akan meresensi film Dilan 1990, wah lucu ya nama judul film dan peresensinya sama hehehe " Ujarnya seraya terkekeh sendiri, namun tak ada tanggapan sama sekali dari murid-muridnya jika itu menyangkut dengan Dylan, si anak buangan.


" Lalu Bella.... " Lanjutnya kemudian membaca satu persatu berdasarkan kertas yang telah di kumpulkan oleh setiap murid.


" Kalau ada yang ingin berubah pikiran bisa nanti temui bapak di ruang guru, akan bapak tunggu sampai besok, jika sampai besok tidak ada perubahan maka bapak masukkan ini ke dalam data komputer, jadi kalian sudah tidak bisa lagi ganti judul ya " Ucapnya mengakhiri pelajarannya.


" Ya paak " Jawab semua murid dengan serempak.


Dan suasana gaduh pun kembali terdengar begitu tubuh Pak Dony menghilang di balik pintu.


" Kau yakin ingin meresensi film itu ? " Suara Bella yang duduk di bangku depannya tiba-tiba mengagetkan Blair, dengan sedikit berbisik dan melirik Dylan yang sedang acuh membaca buku di samping Blair.


" Kenapa memangnya ? " Jawab Blair bingung, dia juga ikut melirik ke arah Dylan, mencari tahu apa hubungannya film Dilan 1990 dengan Dylan yang ada di sampingnya.


" Itu kan film romantis yang membuat baper seluruh umat jomblo di negara ini, harusnya kau menontonnya dengan orang yang kau sayang, bukan malah dengannya " Bisik Bella sambil menutup sudut bibirnya dengan telapak tangan.


Dylan yang duduk satu bangku dengan Blair itu pun mendengar semuanya, otaknya memang berkonsentrasi pada buku tapi bukan berarti telinga ikut tuli.


Setelah Bella mengatakan hal itu, Blair melirik ke arah Dylan lalu menghela napas frustasi.


Aku tau itu film yang romantis, dan aku juga tau harusnya film itu di tonton dengan orang yang kita sayang, tapi... haaah andai kau tau betapa romantisnya dia, menurutku, kau pasti juga akan merengek-rengek ikut nonton film itu.


Blair mengalihkan pandangan putus asanya pada Bella, lalu kembali menghela napas lagi dan tertunduk lesu.


" Yang sabar ya Blair " Bella menepuk pelan punggung tangan Blair, memberikannya dukungan karena mengira Blair sangat tersiksa berada satu kelompok belajar dengan Dylan.


" Iya aku berusaha sabar " Jawab Blair lemas. Sabar ikut menjaga jodoh orang lain.


Suara bel istirahat terdengar, Bella yang duduk di bangku depan Blair itu pun berbalik badan dan terlihat mengobrol sebentar dengan teman di sebelahnya sebelum kemudian memutuskan pergi bersama.


Blair yang masih merasakan sesak di dadanya itu hanya bisa melirik ke arah Dylan yang masih asik berkutat dengan buku yang di bacanya. Tanpa sadar dia memanyunkan bibirnya, bosan sekaligus kesal sendiri.


" Kau sedang apa ? " Tanya Blair kemudian memiringkan badannya, menghadap Dylan.


" Tidak istirahat ? " Lanjutnya.


" Sebentar lagi " Jawab Dylan acuh seraya menuliskan sesuatu di buku catatannya.


" Menulis apa ? " Tanya Blair iseng lalu reflek mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Dylan, melihat apa yang sedang di tulisnya.


" Aku sedang menyiapkan garis besar resensi film yang akan kita kerjakan, jadi nanti saat kita sudah menonton filmnya aku tau mana saja yang penting untuk di ulas " Jelas Dylan dengan terus menulis tanpa melihat Blair.


" Oooohh.... " Bibir Blair membulat sempurna saat mengucapkannya.


" Makanya... " Dylan menolehkan kepalanya dan wajah mereka langsung bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Mata dengan mata, hidung dengan hidung, bibir dengan bibir hanya dalam jarak kurang dari 15 senti. Berada di posisi seperti itu mendadak membuat mereka terdiam membeku.


Situasi ini mirip dengan saat itu.... boleh kan kalau aku sedikit berharap ? Sekali saja...


Blair lalu memejamkan matanya, secara tidak langsung memberikan izin jika Dylan ingin menciumnya saat ini juga.


Kenapa dia memejamkan mata ? Apa dia tidak ingin melihatku ? Atau.... Tapi bukankah situasi saat ini mirip dengan waktu itu... bolehkah aku... ?


Dylan mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru kelas, teman-temannya sudah pergi keluar dan hanya tinggal mereka berdua saat ini, suasana yang sepi dan mendukung.


Dengan ragu-ragu Dylan bergerak perlahan. Jantungnya berdegub sangat kencang, bahkan seperti jantung itu berada di bawah kulit dadanya, bukan lagi terletak di dalam tubuhnya dan tersembunyi aman di balik perlindungan tulang-tulang rusuknya.


Kelas mereka memiliki 2 buah mesin pendingin ruangan yang selalu di nyalakan pada suhu terendah, namun saat ini rasanya kedua pendingin ruangan itu tidak lagi berfungsi pada tubuh panas Dylan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, dia menelan ludahnya dengan susah payah.


Jarak antara mereka semakin terkikis. Dylan pun ikut memejamkan matanya.


" DYLAN !! " Sebuah teriakan dari arah pintu kelas mengejutkan mereka berdua. Baik Blair maupun Dylan sama-sama terhenyak dan kemudian menegakkan punggung mereka. Dengan gugup Blair mengambil asal buku catatan Dylan dan berpura-pura membacanya. Sedangkan Dylan langsung merosot dan menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. Mereka berdua terdengar menghela napas bersamaan.

__ADS_1


Aish !! Selalu saja ada yang mengganggu. Mungkin ini pertanda dari Tuhan kalau aku tidak boleh melakukan dosa. Maafkan aku Raline, aku tidak akan lagi-lagi mencoba mencuri ciuman dari kekasihmu.


Blair lalu menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti merona merah ke balik buku catatan Dylan.


Dera yang sengaja datang untuk menemui Dylan dan menagih janjinya pergi ke kantin bersama itu pun tak menyangka akan melihat kejadian mengejutkan barusan. Dengan hati yang berdenyut nyeri dan amarah yang hampir tidak bisa di kontrolnya, dia bergegas menghampiri meja Dylan dan Blair.


Sementara Dylan hanya bisa menghela napas jengah melihat kedatangan Dera. Dia pun kemudian memalingkan wajahnya, memilih memandang keluar jendela.


" Kalian sedang apa ? " Tanyanya tajam, dengan dada yang naik turun mengatur napas bisa di pastikan dia sedang berusaha sekuat tenaga menahan rasa panas akibat di bakar api cemburu.


" Aa... uumm... itu... " Blair mengintip dari balik bukunya dan gelagapan saat mata Dera menatapnya dengan tajam.


" Kami sedang diskusi kelompok " Saut Dylan malas, tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


" Ah ya diskusi kelompok, kami satu kelompok " Blair ikut membenarkan. Huft hampir saja.


" Tugas kelompok ? " Tanya Dera tidak percaya, dia mengerutkan alisnya dan semakin tajam menatap ke arah Blair yang belum sepenuhnya reda dari rasa gugupnya.


" I-iya ka-kami dapat tugas kelompok " Blair mengangguk-angguk dengan wajah yang berusaha terlihat meyakinkan.


" Tugas apa ? " Kejar Dera dengan sinis semakin mengintimidasi Blair.


" Bukan urusanmu " Saut Dylan ketus, menoleh ke arah Dera untuk sekedar memberikannya tatapan dingin penuh rasa tidak suka. Kemudian dia berdiri dari duduknya, memasukkan tangan ke dalam sakunya sebelum akhirnya berbalik badan, memutuskan pergi dari sana.


" Tunggu Dylan aku tidak bermaksud... " Ralat Dera berusaha menjelaskan dengan cepat begitu melihat Dylan akan pergi.


" Kau berisik, aku benci orang yang berisik " Potong Dylan ketus tidak memberikan kesempatan untuk Dera kembali menjelaskan. Dia kemudian beralih menatap Blair yang masih duduk di bangkunya dengan gelisah.


" Kau tidak istirahat ? " Tanyanya pelan dan menendang kaki kursi tempat duduk Blair.


" A-aku di sini saja, aku tidak biasa istirahat di kantin, terlalu ramai " Jawab Blair pelan lalu tersenyum sungkan.


Dylan yang semula sudah akan pergi itu pun mengurungkan niatnya, dia kembali duduk di bangkunya. Di lihatnya Blair yang sedang tersenyum kaku berusaha menutupi kegelisahannya.


" Ya " Pekik Blair mendadak bersemangat. Bagaimana aku bisa baik-baik saja kalau hampir ketahuan melakukan hal tidak terpuji seperti itu, di sekolah yang sakral, tempat untuk belajar ini aku malah memikirkan tentang perbuatan mesum.


Kruuk, kruuk, kruuk !! Suara perut Blair yang kelaparan itu pun terdengar keras di tengah suasana yang tegang saat ini.


Apa lagi ini ?!?!


Jerit batin Blair lalu menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malunya.


" Sepertinya kau lapar Blair setelah berusaha keras membaca buku yang terbalik " Saut Dera dengan nada mengejek.


" Hah ? " Blair melihat buku yang ada di depannya dan baru sadar jika buku catatan Dylan terbalik.


" Iya ya, bagaimana bisa hehehe... " Blair tersenyum kaku dan membalik bukunya dengan kikuk. Kenapa harus di hadapan Dylan sih.


Dylan tersenyum melihat Blair yang semakin salah tingkah dengan wajah merona merah. Tingkahnya saat ini bisa di katakan mirip anak SD yang ketahuan mencontek saat ujian daripada seorang artis yang hampir terpergok berciuman.


Dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Sandwich yang seharusnya dia makan saat sarapan tadi.


" Nih " Dengan santai dia mengulurkannya pada Blair.


" A-apa ini ? " Tanya Blair bingung.


" Ini sarapan ku tadi, tapi belum ku makan, makanlah " Jawab Dylan kemudian meletakkan sandwich itu di hadapan Blair.


" Ah tidak perlu, aku tidak apa-apa. Sungguh, aku tidak lapar. I-itu hanya bunyi perutku karena aku sedang... " Blair celingukan mencari alasan. Sebenarnya dia sangat lapar saat ini, di tambah lagi suasana hatinya sangat tegang membuatnya bertambah lapar.


" Sudah makan saja " Potong Dylan santai sambil menahan senyum melihat kepolosan tingkah Blair.


" Tidak usah, sungguh. Aku tidak lapar " Blair menyodorkan kembali sandwich yang ada di depannya.

__ADS_1


" Ya sudah kalau tidak mau " Jawab Dylan santai lalu membuka sandwichnya dengan perlahan.


Blair hanya bisa menatapnya dengan gelisah, sebenarnya dia butuh sesuatu untuk di makan atau setidaknya di kunyah untuk sekedar mengalihkan pikirannya saat ini. Pagi ini dia bangun kesiangan dan juga menghindari sarapan bersama karena ayahnya mulai membahas tentang Andromeda lagi saat melihatnya turun dari lantai atas.


" Tunggu " Cegah Blair pelan saat Dylan akan memakan sandwich itu, dia pun berhenti, menoleh ke arah Blair dan tersenyum jahil.


" Setelah di pikir-pikir aku lapar dan aku tidak terbiasa istirahat di kantin, kalian kan mau istirahat bersama, jadi kalau boleh i-itu untuk ku saja " Tunjuk Blair ke arah tangan Dylan yang masih memegang sandwichnya.


Sudah terlanjur malu jadi lebih baik totalitas saja malunya.


Pasrah Blair di dalam hati.


Dera yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam, dia tidak suka melihat kedekatan Blair dengan Dylan dalam bentuk apapun meski hanya sekedar berbagi sandwich.


" Tunggu " Cegat Dera saat tangan Blair terulur untuk mengambil sandwich yang di sodorkan Dylan.


" Jangan makan itu " Lanjutnya dengan tersenyum.


Dylan dan Blair berhenti dan menatap Dera dengan bingung.


" Umm begini, kau kan artis, tidak sopan bukan meminta makanan dari orang lain, kau tunggu saja disini, nanti kami akan membelikanmu saat kembali dari kantin " Dera beralasan.


" Ti-tidak apa-apa kok, kalian tidak perlu repot-repot, biar aku makan sandwich itu saja " Jawab Blair semakin sungkan saat mendengar Dera membawa-bawa statusnya sebagai artis. Biasanya Blair bisa menjaga imagenya dengan sempurna, tapi entah kenapa sedari awal pertemuannya dengan Dylan dia tidak bisa melakukannya.


" Tidak apa-apa, kami akan membelikannya untukmu nanti " Ucap Dera dengan senyum manis yang di buat-buat.


Dylan yang sudah jengah dengan keadaan itu kemudian menggelengkan kepalanya seraya berdecak kesal. Jika saja bukan karena ada Blair di sampingnya saat ini dia pasti sudah mengeluarkan kata-kata tajam menusuk jantung untuk di lontarkan pada Dera sejak awal kedatangannya. Dan sekarang dia sudah tidak tahan lagi mendengar perdebatan remeh hanya karena masalah sandwich.


" Kalian berdua ini berisik sekali sih ! " Sentaknya kesal. Dera dan Blair terlonjak kaget kemudian terdiam begitu mendengar suara keras yang di ucapkan Dylan.


Blair yang memang sedang gelisah semakin menciut ketakutan di tempat duduknya, dengan tangan yang gemetaran dia mengambil kembali buku catatan Dylan lalu menutupi sebagian wajahnya.


Hoooo dia menyeramkan kalau sedang marah.


Blair bergidik ngeri.


Dera pun tak beda jauh, dengan wajah pucat pasi ketakutan dia berusaha tersenyum.


" A-aku ha-hanya... " Ucap Dera terbata-bata.


" Sudah diam ! " Sentak Dylan lagi. Blair semakin berjengit di tempat duduknya dan hanya bisa melirik Dylan dan Dera secara bergantian.


" Jadi kau mau makan ini atau tidak ? " Tanyanya kepada Blair dengan tegas seraya menyodorkan lagi sandwich yang di pegangnya.


" Ma-mau " Blair langsung melempar buku yang di pegangnya dan dengan cepat menyambar sandwich itu. Lebih memilih menghindari kemarahan Dylan daripada harus berdebat dengannya.


" Dan kau ! " Dylan mengalihkan pandangannya ke arah Dera, menatapnya dengan tajam.


" Jaga batasan mu " Ucapnya dingin dan kemudian pergi keluar kelas. Mereka berdua hanya bisa terdiam memandang punggung Dylan yang semakin menjauh.


Blair langsung menghela napas panjang saat Dylan sudah menghilang.


" Dia ternyata benar-benar menyeramkan sekali ya " Gumamnya sambil bergidik ngeri.


" Hiks.... hiks... hiks... " Terdengar suara isak tangis lirih, Blair pun menoleh ke arah Dera.


" Kau baik-baik saja ? " Tanyanya khawatir, meletakkan sandwich yang di pegangnya, lalu berdiri mendekati Dera untuk menenangkannya. Namun Dera hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Sudah jangan menangis lagi, dia memang kadang menyebalkan begitu " Hibur Blair menepuk pelan punggung Dera.


Ini semua gara-gara kau gadis licik, awas saja akan ku balas kau !!


Makinya dalam hati.

__ADS_1


Dengan kepolosan serta ketulusan hati, Blair lalu memeluk Dera dan menuntunnya untuk duduk di kursi.


__ADS_2