Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Bagaimana Memulainya


__ADS_3

Aish !! ****** aku.


Batin Dylan malas saat melihat Dera sudah berdiri di sampingnya.


" Hahaha... " Dera tergelak melihat ekspresi Dylan yang terkejut.


" Kau itu lucu ya, semakin mengenal mu aku jadi semakin melihat hal-hal baru dari dirimu " Lanjutnya masih di sela gelak tawanya.


" Ku pikir kau hanya bisa menunjukkan ekspresi dingin saja, tak ku sangka kau bisa juga berjengit kaget " Dera berusaha menghentikan tawanya dengan menutup mulutnya.


" Ternyata kau masih manusia ya " Kali ini suara gelak tawanya semakin meninggi.


" Ck " Decak Dylan kesal.


" Ehem ehem " Dylan berdehem dengan keras agar Dera mendengarya, dia menatap tajam Dera yang masih saja tergelak sambil memegangi perutnya.


" Sedang apa kau ? " Tanya Dylan sengit, memberikan aura mengintimidasi yang berhasil membuat Dera meredakan tawanya.


" Aku kesini karena anak-anak berkerumun disini, ku pikir Blair pasti sudah masuk sekolah, jadi... " Jawab Dera menghentikan tawanya dan sudah bersikap normal. Kembali takut melihat Dylan sudah kembali ke mode pabrikannya, dingin dan acuh.


" Dia sudah masuk ? " Tanya Dylan, berusaha terdengar acuh padahal di dalam hatinya dia benar-benar ingin tau.


" Entahlah, aku juga belum tau, aku tidak bisa melihatnya, terlalu ramai " Tunjuk Dera ke arah murid-murid yang sedang duduk-duduk dan juga berkerumun di depan kelas dan Dylan pun paham maksud ucapan Dera.


" Haah " Terdengar helaan napas jengah dari Dylan yang juga melihat deretan murid-murid itu. Menggerutu dalam hati, padahal kemarin saat Blair tidak masuk sekolah, dia sangat merindukan suasana seperti ini, tapi sekarang rasanya suasana normal ini membuatnya kembali sedikit kesal. Dylan benci keramaian.


" Pasti menyenangkan ya jadi Blair " Celetuk Dera tiba-tiba.


Dylan menoleh ke arah Dera lagi, menautkan alisnya dan memandangnya bingung.


" Hm ? " Namun hanya itu yang keluar dari mulutnya sebagai jawaban.


Dia bisa mendapat perhatian dari mu, itu yang menyenangkan.


Batin Dera menatap Dylan, menikmati sepuas mungkin pemandangan menyejukkan di hadapannya saat ini, bentuk kesempurnaan yang di anugerahkan Tuhan pada makhluknya, di pagi hari wajah Dylan yang masih segar seolah-olah bertambah 100 kali lipat level ketampanannya dan itu membuat Dera semakin terpesona padanya.


" Ya menyenangkan saja, dia terlihat santai, hidupnya seperti tanpa beban, bebas... " Dera menghela napas sejenak, mengambil jeda, lalu menolehkan lagi kepalanya ke arah kerumunan murid-murid.


" Dan lihat, fans nya membludak " Tunjuknya dengan pandangan matanya. Terdengar sedikit iri dengan apa yang di miliki Blair.


" Kau ini pagi-pagi sudah mengoceh apa sih ? " Sinis Dylan kesal. Dia tidak suka cara Dera menggambarkan tentang Blair. Karena yang dia tau kehidupan Blair sangat berat, berdasarkan cerita Sekertaris Yuri, dia di tekan oleh ayahnya yang gila kekuasaan dan juga memiliki penyakit jantung, kalau yang itu berdasarkan analisanya sendiri, tentu bukan kehidupan yang mudah. Dan di hadapannya saat ini ada seseorang yang memiliki segalanya, kesehatan, keluarga baik-baik, serta kekayaan, yang satu ini berdasarkan informasi dari kakak-kakaknya, seenaknya saja mengomentari kehidupan orang lain tanpa tau yang sebenarnya. Dylan sangat membenci hal semacam itu.


" Aku tidak asal mengoceh kok " Dera membela dirinya.


" Dia itu anak tuan Dimitri, pemilik perusahaan D'medicine yang memproduksi obat-obatan, dan perusahaannya menguasai hampir 80 persen pasar obat di negera ini " Jelas Dera dengan yakinnya.


" Dan dia putri yang sangat di manja " Imbuh Dera berbisik, seperti membocorkan informasi top secret kepada Dylan.


" Dari mana kau tau ? " Dylan semakin jengah, dia memalingkan wajahnya, kesal sendiri.


Entah kenapa mendengar Dera terus saja membahas Blair seperti itu menimbulkan sebuah gemuruh di dadanya, gemuruh yang memacu detakan jantungnya menjadi tak karuan dan meninggalkan rasa kesal yang memenuhi rongga dadanya.


" Ya kami para anak-anak pewaris perusahaan memiliki grub tersendiri, biasanya seminggu sekali kami berkumpul di club malam Lord, begitu juga dia, dari yang kulihat dia benar-benar menikmati kehidupannya saat ini, memanfaatkannya lebih tepatnya " Jawab Dera santai, menyilangkan tangannya di dada lalu mencebikkan bibirnya seakan bukan masalah membicarakan pribadi orang lain di belakang mereka.

__ADS_1


Mendengar kata club malam pikiran Dylan langsung bergerak liar, mabuk-mabukan, berjoget di iringi hentakan musik yang memengkakkan telinga, serta pakaian minim lalu berujung **** bebas.


" Kau apa ?!? " Pekiknya tanpa sadar dengan mata mendelik marah.


Dera berjengit kaget. " Apa ? " Lalu balik bertanya bingung.


" Ulangi ucapanmu barusan ? " Perintah Dylan dengan geraman yang tertahan, memastikan pendengarannya tidak salah dan masih berfungsi dengan baik.


" Ka-kami sering ke club malam " Jawabnya tergagap, mengkeret takut oleh sikap Dylan yang terlihat marah. Namun sedetik kemudian senyumnya merekah. Entah apa yang ada di pikirannya, sepertinya Dera salah paham menganggap Dylan marah kepadanya karena ikut clubbing, dia menganggap itu sebagai bentuk perhatian Dylan padanya.


" Tapi aku bersumpah aku jarang datang, kalau pun datang itu hanya sebentar, sekedar untuk memenuhi undangan anak-anak yang lainnya " Ralat Dera cepat, membela diri.


Seperti tersadar oleh ucapan Dera, Dylan langsung membenahi ekspresinya. Blair bukan siapa-siapanya, dia tidak berhak marah ataupun kesal.


Dylan segera memalingkan wajahnya. " Ah begitu " kembali memasang ekspresi pabrikannya.


" Aku senang kau marah padaku " Gumam Dera lirih, menatap Dylan dengan mata berbinar-binar.


Namun Dylan yang suasana hatinya sedang buruk itu pun segera pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi untuk meluruskan kesalah pahaman dalam pikiran Dera, bibirnya terlalu malas bergerak untuk menjelaskan.


Dia membelah kerumunan murid-murid yang ada di depan kelas dengan sedikit kasar, merangsek maju untuk masuk ke dalam kelasnya.


Meninggalkan Dera yang bersemu merah tersipu-sipu sendirian. Baginya hubungan mereka sudah bukan layaknya siput berjalan, tapi naik pesawat jet, terbang melesat dengan cepat. Buktinya Dylan marah mendengarnya pergi ke club malam, itu kemajuan yang sangat signifikan menurut Dera.


Dia manis sekali.


Batinnya girang dan juga pergi menuju kelasnya, memilih arah berputar daripada harus ikut berdesak-desakan membelah kerumunan.


Sementara Dylan berusaha berjalan di antara himpitan murid-murid yang berkerumun, bayangan club malam terus saja berputar-putar di kepalanya, suara musiknya, lantai dansanya yang penuh dengan muda mudi yang berjoget gila-gilaan, serta botol-botol minuman keras di setiap meja, dia memang tidak pernah datang ke club malam, tapi bukan berarti dia seorang yang kuper. Bagaimana informasi tentang pergaulan bebas jaman sekarang sangat mudah sekali di akses melalui internet.


" Aish !!! " Teriaknya kesal sendiri.


Semua murid yang berkerumun itupun menoleh ke arah Dylan, mengkeret takut karena melihat sorot mata tajam dan rahang wajahnya yang mengeras. Mereka tau bahwa Dylan sedang marah.


" Kalian tidak mau bubar ? " Tanyanya dengan nada mulai meninggi di tengah-tengah kerumunan.


" Apa sih, sok sekali "


" Iya, sok mengatur "


" Ayo bubar, dia itu penyakit "


" Ayo kita pergi saja " Gumaman demi gumaman saling bersaut-sautan, dan pada akhirnya mereka semua memilih membubarkan diri daripada harus berurusan dengan Dylan, orang nomor satu yang paling di hindari di sekolah Loyard.


Dylan masuk kedalam kelas setelah suasana sepi, matanya langsung melihat bangku Blair yang masih kosong, rupanya sang empunya bangku belum datang. Dengan langkah kaki lebar dan cepat, Dylan menuju bangkunya. Melemparkan dengan keras buku-buku yang di bawanya, lalu di susul dengan tas beratnya yang berisi tumpukan uang saku dari Rai, menimbulkan bunyi gebrakan yang lumayan keras hingga membuat teman-teman sekelasnya reflek menoleh karena terkejut.


" Apa-apaan sih dia ? "


" Sudah biarkan saja, jangan di lihat "


" Dia sedang kumat ya ? "


" Sok jagoan " Suara-suara bergosip dari teman-temannya itu terdengar lumayan keras, seakan tidak peduli sang obyek gosip mendengarkan atau tidak.

__ADS_1


Punya penyakit jantung tapi bisa mabuk-mabukan dan berjoget-joget di club malam. Cih !!


Decak batinnya kesal, dia mencengkeram erat tasnya, hingga otot-otot tangannya tercetak jelas di punggung tangannya. Lalu dengan sentakan kasar dia menarik tasnya dan menggantungkannya di samping meja.


Tak berselang lama, Blair datang masuk ke dalam kelas. Suasana langsung riuh ramai oleh sambutan murid-murid yang lainnya.


" Itu Blair "


" Ah akhirnya dia masuk "


" Kau baik-baik saja ? "


" Asyik dia sudah masuk lagi " Berbagai pertanyaan dari teman-teman memberondong Blair yang berhenti di depan kelas.


Dylan pun mau tidak mau ikut melihatnya, di amatinya Blair dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Blair seperti biasa, terlihat cantik mempesona khas selebritis yang berkelas. Sedang tersenyum anggun seraya menjawab berbagai pertanyaan yang terlontar untuknya dengan apik, layaknya sedang mengadakan konferensi pers perihal kondisi terkininya.


" .... Ya kondisi ku baik-baik saja, dan... " Ucapnya lemah lembut.


Cih !!


Dylan mencebikkan bibirnya lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela, memilih menatap ke arah lapangan.


" ... Memang sedikit sakit, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, aku ... "


Blair terus saja berpidato dengan anggunnya.


Sakit apanya !! Sia-sia saja aku khawatir padanya. Bodoh !!


Maki Dylan pada diri sendiri.


Brugh !! Terdengar suara debuman pelan di samping Dylan, tanpa melihat pun dia tau Blair sudah duduk di sampingnya saat ini.


" Haaah... " Terdengar suara helaan napas dari Blair yang sedang menggantungkan tasnya ke samping meja, namun Dylan tetap acuh.


Kesal, marah, dan tidak suka, mendadak menguasai seluruh hati dan pikirannya jika terus teringat kata-kata Dera perihal Blair yang sering clubbing.


Dia menyapa semua orang tapi tidak dengan ku, kau pikir aku peduli, sama sekali tidak.


Batin Dylan dalam hati.


Lihatlah remahan kerupuk di sebelah ku ini, semua orang bertanya bagaimana kabar ku, tapi dia seakan tidak peduli.


Batin Blair kesal, sebenarnya dia ingin berterima kasih pada Dylan karena telah membawanya ke ruang uks kemarin lusa.


Dokter piket yang memberitahukan hal itu padanya saat dirinya tersadar dari pingsan, dia bilang Dylan sampai harus berlari hingga tubuhnya basah oleh keringat demi membawanya tepat waktu sebelum ruang uks tutup.


Bagaimana memulainya ya ?


Blair gelisah, dia terus saja melirik ke arah Dylan yang masih saja acuh di sampingnya.


" Dylan, aku.... " Panggil Blair pada akhirnya, namun bersamaan dengan itu suara bel masuk berbunyi, dan suara pelan Blair hilang tertelan oleh keramaian dari dalam kelas dan luar kelas.

__ADS_1


Di luar kelas, murid-murid berlalu lalang kembali ke ruang kelasnya masing-masing untuk memulai pelajaran, sedangkan di dalam kelas murid-murid berlarian kembali ke tempat duduknya sebelum guru datang.


__ADS_2